
Setelah Azkan dan Maziya pulang dari rumah Pitaloka dan Edwin untuk memberikan selamat. Mereka membahas berbagai hal yang masih mengganjal.
"Jadi saat kamu Mabuk apakah..."
"Iyap, aku mengingat semuanya dan apa yang aku gumamkan sepenuhnya aku sengaja."
"Lalu Pil KB juga .."
"Aku tahu sejak pertama kali minum kalo itu bahaya jadi aku nggak minum tiap hari kok.”
“Tapi obat itu ada..”
“Lagi-lagi aku sengaja membuat kalian mencurigainya, biar Kak Azkan punya sesuatu yang dikhawatirkan sama aku."
Azkan geleng-geleng kepala. "Jadi kekhawatiran ku palsu?"
"Kalau Kak Azkan nggak khawatir juga nggak apa-apa kok,"
"Tidak, tidak masalah,"
Azkan tahu memperumit berbagai hal kecil hanya akan membuat hubungan mereka berjalan lambat. Sementara ia sudah memutuskan untuk mengakui perasaannya. Hal yang bisa Ia lakukan adalah menerima dan memahami Maziya lebih dalam lagi.
" Trauma kamu.."
"Itu benar-benar tidak aku sengaja, aku baru sembuh setelah dapat hasil Otopsi." Jelas Maziya dengan tampang serius.
"Sudahlah, aku tak mau dengar lagi. Apapun itu aku tidak akan menyalahkanmu."
“Hah?” Maziya berteriak tidak menyangka.
“Haruskah terkejut dengan suara melengking begitu?” Azkan mengusap telinganya.
“Harusnya Kan Kak Azkan bertindak dramatis, bilang aku terlalu kekanakan, bilang aku egois dan..”
“Syuuut..” Azkan menempelkan jarinya lembut di bibir mungil Maziya. "Ketika aku mencintai seseorang, yang aku pedulikan adalah perasaannya padaku, apa yang terjadi juga karena kamu mencintaiku kan.”
“Enggak, kepedean.” Maziya bersikap jual mahal lagi.
“Kenapa?. Mari kita buktikan.” Azkan melonggarkan dasinya, bahkan juga menggulung lengan kemeja putih mahal sampai ke siku.
“Kak Azkan mau ngapain?”
“Mau ini..” Azkan memperlihatkan senyuman paling manis dari bibirnya.
“Nggak, kita nggak akan ngelakuin hal itu sebelum semua masalah selesai, aku nggak mau kasih ijin sebelum kita Honeymoon.”
Hal inilah yang selalu diwanti-wanti oleh Maziya. Azkan dan semua pikiran mesumnya yang benar-benar tidak tertolong. Ia tahu mereka sudah menikah, tetapi dia seharusnya membuktikan cinta.
“Kok tiba-tiba bahas Honeymoon?” Azkan menautkan alisnya bingung.
"Kenapa?. Kita adalah pasangan yang paling berpengaruh, tetapi bahkan tidak punya kesempatan untuk Honeymoon?"
"Bukan begitu Ziya, kita sudah cukup lama menikah jadi..."
"Justru karena sudah cukup lama. Aku memaklumi di awal karena Kak Azkan tidak ada perasaan padaku dan kita menikah dengan alasan Wasiat kontrak dari Kakek. Tapi sekarang kan Kak Azkan punya perasaan padaku."
"Iya, mmm." Azkan membetulkan posisi kacamatanya.
Agak gelisah, kini kacamata dari wajah berpindah ke sisi meja. Kini berulang kali ia menatap istrinya dengan berbagai pertimbangan.
Maziya tidak sabar, “Aku mulai menyadari bahwa Kak Azkan lebih bergairah daripada aku untuk melakukannya.”
“O tentu saja, namanya juga laki-laki sejati.” Azkan tertawa kecil.
“Oleh karena itu, aku nggak mau.”
Azkan kehilangan senyumnya, “Tapi kita kan saling cinta Ziya.”
“Coba Kak Azkan pikirin lagi deh, sejak kita menikah, Kak Azkan Cuma memikirkan cara unuk membuat aku merasa tersinggung dengan kata-kata kejam, Aku juga harus mengalami hari peling melelahkan di Perusahaan. Mana ada sih pasangan yang saling mencintai melakukan hal demikian.”
"Tapi..." Azkan tidak melanjutkan ucapannya setelah dapat tatapan setajam silet dari istrinya.
"Ho....Ney.....Mooon" Ucap Maziya.
“Baiklah, kita bisa Honeymoon, lalu kita bisa menyatukan honeymoon bersama acara dengan para sekretaris inti.”
“Bagaimana itu bisa samaaa?” Maziya mendesis karena kesal.
“Kalo begitu, setelahnya ya.”
“Okee.”
“Ya sudah kalo gitu apa malam ini kita bisaa.”
“Enggak, sebelum semuanya selesai dan aku merasa tidak ada lagi yang menggangu hubungan kita, seperti Mark contohnya.” Maziya berkata dengan tegas.
