
Azkan kini meraih ponselnya untuk menghubungi dua sahabatnya. Tak lama kemudian Randy datang bersama Rasti dari arah Yayasan sekaligus Rumah sakit Galanga. Mereka hanya berjalan kaki karena jaraknya memang tidak terlalu jauh hanya dipisah lapangan Rumah Sakit dan Taman Panti Asuhan.
Karena hari ini pun Randy masih bekerja disana. Jubah Dokter masih nangkring di tubuhnya dengan pas.
Menyadari kedatangan dua sahabat Azkan, terutama Rasti. Maziya Sangat ingin pamer, biasanya harta kekayaan atau betapa terhormatnya dirinya. Namun, khusus untuk Rasti yang ingin ia pamerkan adalah betapa dekatnya ia dan Azkan.
dan Satu lagi, ia tak pernah menghiraukan permintaan Rasti untuk berhenti memanfaatkan Azkan. Maziya segera memeluk erat lengan suaminya dengan wajah yang cerah.
"Eh akhirnya kalian datang." ujar Maziya.
Azkan sedikit risih dengan tindakan Maziya namun ia juga tidak mungkin membuat Randy dan Rasti curiga. Jadi ia terpaksa senyum menatap Maziya dan menahan diri untuk tidak menoyor kening gadis itu dengan telunjuknya.
Rasti melihat sepatu yang dipakai Azkan serta Maziya di kaki mereka. Apakah Azkan dan Maziya sengaja memperlihatkan hal tersebut agar semua orang menyadari betapa cocoknya mereka. dan apa lagi yang ingin dilakukan Maziya, gadis yang sangat menyebalkan juga tak tahu malu menurutnya.
"Kalian udah Dateng ya?" Randy melihat ke sekeliling.
"Nanti barangnya sampai." ujar Azkan.
Beberapa truk datang membawakan perlengkapan. Baik itu makanan, atau juga Pakaian.
Biasanya mereka akan membantu untuk menyiapkan makanan anak-anak. Mengadakan berbagai kegiatan seperti bermain bersama atau memberikan sedikit wejangan.
Tak lama kemudian anak-anak panti melambaikan tangan ke arah mereka. Banyak sekali yang berkerumun di sisi Rasti menanyakan kabar dan segala macam. Rasti juga dengan lembut meladeni anak-anak tersebut.
Dasar sok cari muka. Tapi benar ya, dua lelaki itu bahkan tak bisa menyingkirkan senyum Pepsodentnya pada wanita ini.
..........
Setelah kegiatan berjalan lancar. Kini saatnya sesi bermain bersama.
Kali ini permainan Leng Ka Li Leng.
Yap, permainan jadul dimana dua orang harus menyatukan tangan membentuk sebuah gerbang yang dapat dilewati. Kemudian yang lainnya akan berbaris sembari bersenandung ria. Biasanya yang tertangkap saat lagi habis adalah yang akan menanggung kekalahan.
Memainkan permainan tradisional tanpa alat memang menyenangkan meskipun tak ada remote control atau juga gadget untuk tanding Game. Anak-anak panti bahagia dengan kesederhanaan dan kebahagiaan.
"Siapa yang akan menjadi pintu?" tanya Randy.
Rasti dan Azkan serentak mengangkat tangan. Mereka memang paling suka dengan permainan tersebut apalagi dengan anak-anak yang tingginya tidak sampai sekaki Azkan.
"Bagaimana denganmu Maziya?" tanya Randy ke arah Maziya.
"Aku tidak suka main itu, panas."
"Semuanya juga panas." beo Azkan.
Istrinya itu sudah mengeluh sebelum acara masuk ke inti. yakni makan siang sekaligus wejangan ultah mereka yang hangat.
Meskipun begitu, tetap saja Maziya punya alasan dengan pergi ke Toilet diawasi oleh Barga. Azkan Langsung menyatukan tangan dengan Rasti beberapa anak asik melewati terowongan dari tangan mereka dengan bahagia.
Bukannya ke toilet, Maziya justru pergi memutar untuk menikmati sisi sejuk bagian-bagian panti dengan perlahan. Kalau ada yang adem mengapa ia harus panas-panasan.
"Sekretaris Barga, Aku mau tes kemampuan fotografimu itu, jadi foto aku dengan baik oke!"
"Baik Nona," Setelah beberapa kali ambil gambar, Barga merasa jengah.
Sekretaris itu tahu apa yang sedang dilakukan Maziya. Menjauh agar tidak melihat kemesraan Azkan bersama Rasti.
"Mengapa anda tidak maju agar bisa jadi pasangan Tuan Azkan Nona?" tanya Azkan.
"Menurutmu dia mau?."
"Tentu saja Nona,"
"Mungkin dia akan menjadikan tinggi badanku sebagai alasan. intinya dia tidak mau bersamaku."
"Tidak Nona, bahkan dia memintaku untuk mengawasimu, artinya dia sangat peduli dengan anda sebagai isterinya."
