The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
74. Dinner



Saatnya Dinner, Lagi-lagi pelayanan dari Vila tersebut sangat luar biasa. Pelayanan VIP di malam terakhir mereka yang membuat Lintang kaget.


Mereka bahkan tidak lebih dari 10 orang tapi hidangan mereka sudah sama seperti hidangan pertemuan Dua Perusahaan.


"Kamu mau aku suapi nggak?" tanya Azkan pada Maziya.


"Sejak kapan Kak Azkan jadi seromantis itu?." Maziya bingung.


"Sejak aku mencintaimu dalam dan lebih dalam lagi."


"Kak Azkan bersikap Normal saja, kalau dipaksain malah jadi aneh." terang Maziya.


"Ooh begitu ya, kamu mau apa tinggal minta saja pada para pelayannya!"


"Iya aku tahu kok."


"Tapi kamu mau suapi nggak, sekali saja!"


"Kok Kak Azkan ngotot sih."


"Bukannya ngotot."


"Terus apa?"


"Biar ada gambar yang bagus yang bisa diabadikan Staff." Azkan melirik Staff yang selalu stay dengan kameranya di sudut kiri.


"Ooh Kak Azkan bilang dong dari tadi, kan kalo ada alasannya begitu aku bisa lebih menikmati lagi."


"Lupa."


Maziya sudah menganga tapi ia mundur, "Tapi Kak Azkan,"


"Apa lagi?. Kamu tidak suka yang ini?"


"Buka gitu aku bingung aja."


"Bingung?" Azkan mengisyaratkan agar Staff pemegang Kamera tidak memotret dahulu.


"Apa yang bagus dari potret orang makan coba?. Kayaknya Viola dulu cuma motret Makanannya deh."


"Itukan dia, kalo kita mah beda. Kemesraan kita."


Maziya sampai speechless tak bisa berkata-kata. Ia memang menyukainya, tapi ia tahu Para Sekretaris Inti juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka dengan sikap Azkan. Edwin bahkan sampai hampir menusuk bibirnya sendiri dengan garpu.


Barga juga sampai mengatupkan mulutnya. Ia baru menyadari bahwa Tuannya itu punya sisi lain yang cukup menggelikan.


Tetap saja, akhirnya Maziya tetap disuapi dengan Mesra oleh Azkan. Para Sekretaris Inti hanya bisa mesem-mesem sendiri dengan kegemasan terhadap hubungan CEO dan sang istri itu.


"Adiba, kamu mau juga?"tanya Renald.


"Mau apa?"


"Aku suapi"tawar Renald.


"Pake Apa?"


"Pake sendok lah."Renald mengangkat sendok di tangannya.


"Iih, itu kan habis kamu pake.." keluh Adiba.


"Aku dulu bisa make sendok satu bersepuluh kok." Renald menjelaskan.


"Satu bersepuluh?" tanya Maziya bingung dan ikut heran. "Kamu dulu nggak punya apa-apa ya Renald, maaf berada di garis kemiskinan ya?"


"Bukan Nona, itu saat Pramuka." jawab Renald.


Adiba memukul lengan Renald, "Terus sekarang kamu pikir kita lagi pramuka apa?"


"Cuma nawarin aja Adiba, kamu sensian banget dah."


"Renald, jangan terus menggodanya!" tegur Lintang.


Adiba menggangguk,"Dengar tuh kata Bang Lintang!"


"Kalian sudah seperti pasangan saja kalau selalu bertengkar begitu." Edwin menggoda mereka berdua.


"Edwin, jangan ikutan ya!" Adiba memperingati.


Saat ini, perhatian Maziya berpindah pada Chelsea. Biasanya Chelsea selalu tidak suka dengan pembahasan mereka yang terkesan tidak berguna itu. Dia akan menginterupsi dengan kata-kata yang terdengar seperti kesimpulan.


Maziya menyadari juga bahwa Barga sesekali curi pandang pada Chelsea. Maziya tiba-tiba saja mengeluarkan insting Mak Comblang nya yang sedang aktif.


Mungkin saja ada hal yang lakukan sebelumnya, apalagi Chelsea dan Barga sama-sama kembali dalam waktu yang bersamaan. Mereka sama-sama tidak ikut berenang bersama yang lainnya tadi.


"Ziya, kamu mau makan apalagi?"


"Nggak ada Kak Azkan, udah penuh aku." Maziya mengusap perutnya.


.......


Rasti dan Randy memutuskan untuk Dinner malam ini. Setelah beberapa kesalahpahaman yang mereka selesaikan, akhirnya ada waktu untuk mereka berdua lagi.


"Kamu nggak ada Shift di rumah sakit Sayang?" tanya Rasti takut kalau Randy nanti dapat teguran atau bermasalah dengan Spesialis nya.


