The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
54. Rahasia Menyakitkan Maziya



Saat Maziya pergi ke pertemuannya dengan anggota Circle nya. Azkan juga menyelesaikan urusannya sendiri.


"Aku meminta Barga untuk menyelidikinya Ma, sampai di Klinik Dr Faruq pun, hasilnya nihil."


"Lalu apa yang kamu harapkan dari Mama, Tim kamu saja yang kurang becus." Nyonya Lidia asik dengan tontonannya.


"Tim aku selalu berbenturan dengan Tim Mama. Aku tahu Mama menyembunyikan dengan sangat baik. Hingga setiap Tim yang aku atur selalu gagal. Akhirnya aku bisa tahu juga dari Randy kalau ia melihat kalian di Klinik itu. Pada hari yang sama, pada Jam ** Rekaman CCTV dihilangkan. Ini hanyalah kerjaan Tim yang Mama atur kan."


"Oh ya," Nyonya Lidia sedikit panik.


"Papa juga nggak mau ngasih tahu?" Kini Azkan beralih pada Tuan Alam yang sedari tadi menghindar untuk dimintai keterangan.


"Papa hanya ingin menyelesaikan cemilan ini, kasihan Bi Mirna udah bikin Daritadi Pagi."


Sudah cukup lama membujuk kedua orangtuanya. Azkan tak kunjung mendapatkan jawaban dari kegelisahannya.


"Papa ke Kamar mandi bentar ya." Tuan Alam segera melarikan diri agar tidak terus didesak.


"Aku punya sesuatu hal yang penting Ma."


Dari ekspresi putranya itu, akhirnya Nyonya Lidia menurut dan mengikuti ke ruang kerja Putranya.


Sekitar 10 menit saja, Azkan keluar ruang kerja, "Barga, mari pergi ke klinik Jiwa Dr. Faruq."


Tuan Alam terheran heran mengapa dan apa yang terjadi di dalam sana. Nyonya Lidia keluar dengan senyum yang tidak bisa diartikan.


"Ada apa Ma, apa Azkan sekarang berani mengancam Mama?" Tuan Alam bersiap-siap.


Nyonya Lidia mengangguk membuat Tuan Alam makin naik pitam. Siapa yang mengajari Azkan untuk mengancam keluarganya sendiri apalagi ini adalah sosok Mama yang paling ia sayang.


"Mama mau ngomong sesuatu Pa."


Tuan Alam memijit kepala Isteri nya menggantikan posisi Bi Mirna sesaat. Ia mengangguk memahami tindakan Istrinya.


"Papa Yakin ini adalah yang terbaik. Bagaimana pun juga. Azkan adalah seorang suami bagi Maziya. Itu adalah tugasnya untuk melindungi dan mengayomi istrinya. Itu adalah tugasnya untuk menerima kelebihan maupun kekurangan istrinya. Tindakan Mama sudah benar."


Nyonya Lidia mengangguk. Meskipun putranya itu keras kepala. Ia tahu Azkan tidak akan bertindak terlalu jauh. Ia tahu meskipun Azkan mengatakan membenci Maziya, tapi Azkan tidak pernah bertindak jahat pada Maziya.


Satu-satunya tindakan jahat Azkan adalah 5 tahun yang lalu. Saat menolak Maziya dengan kejam. Itupun dilakukan Azkan karena tekanan dan juga kekecewaannya. Nyonya Lidia dapat tahu ada sedikit penyesalan yang ada pada Azkan.


.....


"Tuan, mengapa kita ke klinik lagi?. Bukankah Dr. Faruq serta semua filenya juga terjaga dengan aman?"


"Mama sudah menghubungi Dr. Faruq agar memberitahuku."


Rupanya Azkan memberikan ancaman yang tidak biasa. Dimana ia takut Jika Maziya tersiksa jika terus memakai Pil KB. Ditambah lagi, Ia sampai melewati batas saat bersama Maziya. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Azkan ingin menghilangkan kebenciannya pada Maziya, namun ia harus bisa mendapatkan logika atas hal tersebut.


Ia butuh alasan untuk melakukannya, ditambah lagi, semenjak menikah, ia merasa bahwa Maziya yang ada dalam bayangannya selama ini berbeda dengan Maziya yang sekarang ia hadapi. Maziya yang ceplas ceplos, selalu berterus terang ternyata punya rahasia menyakitkan yang disimpan sendiri. Maziya yang hanya ia anggap sebagai gadis kecil, tidak pernah mencoba untuk lebih dewasa. Ternyata adalah seorang Gadis yang sangat Cerdas dan lebih rumit dari segi pikiran juga sifatnya.


Di Tempat Dr. Faruq....


