The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
30. Kasihan dan Bimbang



"Apa yang kau katakan padanya?"bentak Azkan.


"Banyak.." Maziya melirik jari-jarinya di tangan kiri.


"Apa yang kau katakan hingga ekspresi Rasti jadi. begitu."


"Mmm" Maziya mengetuk dagu, pura-pura berpikir.


"Barga, Batalkan pembuatan kartu Debit untuknya!"


"Baik Tuan."


"Eeeh, Jangan-jangan" Maziya panik, kalau urusan uang jangan diganggu gugat.


Maziya menggenggam tangan kiri Azkan. Perlahan jari-jarinya yang mungil bersatu dengan jari-jari Azkan.


"Apa yang kau lakukan?" Azkan menatap istrinya Bingung.


"Lihat Kan, cincin ini?. Aku menegaskan bahwa aku adalah istri sah kamu. dan dia hanya sahabat sekaligus pacar sahabatmu."


Azkan melepaskan tautan tangan mereka. "Apa Rasti marah karena hal itu?"


"Harusnya aku bilang harga Cincin ini terus terang kali ya." Maziya menatap cincin nikahnya sambil manyun-manyun.


"Hei apa hanya itu saja?" tanya Azkan lagi.


Maziya membuang nafas,


"Aku bilang dia tidak mengenalmu. Ada banyak sekali rahasia tentangmu yang tidak diketahui olehnya."


"Kenapa kau mengatakan hal itu?"


"Dia yang duluan memprovokasi ku. Aku berniat menjelaskan tentang pernikahan kita sebelum akhirnya sadar kalau Kak Azkan tidak memberitahunya tentang wasiat Kakek."


"Jangan sampai menyinggung hal itu lagi atau kita akan benar-benar ketahuan."


"Apa yang ketahuan?"


"Alasan pernikahan kita."


"emangnya kenapa?. Aku akan bilang kalau pernikahan kita cuman..."


Maziya tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Jari-jari Azkan sudah nemplok di sekitar mulutnya.


Pitaloka membawa banyak berkas di tangannya. Dengan ekspresi serius tidak terlalu menghiraukan interaksi Bos dan sang istri.


"Ada apa?"


"Ini berkas penting besok Pak, apa harus saya berikan pada Barga?" tanya Pitaloka.


"Taro saja Dimeja luar!. Lagipula Barga akan mengambilnya!"


"Iya aku akan memeriksanya" Barga meminta Pitaloka ikut dengannya keluar.


Akhirnya Maziya dapat melepaskannya tangan Azkan. Lelaki itu bahkan pura-pura mengelap tangannya pada pakaian Maziya seolah ada Saliva di jarinya


"Kenapa sih Kak Azkan?. Katanya profesional!. Tadi Pitaloka ngeliat kita !"


"Darurat"


"Kak Rasti itu, khawatir Sama kamu."


"Ini urusan pernikahan kita. Keluarga kita. Tak ada kaitannya dengan mereka berdua. Randy maupun Rasti!"


"Keluarga kita yaa?" Maziya menahan senyum.


"Jangan kepedean!. Keluarga selama pernikahan kontrak ini berlangsung!"


"Oooh."


"Tapi bukankah memang seharusnya wasiat kakek tidak diketahui selain keluarga kita. Dari kata-katamu. Apa kau sudah membocorkannya pada seseorang?"


"Tentu saja, hanya pada Viola."


"Kau membocorkannya?" Azkan berdiri.


"Sepertinya mulut temanmu cukup besar."


"Meskipun demikian, dia tidak akan menghianati persahabatan kami. Terlebih lagi, kami tidak akan menyukai pria yang sama atau menyimpan perasaan diam-diam. Kami.kan sesama Perempuan."


"Kau menyindirku?"


"Enggak, silahkan Bekerja Pak. Jam makan siang kan sudah habis daritadi!" Maziya pamit undur diri.


.....


Website Viola memberitakan hal heboh lagi. Misteri Jumlah Mantan Pacar CEO Grup S. Sering Gonta ganti hingga mantap Menikah ?.


Azkan melempar Ponselnya ke Kasur. Bisa-bisanya berita tentangnya dibiarkan Tranding 1. Selama ini semua mantan Pacar Azkan sepakat akan menutupi bukti bahwa mereka pernah menjalin hubungan dengan imbalan uang. Jadi mustahil ada yang berani Speak Up diantara mantan pacarnya itu.


"Ini pun dibocorkan. Apa lagi yang akan ia sampaikan di website bobrok ini?" Azkan marah.


"Aku juga nggak tahu dia sangat putus asa hingga menggunakan cara ini untuk menaikkan Websitenya."


