The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
49. Ada yang Cemburu (2)



Saat berdalih ingin peregangan, Maziya diam-diam membeli sebotol Miras dari seorang lelaki asing. Lelaki yang sudah berambut putih itu tampak seperti preman yang kabur.


Bukan hanya preman, dia adalah pasien dari Klinik Dr. Faruq yang kabur hingga ke RS Galanga. Maziya kemudian membujuk Pria itu agar kembali sementara ia membeli minuman itu dengan harga mahal.


Siapa sangka Pria itu setuju, Barga sampai terheran-heran melihatnya. Awalnya Maziya berniat membuang botol minuman itu sendiri, pengawal lain berusaha menutupi keberadaan Maziya.


Tiba-tiba saja, Maziya memunculkan ide unik untuk mencoba minuman tersebut. Kebetulan juga tutupnya sedikit longgar, karena Pria tersebut memang berniat membukakan tutup botolnya.


Satu teguk dua teguk ia meminum hampir setengah botol. Barga langsung menarik dan membuang botol itu dengan cepat ke dalam Tong besi.


"Nona, mengapa anda meminumnya?"


"Aku hanya mau tes seberapa ngefek nya minuman itu. Aku beli dengan harga mahal loh. Aku tak mau rugi"


"Anda bilang akan membuangnya segera dan meminta kami menutupi agar tak ada yang diam-diam mengambil gambar. Tapi kenapa anda meminumnya Nona?" nada Suara Barga terdengar panik sekaligus frustasi karena ulah Maziya.


"Aku yang punya, terserah ku mau bagaimana. Kalian hanya bawahan termasuk kamu sekretaris Barga."


"Aku memang bawahan, tapi aku bertanggung jawab atas keselamatanmu Nona."


"Apa orang lain akan mati ketika meminum minuman itu?".


"Bisa saja Nona, Kita tidak tahu apa kandungannya."


"Buktinya aku baik-baik saja." Maziya menunjuk dirinya.


"Kalau tidak mati, Anda pasti akan mabuk kalau tidak toleransi pada alkohol...dan..." belum selesai Barga bicara, Maziya kini sudah berdiri agak miring.


"Ayo kita kembali!"


"Sebaiknya kita pulang Nona, bagaimana. Aku akan minta izin pada Tuan Azkan!"


"Apa dia membolehkan nya. Aku yakin dia akan menyuruhku membersihkan Rumah sakit ini sekalian biar puas dia membuatku menderita." ujar Maziya.


Saat beberapa langkah, Maziya tiba-tiba saja berlari ke halaman. Saat berhasil didapatkan beberapa pengawal, ia segera mengaktifkan Sepatunya, setengah pengawal tumbang karena aliran listrik dari sepatu Maziya.


Azkan sampai di halaman Rumah Sakit. Ia melihat beberapa pengawal berniat menyambut tubuh Maziya sembari membujuknya agar turun dari Tembok yang lumayan tinggi dan berhenti berlarian.


Maziya terus berlari kesana kemari tak peduli tembok yang ia pijak hanya memiliki ketebalan sejengkal Pria Dewasa.


"Kalau kalian berani naik, aku akan buat kalian pingsan, hahahaha." Maziya tertawa kesana kemari.


"Apa lagi yang dilakukannya. Maziya Kalau sehari saja kau tak membuatku sakit kepala bagaimana?"


.....


Azkan meminta para pengawal yang tersisa untuk mengosongkan area tersebut. Tidak peduli dengan cara apapun karena ia tak mau ada yang merekam bahkan mengetahui siapa Maziya.


"Tuan maafkan aku tidak sempat membuang botol minumannya sebelum Nona meminumnya." Barga menunduk.


"Siapa yang bisa mengatasi Parasit gila ini memangnya?" ucap Azkan memaklumi.


Ucapan Azkan itu membuat Maziya berhenti sejenak. Ia menatap ke bawah sembari tersenyum.


"Parasit?. berhentilah menyebut istrimu begitu bisa tidak?"


Azkan memastikan sekitar yang kosong.


"Tidak, kau selamanya adalah parasit dan sampah tidak tahu malu."


"Aku cemburu sama Rasti, dia sangat menyebalkan dan labil. Mengapa tidak membuat jarak. Kalian membingungkan semua orang."


Azkan meminta Barga tidak ikut campur saat ini ia yang akan mengambil alih. Barga kemudian meminta pengawal yang tersisa untuk membawa pengawal yang pingsan agar sadar.