Azkan tertegun saat melihat hasil diagnosa dari Maziya saat umurnya masih 8 tahun. Bipolar dan PTSD,. Bipolar membuat Moodnya gampang berubah secara drastis sehingga ia harus minum obat secara teratur. Bipolar yang ia hadapi memang tidak dapat disembuhkan, hanya dapat dikurangi dampaknya dengan beberapa obat serta pengalihan yang salah satunya adalah dengan uangnya yang ia pakai hanya untuk memuaskan diri.


Sementara PTSD yang membuat Maziya jadi phobia gelap adalah....


'Aku melihat dan mendengar Ayah bertengkar dengan Ibu, Ayah bilang kini bisnis mereka semakin turun, Mungkin seharusnya aku tidak lahir saja.


'Sebelum ayah berangkat dan kecelakaan. Ayah meminum banyak sekali Pil obat. Ayah pasti ingin bunuh diri karena kehadiranku. Ayah bilang saat minum obat, kalau ia menyayangiku.


2 Tahun kemudian, terapi ulang saat usia Maziya 10 tahun dan Ibunya meninggal. Saat Bipolar yang dideritanya mulai terlihat.


'Pada Akhirnya semua yang menyayangiku akan mati, Ayahku juga Ibuk. Sebelum Pergi Ibu bilang bahwa ia menyayangiku. Tapi ia juga akhirnya pergi meninggalkanku.


"Untungnya dia memiliki IQ 155. Jadi tidak ada yang akan menyangka bahwa ia mengalami itu semua. Ia dapat mengontrol perubahan Moodnya sendiri." Jelas Dr. Faruq pada Azkan.


Azkan mengusap wajahnya, dibantu oleh Barga dengan saputangan.


"Tapi kan bisa saja ini hanya pikirannya Dokter, bagaimana jika...."


"Jika kemungkinan ingatannya salah karena ia masih kecil dan mengalami Syok?" tanya Dr. Faruq.


"Iya Dokter, apa kemungkinan itu ada?"


Dr. Faruq mengangguk, "Itu ada, beberapa ingatannya dikunci rapat, sudah lebih dari 10 tahun, saat sesi Hipnoterapi dilakukan Maziya dengan sengaja mengunci ingatannya sendiri. Ia takut hal itu makin menyakitinya. Nyonya Lidia juga tahu hal ini."


"Bagaimana cara membukanya Dokter?. Apa Mama juga tahu caranya?"


"Ada satu cara, yakni dengan otopsi ulang Jasad Ayahnya. Hanya dengan cara itu, dapat dipastikan apakah Tuan Arman memang bunuh diri dengan meminum pil atau tidak."


"Mengapa tidak dilakukan?" Azkan berdiri.


"Tuan, Otopsi butuh persetujuan Wali." Barga ikut berpendapat.


"Iya, hanya Maziya yang dapat memutuskan untuk otopsi ulang atau tidak. Namun masalahnya adalah ia tidak bisa menyetujuinya."


"Kenapa Dokter?"


Maziya tidak sanggup menerima kenyataan yang ada. Ia lebih memilih menahan sendiri traumanya.


"Tapi jika saja Otopsi berhasil dilakukan... "Dr. Faruq terdiam dan berpikir.


"Kenapa Dok?".


"Jika berhasil, maka phobianya sudah dipastikan akan hilang. Karena di dalam ingatannya ia melihat Ayahnya minum Pil di dalam kegelapan."


"Bagaimana dengan Bipolarnya?"


"Sekali lagi saya jelaskan, Bipolar tidak dapat sembuh 100 persen. Hanya dapat dikurangi dampaknya dan dikontrol oleh emosi dan Obat."


"Apa yang harus aku lakukan agar dia mau melakukannya Dok?. Otopsi itu?" Azkan bertanya dengan raut kekhawatiran yang tidak dapat ia sembunyikan.


"Mungkin bisa membuatnya percaya, bahwa orang yang ia sayangi tidak akan meninggalkannya"


"Baiklah." Azkan mengangguk.


"Tapi satu hal, jangan singgung ayahnya. Itu salah satu penyebab fase Depresif nya kambuh dan itu lumayan lama."


"Aku tahu itu, kejadian saat aku tidak pulang ke rumah." Azkan melirik Barga.


"Saat itu Anda." Barga ikut mengingatnya.


"Apa ada lagi yang tidak boleh aku lakukan Dok?"


"Cukup untuk Jangan mengasihaninya. Dia benci dengan hal tersebut."


Karena IQ nya tinggi, itulah kesulitan yang tidak dapat diatasi Nyonya Lidia bahkan setelah 10 tahun. Bukan hanya Nyonya Lidia, tapi juga Dokter Faruq sendiri yang sudah berpengalaman selama hampir 20 tahun. Maziya adalah satu-satunya pasien paling rumit yang sangat sulit untuk ditembus. Dokter Faruq juga mengakui ketidakberdayaannya dengan jujur.


"Barga, mari jemput istriku pulang!"


"Baik Tuan." Barga memutar setir mobilnya ke alamat Maziya melakukan pertemuan.


Bersambung.....