The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
62. Kehebohan di SERZIANO Grup



Maziya makin merasakan bagaimana perbedaan Sikap Azkan padanya. Makin merasakan bahwa Azkan perlahan seperti berusaha memahaminya dibandingkan menasehati berbagai kelainan emosional yang ia tunjukkan.


Bahkan di Perusahaan pun, ia jadi lebih sering duduk santai berjalan sana sini di ruangan sekretaris Inti. Daripada disuruh ini itu seperti biasanya.


Ditambah lagi dengan perubahan perilaku Rita. Saat itu esok paginya dengan wajah bengkak tertunduk Rita tidak lagi membuat Maziya cemburu atau overthinking. Entahlah, apa yang terjadi sebelumnya padahal semalaman Maziya sudah berniat mengerjai perempuan itu.


"Maziya,," Renald membuyarkan lamunan Maziya.


"Iya apa?"


"Kamu mikirin apa?"


"Nggak ada"


Chelsea tiba-tiba berlari ke luar ruangan. Ia bahkan tidak pamit pada siapapun.


"Dia kenapa lagi?" Lintang merasa diabaikan sebagai yang paling senior.


"Maaf bang, pasti ada urusan mendesak, aku akan temui dia." Adiba berdiri dari kursinya.


"Bukannya kamu harus segera menyelesaikan permintaan Pak Leo?" tanya Lintang.


"Tapi..." Adiba tampak khawatir.


"Aku aja yang nyusul dia, aku emang nggak ada yang mendesak." Maziya menawarkan diri.


Di lantai bawah...


Chelsea berjalan keluar gedung itu setelah mengusap dadanya beberapa kali.


Saat Maziya mengikuti, ada Miko yang juga ikut di belakangnya. Sebelumnya Miko ingin menyapa tapi ia takut yang lain merasa ada kejanggalan dalam hubungan mereka.


Rupanya Chelsea di tampar hingga tersungkur jatuh. Bukan itu saja, lelaki yang barusan menamparnya itu bahkan menendang perut Chelsea hingga ia sangat kesakitan namun tak juga berteriak.


"Brengsek," Gumam Maziya sembari mengepal tangan kanannya.


Lelaki itu menatap siapa yang datang, "siapa kau. apa barusan kau mengataiku brengsek?"


Maziya tiba di hadapan mereka, "Iya, bahkan kau tidak pantas disebut Brengsek, kau adalah binatang!!"


Saat tangan lelaki itu akan meninju wajah Maziya, Miko datang di waktu yang tepat. Bahkan para pengawal yang datang terlambat itu merasa lega.


"Kali ini kau bebas, awas saja..." Lelaki itu pergi setelah meludahi Chelsea.


Melihat hal tersebut, Maziya benar-benar emosi. "Minta maaf Brengsek, beraninya kau meludahi temanku!" teriaknya dengan suara yang cukup lengking.


Chelsea dibantu oleh satu pengawal untuk berdiri.


"Temanmu?. Dia pacarku jadi terserah apa yang akan kulakukan untuk pelacur itu." tunjuk Lelaki itu pada Chelsea.


"Pelacur?. Brengsek tarik kata-katamu!" Maziya mendekat ke arahnya.


Lelaki itu marah dengan sikap Maziya hingga satu buah pukulan melayang juga di Pipi Maziya. Bukan itu saja, bahkan ia juga menendang sekali perut Maziya sebelum akhirnya dilumpuhkan.


Saat ini yang lebih mengejutkan adalah Pitaloka yang pecah ketuban di Toilet. Ambulan datang ke depan Gedung SERZIANO Grup untuk menjemput Pitaloka.


Azkan melihat apa yang terjadi, ia benar-benar syok melihat Maziya yang memegang perutnya kesakitan.


"Apa yang Terjadi?" Azkan sangat khawatir dengan istrinya.


"Maaf Pak, pacar saya bertindak di luar batas." Chelsea yang menahan sakit bersuara.


"Atas dasar apa pacar kamu membuat istri saya begini Hah!" Azkan teriak hingga suara menggelegar ya mengejutkan Yang ada disana.


"Kak Azkan, Chelsea korbannya juga, kok ngebentak dia sih."


"Barga, cepat ambil mobil !. kita menuju Rumah Sakit."


"Baik Tuan."


Miko menanyakan keadaan Maziya, "Kamu nggak apa-apa Maziya?"


"Menurutmu?. Kenapa kau juga ada disini?" Lagi-lagi Azkan berteriak pada Miko.


Ini yang emosinya meledak-ledak bukannya Maziya. Tetapi justru Azkan suaminya.


"Kak Azkan, Miko ngelamar pekerjaan disini." Maziya menarik pelan ujung lengan Azkan.


"Nggak nanya."jawab Azkan judes.


"Aku sebaiknya pergi ya." Miko mundur dan menjauh.


Azkan membawa Maziya masuk ke Mobil tak lupa bersama Chelsea yang akhirnya duduk di kursi depan di samping Barga.


"Hubungi Rumah Sakit, siapkan semua keperluan!" Azkan melirik Barga dari Spion depan.


