The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
9. Bukan Rasti Orangnya



Barga membakar barang-barang sesuai perintah Azkan. Asap mengepul membuat seisi rumah panik termasuk Bi Mirna dan Rita yang sangat berlebihan hingga teriak-teriak kebakaran.


Para penjaga keamanan, juga pelayan di tiap kamar yang ada disana ikut keluar menuju sumber suara. Di rumah kediaman Serziano memang kebanyakan diisi oleh laki-laki, terutama setelah kejadian pelayan wanita beberapa tahun lalu. Mereka dilatih jadi pelayan yang membersihkan seluruh kediaman termasuk kebun bahkan juga dilatih beladiri dasar untuk perlindungan mendadak.


“Ada apa ini Barga, apa yang kalian lakukan?.” Nyonya Lidia menatap tong besi itu kebingungan.


“Tuan Azkan menyuruh saya membakar semuanya malam ini juga Nyonya” Dengan wajah kaku Barga terus membalik-balikkan benda di dalam tong besi itu agar apinya tidak mati.


“Apakah benar-benar harus sekarang?” tanya Tuan Alam.


“Tuan Azkan bilang harus sekarang Tuan.” Barga menambahkan.


Semua orang kembali ke posisinya masing-masing. Bi Mirna dan putrinya Rita dinasehati agar tidak sembarang berteriak-teriak seperti itu lagi.


“Barga itu tampaknya benar-benar tidak menghiraukan siapapun kecuali Azkan ya Pa.”


“Tentu saja Ma, Azkan menyelamatkan hidupnya.”


“Putra kita itu, dia bisa sangat loyal pada Barga tapi begitu tidak terima pada Maziya. Pasti ada yang salah dengan otaknya Pa.” Gerutu Nyonya Lidia menatap sinis pintu kamar putranya.


“Mungkin dia merasa Maziya tidak punya andil apa-apa padanya Ma.”


“Andil apa yang harus diberikan gadis imut seperti Maziya. Adanya kehangatan baru di rumah ini bukankah itu sebuah effort yang luar biasa dan andil yang besar.”


Kalau istrinya sudah mengomel dan membahas Maziya, memang pilihan yang tepat bagi Tuan Alam adalah diam sembari manggut-manggut setuju. Karena istrinya itu kelewat sayang dengan gadis bernama Maziya.


Sementara itu, Barga selesai dengan pekerjaannya dan kembali ke kamarnya di seberang kamar Azkan. Sengaja Azkan memilih kamar itu agar Barga bisa langsung datang saat ia butuhkan.


...


“Papa mendengar desas desus tentang pernikahan putra dari Tuan Alam, apa itu benar Rasti?” Tuan Tora menanyai putrinya yang belum sempat mengambil nafas.


“Setidaknya biarkan dia ganti pakaian dulu Pa!”


“Mama diam saja,”


“Aku juga baru saja diberitahu Pa.” Rasti menjawab malas dan berniat langsung ke kamarnya.


“Mengapa bukan kamu.” Tanya Tuan Tora sekali lagi membuat langkah Rasti terhenti.


“Calonnya sudah diatur Mamanya Pa.”


“Apa kamu tidak bisa menarik perhatian Mamanya, padahal kamu lebih dekat dengannya. Bukankah kalian bersahabat”


“Calonnya lebih dekat dibanding aku Pa, bahkan sudah tinggal dan mengenal mereka sejak kecil.” Rasti berbalik.


“Siapa Rasti?” Nyonya Santy bingung karena ia sudah lama berkumpul sesama Ibu-ibu sosialita dengan Nyonya Lidia tapi tidak pernah tahu cerita itu.


“Aku rasa Mama mengenalnya. Azkan bilang itu pilihan Mamanya, dia tidak melakukannya dengan keinginan sendiri.”


"Siapa itu ya?" Nyonya Santy mencoba mengingat-ingat.


Rasti kembali menaiki tangga dan berbalik sekali lagi. “dan aku sudah memiliki Randy Pa, Ma, kalian bilang dia harus menjadi Dokter spesialis dulu sebelum dikenalkan, atau kalian terus menganggapnya sebagai sahabatku saja.”


“Ya tentu saja, Papa harap kamu dan pacar biasa kamu itu ingat kalau Papa akan mengakui kalian ketika dia berhasil menjadi Dokter spesialis.”


Nyonya Santy menutup mulutnya kaget. “Jangan bilang, pilihan Lidia adalah gadis itu Pa.”


“Siapa, apa Mama benar-benar mengenalnya?”


“Lidia sering membawanya ke pertemuan kelompok sosialita kami. Saat yang lain memamerkan menantu perempuan mereka Pa. Mama pikir gadis nakal itu hanya gadis bayaran dan berpura-pura akrab dengannya.”


