
Barga menemui para Groomsmens di salah satu ruangan privat hotel.
"Sudah masuk ke akun kalian kan?" tanya Barga.
"Sudah" Renald yang paling muda antusias mengangkat ponsel.
Masing-masing rekening M-banking dari 3 anggota Groomsmens bayaran tersebut sudah masuk nominal senilai 2 digit dari Barga.
"Ingatlah untuk mengembalikan jas yang kalian pakai!" perintah Barga.
"Tentu saja, mana mungkin kami akan menjualnya." ujar Lintang, yang paling tua.
"Berdasarkan kebiasaanmu, tentu saja " Barga tersenyum penuh arti.
"Pasti kami kembalikan, tenang saja Sekretaris Barga." Edwin menahan Lintang agar tidak emosi.
Barga meninggalkan mereka dan menemui Azkan segera. Tampak semua petugas lapangan acara itu Lalu lalang membereskan tempat.
"Resepsi orang kaya, Konglomerat yang sebenarnya, tamu hebat, makanan mewah. Benar-benar seperti mimpi bisa menghadiri pernikahan calon CEO kita ini ya bang." Renald masih saja terkagum-kagum.
"Kita adalah Groomsmens yang dibayar, ingat itu. Tidak terpikirkan olehku bisa menjadi Groomsmens diusia yang sudah hampir kepala 4 ini." Lintang masih saja kesal.
"Intinya kita mendapatkan bayaran yang tepat. Aku bahkan bisa membeli banyak hal tak terduga dengan uang ini terutama untuk lahiran Pitaloka." Edwin tak henti-hentinya berucap syukur.
"Dengan kita dibayar, berarti CEO kita tidak punya teman dekat kecuali sekretaris Barga ya." tanya Renald.
"Syutt" Edwin menasehati. " Dari Kepribadiannya itu, siapa yang bisa tahan, Untung saja istriku memutuskan resign setelah melahirkan."
"Kalau tidak?" tanya Renald.
" Kalau tidak, aku tak bisa bayangkan betapa menderitanya dia." Edwin mengurut dada.
Mereka meninggalkan tempat tersebut satu-persatu.
.....
Viola masih tidak mau pergi.
"Viola, buruan atau kita tinggal!" Ririn terus berusaha menarik Viola agar melepas pelukannya pada Maziya.
"Bentar dulu kek!" Viola membentaknya.
"Viola, kamu istirahat dulu. Ini juga udah malam kan."
"Iya, Aku udah asem nih pengen buru-buru mandi." Aliza ikut kesal.
"Aku ngikut mobil pengantin aja" Viola merengut.
"Mobil pengantin ya buat pengantin pulang. Kamu ikutan ya Aestheticnya ilang dong." Stella menimpali.
Ririn membuang nafas, "Kamu ikut aku aja bareng pacarku. Mobilnya juga.."
"Ini bukan perkara mobil." Viola melirik sinis Ririn sekali lagi.
"Udah ah aku duluan ya" Amy langsung pergi tak menghiraukan drama yang dibuat Viola.
Karena Amy sudah duluan pergi, baik Stella, Aliza bahkan Ririn pun kini menyerah dan ikutan pergi. Tinggallah Maziya dan Viola di ruangan tersebut.
"Petugas Hotel juga pada beres-beres, kamu mau disini terus Viola?"
"Aku nggak rela"
"Kamu bilang kagum?"
"Sekarang udah enggak. Lihat suami kamu yang masih bisa ngejek padahal kamu kesakitan pakai High heels bikin aku nggak tega." Viola memelas.
"Dia yang nyediain aku kursi. Itukan udah perhatian."
"Jarak kamu kesakitan hingga dikasih kursi itu lama banget Maziya. Dia sengaja menyiksa kamu."
"Ya mau gimana lagi."
"Kamu buta kalau jatuh cinta sama lelaki brengsek itu."
Ternyata Azkan masuk dan mungkin mendengar ucapan Viola.
"Apa kalian mau naik mobil pengantin berdua?. Naik saja biar dikira Lesbian!" ujar Azkan tidak peduli.
"Kak Azkan aku.."
"Mama sama Papa udah nungguin. Mau drama berapa lama lagi disini?" Azkan memotong ucapan Maziya.
Akhirnya Viola mengalah dan membiarkan Sahabatnya itu pergi menaiki mobil pengantin yang berhiaskan bunga-bunga tersebut.