Maziya terkekeh, "Intinya dia hanya akan tertawa sebaik tadi dengan Kak Rasti. dan dia akan membicarakan banyak hal hanya agar aku merasa jengkel. Sebaliknya dia menyetujui semua ucapan Kak Rasti tanpa berpikir bahkan hanya 3 detik saja."
Dia lebih memilih Rasti yang sok cari muka itu.
........
Saatnya masak makan siang...
Biasanya Rasti sendiri yang mengambil alih karena Bagian Azkan dan Randy adalah menghibur mereka sementara. Wajar saja karena Rasti ahli dengan dapur apalagi hanya dapur dadakan seperti itu.
"Apa kamu bisa memasak?. Bukankah biasanya akan meminta hidangan paling mahal pada para pelayan?"
"Aku?. Tentu saja bisa. Aku meminta makanan mahal juga untuk membuat mereka sepadan dengan gaji mereka." balas Maziya.
"Jangan sampai merusak apapun karena masak Mie instan saja pun tidak mampu!"
Maziya membuka stereofom bewarna putih dengan kesal. Bisa-bisanya Azkan menceritakan hal itu pada Rasti, membuatnya merasa kalah saja.
"Aku bisa tentu sa...Aaa.." Belum menyelesaikan kalimatnya, Maziya sudah menjatuhkan bahan makanan mentah dari dalam stereofom.
Isi di dalamnya adalah Ikan segar besar dan masih baru, Ia kaget karena melihat mata Ikan yang melotot menatapnya. Azkan langsung berdiri mendekat sembari menahan diri.
"Kamu nggak Pa -pa?" tanya Azkan terpaksa.
"Matanya" tunjuk Maziya pada salah satu Ikan beku tak berdosa tersebut.
"Matanya memang begitu." Ujar Azkan pelan.
"Kalian tak apa-apa?" tanya salah seorang pengurus panti.
"Tidak apa-apa, istriku ini memang kagetan orangnya, tangannya juga lemah."
"Aku cuma ka.." Maziya lagi-lagi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan memesan yang baru, ini kotor tidak baik untuk anak-anak." ujar Azkan.
Pengurus panti itu menolak, "Bahan yang lain juga masih banyak, tak perlu sampai segitunya. Bahan-bahan ini juga bisa dicuci lagi."
"Baiklah kalau begitu." Azkan menarik Maziya menjauh.
Barusan Rasti berhasil memasak dengan mulus. Bahkan di sesi memberi wejangan saat selesai makan juga hanya mereka bertiga.
Bagaimana dengan Maziya?. Kini ia berada di bagian belakang, berhadapan dengan piring-piring kotor. Barga menemaninya untuk mencuci. Bahkan ia juga harus diajarkan berkali-kali cara membersihkan piring oleh Barga karena ia hanya mencelupkan piring seperti biskuit ke dalam air sebelumnya.
Azkan memintanya untuk tidak bicara banyak hal. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak arogan di hadapan para pengurus panti juga anggota disana.
Tidak arogan?. Kak Azkan berbicara seenaknya saja. Lihatlah Rasti kekasih tertundamu yang berhasil mendapatkan muka dengan arogannya yang super halus. Dia arogan juga kepadaku.
"Nona, jika anda kelelahan. Biar aku saja yang menyelesaikannya."
"Tidak sekretaris Barga, aku bisa."
Seorang pengurus panti mendekati Maziya. "Nona, berhentilah sejenak dan nikmati camilan itu!"
Camilan itu kan yang disiapkan Rasti dengan wajah Malaikat palsunya itu. Aku tidak mau, lebih baik aku tidak makan apapun daripada harus mencicipi masakannya.
"Tidak, aku tidak lapar, lebih baik aku menyelesaikan pekerjaan ini dulu." jawab Maziya halus.
Pengurus panti lainnya berdecak kagum. "Nona sangat hebat, meskipun sudah resmi menjadi istri Tuan Azkan. Anda masih mau melakukan pekerjaan kotor seperti ini."
"Ah ini hal yang biasa, aku tidak merasa ini pekerjaan yang kotor juga. Aku masih mencoba untuk sedikit berguna setidaknya."
"Anda sangat berguna, kehadiran Anda saja sudah sangat istimewa Nona. Apalagi bersedia bekerja mencuci piring-piring kotor." Pengurus panti lainnya nimbrung dengan pujian.
"Tidak apa, aku senang dapat mengunjungi tempat ini bahkan mengurus piring-piring ini."
Artinya aku juga berhasil, Setidaknya sudah berhasil cari muka lewat para pengurus panti ini. Masa Bodoh dengan Kak Azkan yang lebih suka menghabiskan waktu bersama sahabat pacarnya.
Maziya terus mencuci piring-piring kotor dengan semangat. Barga hanya mampu menahan ekspresi agar tidak ketahuan kalau Maziya sedari tadi tak banyak membantu sebelum para pengurus panti ikutan nimbrung.
Bersambung...