The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
25. yang Berbeda



Randy melakukan Video Call dengan pacarnya saat berada di asrama Rumah Sakit Galanga untuk tugas malam.


Randy memandangi wajah gadis yang selalu ia cintai. Garis mata, hidung, alis, selalu cantik dimatanya.


"Kamu udah mendingan kan?"


"Iya," Rasti menyingkap rambutnya.


"Kita belum ketemu lagi sama Azkan sejak dia menikah ya."


Rasti hanya memberikan senyuman tipisnya. "Iya"


"Perayaan Ulang tahun kita kan sebentar lagi, Kamu jangan sampai kelelahan ya?"


"Mm" Anggukan pelan mewakili jawaban panjang Rasti yang biasanya Hangat juga pandai dalam bertutur.


Karena mereka lahir di waktu berdekatan. Biasanya mereka merayakannya di hari yang sama, saat perayaan hari jadi Yayasan Galanga. Yayasan yang sudah berkembang menjadi panti asuhan dan Rumah sakit sosial. Rumah Sakit ini tempat dimana Randy menjalani masa residennya saat ini.


Jadi ada dua waktu saat mereka mengunjungi Panti asuhan. Selain untuk memenuhi citra Perusahaan keluarga juga untuk memenuhi rasa saling berbagi saat perayaan Ulangtahun.


Yayasan Galanga adalah proyek dari Alumni SMA Galanga sejak angkatan pertama. Setiap lulusan SMA Galanga sudah pasti terdaftar sebagai Donatur tetap jika sudah bekerja. dan dapat dipastikan siapa Donatur terbesar selama puluhan tahun sejak Yayasan itu berdiri, tidak lain tidak bukan SERZIANO Grup.


Randy mengakhiri Video Call dengan Rasti. Masih ada 10 menit lagi untuk pergantian Shift dengan Dokter Residen yang lain.


Mengapa sejak Azkan memberitahukan tentang pernikahannya. Sikap Rasti menjadi sedikit aneh dari biasanya.


Mereka biasa saja membahas tentang Azkan saat sahabatnya itu lagi sibuk di Perusahaan atau lagi dimarahi oleh Tuan Alam. Mereka tertawa-tawa sesekali mencecar kekurangan yang ada pada Azkan.


Kini setiap kali membahas Azkan, respon Rasti hanya berdehem pelan. Jawab iya, atau mengangguk. Tidak ada lagi rentetan panjang yang keluar dari mulutnya. Padahal Randy menunggu saat-saat seperti itu. Rasti akan menasehatinya karena berlebihan menilai Azkan, lalu perlahan ikut menyetujui semua pemikirannya.


.....


Rasti bersandar pada bantal sembari memejamkan matanya sesaat. Biasanya kalau habis Video Call dengan Randy ia akan langsung tidur.


Entah mengapa akhir-akhir ini ia jadi sulit tidur. Ia juga sering tidak fokus di Perusahaan MOCY Grup.


Rasti menggulirkan layar ponselnya. Perhatiannya selalu berakhir di Album bersama Azkan dan Randy.


Banyak sekali momen mereka bertiga dengan ekspresi dan suasana yang berbeda. yang jelas setiap foto dia selalu berada di antara Randy dan Azkan.


Ingatan ketika Azkan memberitahukan tentang pernikahannya kembali mengganggu ingatan bahagia difotonya. Ia juga mengenal sosok Maziya, 10 tahun yang lalu, sejak ia dan Randy juga Azkan mulai akrab.


Azkan selalu mengatakan bahwa Maziya adalah gadis yang menyebalkan. Gadis yang hobi berfoya-foya. Gadis yang selalu mengganggu ketenangannya belajar karena tidak sepintar dirinya. Gadis yang ia maklumi karena dianggapnya sebagai adik, diberikan perhatian meskipun ia jengkel dan jengah dengan sikapnya. Gadis yang disayangi Mamanya tidak peduli berapa orang mengeluh atau menjelekkannya termasuk Azkan sendiri.


