
Kali ini Azkan menyuruh Maziya untuk mewakili Lintang mengambil berkas.
"Tapi Pak, itu kan bukan tugas dari.." Pitaloka berhenti bicara.
Barga mengisyaratkan agar Pitaloka tidak ikut campur.
"Baik Pak, ada yang lain?."
Maziya bertanya dengan raut wajah terpaksa, terpaksa senang. Juga dengan irama mirip seperti pelayan cafe saat memastikan menu pelanggan VIP menyebalkan mereka.
Azkan menautkan alisnya seolah sedang berpikir keras. "Aku pikir-pikir dulu. Kalau ada nanti kukatakan."
"Berarti saat ini tidak ada ya Pak?" Maziya tersenyum Seperti seorang Sales yang sedang menahan sabar.
"Jangan banyak tanya!"
Maziya keluar dari ruangan dengan perasaan kesal. Kesal sungguh kesal, hingga ia sangat ingin meninju wajah Azkan saat melihatnya remeh.
Ia bahkan menghentakkan kakinya setibanya di luar. Azkan mengulas senyuman dengan tingkah Maziya yang terlihat dari dinding kaca ruangannya yang tirai otomatis nya terbuka.
Pitaloka hanya mampu mengurut dada dengan perlakuan CEOnya itu. Untung saja dia akan segera resign, kalau tidak bisa-bisa dia stress duluan. Dia cukup lama menjadi sekretaris kepercayaan Tuan Alam, tapi kepribadian Tuan Alam tentunya lebih baik dari Azkan. Apalagi Tuan Alam memperlakukan Istrinya bagai Ratu.
Kenapa Azkan berbeda, Pitaloka membuyarkan pikirannya sendiri. Mungkin karena Maziya punya pekerjaan di Perusahaan ini. Anggaplah mereka pasangan yang romantis di rumah dan profesional di Tempat kerja.
.....
"Biar aku saja Nona, maksudku Buk, Maksudnya Maziya." Lintang menahan berkasnya.
"Tidak Bang Lintang, Kata Pak Azkan aku yang harus membawa berkas ini ke Departemen Penasaran. Kalau tidak percaya tanya saja Pitaloka!"
"Iya tapi itu tugasku Bu. eh, Maziya." Bukan hanya Renald saja yang susah menghilangkan panggilan sopan pada Maziya.
Biasanya karyawan memang memanggil Azkan dengan sebutan Tuan kalau diluar saja. Kalau di Perusahaan memangilnya formal dengan sebutan Pak. Kadang mereka juga suka terbalik-balik memanggil Azkan Tuan di Perusahaan dan memanggilnya Pak saat berpapasan di luar. Biasanya kalau salah begitu, Azkan akan memberikan tatapannya yang lebih horor dari malaikat maut.
........
Saat Jam Makan Siang...
Maziya mengucur pergi meninggalkan Kantin Perusahaan. Ia harus menemui Viola untuk mendengar unek-uneknya. Agar ada dukungan dan timbal balik dari sahabatnya itu, kalau orang lain pasti takut berbicara buruk tentang Azkan.
"Apa dia pikir aku pelayanannya?." tanya Maziya dengan nafas masih memburu jengkel pada Viola.
"Kenapa kamu mau kerja disana?"
"Ada alasannya Viola,"
"Kamu juga nggak mau ngasih tahu aku kan." Viola merengut.
"Enggak terlalu penting kok."
Viola bersiap menceritakan kemunduran Website miliknya. Baru tarikan nafas permulaan...
"Lihat ini, waktu makan siang bahkan belum berakhir tapi Dia memintaku datang dalam 5 menit?. Gila sekali kan."
"Terus kamu mau..." Viola terdiam melihat Maziya yang sudah menghilang secepat kilat dari pandangannya.
Kamu mau balas nggak?. Aku yakin jawabannya enggak kan.
Viola melihat Miko baru saja datang dengan seorang Pria. Dengan tingkat penasaran yang tinggi, Viola mendekat dan menguping pembicaraan Mereka.
Ternyata Miko sedang memberikan konsultasi tentang Bisnis Pria tersebut. Obrolan mereka berakhir dan Pria itu mengatakan bahwa bayaran Miko sudah ditransfernya.
Miko menutup Laptop. Tiba-tiba sesosok makhluk duduk di depannya. Hal itu membuat Miko menutupi Laptopnya takut jika yang datang adalah maling.
"Aku bukan maling kali."
"Vio,. Kamu ngapain disini?"
"Ini kan Kafe favoritku dan Maziya."
Miko celingukan mencari keberadaan Maziya. Ia duduk tegak kembali juga merapikan rambut serta kerahnya.
"Tapi Maziya nya udah pergi sebelum kamu datang." Viola tersenyum pongah suka dengan reaksi kecewa Miko.
"Ooh," Miko menyeruput minumannya.
"Katanya kamu udah mau Move-on?"