Barga mengurus semuanya, malam itu juga. Viola tampil dengan wajah yang di blur mengatakan bahwa semuanya berita bohong dan dia akan menutup Websitenya.


Bahkan malam itu juga Gedung yang ia sebut sebagai Perusahaan tempatnya berkarir kandas sepenuhnya. Semua mantan bawahannya digaji dengan Dana terakhir semua simpanan pribadinya, atau lebih tepatnya uang terakhir dari Modal orangtuanya.


.....


Maziya berjalan hilir mudik karena Viola tidak menjawab panggilannya. Sementara Azkan, ia tidak peduli.


Maziya duduk di ranjang di samping Azkan. "Apa harus sampai menutup Websitenya Kak Azkan ?. Itu sangat keterlaluan."


Sosok seperti Azkan begitu mudah menyingkirkan pembencinya. Hanya Website Bobrok bukanlah masalah besar. Untung saja Azkan tidak meminta ganti rugi atas pencemaran nama baiknya.


Dasar Iblis, bagaimana caraku menghibur Viola?. Apa dia akan membenciku setelah kejadian ini?


......


"Kenapa kau tidak tidur?"


"Tidak ada keinginan."


"Tengah malam tapi kau tak ada keinginan tidur?. Cepat matikan lampu kamar agar Lampu remang-remang ini ada fungsinya!" tunjuk Azkan.


Azkan bisa tidur dengan lampu remang-remang tapi tidak dengan lampu kamar mereka yang super terang. Matanya yang punya penglihatan tajam sangat terganggu dengan Cahaya itu.


"Aku tidak akan tidur;"


Azkan bangkit setelah menghidupkan lampu tidur dengan cahaya remang-remang tersebut. Ia matikan lampu kamar yang amat terang.


"Cepatlah tidur, besok kita akan sangat sibuk!"


"Kan masih ada Pitaloka. Aku tidak akan ikut."


"Kau harus ikut!" Azkan menarik tubuh Maziya sedikit yang mampu membuat gadis itu terbaring.


"Kak Azkan nggak kasihan apa sama Viola?"


"Dia kaya apa aku juga harus mengasihaninya?" Azkan masih bisa menjawab meskipun sudah hampir masuk ke alam mimpi.


"Setidaknya aku kasihan pada Kak Randy sehingga tidak menjelaskan secara terang-terangan bahwa kita hanya menikah kontrak."


"Apa maksudmu. Kenapa kasihan pada Randy?. Sudah kubilang tidak ada kaitannya Pernikahan kita dengan kedua sahabatku. Kalau aku ceplas ceplos sepertimu, mungkin pernikahan kita tidak akan terjadi karena mereka akan melarang ku."


"Aku kasihan, Karena Kak Randy adalah satu-satunya yang akan paling tersakiti di antara kalian berdua. Kak Azkan sangat kejam untuk berani menyimpan perasaan pada Kekasihnya. Kak Rasti juga kejam, berani menaruh perhatian pada dua lelaki, aku bahkan bisa merasakan bahwa Dia ada rasa denganmu Kak Azkan. Tapi dia juga tidak akan melepaskan Kak Randy, dia tahu hal itu beresiko untuk kehilangan kalian berdua di sisinya. Huh egois sekali."


Azkan yang nyatanya sudah terlelap membuat Maziya merasa bahwa ia sedang bicara sendirian. Sejujurnya, Maziya lah yang lebih kasihan. Dia tidak ada satupun tempat, tidak di hati Azkan. Tidak juga di hati Ayahnya dahulu.


"Uh beraninya aku mengasihani orang lain. Padahal jelas-jelas aku yang sangat Kasihan. Padahal jelas-jelas tidak akan mampu meraih hatimu. Kasihan sekali harus menikahi lelaki yang bahkan tidak bisa menghargai pentingnya Perasaan tulus orang lain." gumam Maziya pelan.


Maziya tidak tahu, kalau Azkan mendengarnya. Lelaki itu tidak tidur sedikitpun. Ia mendengarkan suara hati sang istri. Namun dia juga bimbang, jika apa yang dipikirkan Maziya benar, tentu dia senang.


Tapi kenapa dia tidak merasakan apapun, dia tidak tertarik dengan perasaan Rasti. Dia justru lebih tertarik dengan kesimpulan Maziya. Bahwa dirinya kejam, berani menyimpan perasaan pada pacar sahabatnya sendiri. Apakah dia benar-benar akan melukai Randy jika kebenaran itu terungkap?.


Terlebih lagi, apakah Maziya benar-benar tulus mencintainya. Bukan hanya karena kekayaannya yang sangat diinginkan dan dipuja oleh Maziya?.


Bersambung....