"Kamu bilang kamu membencinya kan Azkan?. 5 tahun lalu kamu bilang dia kamu usir dengan kejam. Kamu bilang tak akan melihat wajahnya lagi di kediamanmu. Kamu bilang dia tidak akan jadi parasit lagi. Kamu bilang sangat jijik membayangkan hubungan kalian dekat apalagi kekasih. Kenapa kini berbeda?. Kenapa kamu pasrah dengan pernikahan yang jelas-jelas tidak kamu inginkan?."


Rasti hanya mampu berbicara dengan bayangan Azkan di sampingnya. Karena ia tidak akan bisa menggoyahkan komitmen lelaki itu kalau sudah menyangkut Keluarga terutama Mamanya.


.....


"Kok jadi gini sih?"


*Website Vioptude Harus ditutup*


*Aku menyesal mengikuti Website ini*


*Jangan buat berita bohong !!*


*Apa pemiliknya masih ABG Labil?*


*Website ini punya skill Fotografi yang bagus tapi Artikelnya berantakan*


Viola juga tak henti-hentinya menerima berbagai pesan dari para anggota Timnya. Bagaimana jika berita ini sampai di telinga Papinya?. Bisa-bisa dia akan dikuliahkan lagi untuk bekerja di Perusahaan Niti Contruction milik keluarganya.


"Ini gara-gara Miko?. Andai aja aku nggak mikir kalo dia benar-benar baik dan lembut. Aku nggak akan dirugikan begini. Padahal aku nggak nulis nama lengkapnya juga."


Memang nama lengkap Miko tidak ditulisnya. Tetapi Viola menuliskan Nama universitas serta fakultasnya. yang otomatis menggiring opini penasaran orang-orang.


Kalau sudah begini rasanya mau ngajak Maziya nginep buat curhat. Atau aku datang ke Apartemennya buat curhat. Sayangnya dia udah nikah. Maziya kamu cepat banget nikahnyaaa. Gangguin pengantin baru nggak dosa kan ya. Tapi dia juga kan baru pulang habis kabur. Lihat raut wajahnya tadi sepertinya bakal diadili tuh.


Viola hanya bisa melampiaskan rasa kesalnya pada guling tak bersalah. Ia memukul dan memutar-mutarnya bahkan saling sikut dengan benda Mati yang tidak bisa melawan.


.....


Krutt kereuuutt..


Maziya tidak bisa tidur karena dia merasa lapar. Perlahan ia mengusap perutnya yang mungkin bisa meredam sedikit suara, namun ternyata tidak bisa.


Komposisi perutnya adalah 80 persen minuman. Dia hanya menyantap sarapan yang dibawakan Azkan, lalu kabur setelah Rapat Direksi.


Biasanya kalau laper jam segini dan Viola kebetulan lagi nginap di Apartemen. Kami akan membuat mie instan sambil begadang nonton film romantis.


Meskipun yang membuat Mie instan hanya Viola karena Maziya memang tidak bisa memasak. Maziya lebih suka membeli yang sudah jadi lalu ia panaskan sedikit di Microwave. Kalau ada uang, ia tidak perlu sudah. Hidangan bintang lima pun bisa ia makan di Apartemennya.


Setelah menikah, ada beberapa hal yang berbeda. Beberapa aktivitas mungkin menjadi tidak pantas atau harus dikurangi. Hal ini juga berlaku untuk Maziya. Ia tidak bisa meminta Viola datang hanya untuk makan mie dan begadang bersama lagi.


Ia berbalik ke sebelah kiri. Ia pandangi wajah suaminya di bawah cahaya remang-remang lampu.


Bahkan dalam kondisi cahaya pas-pasan begitu. Bahkan dalam posisi hanya melihat dari samping. Wajah Azkan tetap terlihat tampan baginya.


Setelah diperlakukan begitu kasarnya dulu. Mengapa Maziya tidak bisa balik membenci lelaki ini. Kenapa dia selalu merasa bahwa Azkan sebenarnya peduli padanya. Azkan selalu menyayanginya dengan cara berbeda.


Maziya ingin sekali menyentuh wajah Azkan. Tangannya mendekat, satu jari hampir saja menyentuh hidung, menuruni bibir yang seksi untuk dicium.


Pemikiran sedikit mesum itu berubah surut saat perutnya tidak mau menurut. Sepertinya cacing perutnya pada kedinginan dan butuh asupan malam.


Bersambung....