"Masih usaha," Miko menyeruput minumannya sekali lagi.
"Oke semangat yaa, apa tu bahasa Koreanya Fighter!" Viola mengangkat tinjunya.
"Fighting." Miko membetulkan ucapan Viola.
Miko sudah menghabiskan minumannya. Ia melihat Viola yang ragu-ragu untuk berbicara padanya. Insting membantu orang lain dalam diri Miko bergejolak. Tapi dia masih kesal karena apa yang ditulis Viola waktu itu.
"Miko " Akhirnya Viola memberanikan dirinya.
"Ada apa?" Miko membenarkan posisi kacamata tebalnya.
"Boleh minta tolong nggak. Waktu itu kan kita udah impas."
"Impas bagaimana, kamu menggunakan ancaman untuk meloloskan diri. Pengalihan Isu."
"Kamu kan nggak pendendam orangnya."Viola cengengesan.
"Kamu salah, aku cukup pendendam terutama urusan pribadi alias my privacy."
"Kan udah aku hapus. Gara-gara hal itu Website aku turun peringkat. Kalau terus turun gimana nasib Perusahaan Ku." Viola memelas.
"Oo mau minta tanggung jawab."
"Nah itu dia. Memang yaa Lulusan terbaik Manajemen Kampus kita sangat luar biasa." Viola mengangkat jempolnya.
"Aku tidak ada urusan dengan hal itu. Lagipula apa kamu benar-benar memenuhi janji untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Ziya?"
Viola merasakan lidahnya yang kelu. Bagaimana bisa Miko mengetahuinya.
"Tidak perlu kamu jawab. Harusnya aku tidak setuju dengan ancaman kamu karena akhirnya tetap akan bocor."
Miko merapikan Laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kamu ngasih konsultasi sama Pria tadi. Kasih juga buat aku gimana?."
"Dia itu bertanya tentang Perusahaannya."
"Aku juga, biaya nya akan aku bayar sama persis. Aku nggak akan minta harga temen." Viola mengangkat 2 jari tangan bersumpah.
"Bukan masalah harga. Apa masalah penurunan popularitas Website kamu sebanding dengan Perusahaan Pria tadi?."
"Kenapa tidak?"
"Pria itu memiliki Perusahaan kecil yang ia bangun dari 0 bersama beberapa rekannya. Mereka mengelola ternak di kampung. Menggunakan Prinsip Kerjasama dan..."
"Stop Stop Stop. Aku bukannya mau dengar derita mereka. Aku mau kamu melakukan hal yang sama untuk Perusahaan ku. Aku juga membangun semua ini dari 0 ya."
Miko berdehem "Dari 0?"
Viola mengangguk.
"Gedungnya milik siapa?. Niti Contruction kan?". Lalu gaji karyawan lainnya, melihat dari kesenangan mereka. Pasti bukan dari hasil Website kan?"
Viola lagi-lagi merasakan lidahnya kelu. Dia adalah orang yang cerewet dan jarang sekali dipatahkan sedemikian rupa oleh seseorang. Bahkan Maziya yang juga pintar bicara tak pernah membuatnya begitu tersinggung.
"Kamu pikir aku anak manja?"
"Aku hanya menduga. Dari ekspresi kamu pasti dugaanku benar kan Vio?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tidak punya banyak waktu luang. Kalo kamu nggak mau ngasih saran ya udah."
"Baiklah aku ada saran utama dan satu-satunya."
"Apa itu?" Viola sudah bersemangat.
"Perusahaan kamu sebaiknya ditutup. Itu saran dariku. Tidak perlu bayar aku kasih gratis."
"Kenapa harus ditutup?"
"Apa yang kamu harapkan dari Website itu?. Apa netizen akan mengakuinya. Ada banyak Website sejenis bahkan hanya jadi bagian kecil dari Beberapa Media Lokal. Website kamu tak lebih dari akun biasa yang dibuat lara remaja iseng."
Miko tersenyum, mata sipitnya yang menutup dibalik kacamata tebalnya membuat emosi Viola memuncak. Tersenyum saat ia diharuskan mengubur mimpinya dan kecintaanya pada Fotografi?.
"Miko Choi, aku nggak butuh bantuan kamu." Viola bicara dengan penekanan kemudian berdiri.
"Jangan panggil aku.."
"Jangan bicara denganku. Kamu nggak tahu apa-apa. Kalo nggak mau ngasih saran ya udah. Tinggal nolak."
Remaja iseng?. Tidak diakui?. Matamu yang sipit itu kucolok garpu.
Miko melihat kepergian Viola. Gadis itu berlalu dengan wajah masam bahkan melayangkan jari tengah pada Miko saat berada di luar. Viola sangat kesal pada pemikiran sok Tahu Miko.
Miko geleng-geleng kepala dengan kelakuan Viola. Ia dapat melihat Viola dari dalam karena dinding kafe itu merupakan kaca satu arah.
Bersambung....