
Barga menemui Maziya untuk membantu memindahkan barang-barang yang sekiranya penting untuk dibawa.
“Nona, sepertinya ini tidak bisa dibawa.” Barga menunjuk kardus berisi buku-buku yang tersusun rapi.
“Tentu itu tidak dibawa, aku mau minta tolong sekalian, oh ya bagaimana caraku memanggilmu. Sekretaris Barga?”
“Bukankah anda baru saja memanggil saya Nona?”
“Siapa tahu kau mau kupanggil Kak, atau abang, atau Mas, atau kang, atau nama saja.”
“Sekretaris Barga saja, Nona”
“Baiklah, kau juga bisa memanggil namaku saja!”
“Tidak Nona, anda akan segera menikah dengan Tuan Azkan.” Barga mengangkat kardus tersebut diiringi Maziya yang tidak mau membawa apa-apa kecuali tas dan ponselnya.
“Kalau begitu Nona saja!”
Maziya bertanya bagaimana pertemuan Azkan dan Barga hingga menjadikan Barga sebagai sekretaris kepercayaan.
“Nona, apakah tidak bisa menungguku selesai dengan barang-barang Anda dahulu?”
“Oh begitu ya, kalau begitu aku tunggu di mobil saja”
“Baik Nona”
Maziya memasuki mobil bewarna hitam yang biasa dipakai Barga mengantar Azkan kemana-mana. Terutama saat Azkan sedang tidak ingin mengendarai mobil Sport putih favoritnya.
Barga melihat Maziya yang tengah duduk santai di mobil sembari berselfie ria. Sementara dirinya sibuk sendirian mengangkat barang-barang Maziya.
“Nona, apakah semuanya akan anda bawa?”
“Tidak, taro saja disana, nanti ada petugas yang akan datang. Aku bisa membeli peralatan baru nantinya”
“Tapi bukankah masih banyak yang bagus dan bisa dipakai Nona?” Barga yang pernah hidup dalam kemiskinan tidak tega melihat barang-barang tersebut.
“Tentu saja masih bisa dipakai, hanya saja aku tidak akan memakainya lagi.”
Tak lama kemudian dua orang petugas datang membawa kardus-kardus tersebut ke atas mobil truk dengan merek sebuah organisasi sosial dan kemanusiaan.
Apa Nona tengil yang dikatakan Tuan Azkan ini menyumbangkan semua barang-barang mewahnya?. Dia cukup dermawan juga rupanya, meskipun angkuh dan suka berfoya-foya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam satu sama lainnya.
“Apa kau tidak ingin mendengarkan lagu?”
Maziya membuka pembicaraan mereka.
“Tuan Azkan tidak suka mendengarkan lagu di mobil Nona.”
“Tapi kan Tuan Azkan, maksudku dia kan tidak ada.”
“Aku sudah mencabut semua peralatannya Nona.”
“Aku hanya mendengar saja dari Mama kalau kau sangat taat pada Ka Azkan. Setelah melihat sendiri, ternyata kau memang taat ya.”
Maziya menahan tawanya, ia tiba-tiba mengingat curhatan Nyonya Lidia saat Barga pertama kali datang ke rumah. Saat itu, Barga benar-benar seperti pelayan yang mengabdikan diri dengan cara menjaga Azkan.
Bahkan sampai ke kamar mandi pun. Barga berniat membantu Azkan mandi sehingga Azkan benar-benar kaget dan berteriak sampai kehilangan suara.
Barga juga pernah mengikuti Azkan hingga orang-orang menyangka mereka pasangan gay. Barga mencoba mengikuti Azkan dari gaya hingga ke cara bersikap karena memang Barga serba bisa. Barulah setelah satu tahun, Barga bisa menyesuaikan diri dan memenuhi ekspetasi Azkan sebagi sekretarisnya.
“Aku memikirkan kau yang sangat taat ini sewaktu pertama kali menjadi sekretaris Kak Azkan.” Kini Maziya tidak bisa menahan tawanya hingga terkekeh.
“Rupanya Nyonya juga menceritakannya pada Anda ya” Barga mengelus tengkuknya sendiri.
“Tentu saja, tidak ada rahasia diantara kami. Ceritakan bagaimana kau bisa sangat patuh pada Ka Azkan seperti ini. Aku benar-benar penasaran apa yang sudah dilakukannya untukmu!”
Barga tidak mau bercerita, baginya cukup ia dan Azkan saja yang tahu bagaimana kisah pertemuan Mereka. Maziya menghembuskan nafasnya kasar agar sengaja terdengar oleh Barga.
Tiba-tiba Maziya memutarkan lagu sedih dari ponselnya lalu meninggikan volume suara. Perlahan Maziya mulai bercerita tentang kehidupannya yang sangat sedih. Barga sampai terbawa emosi karena lagu ballad dengan lirik sedih yang menambah suasana.