Viola terduduk di teras Hotel dengan pandangan yang kosong. Seseorang mendekatinya dan memberikan sebuah minuman hangat dari Cafe terdekat.
"Makasih" Viola meminum Kopi yang terasa nyaman masuk ke kerongkongannya itu.
"Sedih?" tanya Suara akrab di samping Viola.
"Miko?"
"Mmm"
"Kamu belum pulang?"
"Kebetulan dan kamu beli dua Kopi?" Viola menaikkan alisnya heran.
"Iya, aku sangat suka kopi. Apa ada masalah dengan dua kopi?" tanya Miko lagi sembari membenarkan kacamata tebalnya yang nangkring di hidung.
"Jangan bilang yang ini bekas kamu" tunjuk Viola kembali menyeruput kopinya.
"Iya."
Hampir saja Viola memuncratkan kopi dari mulutnya. Untung saja Miko menjelaskan bahwa ia belum meminumnya sama sekali karena sibuk melihat mobil pengantin Maziya dan Azkan.
"Oo jadi kamu belum pulang buat lihat mereka pergi."
"Mmm" jawab Miko singkat padat.
"Kamu kecewa ya Maziya menikah?" dengan pandangan menyelidik Viola menekan Miko.
"Agak sedih sih. Tapi setelah tahu kalau Maziya memang sudah lama mengenal keluarga Serziano aku maklum."
"Darimana kamu tahu?"
"Dari...Dari .." Miko tergagap. Dia tahu karena percakapan Mamanya dengan anggota Sosialitanya.
"Dari Mama Kamu pasti. Kamu putra Nyonya Virada kan. Adiknya pengacara Mark pacar dari Ririn." jelas Viola.
"Kamu sudah tahu." Miko meminum kopinya hingga habis.
"Kita semua tahu, Maziya, Aliza, Amy, dan aku. Kamu pasti sadar karena Pacar Kakakmu itu Ririn."
"Iya ya"
"Iya ya Miko Choi." Nada bicara Viola seolah mengejek.
"Aku tidak suka dipanggil dengan embel-embel Marga, Vio. Aku harap kamu tidak melakukannya ke depan!"
"Nggak mau tuh. Terserah aku, toh kamu juga manggil namaku Vio tanpa ijin."
"Terserah kamu saja." Miko pasrah.
"Udah abis nih!" Viola menyerahkan tempat kopi kosong itu pada Miko.
"Mau pulang bareng nggak?" tanya Miko.
"Kamu bawa mobil?"
"Bawa"
.....
Miko dan Viola hening selama di perjalanan.
"Mau dengerin lagu Korea Nggak?" Viola mencoba memecah keheningan.
"Kamu dengar lagi Korea karena identitasku?"
"Iya sih Miko Choi" Viola masih saja usil.
"Terserah." Miko mencoba mengatur nafas dan memikirkan kata yang tepat agar terdengar senatural mungkin.
"Vio, apa Ziya mencintai suaminya?"
Yap bagus Miko, itu terdengar natural.
"Kenapa kamu nanya kaya gitu Miko?"
"Karena penasaran aja sih. Kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa."
Maziya memang menikah karena ada perasaan sama suaminya. Tetapi kan suaminya nggak, tapi kan Maziya dan suaminya nikah kontrak, tapi kan tetap aja mereka sama-sama mau.
"Vio" Miko membuyarkan lamunan Viola lagi.
"Eh iya apa?"
"Apa Maziya sebenarnya tidak ingin menikah?. Apa mereka menikah karena paksaan. Mungkin karena Maziya ada hutang budi atau gimana gitu. Atau perihal uang?"
"Maziya mencintai suaminya." Viola menjawab sesuai pesanan.
"Ooh, jadi bukan karena uang?"
"Kok kamu kepo banget ya Miko. Biasanya juga nggak banyak omong. Jangan-jangan Kamu naksir Maziya lagi." Viola hanya menerka.
"Ti tidak." Lagi, Miko terbata lagi.
Viola menahan senyumnya. "Kamu mencurigakan, Miko"
"Naksir juga nggak ada gunanya Vio. Dia adalah istri orang lain."
Ide bagus nih buat artikel aku selanjutnya. Tapi aku nggak mau bawa-bawa Maziya ah. Langsung aja tentang status Miko.
"Iya sih, kalaupun pernah ada lebih baik kamu hapus deh Miko. Aku tahu itu sulit, tapi sadar diri lebih baik. Kamu bukan tandingan SERZIANO Grup."
Bersambung.....
"