The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
81. Maziya tahu



Adiba duduk di meja dalam ruang Pantry. Ia melakukan peregangan leher beberapa kali.


Tak lama kemudian Renald juga masuk sembari membuat dua cangkir kopi. Ia duduk di hadapan Adiba sembari menyodorkan secangkir kopi.


"Ini buat kamu, dengan satu setengah sendok gula."


"Kamu tahu saja kesukaan ku." Adiba meniup beberapa kali sebelum menyeruputnya.


"Ada masalah apa lagi?"


"Maksudnya?"


"Kamu selalu duduk disini alih-alih kantin saat menghadapi masalah. Apa dimarahi Departemen Publis**?"


"Emangnya harus ada masalah dulu apa?. Enggak kok."


"Terus, masalah pribadi ya?"


"Mm iya"


"Sorry kalo gitu. Kamu nggak mau bahas kan?"


"Enggak juga, ya masalah keluarga aja biasalah."


"Nikah?, Sorry kamu nggak mau bahas ya?" Renald menepuk mulutnya.


Adiba mengiyakannya, siapa tahu kalau mulut Renald bekerja. Bisa saja ada Pria yang tertarik untuk mendekatinya.


Masalah Adiba memang tidak jauh-jauh dari desakan orangtuanya untuk segera menikah. Ia cukup tertekan dengan hal itu, Ibunya selalu berpikir ia hanya bisa mempercantik diri namun tidak dapat memikirkan Jodoh.


Selain itu umurnya yang hampir 30 juga salah satu tantangan tersendiri. Tantangan yang selalu dihadapi oleh wanita karir.


"Orangtuaku juga tak pernah Mendesak untuk segera menikah, Mereka hanya ingin aku punya seseorang yang mau berkomitmen saja. Mungkin tidak segera menikah, ya kekasih lah." Akui Adiba sembari menyeruput kopi favoritnya tersebut.


"Begitu ya. Lagipula mencari Pasangan yang tepat memang sangat rumit."


"Rumit?"


"Iya Adiba, aku bahkan selalu merasa bahwa Maziya bukanlah gadis yang cocok untuk Tuan Azkan. Aku merasa bahwa pernikahan mereka tak jauh berbeda dengan pernikahan bisnis biasa. Mengingat interaksi mereka sebelumnya. Tapi akhirnya aku paham, bahwa Tuan Azkan memang dilahirkan untuk Maziya pun sebaliknya"


"Aku juga berpikir begitu Renald. Aku selalu merasa bahwa Maziya dibandingkan dengan mantan Tuan Azkan yang selalu berubah tiap bulannya dahulu bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Tapi masalah Kemampuan dan tindakannya, dia sangat luar biasa."


"Kamu juga salah kalau membicarakan penampilan Adiba."


"Apa nya?"


"Maziya juga sangat cantik kok."


"Iya, kamu mah semuanya yang lajang cantik."


"Hehe ..." Renald mengusap tengkuknya.


"Udahlah, aku mau mulai mencari calon dulu." Adiba berdiri.


"Adiba..." Renald menahan tangan Adiba.


"Apa?. Kamu mau minta bantuan ya buat tugas baru di posisi kamu. Maaf aku sibuk."


"Bukan itu."


"Terus?" Adiba melepaskan tangan Renald darinya.


"Kamu mau nyari calon dimana?"


"Aplikasi online, Di Situs Kencan, acara lainnya pokoknya aku bakal cari info sebanyak mungkin lah."


"Tapi itu bahaya Adiba!" Renald meninggikannya suaranya.


"Bahaya?. Aku lebih suka dalam bahaya dibandingkan terus mendapatkan teror keluarga karena masih nggak ada niatan buat nyari jodoh di usia segini Renald."


"Tetap aja kan. Kamu harusnya bisa cari secara gamblang pake mata sendiri."


"Kalau aku bisa ya pasti udah dapet dari dulu kali."


"Bukannya nggak dapet, kamu yang lebih fokus sama Kuku dan wajah.."


"Renald, Nggak usah kritik kesenangan orang lain. Lakuin aja kesenangan kamu menjaring para wanita cantik!" Adiba berdiri lagi dari kursinya.


"Adiba," Lagi-lagi Renald menahan tangan Adiba hingga ia terduduk.


"Apalagi sih??" Adiba tampak kesal.


"Hah?"


