
Azkan duduk sembari mengetuk meja dengan jarinya. Kakinya bergoyang pelan mengikuti kegelisahan hati yang ia rasakan.
Sementara Maziya, dia sudah sibuk melihat cerminan wajahnya yang begitu lama berada di Rumah Sakit tersebut. Ditambah lagi, Dokter yang seharusnya kini memberikan informasi penting justru sedang memegang ponsel di sudut jendela sembari mengangguk dan tersenyum meyakinkan salah satu pasien atau mungkin koleganya dengan nada hati-hati takut didengar oleh mereka.
Tak lama kemudian akhirnya Dokter paruh baya tersebut duduk. Dia mengambil kertas yang diberikan seorang suster. Setelah melihat gambar di komputer ia menjelaskan dengan perlahan.
Beberapa bahasa kedokterannya tidak begitu dipahami. Ia memberikan penjelasan yang lebih mudah, intinya Maziya harus menghentikan pemakaian Pil KB yang ia konsumsi.
Brak....
Maziya memukul meja dan berdiri segera, "nggak bisa gitu dok..."
"Tenanglah, dengarkan Dokter dahulu!" Azkan menarik tangan Maziya hingga duduk kembali.
"Seperti yang saya jelaskan Tuan, istri anda mungkin akan mengalami konsekuensi besar jika terus mengkonsumsinya. Bukan hanya Kemungkinan untuk kesulitan memiliki anak, tetapi Hormon yang tidak seimbang dan membuat Gangguan pada sirkulasi...."
Brak.... Lagi-lagi Maziya memukul meja tidak berniat mendengarkan Dokter paruh baya tersebut.
"Ini urusan saya, lagian Saya nggak ngerasa ada efek apa-apa kok selama ini.."
"Ini memiliki dampak di masa Depan Nona... Harap ..."
"Ini kehidupan dan pilihan saya Dokter. Udahlah saya nggak apa-apa kan cuma dipukul dikit apa kaitannya sama Pil KB."
"Tentu saja ada, aku yang memintanya khusus pada Dokter." Azkan menjelaskan.
"Oo pantesan Kak Azkan minta aku buat Rontgen tubuh. Bukan buat bela aku dari Lelaki brengsek itu tapi hanya untuk memuaskan keinginan Kak Azkan sendiri." Maziya segera keluar dan Azkan tak sempat lagi menahannya.
Azkan segera menyusul Istrinya itu dan membawanya ke Atap.
"Apa yang kamu takutkan Ziya, aku mencintaimu dan kamu juga..Mengapa kamu tidak mau kita memiliki keturunan?"
"Ya aku nggak mau Kak Azkan."
"Apa ini karena Kesepakatan?. Aku rela melanggar kesepakatan demi kamu. Atau karena Perjanjian itu?. Aku tidak mencintaimu karena Harta tapi sungguhan. Tidak ada syarat tentang keturunan tapi aku menginginkannya karena aku menginginkanmu."
"Berhentilah mengada-ada Kak Azkan. Jangan mencintaiku!"
Maziya segera berlalu dan pergi, saat itu juga Azkan menjalankan satu rencana yang tidak bisa ia tunda lagi.
Saat Maziya menunggu pintu lift terbuka. Azkan membuka pintu ke tangga darurat dan Pura-pura terjatuh dari tangga.
Bunyi yang ditimbulkan membuat Maziya panik setengah mati. "Kak Azkan....Udah jelas ada Lift.."
"Ziya ahh..." Azkan tidak sadarkan diri, tentunya pura-pura.
"Ini pasti gara-gara aku...Ini pasti...." Maziya langsung merasa sesak yang teramat sangat di dadanya.
Bayangan Tentang keluhan Ayahnya dan penyesalannya menjadi orang yang disayangi memburu begitu saja. Tidak sempat menenangkan diri, ia sudah kehilangan kesadaran.
........
Beberapa jam kemudian...
Maziya lagi-lagi terbangun di ranjang VVIP Rumah Sakit tersebut. Ia dikelilingi banyak orang, Nyonya Lidia dan Suaminya. Ada juga Viola bahkan Azkan yang sudah tampak baik-baik saja.
"Apa barusan itu mimpi?. Tapi nggak mungkin aku baru saja aku...."
Azkan menggenggam tangan Maziya dengan erat. "Itu tidak mimpi, itu juga bukan karena mu. Aku sengaja melakukannya."
"Kak Azkan sengaja?. Apa mempermainkan orang itu menyenangkan?. Berapa kali Kau harus menyakitiku?" teriak Maziya membuat semua orang terdiam.
Barga segera mengambil tindakan dengan mengarahkan semua orang keluar. Meninggalkan suami istri tersebut menyelesaikan urusan mereka sendiri.
"Iya, selalu." jawab Maziya singkat.
"Maafkan aku... Maafkan aku...Jika aku harus berlutut pun aku mau."
