The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
41. Aku Tidak Hamil



Maziya dan Azkan sama-sama tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka tidak bersuara juga tidak berniat memulai pembicaraan.


Aku nggak ngantuk lagi. Kak Azkan juga diem aja. Eh biasanya juga dia diam sih, kan emang nggak peduli.


Maziya bangkit dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya Azkan.


"Nonton, nggak bisa tidur."


"ooh."


Lah tumben nggak ngomel. Biasanya dia bilang, tidur karena ia tak bisa kalau lampu kamar menyala terang. ada kesibukan dan BLA BLA Bla.


Maziya menonton Televisi dengan santai. Acara larut malam biasanya memang tidak terlalu banyak iklan. Karena bosan ia berpindah ke mode Net***x. Menonton Drama yang lagi Hype sekali saat ini.


Azkan tiba-tiba saja duduk di sebelahnya. Maziya berusaha keras memikirkan apa yang akan dilakukan Azkan. Dia bisa merasakan bahwa lelaki itu sedang memperhatikannya.


Akhirnya Maziya memandang suaminya. "Kak Azkan mau nonton sesuatu?"


Azkan menggeleng.


"Mau ngomong sesuatu?"


Azkan tidak merespon. Biasanya kalau tidak menggeleng berarti memang ada yang ingin disampaikannya.


Maziya menyatukan dua tangannya ke arah Azkan. Membuat Lelaki itu terkejut dan merasa aneh.


"Kak Azkan mau marah karena aku beli Tas Her**s Termahal ya?. Kak Azkan ternyata tahu kalau aku sembunyikan di dalam laci bawah. Aku pikir Kak Azkan jarang buka itu lagi."


"Kau beli Tas dan menyembunyikannya?"


"Bukan itu ya, Apa kak Azkan marah karena aku beli semua pakaian Gucc* itu?"


"Aku tahu kau beli itu semua. Kan bukti transaksinya ada di ponselku."


"Kalo gitu, Kak Azkan ngelihat kalung berlian yang baru aku beli. Tenang aja aku nggak beli pakai uang 5 M itu kok." Maziya mengangkat dua jarinya.


"Kau beli kalung berlian?. Kalo bukan dari uang itu dari siapa?. Apa kau masih memoroti Mama?"


"Jangan berlebihan Kak Azkan, Memoroti itu sangat tidak nyaman. Mama membelikan apapun dengan senang hati."


"Kau ini.."


"Itu pakai Blackcard dari Papa. Kak Azkan bilang nggak ada hak untuk pemberian Papa kan."


"Oo begitu."


Sudah lama, tetapi Azkan tidak juga bicara. Maziya berdiri membawa ponselnya.


"Mau kemana?" tanya Azkan.


Maziya meniup anak rambutnya yang menghalangi wajah sembari berkacak pinggang.


"Kak Azkan, apa aku juga harus izin buat ambil minum karena haus?. Apa aku juga harus izin kalo ke toilet juga. Kak Azkan curigaan banget sih jadi orang."


Saat Maziya keluar, Azkan kembali tenggelam dalam pikirannya. Setelah malam pertama itu, dia hanya memikirkan satu hal.


Apakah Maziya akan memiliki benih Darinya. Selama sebulan ini dia sudah mempersiapkan diri, tidak akan semarah itu kalau saja apa yang ada dalam benaknya terjadi.


Makanya semua kata-katanya yang ingin memaafkan Maziya kalau sudah berlutut berdarah-darah Hingga menangis hilang begitu saja.


Bagaimana juga, dia mengakui bahwa malam itu dirinya yang khilaf. Dia mengakui bahwa dia yang memanfaatkan keadaan Maziya saat sedang panik dan tergoda dengan kemolekan tubuh Maziya juga suasana yang mendukung semuanya.


Maziya kembali ke dalam kamar sembari diikuti Bi Mirna untuk membawa potongan mangga di piring juga segelas air. Dia sengaja menyuruh Rita memotongnya karena selalu tak sopan. Untung saja Rita mau karena Bi Mirna menyuruhnya.


Bi Mirna menaruh piring dan gelas di meja. "Silahkan panggil saya lagi Nona, Tuan kalau butuh apa-apa."


"Apa kau membangunkan Bi Mirna malam-malam begini hanya untuk makan mangga?"


"Apa itu salah?. toh aku lagi pengen makan mangga." Maziya duduk dan menyuruh Bi Mirna pergi.


Mangga, buah dengan citarasa asam manis. Kenapa tiba-tiba Maziya menginginkannya?.