"Nggak, aku udah bilang sama Senior juga. Aku bahkan melakukan lebih banyak tugas sebelumnya." terang Randy.


Minuman yang mereka pesan serta dua deserts Kue yang sangat cantik terhidang. Rasti akhirnya mengutarakan apa yang sudah mengganjal dalam hatinya.


"Maafin aku ya, Aku dan keraguanku benar-benar menyulitkan hubungan kita."


"Aku udah bilang kan sayang, aku paham."


Rasti membuang nafas, "kamu menyukaiku sejak awal. Aku justru berada dalam tahap jenuh hubungan kita. Aku dengan mudahnya tidak memperhatikan kebersamaan yang sudah kita lewati selama ini."


Randy menggenggam tangan kekasihnya, "Sudah, aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku yang terlalu sibuk dengan Rumah Sakit sehingga aku mengabaikan hal ini."


....


Viola dan Miko juga Dinner di Tempat lainnya. Tempat yang lebih sederhana dan juga cukup ramai. Tempat yang membuat Viola tidak henti-hentinya tersenyum karena Tiap adegan tak luput dari Jepretan Kameranya.


"Kamu tahu tentang tempat ini darimana Miko?"


"Dari ulasan Internet, sebenarnya Rekan kerjaku menyarankan tempat ini juga."


"Bagus banget,"


Viola masih asik membidik setiap sudut yang ia rasa menarik. Sudah cukup lama ia tidak datang ke tempat sederhana seperti itu. Tentu saja karena Maziya tidak ingin datang, Maziya lebih suka tempat Ekslusif yang mahal dan mewah.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu menyukai tempat riuh seperti ini." Miko mengusap tengkuknya.


"Justru tempat seperti ini tampak alami dan sangat bagus kalau diabadikan, Lihat deh." Viola menyodorkan kameranya pada Miko


"Cantik." Miko melihat-lihat hasilnya di Kamera itu.


"Cantikan hasil Jepretannya atau cantikan aku?" tanya Viola.


"Kamu," jawab Miko singkat.


"Aku pikir kamu nggak bakal jawab begitu Miko." ujar Viola.


"Vio, kamu belum tahu banyak tentang ku. Aku mungkin selalu terlihat kaku dan mudah dimanfaatkan. Tapi aku juga bisa membaur kok." jelas Miko.


"Iya, mungkin karena Image kamu sebagai Mahasiswa Terpintar kali ya."


Viola asik memotret sehingga Miko tidak bisa mengintervensinya.


"Vio kamu mau pesan a.." belum selesai bertanya Viola langsung bicara.


"Aku pesan sama seperti yang kamu pesan Miko"


"Baiklah."


Pelayan mengambil menu mereka. Tak lama kemudian hidangan sederhana pun terhidang. Masakan yang terdiri dari kerang-kerangan dengan kuah beraroma wangi pun terhidang. Barulah Viola berhenti memegang Kameranya dan Fokus pada makanan menggugah selera tersebut.


"Miko tunggu!" Viola menghentikan kegiatan Miko yang sudah ingin memasukkan Kerang-kerang itu ke piringnya disantap dengan Nasi hangat.


"Kenapa Vio?"


"Boleh nggak aku foto sekali lagi, makanannya ini?" Viola bertanya sembari menggigit bibir bawahnya ragu.


Miko tersenyum, "Boleh,"


Ckrek Cekrek Cekrek.....


Mereka mulai menikmati makanan tersebut.


"Aku tidak tahu kamu kamu menyukai makanan di tempat seperti ini Vio."


"Selama itu enak, aku nggak masalah mau dimananya Miko. Waktu di Restoran xxx saja aku juga terpesona dengan hidangan mereka."


Miko mengangguk, sepertinya pilihannya kali ini tidak salah. Dibanding dengan Maziya yang tidak suka dengan hal-hal sederhana, Ia lebih merasa leluasa bersama dengan Viola. Meskipun Viola juga termasuk orang kaya dan pewaris, tapi bisa juga menyukai hal sederhana sama seperti dirinya.


"Kamu tahu nggak kalau Nyonya Virada itu ternyata punya karisma yang nggak main-main?"


"Vio, berapa kali sih harus aku bilang. Panggil Tante atau Mama aja sekalian. Mama sering ngeluh karena kamu terus manggil dia Nyonya-Nyonya, dia bahkan iri karena Kamu manggil Nyonya Lidia dengan sebutan Tante.


"Iya, soalnya aku belum terbiasa Miko. Ditambah lagi kan aku memang udah lama akrab sama Maziya dan Tante Lidia. Kita dulu sering jadiin Mama kamu bahan ghibah, kebiasaan deh amle sekarang.


"Lain kali kamu biasaain ya!"


"Iya."


Bersambung....