The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
20. Blackcard



Renald menuangkan minuman pada seluruh anggota Sekretaris.


"Jadi istri CEO kita?" Lintang menatap minuman yang dituang


"Dia langsung pulang, katanya harus ngapalin apa gitu." Adiba mewakili.


"Padahal sekarang pas nih buat penyambutan. Sekalian Pelepasan Pitaloka." Chelsea merengut.


"Nggak apa-apa, kasihan banyak yang harus dia hafal, 3 bulan entah cukup atau tidak." Pitaloka mengelus perutnya.


Mereka mulai menikmati hidangan yang disajikan satu-persatu.


"Tapi si calon buah hati kamu jenis kelaminnya diketahui?" Chelsea penasaran.


Pitaloka menatap suaminya.


"Perempuan," Edwin bantu jawab dan ikut tersenyum.


"Wah sebanding dengan Mas Lintang nih." Renald menimpali.


Lintang memgangguk,"Iya, tanya saja padaku"


"Mas Lintang paham?" Edwin bersemangat.


" tanya saja padaku, lalu akan aku tanyakan pada Istriku." Lintang menambahkan.


"Lebih baik Pitaloka sendiri bertanya sama Mbak Nadia." Edwin meminum minumannya.


"Mbak Nadia nggak kesulitan urus dua anak perempuan di tengah kesibukan suaminya?" Adiba bertanya karena cukup penasaran.


"Makanya dia berhenti kerja, samalah dengan keputusan Pitaloka. Tabungan kami juga cukup untuk keperluan dadakan seandainya ada situasi tak terduga."


Pitaloka mengangguk, "Itu juga yang aku persiapkan saat memutuskan menikah tetapi tetap bekerja Mas Lintang."


Pitaloka mengelus pelan lagi perutnya, tidak terbayangkan usahanya selama bertahun tahun untuk memiliki momongan hingga akhirnya berhasil. Pitaloka setara dengan Chelsea, Adiba dan Renald, Ia lebih pintar makanya berhasil dapat peran Sekretaris dari CEO. Bahkan Chelsea harus gagal beberapa kali baru bisa bergabung diikuti Adiba dan Renald dari departemen berbeda.


Kini pembahasan mereka kembali lagi pada Maziya.


"Ingat saat Maziya kusuruh memanggil kami hanya dengan nama. Dia takut-takut melirik Mas Lintang." Renald tertawa.


"Tentu saja, Mas Lintang terlalu tua kalau dipanggil nama sementara dia ?. Kamu saja tidak berani." Adiba terkekeh.


"Iya, awas saja kalau kalian berani. Tidak sopan." Lintang kembali meneguk minumannya.


"Lalu bagaimana?. Aku juga sudah berulang kali memintanya agar dia memanggil namaku saja tanpa ada Mbak atau Kak, tapi dia sepertinya masih ragu-ragu." Pitaloka menambah kan.


"Perlahan dia mulai terbiasa, kecuali buat Edwin." Renald membuat Edwin berhenti minum.


"Beri dia waktu, kalau panggil aku hormat juga sebenarnya tak apa" Edwin tak terganggu, Pria 30an tahun itu selalu santai seperti di pantai.


"Jangan, harusnya kita yang memanggil dia Buk. Dia adalah Istri dari CEO kita!" Pitaloka menepuk pundak suaminya.


"Iya tahu.." Edwin mengelus tangan Pitaloka.


"Kalian enak, sementara aku?" Lintang juga tak bisa berbuat apa-apa dengan usia dan keriputnya yang mulai nampak.


"Tenang saja Mas Lintang, dia juga takut durhaka kalau berani panggil nama ke Mas Lintang." Renald hampir saja mendapat senapan mata dari Lintang.


.....


Maziya duduk manis di sofa menunggu Azkan keluar dari kamar mandi. Baru saja Ia mendapatkan hadiah tak terduga dari Papa mertuanya Tuan Alam Serziano.


‘Kalau udah punya Blackcard aku nggak usah risaukan uang bulanan lagi dong ya. Tapi Papa mertuaku saja memberikannya diam-diam, pasti Kak Azkan mempermasalhkannya kalau ketahuan. Aku simpan buat kebutuhan mendesak ajalah.


“Kenapa senyum-senyum begitu?”


“Ih, Kak Azkan sensi terus ya abis mandi.” Maziya berjalan tidak peduli.


Maziya Keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi kimono, ia mendapati Azkan yang sudah membalik-balikkan blackcard di sofa.


“Kak Azkan itu..” Maziya mencoba merebutnya tapi berakhir dengan terjerembab di tubuh kekar Azkan.


