The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
43. The One And Only



Hari ini adalah Perayaan Yayasan Galanga. Sekaligus sebagai aksi dalam rangka Ulangtahun Randy, Azkan dan Rasti.


"Azkan nanti disana, jangan lupa kalau kamu adalah suaminya Ziya!" Nyonya Lidia menatap lekat Putranya yang belum jadi memasukkan sendok berusi makanan ke dalam mulut.


"Meskipun ada pengawal, tetap saja karena Hal ini sudah rutin kamu lakukan maka pasti ada yang berniat jahat jangan lupa untuk berada di sekitar Istri kamu ya!" Kali ini Tuan Alam yang bicara, dan lagi-lagi Azkan belum sempat memasukkan makanannya ke mulut.


"Sepertinya ini sudah yang ke berapa kali Mama sama Papa kasih aku wejangan."


"Biar kamu ingat." ujar Nyonya Lidia.


"Iya Ma, Pastiiiii, Aku adalah suaminya. Aku pasti bertanggung jawab terhadap Istriku ini." Azkan berusaha menahan rasa jengkelnya.


Sementara Maziya, Dia kini sedang makan lahap menikmati Hidangan Restoran Michelin bintang 5 favoritnya. Maziya sesekali tersenyum pada Tuan Alam dan Nyonya Lidia.


Perasaan aku ingin Gadis gila ini tersiksa selama menikah denganku. Tapi kenapa semakin lama justru aku yang makin tersiksa?.


"Kak Azkan kok ngelihatin aku terus?" tanya Maziya dengan wajah innocent.


"Makan yang lahap, nanti kita super sibuk disana."


"Aku nggak mau ngapa-ngapain, kan ada panitia pelaksana yang bantu."


"Iya Azkan, jangan nyuruh Ziya kerja kan Capek. Cukup tampil dengan senyuman sepanjang hari saja sudah sangat melelahkan." ucap Nyonya Lidia.


"Benar, itu bukan tugas istri kamu. Kenapa dia harus super sibuk dan akhirnya kecapean. Dia juga kesana sebagai Istri kamu bukan sebagai Asisten Kamu!" Tuan Alam menambahkan.


Yak sepertinya Kedua Orangtuaku Memang sangat menyayanginya.


"Baiklah Pa,Ma aku salah." Kali ini Azkan menatap wajah Istrinya. "Kamu jangan sampai sibuk, nyaman disana dan hanya perlu selalu bersamaku!"


"Pasti Kak Azkan." Maziya tersenyum pongah.


Berhentilah tersenyum seperti itu dasar gadis tengil.


.....


Berulangkali Azkan mengingatkan Maziya bahwa disana Ia tak boleh bersikap berlebihan. Bersikaplah sewajarnya saja dan jangan pernah terpancing untuk membicarakan tentang Pernikahan mereka.


Yakinkan bahwa Pernikahan mereka direstui Orang tua dan mereka sama-sama berusaha untuk saling memahami hari demi hari. Karena jika tidak, bisa-bisa Tim Kuasa Hukum dari Almarhum Kakeknya Curiga, Sehingga pelanggan Wasiat akan berlaku Lalu semua Aset SERZIANO Grup akan disumbangkan.


"Tentu saja Kak Azkan, Aku ingat Kok. Lagian masa kemana-mana ada mata-mata yang ngikutin kita biar Kakek yang ada di alam sana Percaya."


Dengan tidak ramah Azkan mendekat pada wajah Maziya. Hanya beberapa Sentimeter, wajah tampan Azkan membuat Maziya masih bisa berdebar-debar, tidak berubah sedikitpun.


"Tentu saja, Kau tahu kan Kakekku adalah Mantan Tentara."


Maziya melihat ke jendela Mobil, berusaha menenangkan diri kalau Azkan sudah beraksi seperti itu. "Ya ya Pasti, Kak Azkan tenang saja."


"Aku tak bisa tenang dengan Sikapmu yang pecicilan macam ulat bulu kalo di keramaian."


Sejak dahulu, Maziya suka keramaian. Bukan untuk bersosialisasi, tapi untuk pamer berapa kayanya dirinya. Betapa banyaknya uang yang ia miliki dari apa yang ia pakai.


"Tapi Kalau Kak Azkan duluan yang mengabaikan Aku karena disana ada Kak Rasti awas aja ya."


"Kau mengancam ku?"


Maziya memutar otak, "Awas aja nanti ada yang tahu, Keraguan dengan Pernikahan kita Kak Azkan."


"Rasti itu sahabatku."


"Aku harap juga hanya begitu meskipun kenyataannya dia bukan sekedar sahabatmu" gumam Maziya pelan yang tertutup dengan suara klakson mobil.


"Apa kau bilang barusan?"


"Aku tahu."


"Bukan, kau pikir aku Tuli?. kalimatmu Lebih panjang."


"Kak Azkan Bisa denger kan Nggak Tuli. Terus ngapain nanya?"


Percuma berbicara baik-baik dengan Maziya. Bagi Azkan, kalau urat-urat syaraf nya tidak menegang untuk meladeni Maziya. Maka Otot-ototnya yang harus tahan diri agar tidak kelepasan membuat Maziya tak berdaya.


........


