The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
17. Agak Kecewa



Maziya memilih pakaian yang sudah tersusun rapi untuk bagiannya.


"Ini apa?"


Pakaian Dinas malam model G-String yang seksi. Bisa dibilang pakaian itu setengah telanjang dan biasanya dipakai orang-orang barat kalau lagi ke pantai.


Bukan itu saja, banyak pakaian tidur yang dapat membuat Azkan mengejeknya kalau berani ia pakai. Masih segar dalam ingatan Maziya saat memendekkan Roknya saat awal SMA. Saat itu ia mulai menyadari bahwa ia menyukai Azkan.


Azkan selalu marah dan bilang tidak akan mau mengajaknya makan di luar kalau masih melakukan hal semacam itu.


"Ini pasti dari Mama Lidia."


Maziya memilih pakaian tidur paling normal. Baju lengan pendek dan celana pendek di atas lutut. Ia tidak lupa memakai Bra, takut kalau nanti diejek dan dijadikan sebagai bahan bagi Azkan menghina tubuhnya.


"Panjang celananya bahkan nggak nyampe selutut."


Maziya keluar dan mendapati ranjang yang bunga-bunganya sudah berada di lantai. Azkan sudah berada di balik selimut tidak memedulikan Maziya.


Nyaman banget bisa keramas dan ngeringin rambut begitu cepat. Sedangkan aku harus bersabar sampai besok pagi buat keramas.


Maziya memilin-milin rambut lurusnya yang sudah payah saat membuka sanggul dan segala pernak-pernik saat Resepsi.


"Maziya perlahan ikutan masuk ke balik selimut di sebelah Azkan."


"Kau di sofa dan aku di ranjang." Dengan mata tertutup Azkan berbicara.


"Enggak, Aku di ranjang atau kita sama-sama di ranjang." Maziya tidak mau kalah.


Azkan bangkit dari tidurnya.


"Ini Kamarku, Rumahku, Ranjangku Semua milikku."


"dan Semua milikmu adalah milikku dalam 3 tahun ini" Maziya tersenyum.


"Kau di Sofa!" Azkan menahan amarah.


Jangan pikir aku akan takut dengan ancamanmu. Aku akan teriak dan minta Mama Lidia mengurusmu.


"Aku mau disini" Maziya berbaring dan menarik selimutnya.


"Dengarkan...Ziy..."


"Aku di sofa tapi Kak Azkan bayar lagi 1 M!" Maziya mengajukan penawaran.


"Tidur saja disini Gadis Matre" Azkan meletakkan Guling di tengah-tengah mereka.


"Kalau kau menyentuhku, dan coba-coba ambil kesempatan. Aku potong jatah uang bulananmu!"


"Udah harus kerja biar dapat, pakai ada potongan juga?"


"Iya, Potongannya dari 3 digit jadi 2"


"Oke akan aku turuti" Maziya langsung tunduk kalau sudah disinggung perkara uang.


Motongnya nggak nanggung ya. dari 3 jadi 2 dasar pelit. Mengecewakan, kalau Kak Rasti pasti dia bakal loyal.


"Eh Kak Azkan."


"Apa lagi?"


"Kok Aku nggak lihat ada Kak Rasti ya tadi?"


"Dia sakit."


"Siapa yang bilang?"


"Ya Randy lah, siapa lagi?"


"Ooo, terus yang jadi Groomsmens selain Kak Randy sama Sekretaris Barga yang lainnya teman Kak Azkan. Kok aku nggak kenal?"


"Kalau kau masih bicara lebih baik tidur di sofa dan lupakan kesepakatan kita!"


"Iya-iya pelit info"


.....


Nyonya Santy kembali dari kamar Rasti. Tiba-tiba saja demam Rasti naik dari tadi siang.


Tuan Tora memandang Istrinya di tangga. "Kenapa Ma, masih belum turun?"


"Masih diperiksa sama Randy Pa."


"Itu Randy beneran terampil kan?"


"Dia itu Dokter Pa, Dia cuma tinggal ambil Spesialis biar Papa senang."


"Papa cuma khawatir sama Rasti saja" Tuan Tora duduk di sofa menunggu Randy keluar.


"Putri kita itu sering sekali sakit."


"Tapi kan Dia punya pacar Dokter, Papa tenang saja!"


"Papa sih tenang Ma. Tapi ini belum juga keluar mereka nggak ngapa-ngapain kan di dalam?" Tuan Tora terus melirik jam dinding yang sudah melewati tengah malam.