"Baik Tuan."


"Lah aku cuma lecet dikit."


Seharusnya Maziya senang kalau berada di kamar VVIP. Itu menandakan betapa berkuasanya SERZIANO Grup juga posisinya.


Namun setelah ia bergaul bersama Para Sekretaris Inti. Perlahan sikap arogannya yang dulu mulai ia kurangi.


"Lecet dikit?. Jangankan lecet. Sehelai rambut kamu saja disentuh tanpa izinku orang itu akan tamat."


"Kak Azkan mau balas Lelaki tadi ?" Maziya membelalakkan matanya.


"Menurutmu?"


"Itu juga aku yang teledor sih ngikutin mereka. Mungkin Chelsea...."Maziya berhenti bicara.


Chelsea tiba-tiba saja menangis, "Maafkan aku Tuan, Maafkan aku Nona, aku juga tidak mampu menghadapinya."


Mendengar Chelsea, Maziya yang awalnya merasa bodoh karena ngintillin mereka jadi berapi-api lagi.


"Kamu tenang saja Chelsea, Kak Azkan pasti bikin dia menyesal.." Maziya meringis karena perutnya terasa sakit lagi.


"Jangan banyak gerak!" Nada bicara Azkan lembut dan sangat khawatir.


Sikap itu, Sikap yang mampu membuat Hati Maziya kembali berdebar. Sosok Azkan yang ia rindukan apakah benar-benar kembali padanya.


Di Rumah Sakit....


"Kak Azkan, aku boleh nengok Mbak Pitaloka kan ya?" Maziya mengerjapkan matanya.


Azkan yang hanya diam sedari tadi sambil bersidekap tidak juga bicara.


"Aku juga mau lihat keadaan Chelsea." Maziya bangkit dari ranjang karena Azkan tidak juga memberinya respon.


"Tetap berbaring!!" ucapan dari Azkan yang menyurutkan niat Maziya untuk bangkit.


Satu Minggu kemudian...


Maziya benar-benar merasa bosan di Rumah Sakit. Meskipun kamar VVIP, tetapi ia tak punya alasan menetap disana. Kalau dulu, ia bisa saja menginap demi Mendapatkan hari libur di Sekolah. Atau karena ia hanya ingin dilayani dengan baik oleh para perawat setelah keluar dari Kediaman Serziano dan tinggal sendirian. Nyonya Lidia sangat maklum dan ikut mengambil peran dalam menghibur Maziya yang jelas-jelas tidak benar-benar sakit.


Tetapi kali ini, ia sedang tak ingin menghindari apapun. Ia bahkan saat ini bisa berlarian atau bahkan melompat saking sehatnya tubuhnya saat ini.


Saat ini para Sekretaris Inti sudah boleh berkunjung. sebelumnya Azkan melarangnya takut Maziya belum pulih.


Maziya memakan potongan apel dari Viola sembari Mendengar Chelsea menjelaskan dan berterima kasih. Apa yang terjadi membuat Maziya tidak bisa berkata-kata.


Siapa sangka bahwa ada kelainan pada emosi pacarnya, Chelsea mengakui bahwa pacarnya itu memang sangat posesif berlebih hingga menyiksanya bahkan sampai mengancam apabila mereka putus. Bahkan juga ikut mengancam orang tuanya. Oleh karena itu Chelsea tidak berani menolak saat diajak balikan. Untungnya Azkan menyelesaikan hingga Lelaki yang jadi pacar Chelsea itu masuk RSJ.


"Kenapa bisa Kak Azkan?" Maziya meminta penjelasan.


"Tuan Azkan sendiri yang bilang Nona, siapapun yang berani menyentuh istrinya akan ia balas sepuluh bahkan seratus kali lipat. Saat itu Tuan Azkan sangat berapi-api, aku melihat mantanku menyesal untuk pertama kalinya."


Chelsea berlutut berterima kasih.


"Nggak usah, itu memang seharusnya kan. Aku hanya mewakili amarah kamu walau sedikit gagal. dan suamiku menuntaskannya."


"Iya, aku benar-benar lega saat Dia kesakitan setengah mati. Tuan Azkan benar-benar menghabisinya."


Para Sekretaris Inti lainnya juga ikut pamit mengikuti Chelsea.


"Apa sekarang hubungan kalian mulai nyata?" tanya Viola memakan potongan apel alih-alih menyuapi Maziya.


"Entahlah, aku juga bingung."


"Oh ya, Miko kayaknya nggak berani nemuin Kamu Maziya."


"Kenapa?"


"Suami kamu yang mendominasi itu memang bukan tandingannya. Terus...." Viola menaruh garpu di piring.


"Terus apa?"


"Miko udah minta aku buat wakilin dia."


"Sekarang udah bisa berbagi rahasia bahkan minta diwakilkan yaa." Maziya menggoda Sahabatnya.


Tak lama kemudian Azkan masuk, seperti suami paling telaten dan pengertian. Azkan melayani Maziya dengan sepenuh hati.


Azkan yang dirindukan perlahan kembali....


Bersambung....