The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
51. Kata-kata Sendiri



Hasil Rontgen dari Rasti akhirnya keluar.


"Nah benar kan, aku bilang juga apa. Tidak perlu pakai tes Rontgen segala."


"Apa tidak ada masalah Randy?"


"Kamu hanya sedikit lebam Akibat benturan keras." jawab Randy.


"Syukurlah, bagaimana dengan Azkan. Apa dia malu karena bertindak berlebihan?" Rasti terkekeh.


"Dia bilang Istrinya sedang sakit juga, jadi dia harus menjaga Istrinya."


"Apa kamu tidak memberikan hasil tes ini padanya Randy?"


"Jangankan memberikannya, Ia tak tertarik untuk melihat. Dia bilang percaya saja dengan hasilnya. Dia tahu ada aku disini."


"Tetap saja, dia yang bersikeras agar aku mendapatkan perawatan di Rumah Sakit ini. Apa dia meninggalkanku begitu saja?"


"Bukan begitu sayang. Istrinya pingsan di halaman, ada gejala anemia. Dia harus menemani istrinya. Bahkan sampai menyewa Kamar VVIP lagi" Randy terkekeh pelan.


"Apa Azkan mau saja dibodohi oleh istrinya. Kamu tahu kan istrinya siapa Randy"


"Tentu saja, tapi itu adalah urusan Azkan."


"Dia Maziya, Gadis yang kita temui dahulu. yang selalu bertindak sok akrab dengan gayanya yang arogan." Rasti penuh penekanan. "Gadis yang tidak tahu malu setelah memeras kekayaan keluarga Serziano dan diusir tetap punya wajah untuk kembali bahkan menjadi menantu."


"Kamu terlalu berlebihan Rasti. Sebelum menikah, Dia masih muda dan..".


"Menjadi muda bukanlah alasan untuk bersikap buruk Randy ?" Nada suara Rasti terdengar makin meninggi.


Rasti tetap mau memastikan apakah Maziya berpura-pura atau tidak. Dia akan pastikan wajah memalukan mana lagi yang bisa ditampilkan oleh Maziya.


"Ini tengah malam, tidak enak membuat keributan Sayang."


"Aku cuma mau pastiin kok Randy."


.....


Di depan Kamar VVIP


Para pengawal yang berjaga menahan Rasti agar tidak masuk.


"Kalian tidak tahu aku siapa?"


"Siapapun anda, kami tidak boleh membawa anda masuk tanpa perintah." jawab salah seorang pengawal.


"Aku sahabat Azkan."


"Tuan hanya menyuruh Sekretaris Barga membawa staff khusus dan Staff RS yang bersangkutan." tambah pengawal itu lagi.


Barga membukakan pintu, namun Rasti dan Randy terdiam karena melihat Azkan yang pasrah saat Pakaiannya dilucuti oleh Maziya.


"Nah itu dia..." tunjuk Maziya ke arah mereka.


Azkan segera mendorong tubuh istrinya ke kasur. Ia juga menutup selimut dengan segera.


"Barga kami sedang tidak ingin diganggu!"


Barga mengangguk, "Sebaiknya kalian keluar dulu."


Randy dan Rasti pasrah saat berjalan keluar. Apalagi Rasti, ia tidak mau lagi menginap dan ingin pulang malam itu juga.


"Kenapa harus sekarang sayang?. Ini tengah malam."


"Buat apa aku disini Randy?"


"Untuk perawatan, kaki kamu kan.".


"Aku nggak apa-apa Randy. Kamu antar aku pulang atau aku minta Papa buat nyuruh supir jemput."


Randy akhirnya mengantarkan kekasihnya itu di dalam kedinginan. Sepi, jalanan embun mengikuti mereka hingga sampai di Kediaman.


Randy berhenti di tengah jalanan sepi sebelum kembali ke Rumah Sakit. Berulangkali ia berusaha untuk menghilangkan pikirannya yang bertindak liar.


"Tidak, Rasti hanya kesal karena karena Azkan bersikap berlebihan lalu lupa padanya. Rasti tidak mungkin kesal karena Azkan yang lebih memilih menjaga Istrinya."


Namun lagi-lagi pikirannya yang positif itu mulai ragu. Ia paham betul raut wajah Rasti saat melihat Azkan bermesraan dengan Maziya. Rasti juga bukanlah orang yang mudah kesal akan sesuatu, apalagi dahulu terlihat tak peduli dengan Azkan yang suka gonta-ganti pacar.