“Kamu memeras Mama lagi, sudah kubilang jangan beri tahu siapapun tentang kontrak kita!”


“Aku emang ngasih tahu Mama, tapi itu bukan dari Mama.” Maziya membela diri.


“Emang dari Papa.”


Pletak,,, jentikan jari kembali mendarat di kening Maziya.


“Gadis tengil, Jangan bohong!”


“Tanya sendiri sana, Kak Azkan balikin lagi aja kalau perlu!” Maziya mengelus keningnya .


“Oke.” Azkan berjalan keluar kamar.


"Lainkali jangan periksa tas aku tanpa izin, air matanya keluar begitu saja tanpa permisi."


“Aku berhak memeriksa apapun karena pada dasarnya kau tidak punya apa-apa.”


“Dasar brengsek,” Maziya mengelap air matanya sembari terus menerus mengelus keningnya yang nyut-nyutan hebat.


Kau hanya pengecut yang berani menindasku saja. Aisshh sakit banget.


Azkan kembali ke kamar dan memberikan Blackcard tersebut, menarohnya di atas meja di dekat Maziya.


“Puas, ambil saja sekalian!”


“Itu hadiah dari Papa, aku nggak punya hak.”


“Tidak punya hak,”Maziya bercicit pelan.


“Apa kau bilang?”


“ bukankah semua yang ada di rumah ini milikmu?. Ambil saja semuanya!” Maziya terdengar marah.


“Baiklah.” Azkan berniat mengambil kembali blackcard yang ia taruh barusan.


Secepat kilat Maziya merebut benda itu dari tangannya.


Azkan tersenyum simpul, “Katanya ambil semuanya?”


“Semuanya kecuali ini, gimana kalau aku nggak bisa dapat uang bulanan karena tidak mampu di Perusahaan, aku nggak mau ya kalau nggak ada uang.”


“Banyak omong sekali, kau juga tidak rela melepaskannya.” Azkan naik ke ranjang sembari melihat Laptopnya.


“Kalau aku punya progres yang sedikit baik, jangan kurangi uang bulananku ya!”Maziya melirik Azkan di sofa, hanya mata dan ujung kepalanya saja yang kelihatan.


“Bukan sedikit baik, tapi harus baik dan minim kesalahan maka uang bulanan dengan bonus dan juga, Aku tidak akan menyinggung tentang Blackcard itu lagi.”


“Benar ya?”


“Tentu saja.”


Begitu lama, Maziya tidak beranjak juga dari Sofa. Azkan sudah tidak ada kerjaan sama sekali sehingga ia pura-pura memainkan keyboard laptopnya.


“Segera matikan lampu dan tidur!” Azkan menghidupkan lampu tidur dengan cahaya remang-remang di samping ranjang.


Maziya berdiri dan mematikan lampu, dengan cahaya ponselnya ia membawa tablet ke ruang ganti. Lampu disana ia hidupkan dan ruangan itu ia kunci dari dalam.


‘Jangan bilang dia akan menghafal semua tugasmya malam ini juga. Setahuku dia memang tidak begitu pintar tapi kalau keyakinannya kuat dia juga cukup mampu.


Azkan melihat ruangan ganti dan perlengkapan itu berkali-kali memastikan lampunya mati dan Maziya keluar kamar. Namun, Azkan justru ketiduran dan lampu ruangan itu terus menyala hingga pagi.


Azkan terbangun dari tidurnya dan melihat ruangan ganti lampunya masih menyala. Pintunya tak terkunci lagi, hingga ia memutar kenop untuk melihat apa yang terjadi.


Mustahil, Maziya bangun lebih awal darinya bahkan dengan setelan rapi?. Blus bewarna putih dengan paduan rok span slutut bewarna navy. Gadis itu kini sedang memkai anting-anting melihat ke kaca di dinding. Setelah memastikan bahwa Ia mengikat rambut lurusnya ia berlalu melewati Azkan.


“Kemarin aku nggak sempat dandan dan pergi apa adanya. Sekarang aku penuh persiapan.” Gadis itu menatapnya sembari tersenyum kemudian berjalan ke meja rias.


Setelah selesai berdandan, tas bermereknya yang bewarna putih ia bawa dengan sebelah tangan menenteng sebuah Tablet. Di dekat pintu tak lupa Maziya melambaikan tangannya pada Azkan.


“Aku berangkat duluan bareng supir, Kak Azkan bisa bareng sama Barga.”


‘Kau melakukan semuanya demi uang bulanan dan blackard. Tersenyumlah karna ke depannya akan lebih menyulitkanmu.


Bersambung....