“Apa Mama yakin?”


“Tentu Pa, namanya Maziya, Lidia selalu menyebut gadis itu sebagai putri angkatnya yang sama seperti anak kandungnya sendiri. Dia memang sering mengungkapkan bahwa gadis itu seratus persen cocok sebagai menantunya. Mama tidak sangka kalau benar-benar dia Pa." panjang lebar Nyonya Santy bicara.


"Apa yang spesial dari gadis itu Ma?"


" Dia sedang kuliah Manajemen kalau tidak salah. Dia benar-benar pergi bersama kelompok sosialita kami untuk menghamburkan uang dengan serasi bersama Lidia.”


“Hanya menghamburkan uang, apa Rasti tidak bisa melakukan hal yang sama.”


“Gadis itu berbeda Pa. Keahliannya bukan saja menghamburkan uang dengan angkuh.”


“Apa dia punya keahlian khusus.”


“Benar Pa, keahliannya adalah sangat tidak sopan.”


“Apa sangat tidak sopan bisa disebut keahlian Ma. Itu kekurangan namanya. Kalau begitu Rasti 100 kali lebih baik darinya.”


“Justru itu kelebihan jika berada dalam kelompok sosialita Mama Pa, anggota kita semuanya kaya dan elite. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan agar dipandang lebih elite dibanding yang lain adalah pandai pamer.”


“Jadi dia pamer ketidaksopanannya Ma?”


“Bukan begitu Pa. Kata-kata pedas yang keluar dari mulut mungilnya itu bisa membuat Nyonya Virada yang paling senior dan hobi pamer jadi terdiam seribu bahasa.” Nyonya Santy geleng-geleng sendiri.


“Nyonya Virada, pemilik Firma Hukum VM itu kan Ma.” Mata Tuan Tora mengerjap tak percaya apa yang dia dengar.


“Iya Pa, firma hukum yang selalu menangani masalah pelik seperti perusahaan besar seperti kita, Apa Papa tidak penasaran dengan yang dia katakan?”


“Apa yang dia katakan Ma?” Tuan Tora memang penasaran.


“Mama masih ingat wajah angkuh gadis itu, sebelas dua belas dengan Lidia. Mungkin dia bosan mendengar Lidia mengadu karena kalah berdebat dengan Nyonya Virada. Suatu waktu, dia bilang tidak peduli seberapa kayanya Nyonya Virada. Jika Firma hukumnya dibiarkan tanpa pewaris, maka usahanya akan sia-sia, seperti membangun istana pasir mewah di tepi pantai, sudah susah membuatnya tapi akan hancur di terpa air pasang. Mama ikutan speecles mendengar kata-kata dari seorang gadis muda hingga ikut terdiam tidak bisa memprediksi Pa.”


Setelah itu Nyonya Virada selalu tampak berhati-hati tidak seperti biasanya. Rupanya dia berhasil memperbaiki hubungannya dengan putranya yang sempat memburuk. Walaupun dia selalu merahasiakan nama-nama putranya, namun melihat dari ekspresi pamernya yang berlebihan baru-baru ini, pasti sudah terselesaikan masalah dengan putranya.


Nyonya Santy menatap suaminya lagi “dan hal itu mustahil bisa dilakukan Rasti putri kita yang bijaksana Pa.”


“Maksud Mama.” Tuan Tora tampaknya masih belum bisa mencerna dengan baik.


“Maksud Mama, gadis itu tidak peduli dengan imagenya yang rusak. Dia benar-benar tampak seperti putri kandung Lidia yang muda, bebas, elite, tanpa perasaan, angkuh dan percaya diri. Sementara Rasti, putri kita ini terlihat seperti putri kerajaan yang berhati-hati.”


Tuan Tora barulah paham maksud dari istrinya. Sementara itu, Rasti diam-diam mendengar penilaian Mamanya sendiri. Ia ingin menyela betapa buruknya gadis seperti Maziya itu jika terus dibiarkan begitu saja. Setidaknya, sikapnya harus dijaga saat menemukan yang bertentangan dengan orang lain. Picik, gadis yang picik, gumamnya sembari meremas jari-jarinya.


.......


Maziya menerima pesan bahwa Ririn ingin bertemu karena pacarnya berhasil menjadi pengacara di Firma Hukum VM. Wajahnya semakin suram setelah tahu kalau besok salah satu dari Circle mereka mulai memamerkan pacar mereka. Ujung-ujungnya pasti akan menyinggung Viola atau dirinya.


“Andai saja aku tidak butuh kalian untuk terlihat berkelas, aku akan segera keluar dari Circle ini sejak bergabung di hari pertama.” gumam Maziya sembari membalas dengan stiker ya yang sangat aneh.


Bersambung...