Maziya melanjutkan tontonannya. Azkan melihat Maziya mengambil dua potongan sekaligus dari tusukannya. Memasukkan sekaligus ke dalam mulut kecilnya yang akhirnya penuh sambil mengunyah.


"Mmmm asemmm tapi maniss juga. Enak banget." Maziya menikmati potongan mangga tersebut.


Apa benar dia sedang Hamil?. Oh Tuhan apa aku akan menjadi seorang Ayah. Aku membenci Maziya tapi aku tak mungkin membenci darah dagingku sendiri.


"Kak Azkan nggak mau, maka semuanya dinikmati oleh ini." Maziya menepuk-nepuk perutnya.


Saat Maziya akan tidur, tak lupa Azkan membantunya dengan selimut. Membuat Maziya Senyaman mungkin.


"Kak Azkan ngapain?"


"Heh?. Ya bantuin kamu."


"Kamu?"


"Kenapa?" Azkan menarik selimut ke arahnya.


"Tumben banget manggil begitu."


.......


"Ziya..."


Panggilan yang sangat dirindukan Maziya akhirnya keluar juga dari mulut Azkan. Apakah Azkan merasakan ketulusannya?. Apakah idenya untuk membuat Papa Alam dan Azkan berdamai dengan mengorbankan diri sendiri mulai dihargai.


"Ziya .." panggil Azkan sekali lagi.


"Iya." jawab Maziya.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Nggak ada lagi, apa Kak Azkan mau aku nyebut apa aja yang aku beli?. Kan bukan semua dari duit 5 M. Lagian siapa yang bayar..."


"Maziya." Azkan memberhentikan omongan Istrinya. "Berhentilah menyebut uang 5 M itu, selain dari uang yang kuberikan, apa ada hal dari malam itu yang ingin kau sampaikan?"


"Aku kurang puas." jawab Maziya sekenanya.


"Kau.." Hampir saja Azkan kembali menyentil dahi Maziya.


"Apa lagi coba?"


"Jujurlah, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Bagaimana pun kau menyerahkan hal paling berharga darimu. Aku akan menjaganya, aku bersumpah."


"Seolah aku hamil aja."


"Memangnya kau tidak?"


"Enggak." jelas Maziya santai.


"Lalu ..?" Azkan bangkit dan duduk sembari menatap Maziya.


Maziya juga ikutan duduk dan kini balas menatap Azkan. "Aku sudah pastikan kak Azkan akan baik begini kalau aku Hamil"


"Kau benar-benar tidak?"


Maziya menggeleng mantap. "Mmm, aku masih berbadan satu."


"Lalu kenapa dengan tingkahmu?. Kau tiba-tiba saja ingin makan mangga, lalu mengelus perutmu."


"Aku makan mangga karena kebetulan Rita lagi ngupas mangga di dapur. Aku mengelus perut karena dingin tapi nyaman."


Azkan membuang nafas.


"Kak Azkan, aku nggak akan hamil karena aku udah minum Pil KB sebelumnya."


"Hah?? Kau minum apa?"


"Pil KB." jawab Maziya. "Aku penuh persiapan kan, udah aku bilang kadang manusia bisa khilaf apalagi dengan kecantikanku." Maziya berbangga diri.


"Apa kau tidak tahu apa konsekuensinya minum Pil KB sebelum memiliki anak?"


"Tentu saja, tapi keuntungannya aku tidak kebobolan kan. Aku udah uji testpack dan garis satu."


"Ya kau pasti gila, dampaknya bahkan kau mungkin akan kesulitan punya anak."


"Kan aku punya uang, aku akan menghabiskan waktuku yang berharga sendirian setelah kita bercerai. Aku takut kalau aku sampai hamil, anakku punya Ayah biologis yang bisanya hanya memarahi Ibunya. Aku bisa tahan disebut janda, tapi janda anak satu, aku belum siap." ujar Maziya panjang lebar dengan sikap terus terangnya.


Tentu saja Azkan paham dengan pemikiran Maziya. Dia juga pastinya belum bisa memberikan perhatian sempurna saat hatinya yang keras membenci semua obsesi Maziya dengan uang, kekayaan dan kekuasaan.


Terlebih lagi, Disaat dia juga belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Cinta diam-diamnya. Meskipun semua barang yang ingin ia simpan pada Rasti sudah lenyap. Tetap saja, saat bertemu Rasti, terasa masih ada rasa hangat yang hanya dirasakannya saat mereka bersama.


Bersambung....