"Apa kak Azkan kasihan sama Aku?" Maziya mulai meneteskan air matanya.
"Aku mencintaimu, Aku menyayangimu, Mungkin ini baru bisa aku katakan sekarang. Bahwa melampiaskan amarahku 5 tahun lalu adalah kesalahan yang paling aku sesalkan."
"Kalau Kak Azkan menyesal, kenapa masih bersikap begitu saat aku menerima pernikahan ini. Harusnya kan..."
"Harusnya aku dari awal memperbaikinya kan. Harusnya aku berlutut lebih awal dan bahkan mungkin harusnya aku memanjakanmu lebih awal. Aku salah...Aku terlambat menyadari perasaanku. Aku kesulitan membedakan perasaan cinta dengan perasaan bersalah sebagai Sosok Kakak bagimu. Jika aku menganggapmu sebagai adik seharusnya aku bisa memaklumi sebagai keluarga. Tapi aku menyadari bahwa aku menganggapmu sebagai seorang gadis, Gadis yang selalu aku pikirkan mungkin rasa benciku selama ini hanyalah pergolakan batin karena aku adalah Kakak bagimu. Tapi setelah kita menikah aku menyadari bahwa kita bukanlah saudara, kita adalah pasangan, pria dan wanita."
Dengan penjelasan panjang lebar Azkan. Hanya sebuah tatapan aneh yang diberikan oleh Maziya.
"Apa itu kejujuran?. Apa Kak Azkan tiba-tiba mengakuinya karena ngebet punya anak sama aku?"
"Ziya, apa atmosfer tadi masih kurang menyentuh?"
"Bukan begitu, Kak Azkan nggak tahu apa betapa kerasnya aku berusaha agar Kak Azkan nggak tahu kalau ada kehadiranku. Bahkan tiap Kak Azkan datang ke kampus aku harus nyamar."
"Apa itu bisa disebut penyamaran?. Kamu adalah yang paling mencolok dari ribuan yang datang. memakai Hoodie dan kacamata atau Pakaian desainer yang paling mencolok dan aneh."
"Jadi Kak Azkan tahu itu aku?" Maziya sedikit Syok.
"Mmm, aku berpura-pura tidak menyadarinya."
"Ini sangat mengejutkan, rasanya penyamaranku sia-sia saja. Plot Twist." Maziya mengangkat jempolnya.
"Bahkan jika aku melihatmu dari Atas Gedung, aku bisa memastikan kamu yang mana karena aku tahu perawakanmu."
"Kalau gitu aku akan berikan hal yang lebih mengejutkan dan Plot Twist pengakuan Kak Azkan ini."
"Apa aku juga penasaran apa ada yang bisa menvejutkanku?" Azkan sedikit meremehkan.
Mungkin dia lupa, bahwa Maziya memiliki IQ yang sangat tinggi. Maziya bukanlah gadis biasa yang punya kelainan Bipolar saja. Dia Gadis dengan IQ tinggi yang punya beragam cara dalam otak supernya.
"Aku udah lama sembuh..." Maziya tersenyum begitu sumringah.
"Sembuh?" Azkan berusaha memahami situasi yang ada.
Rupanya sejak awal, Maziya yang memberikan ide agar Randy melihatnya di Klinik Dr Faruq. Ia pikir, Randy pasti memberi tahu Azkan semuanya tanpa terkecuali.
Hal itu menuntun Azkan melakukan penyelidikan dan mendengarkan penjelasan Dr. Faruq. Selama satu bulan saat Azkan mengira ia sedang dalam masa terpuruk adalah masa dimana Maziya mengetahui hasil dari otopsi jasad Ayahnya.
Memang hal itu dipicu Azkan yang membuat Maziya memberanikan diri. Ia tidak mau lagi langsung Depresi parah hanya karena mendengar Ayahnya disebut kemudian hari.
Hasil akhir dari otopsi adalah Ayahnya memang murni kecelakaan. Tidak ada kandungan apapun dari pil Vitamin yang diminum ayahnya. Saat itu perlahan Maziya mulai menjalani terapi kembali dan Ingatan yang ia pikirkan hanyalah beberapa Ilusi dari ketakutannya sendiri.
"Jadi selama ini..." Azkan mengusap keningnya sendiri.
"Apa Kak Azkan mau narik ucapan Kak Azkan barusan?. Kak Azkan nggak benar-benar cinta sama aku gitu?"
"Tentu saja tidak, apa lagi pilihan yang bisa aku miliki. Aku memang benar-benar mencintaimu. Aku juga tidak tahu sejak kapan pastinya aku baru menyadarinya sejak kita menikah dan menjadi lebih dekat."
"Mmm tentu saja."
Semua orang kini masuk ke dalam ruangan kembali. Mengucapkan selamat atas pengakuan Cinta Azkan yang diterima diikuti dengan Plot Twist nya.
Bersambung....