"Hanya karena cemburu apa kau pantas bertindak seperti ini?" tanya Azkan tenang.


"Aku hanya khawatir kakinya kenapa-kenapa."


"Aku juga kesakitan, aku sangat lelah melakukan pekerjaan itu. Apa kau tidak merasa khawatir sedikitpun?"


"Aku bahkan menyuapimu."


"Kau hanya melakukannya untuk sandiwara."


"Bukankah itu memang perjanjian kita?"


"Ya, kontrak, perjanjian, wasiat." Maziya terkekeh sambil berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.


"Tentu saja, dan karena itu juga mau mau menikah kan. Aku demi wasiat dan kau demi uang."


"Kau juga begitu, berhentilah sok suci dengan melupakannya. Mungkin kau sempat berpikir merelakan warisan itu. Tapi semua yang kau takutkan, bahwa aku mendapatkan sedikit kekayaanmu apa bedanya kau dengan diriku hah?"


"Berhentilah bicara dan turun!"


"Memangnya kenapa?. Kau malu pada orang lain?. Kak Azkan berhentilah bermain peran. Kau hanya peduli uang keluargamu. Kau tidak ada bedanya denganku. Apa hakmu membuatku berada jauh di bawah mu Hah?"


"Maziya..."


"Panggil saja aku wanita gila, gadis parasit, sampah dan semacamnya!"


"Turun!" kini Azkan yang balik berteriak.


"Tidak, kenapa kau hanya meneriaki ku saja." Maziya tersenyum, "Kau pasti berpikir aku adalah gadis manja 5 tahun lalu. Gadis kecil yang bisa kau atur seenaknya. Kau pikir aku benar-benar takut padamu?. Aku tidak pernah takut pada siapapun apalagi orang yang tidak menyayangiku."


"Apa yang sebenarnya kau katakan?"


"Jujur saja, aku benar-benar ingin mati. Aku hanya berbaik hati dan hidup demi Mama. Aku hanya menikahimu demi Mama, aku hanya menjalani peran pernikahan 3 tahun ini demi Mama. Cinta ?. Aku tidak berharap kau mencintaiku. Karena kalau sampai kau mencintaiku...."


Azkan menunggu ucapan yang akan disampaikan Maziya. Namun, Istrinya itu tumbang dan berhasil ia raih dalam pangkuannya.


"Kalau sampai aku mencintaimu apa yang akan terjadi?. apa yang akan kau lakukan Ziya?" tanya Azkan menatap wajah Maziya yang terlelap dan sudah merah akibat mabuk.


Maziya kini terbaring di ranjang Ruang VVIP Rumah Sakit yang kebetulan kosong. Azkan duduk di samping setelah memberikan alasan pada Nyonya Lidia dan Tuan Alam.


Azkan membayangkan apa yang digumamkan Maziya saat masih terlelap di pangkuannya sepanjang perjalanan ke ruangan VVIP tersebut.


'Jangan sampai kau mencintaiku.


'Semua yang mencintaiku menderita.'


' Aku gila...Dokter Faruq lebih tahu.. Hehehh..'


"Ucapan macam apa itu?" Azkan mengacak rambutnya.


"Tuan, apa yang anda pikirkan?"


"Tidak ada, aku mau mandi. Atur seseorang untuk pakaiannya dan bereskan keadaan " tunjuk Azkan pada Maziya.


"Baik Tuan."


Barga segera membayar seorang staff khusus Rumah sakit untuk menjaga rahasia Dimana Maziya mabuk. Ia hanya boleh memberikan laporan bahwa Maziya kelelahan dan sedikit gejala anemia ringan. Sementara seorang perempuan diatur untuk membersihkan tubuh Maziya sesuai perintah.


Azkan merasa senang, saat Maziya terus terang bilang kalau ia cemburu pada Rasti. Memang terus terang dari Maziya lebih menenangkan, karena kebohongan istrinya itu tak berguna.


"Apa itu artinya dia benar-benar jatuh cinta padaku, bukan pada harta keluarga Serziano?" Azkan tersenyum.


"Tapi dia bilang hanya menikah untuk Dapat semua kompensasi kan?. Apa 5 tahun lalu juga dia benar-benar jatuh cinta padaku?. Apa semua yang ia jelaskan, bahwa ia sudah susah payah mengumpulkan keberanian menyatakan perasaan adalah yang sebenarnya?. Mengapa aku sesenang ini?"


Bersambung....