“Kalo gitu aku akan mempercepat penyelesaian dengan Mark. Kita bisa segera melakukan acara Perusahaan barulah bisa honeymoon.”
“Oke, aku harap semuanya lancar.” Maziya mengencangkan ikatan kimono yang ia pakai.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Azkan.
"Melakukan apa?"
"Kenapa kamu mengencangkan Ikatannya?"
"Biar nggak di buka sama Suamiku."
"Aku tidak akan melakukannya kalau kamu tidak ingin," ucap Azkan. "Tapi, apa boleh menyentuhnya saja?"
"Jangan harap!" Maziya langsung berbaring.
Azkan berjalan ke kamar mandi dengan beberapa dengusan yang terdengar disengaja. Selama Azkan sibuk di kamar mandi, Maziya memikirkan sesuatu yang berkemungkinan dapat menjadi penghalang dalam perbaikan hubungan mereka ke depannya.
Sesuai dengan kecerdasan IQ nya, Maziya menunggu suaminya dengan keyakinan. Benar saja, Azkan langsung diberondol pertanyaan tentang kondisi Maziya. Salah satu kakinya barusaja masuk ke bawah selimut, dan pertanyaan Maziya adalah.
“Kak Azkan tahu kan aku mengidap bipolar yang sudah pasti hanya bisa dikontrol dan tidak bisa disembuhkan?”
Akhirnya, Dia mau membahas hal ini langsung denganku. Syukurlah, artinya dia benar-benar mempercayaiku.
“Tentu saja.”
“Apa yang Kak Azkan pikirkan tentang itu?"
"Apa yang perlu dipikirkan, Aku suamimu. Aku mencintai semua yang ada padamu. Termasuk kelebihan maupun kekurangan. Aku berharap kamu melakukan hal yang sama!" Suara Azkan terdengar tenang.
"Apa Kak Azkan akan memaksa aku menjadi sosok yang luar biasa dan baik pada semua orang?. Aku bisa berusaha menyembuhkan trauma juga ketakutan berlebih terhadap gelap. Tetapi, mengenai bipolar, Kak sudah dengar penjelasan Dr. Faruq bukan?”
Maziya masih ragu, ia tahu bahwa hal itu yang daridulu menguatkan spekulasi Azkan bahwa ia hanya menginginkan harta Serziano. Hal itu juga yang membuat Azkan selalu mengembangkan banyak kebencian gara-gara Maziya mengagungkan Kekuasaan.
“Cukup jadi diri kamu sendiri saja, mau kamu marah dan meledak, tidak akan ada yang protes. Siapa yang berani menyinggung Istriku."
"Iya, tapi hal itu mengesalkan bukan?" tanya Maziya lagi.
"Menurutku itu imut dan manis. Tidak usah menahannya, aku akan selalu di sampingmu" Azkan terkekeh pelan.
“Benarkah?. "Imut dan manis?. Apa semua yang aku lakukan dulu dan membuat Kak Azkan hampir memukulku sebenarnya hal yang manis?" Apa sikapku yang bisa berubah dengan semangat meledak-ledak lalu kehilangan semangat tanpa sebab itu imut dan bahkan manis?”
Jauh di dalam lubuk hatinya, Azkan tetap menyangka itu cukup horor bahkan untuk dipikirkan saja. Tetapi, balik lagi ia sudah memutuskan untuk mencintai Maziya.
Ia bisa mengingat bagaimana dahulu Maziya meminta seorang satpam yang benci ikan mentah memakan ikan dari kolam hidup-hidup. Mamanya membayar mahal untuk ganti rugi bahkan kerusakan mental mantan satpam tersebut. Penyebabnya sederhana, hanya karena ia tidak menunduk saat Maziya lewat dan maziya sedang dalam mood yang tidak baik.
Hal itu juga yang membuat Azkan lebih dulu membuat Rita mundur dengan caranya yang sedikit kasar. Karena kalau Maziya yang bertindak, sudah pasti Rita akan angkat kaki dari rumah, sementara Bi Mirna adalah pelayan yang sangat cocok untuk Sang Mama.
“Mmm, tentu saja, bahkan jika kamu tiba-tiba dalam fase depresif, aku akan membuat semua orang mengerti.”
Lagi-lagi bayangan saat dahulu Maziya dalam fase depresif terbayang untuknya. Ia mengira bahwa Maziya hanya kecewa dengan nilainya yang jelek, Maziya saat itu bahkan tidak mau ke sekolah dan memutuskan libur seminggu sehingga yang ia lakukan hanyalah berjalan-jalan dan shopping dengan Nyonya Lidia.
Sejujurnya kalo dipikir-pikir lagi, Azkan sadar betapa ia menyepelekan detail-detail yang terjadi dulu. Ia selalu menganggap Maziya adalah anak kecil yang mengeruk harta keluarganya. Ia lupa fakta bahwa seorang gadis kecil harus mengalami kejatuhan dan mimpi buruk dalam usia yang masih muda.
"Kali ini adalah hal yang paling penting. “ Maziya berbalik dan memegang kepala suaminya, Kini membuat tatapan intens.
“Apa lagi?”
Bersambung....