Apakah kini Rasti mulai khawatir karena Maziya adalah pasangan yang buruk?. Apa mungkin Rasti khawatir karena Azkan mulai serius dengan perempuan. Azkan menganggap Maziya lebih dari sekedar pacarnya dahulu yang hanya bertahan selama sebulan. Apalagi, Pernikahan Azkan dan Maziya kini lebih dari satu bulan dan bukannya makin meregang justru mereka semakin lengket kemana-mana.


.........


Barga kembali bergabung dengan para pengawal.


"Sekretaris Barga, kenapa kamu berdiri di sini juga?"


"Tuan Azkan dan Nona Maziya butuh privasi." jawab Barga.


Tanpa banyak bicara para pengawal tersebut dapat memaklumi. Apalagi yang perlu mereka khawatirkan kecuali perjanjian saat bekerja untuk Keluarga Serziano.


.........


Esok harinya.....


Maziya terbangun, ia melihat sekilas Azkan duduk sambil bertelanjang dada. Azkan sedang menatapnya dengan senyuman yang mengintimidasi.


'Apa lagi-lagi semalam aku ..'


Maziya ingat semuanya, termasuk ucapan yang ia katakan. Bahwa ia sukarela dan menginginkan Azkan.


"Bagaimana, apa kau menikmatinya?" tanya Azkan.


"Biasa saja." Maziya berusaha untuk bersikap tenang.


"Kau mungkin memohon lagi padaku untuk meniduri mu. Kau mencoba memakai alasan dengan pura-pura mabuk kan."


Maziya bangkit sembari menutupi tubuhnya dengan selimut. "Pura-pura mabuk?, Kak Azkan yang ngasih aku alkohol padahal aku minta air putih. Apa Kak Azkan sengaja?"


"Kau tidak minta air putih. Ingatlah dengan jelas!"


Ah bodoh, dia tidak akan mau kalah Maziya.


"Sudahlah, cepat transfer bayarannya!"


"Kau memang tidak punya harga diri dan tidak tahu malu ya. Kau yang memohon padaku tapi kau juga minta bayaran?"


"Kalau nggak mau ya udah. Kak Azkan duluan aja mandi nanti aku nyusul."


"Aku mau, tentu mau." Kini wajah Azkan mendekat pada Maziya.


"Kak Azkan mau ngapain?"


"Melakukannya lagi, karena semalam itu kau yang memintanya maka itu gratis. Sekarang aku akan bayar."


Plakkk....


sebuah tamparan melayang di pipi Azkan.


"Tidak, " teriak Maziya. "Kalau Kak Azkan mau lagi, bayar juga yang semalam."


"Kau mengancam ku?"


"Kenapa?. Kak Azkan pasti sangat menikmatinya kan. Apa tubuhku semenarik itu. Tidak usah pura-pura. Kak Azkan yang pura-pura nggak tertarik, padahal udah tercandu-candu."


Azkan tertawa, "Jika menyiksamu tidak mempan dengan uang. Maka mari kita...." pelan-pelan Azkan berniat mencium bibir Maziya.


"Sudah berhasil membuat tanda kepemilikan merah ini di seluruh tubuhku. Kak Azkan masih belum puas ya?. Ya udah ayo.." Maziya memanyunkan bibirnya berniat menyosor bibir Azkan.


Azkan langsung hilang mengucur ke kamar mandi. Dia pasti terlalu bodoh jika berpikir Maziya mudah terintimidasi.


Dia bahkan tidak keberatan meminum pil KB sebelum menikah. Apa kamu masih berpikir dia Normal?.


Maziya menenangkan diri dan pikirannya. Untung saja dia tidak terpengaruh oleh Azkan. Menjadi tidak tahu malu kadang menguntungkannya seperti saat ini.


Maziya juga merutuki dirinya sendiri karena semalam menyinggung DR Faruq pada Azkan. Bisa-bisanya dia masih tidak bisa minum alkohol setelah bertahun-tahun.


"Harusnya aku nggak seceroboh itu buat minum-minum lagi." Maziya mengacak rambutnya sendiri.


Lagi-lagi ucapan memalukan semalam berhasil membuatnya merutuki dirinya sendiri.


Aku juga Menginginkan mu, sukarela?. Apa Kamu ini petugas sosial?. Kau mengizinkannya menyentuhmu bahkan kalau dia nggak minta izin dulu. Kau memang tidak ada harga Diri Maziya. Bisa-bisanya mengingkari kata-kata mu sendiri.


Bersambung.....


.......