Setibanya di Yayasan Galanga Sekaligus RS Galanga. yang berada cukup dekat dengan Panti Asuhan Galanga.


Sudah banyak para Alumni SMA Galanga yang hadir disana, yang sukses dan juga kaya raya. Banyak angkatan yang hadir mulai dari yang Tua hingga Fresh Graduate yang terkenal karena jalur Famous di YouTu** atau Aplikasi Tenar dan Booming lainnya.


"Maziya?"


Dua sahabat norak itu berpelukan Mesra di hadapan Azkan dan Barga.


"Kamu baik-baik aja kan." Viola merapikan anak rambut Maziya yang sengaja sebagai Model yang melengkapi sanggulnya.


"Tentu saja."


"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku kalau...."


"Eii, Viola gaun kamu bagus nih."


Maziya menghentikan ucapan Viola yang kalau diteruskan bisa-bisa menyinggung Bipolarnya selama satu bulan ini. Viola langsung memutar Tubuh Sexy bak modelnya dengan riang gembira.


"Mana bisa ditandingkan sama Gaun kamu ini."


Viola melirik Gaun yang dipakai Maziya. Gaun bewarna Peach selutut Tanpa lengan yang membuat Maziya mengekspos bahunya. Gaya seperti itu sangat disukai Maziya. Sehingga ia bisa memakai kalung yang juga tak kalah fantastis harganya pemberian dari Nyonya Lidia.


"Ini adalah Gaun dari Swiss langsung dengan tambahan berlian halus di permukaannya. Saat berada di bawah sinar matahari, ada Kilauan khas yang bisa tampak." Maziya memutar tubuhnya juga.


"Dari suami kamu ya?" Viola tersenyum menggoda Maziya.


"Ini dari Mr. Peter, kami dapat baju. Pengusaha lainnya ada yang dapat jam tangan dan macam-macam lah." terang Maziya.


Viola menjatuhkan senyumnya."Ooh Pengusaha yang kamu bilang itu ya."


"Mmm, dia memang tahu seleraku. Daripada suami yang nyuruh aku pakai Sepatu Kets di acara sebesar ini."


Viola melihat kaki Maziya dan langsung menutup mulutnya. "Pantesan aku ngerasa kok kamu jadi lebih pendek Maziya."


Viola baru sadar yang dipakai Maziya hanyalah Sepatu Kets sementara dia yang lebih tinggi justru memakai Higheells. Kini Bahkan tanpa sadar membandingkan seberapa besar perbedaan tinggi mereka dengan tangannya.


"Nggak usah diperjelas begitu Viola."


"Maaf Nona, tapi Sepatu Anda pun juga dipesan langsung oleh Tuan Azkan dari Swiss." Barga membela pilihan Azkan.


"Meskipun sama-sama dari Swiss kan pasangannya bukan begini."


Maziya mengeluh sembari menatap Suaminya yang sudah sibuk mencari keberadaan seseorang. Siapa lagi yang dicari Azkan selain the one and Only Rasti.


"Ini mah nggak perlu beli di Swiss juga disini ada."


"Itu khusus Nona, Hanya The One And Only di dunia." Barga masih berusaha membela pilihan Azkan.


"Apa aku juga harus percaya itu?"


"Saat anda terdesak, cukup bentuk semacam Lingkaran di tempat anda berpijak. Maka Sepatu Anda akan mendapatkan aliran listrik." Barga menjelaskan.


"Buat apa?" tanya Viola dan Maziya serentak dengan raut kebingungan.


"Buat keadaan Darurat Nona."


"Ooh, tapi di rumah, Kak Azkan kok diam aja nggak bilang kalo ada fungsinya."


"Pasti Tuan Azkan menunggu Aku untuk menjelaskannya. Sayangnya aku Lupa Nona. Maafkan aku."


"Sepertinya dia tidak peduli, dia mungkin tidak berniat membelikannya."


"Tidak Nona, bahkan saat Tuan Azkan masih tidur di Perusahaan. Tuan Azkan terus mencari dan mendiskusikan tentang Sepatu ini pada Desainer Khusus di Swiss." Barga menjelaskan.


"dan kamu pikir aku percaya itu Sekretaris Barga?" Dengan raut wajah tak percaya Maziya geleng-geleng kepala.


Azkan menghentikan agar Barga tidak berusaha lagi menjelaskan. Itu hanya akan membuatnya lelah karena Maziya memang se arogan itu untuk barang-barang yang dikiranya murahan.


"Barga, kenapa kau harus menjelaskannya pada orang yang tidak pandai berterima kasih !."


Barga memutuskan untuk pergi ke sisi Azkan. Dia terlalu bersemangat untuk membela tindakan Azkan. Viola memutuskan untuk pergi ke tempat lain agar Maziya bisa mengikuti Azkan.


Azkan terus berbincang dengan para Senior. Dengan perasaan bangga juga memperkenalkan Maziya.


Akhirnya, Azkan berhenti kesana-kemari. Karena yang dicari sudah nongol di hadapannya. Maziya sudah dapat menebak, bahwa sikap Azkan pada para Senior Hanyalah pencitraan karena tujuan sebenarnya adalah mencari keberadaan Rasti di antara kerumunan orang banyak.


Dan akhirnya sudah ketemu. The One And Only Rasti.


Bersambung....