“Aku juga sangat takut saat Kak Azkan tiba-tiba berubah dan bilang susah menahan kebenciannnya. Dia bilang aku parasit, sampah, penghisap uang kata-kata kotor yang sangat menghina di usiaku yang masih remaja. Dia sangat kejam kalau sudah marah, menakutkan.”
“Tenanglah Nona, saya yakin Tuan Azkan juga tidak sadar mengatakan hal seperti itu.”
Maziya kini merubah ekspresi wajahnya meyakinkan “Dia sangat menakutkan bagiku, Barga.”
Barga mengangguk, memang kemarahan Azkan tiada duanya. Dia juga bisa marah tetapi Azkan adalah orang yang jarang sekali marah, sekalinya marah atau sudah kesal pada seseorang. Maka orang tersebut hanya punya dua pilihan, satu menahan semua perlakuan merendahkan Azkan, dan dua menghindar dengan cara pergi menjauh sejauh mungkin jangan sampai terlihat oleh mata Azkan.
Maziya mulai tenang sesaat kemudian, lalu ia bertanya kembali tentang pertemuan Azkan dan Barga. Ia berharap kisah itu dapat sedikit menghibur laranya.
Barga pun mulai bercerita. Ia mengabdikan dirinya sejak Azkan membantunya lolos dari hutang. Barga adalah anak panti asuhan yang berkelana kesana kemari mencari pekerjaan usai orang tua angkatnya terjerat hutang depkolektor. Meskipun mendapat pekerjaan, tapi Barga dijerat oleh depkolektor yang ia pinjam untuk uang studinya yang tersisa. Sehingga, mau kemanapun ia pergi, hutangnya akan tetap memiliki bunga meski ia sudah banting tulang, bahkan sampai membalikkan kepala ke kaki mencoba mengangsur pembayaran.
Dengan bekal pengalamannya, Barga berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di sebuah Club Malam. 5 tahun yang lalu, Azkan tidak sengaja dijebak oleh salah satu saingannya. Saat itu Azkan ditawari minuman vodka paling mahal di sebuah raungan VIP dimana Barga menjaga pintu kamar VIP tersebut.
Barga amat mengenal bagaimana ekspresi aneh dan mencurigakan pelayan yang membawa minuman tersebut mencoba antisipasi dengan bertanya. Namun pelayan itu tampak gemetar dan mengatakan itu minuman yang biasa ia layani pada Tamu VIP.
Kehadiran polisi disana membuat kecurigaan Barga makin tinggi. Ia memasuki paksa kamar VIP Tersebut sebelum polisi datang dari lantai satu. Ia melawan 5 orang lelaki bertubuh kekar lainnya yang berusaha menghalangi, saat itu tampaknya sebuah suntikan akan memasuki tangan Azkan yang setengah sadar.
Barga melawan semua orang dan membawa Azkan pergi dengan cara melompat ke luar jendela kaca. Tanpa ada aba-aba, dengan sigap Barga mencari kunci mobil Azkan dan membopong tubuhnya ke mobil. Ia mendengar suara polisi berteriak dan melajukan mobil sport tersebut dengan kecepatan tinggi.
Sat set sat set, Barga mengantarkan Azkan sampai ke rumahnya. Itulah akhirnya Barga dipercaya sebagai sekretaris Azkan sekaligus pengawal untuknya.
Maziya bertepuk tangan “Apa kalian sedang syuting film aksi layar lebar?. Mengapa sangat dramatis hinga melompat ke luar jendela segala.”
“Saat itu darurat Nona, saya hanya ingin membantunya.”
“Kalau kau seorang gadis, mungkin kalian akan menjadi pasangan utama dalam sebuah drama.”
“Tuan Azkan sudah menyukai seseorang, tidak mungkin dia menyukai gadis itu.” Barga menutup mulutnya sendiri takut menyinggung perasaan Maziya.
“Aku tahu siapa yang kau katakan, tapi 5 tahun yang lalu seperti tahun yang mengesankan bagi kita ya.” Ujar Maziya.
Barga meliriknya sekilas penuh kebingungan.
"Saat itu aku dicaci, saat itu Kak Azkan ditikung sahabatnya, saat itu kalian bertemu." Maziya tersenyum mengalihkan pandangannya ke jalanan.
"Benar Nona." jawab Sekretaris Barga menyetujui.
Saat ini, keheningan kembali melanda keduanya. Maziya merebahkan kepalanya menatap bayangan yang hadir sekelebat. Azkan yang dulu menyayanginya seperti adik, atau Azkan yang membentakknya dengan sangat keras dan menakutkan 5 tahun yang lalu.
“Sekretaris Barga, menurutmu Ka Azkan akan melakukan apa padaku.”
“Apa maksud Nona?”
Barga tidak tahu konteks macam apa yang ditanyakan Maziya. Menurutnya Azkan hanya akan bermain-main dengan para gadis yang dipacarinya selama sebulan, tetapi Maziya bukan pacar melainkan Istri.
Bersambung....