"Papa jangan sembarangan sama Randy. Dia itu sangat menghargai putri kita dan juga tahu sumpah seorang Dokter."


"Iya, belain aja terus"


"Ini pasti efek Papa kecewa sama Putranya Tuan Serziano kan?"


"Iya Sedikit."


"Jangan sampai Randy tahu apa yang Papa pikirkan!"


"Papa tahu Ma, tahuu"


Randy pamit undur diri setelah memastikan kondisi Rasti. Ia mengemudikan mobilnya kembali ke Rumah Sakit.


Randy tiba-tiba saja berhenti di pinggir jalan. Ia meremas setir mobilnya dengan kuat.


Ia membuka ponsel dan melihat satu pesan dari Azkan yang belum ia balas.


'Apa Rasti baik-baik saja?. Pasti dia salah makan lagi kan, perutnya lemah.'


Randy meremas ponselnya saat membayangkan Rasti. Gadis yang ia cintai itu menggumamkan nama Azkan saat akan ia cium.


Randy kecewa, apa keputusannya untuk memacari Rasti adalah kesalahan. Apakah Rasti sebenarnya hanya menerimanya karena takut persahabatan mereka hancur. Apakah orang yang disukai Rasti bukan ia melainkan Azkan.


......


Miko membantu mencabut ponsel Mark yang sedang di cas. Sebuah notifikasi pesan muncul membuatnya keheranan.


"Kak apa kamu menyelidiki Maziya?"


Miko bertanya karena ia penasaran dengan apa yang dilakukan kakaknya itu saat di resepsi. Di tambah lagi dia menemukan pesan yang baru masuk ke ponsel Mark yang sedang berada di tangannya.


"Jangan sok tahu!" Mark merebut ponselnya.


"Aku lihat sendiri apa yang kamu lakukan padanya di Resepsi."


"Kalau iya kenapa?. Kita tidak sedekat itu untuk saling curhat."


"Kamu juga tahu kalau aku mengenalnya."


"Tentu saja, aku juga tahu kalau kamu menyukainya secara diam-diam dari berbagai Foto ini." Mark menggoyang ponselnya.


"Syutt, pelan kan suaramu atau Mama akan dengar!"


"Biar saja Mama dengar." Mark tidak peduli.


"Mama pasti akan Syok bahwa gadis yang kita bicarakan ternyata orang yang sama dan juga orang yang tidak disukainya."


Nyonya Virada keluar kamar sembari mengusap dadanya "Apa?"


Miko menjelaskan bahwa ia sudah tidak menyukai Maziya. Lebih tepatnya berusaha melupakan Maziya seperti janjinya, butuh waktu.


"Mama percaya kamu Miko." Pandangan Nyonya Virada beralih pada Putra keduanya.


"Aku hanya penasaran dengannya Ma." Mark mengangkat bahu.


"Apapun yang kamu pikirkan, jangan coba-coba ganggu Keluarga Serziano Mark. Mereka bukanlah tandingan Kamu bahkan Firma Hukum kita sekalipun!"


"Kenapa Mama khawatir begitu?"


"Mama sungguh-sungguh Mark. Jangan karena sikap kamu, Firma Hukum yang Mama besarkan demi Papa kalian hancur begitu saja."


"Kan ada yang di Korea Ma." Mark merujuk pada Firma Hukum peninggalan sang Ayah yang kini dipegang Kakak pertamanya Mino Choi.


"Mama mau di Indonesia!" Nyonya Virada meninggikan suaranya.


"Iya Ma, tenang Ma" Miko mengelus punggung Mamanya.


"Aku punya cara tersendiri Ma." Mark berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Miko..." Nyonya Virada memandang putra bungsunya.


"Aku akan pastikan bahwa Kak Mark tidak menghancurkan Firma Hukum kita Ma!"


Nyonya Virada berusaha tenang. Putra keduanya itu selalu keras kepala dan punya pemikiran sendiri sejak kecil. Bahkan Almarhum suaminya sempat takut kalau putra keduanya itu mengambil jurusan hukum. Takut bila dia melanggar apa yang benar hanya demi kepuasan.


Meskipun Nyonya Virada agak kecewa dengan Mark yang berhasil jadi pengacara, Kekecewaannya lebih lagi pada Miko yang tidak mau sama sekali bersentuhan dengan Hukum justru beralih pada Manajemen.


Bersambung....