"Iya, kalau nggak boleh Its ok kok. Aku tinggal nyerah aja. Kamu tahu kan aku masih bisa naksir Cewek lainnya."


"Kamu naksir aku karena kasihan dengan situasi yang aku hadapi ya Renald. Kalau aku aku nggak bilang masalahnya pasti kamu akan lebih tertarik pada perempuan lainnya kan."


"Nggak gitu Adiba,"


Renald mengakuinya sendiri bahwa ia selama ini memang suka menggoda Adiba. Ia tak berpikiran untuk menyukai Adiba karena takut kalau ditolak hubungi mereka akan merenggang dan canggung. Apalagi Mereka dipastikan bertemu setiap hari, seperti kebanyakan ketakutan akan romansa kantor pada umumnya.


"Tetap saja aku nggak yakin sama perasaan Kamu Renald. Tadi aja kamu bilang kalau aku nggak mau kamu tinggal nyari yang lain. kamu menyepelekan hal ini Renald"


"Aku minta maaf, emang mulutku ini." Renald menepuk mulutnya.


"Udahlah anggap aja tadi kamu lagi kasih saran buat aku. Sayangnya aku tolak ok!"


"Aku bisa yakinin kamu kok. Kamu bilang aja apa yang mesti aku lakukan."


"Yaudah kalau kamu bersikeras."


"Kamu mau Adiba?. Aku tahu kalau kamu memang cantik aku hanya butuh waktu lama untuk mengenali kamu."


"Renald," Adiba memotong ucapan Renald.


"Iya."


"Aku belum terima kamu." Adiba melipat tangan di depan dada.


"Loh barusan?"


"Aku setuju kalau kamu naksir sama aku. Tapi seperti yang kamu tahu kalau aku nggak yakin sama perasaan kamu."


"jadi...?"


"Jadi aku akan lihat perjuangan kamu. Kalau kamu bisa tahan diri untuk tidak mendekat pada perempuan perempuan cantik lagi. Melakukan usaha penuh terhadap ku. Aku akan menerima kamu."


"Aku bisa Adiba, aku bisa."


Saat ini Maziya dan Chelsea yang masuk dalam setengah pembicaraan penting mereka hanya bisa berdiri terpaku. Adiba dan Renald yang sedang berjalan keluar dan berpapasan dengan mereka juga langsung kehabisan kata-kata tidak sempat memikirkan alasan.


"Non Nona Maziya, Chelsea. kami tadi..." Renald tergagap.


"Chelsea, No Na.." Adiba hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa kalian kaget, teruskan saja. Lebih banyak pasangan akan lebih baik. Aku mendukung sepenuh hati. dan Adiba, aku akan ikut mengawasi tindak tanduk Renald." Maziya mengangkat jempolnya.


"Terimakasih Nona," Renald menjabat tangan Maziya.


"Tenang saja."


Saat ini Maziya sudah tidak ada di dalam Pantry bersama Renald. Tinggal Chelsea dan Adiba disana.


"Chelsea aku.."


"Keputusan yang tepat Adiba, aku juga tahu selama ini tahu kamu selalu membahas dan menjelekkan Renald, tapi kamu juga secara tidak langsung marah karena sikapnya yang hobi sekali mencoba menggoda karyawan wanita kan."


"Mmm, berarti sekarang posisi ku tak jauh berbeda dengan kamu dong Chelsea."


"Maksud kamu Barga."


"Iya, gimana kelanjutannya?" Adiba penasaran.


"Ya gitu deh, Barga benar-benar tidak paham cara mengejar seorang wanita. Tapi nggak apa-apa aku jadi lebih yakin dengan keseriusan nya." Ujar Chelsea.


Sayang sekali, keinginan Chelsea untuk tidak mengatakan hal itu pada semua orang harus kandas seperti Adiba. Tak lain tak bukan Maziya yang juga kembali masuk karena ingin memberikan semangat.


Niat ingin disembunyikan terutama dari Maziya. Justru Maziya adalah satu-satunya yang paling pertama tahu.


"Tenang saja, aku akan menyemangati kalian berdua!"


"Terimakasih Nona." Adiba dan Chelsea terdengar pasrah.


"Aku akan membantu mengawasi Renald, aku akan memaksa Suamiku membuat Barga lebih paham situasinya."


"Benarkah Maziya." Chelsea antusias.


"Mmm, mereka memang harus ada usaha untuk mengejar kalian."


Bersambung...