
Azkan meminta Barga menurunkan gorden.
Ia bahkan menyuruh Barga keluar jika tidak nyaman di dalam
"Kenapa kamu bermesraan dengan Renald saat jam kerja?"
"Aku hanya menggodanya"
"Kenapa tidak menggodaku saja!"
Azkan mengangkat tubuh Maziya ke atas meja. Ia langsung mencium bibir mungil Maziya.
"Kak Azkan, ini masih jam kerja. Bukannya kak Azkan sendiri yang bilang harus profesional kalau di Perusahaan."
"Salah sendiri membuatku cemburu. Jangan sekali-kali membuat Atasan kamu cemburu Maziya!"
Mereka kemudian kembali berciuman.
Sementara itu di meja luar. Barga sibuk dengan urusannya tidak berniat mengobrol sama sekali meskipun disampingnya duduk seorang yang sangat aktif bicara seperti Renald.
"Sekretaris Barga..."
"Aku akan membantumu kali ini. Lain kali jangan membuat Tuan Azkan merasa cemburu!"
"Oo pantas saja aku diminta melakukannya lebih cepat, padahal aku baru beradaptasi di posisi ini. Eh omong-omong terimakasih mau membantuku sekretaris Barga, aku tak akan membuat Tuan Azkan cemburu lagi."
"Baguslah.."
"Tapi saat Pak Azkan cemburu, Kentara sekali ya." Tampaknya Renald belum mau berhenti bicara, apalagi ada hal yang bisa ia bahas.
Barga tidak membalasnya, masih sibuk.
"Sekretaris Barga,"
"Kerjakan tugasmu, aku hanya bisa bantu kali ini saja."
"Iya, tapi aku penasaran akan satu hal."
"Apa."
"Aku dan para Sekretaris Inti lainnya bisa dibilang cukup tahu bagaimana kejamnya Pak Azkan dalam hal kecemburuan atau juga marah pada saingannya. Siapa yang tidak tahu masalah dengan Pengacara itu.."
"Jangan bicarakan gosip aneh dan tidak berdasar!" ujar Barga.
"Itu hanya rumor, lagipula banyak yang membicarakan sekaligus juga menahan diri."
Renald sudah fokus kembali pada komputer besar di hadapannya, namun masih gatal mau bicara, "Sekretaris Barga"
Renald hanya penasaran dengan Maziya. Andai saja Maziya cemburu, apa yang akan dilakukannya.
"Entahlah," jawab Barga sekenanya.
......
Maziya pergi ke pantry untuk membuat minuman. Ia tahu bisa saja memerintah dari meja CEO. Tetapi ia juga mau merapikan riasannya, ciuman dari Azkan berhasil membuat rambutnya terlihat acakan. Ia mencari alasan ke Pantry agar ia juga tidak kelepasan untuk melakukan aktivitas yang lebih intim di ruangan dengan privasi terbaik tersebut.
Saat Maziya berada di dalam Pantry, seorang wanita tiba-tiba saja menerobos masuk ke ruangan Azkan. Bukan berarti tidak ada yang melarangnya naik ke atas, ia menerobos dengan memakai jasa para karyawan yang terpana akan kecantikannya.
Tidak salah lagi, dia adalah seorang Model sekaligus mantan pacar Azkan. Ia selalu merasa istimewa hanya karena menurutnya waktu pacarannya bersama Azkan adalah satu-satunya yang melebihi masa satu bulan.
Ia kini kembali untuk meminta alasan Azkan menikahi wanita lain bukan dirinya. Padahal dari segi manapun juga ia sangat pantas bersama Azkan.
"Kamu pasti merasa lebih pantas kan?" tanya Azkan.
"Tentu saja."
"Tunggu sebentar."
Azkan menelfon Maziya dan mengatakan bahwa salah satu Mantannya datang. Lalu dengan sebuah senyuman Azkan menutup panggilan tersebut.
Tampak beberapa sekretaris Inti tak terkecuali Barga melirik dari dinding kaca yang gordennya telah dinaikkan kembali. Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika Wanita itu memarahi Maziya layaknya drama Televisi yang mereka tonton.
Renald dengan senang hati menunjukkan jalan. "Tapi, bolehkah aku minta foto?"
"Nanti, setelah urusanku selesai." Ucap wanita yang sangat seksi setelah Pakaian yang semula rapi itu bagian dadanya sedikit terbuka.
Wanita itu sengaja membuka bagian dada karena berbicaralah dengan Azkan, siapa sangka bahwa Azkan menyuruhnya melihat sendiri siapa istri yang memang bukan hanya pantas menyandang status sebagai Menantu Serziano, tetapi benar-benar diinginkan oleh Azkan sendiri karena tidak ada yang bisa menandingi istrinya.
Dengan langkah angkuh wanita itu mendekati seorang wanita pendek dengan sanggul Messy Bun simple.
"Dari belakang pun bisa dilihat kalo dia sangat urakan." gumam wanita itu terus berjalan.
Maziya berbalik menyambutnya dengan senyuman palsu. "Mau minum kopi atau teh?"
"Aku tidak terbiasa membuatnya sendiri, tanganku terlalu berharga hanya untuk menyeduh kopi secara mandiri." Ujar Wanita tersebut menggoyangkan tangannya.
"Ooh ya udah," Maziya meminum kopi buatannya.
"Kau,.." rupanya dia berharap Maziya dengan senang hati membuatkannya kopi atau teh, tapi siapa yang tahu Maziya itu gimana.
"Langsung aja, nggak usah basa-basi." Maziya menaruh cangkir kopi yang sudah diminumnya seteguk ke meja.
"Kau yang langsung saja, apa alasanmu menikah dengan Azkan?"
Maziya mengisi gelas dengan air di dispenser. "Air ini segar banget nih pasti."
Merasa diabaikan, wanita itu terus membuat Maziya kesal, "Hei pendek, bicaralah dan jawab pertanyaan ku!"
"Aku paling benci saat seseorang menyinggung tinggi ku. Tak peduli aku sependek apa, aku bisa membuat mu berlutut lebih rendah dariku."
"Oou benarkah?. Uuu takutt" ejek wanita itu. "Apa yang dijanjikan Azkan untuk pernikahan kalian?. Satu mobil?. Pakaian mewah? Aku yakin kau lebih murah dari itu."
"Tampaknya kau tidak tahu betapa spesialnya diriku ya " Maziya menunjukkan cincin yang melingkar di jemarinya dengan sengaja. "Ini tidak sebanding dengan kompensasi pacaran kalian, apa satu mobil ya?"
"Aku spesial, aku punya Perhiasan..."
"Aku ingat, kau yang menyangka waktu pacaran kalian lebih dari sebulan kan?. Aduh kalian pacarannya bulan februari secara teknis nggak nyampe 30 hari. Jadi perhiasan itu kompensasi tambahan karena kurang dari sebulan. Turut sedih sih aku dengernya." Maziya membuat mimik wajah paling menyebalkan.
"Kau... "Wanita itu menggenggam jemarinya.
"Coba sentuh aku. Aku yakin bahkan sampai semua jarimu terpotong kau tidak akan sanggup menebusnya"
Plak, tamparan mendarat di pipi Maziya.
Saat wanita itu menurunkan tangannya barulah Maziya beraksi. Ia mengambil segelas air yang sudah diisinya tadi dan menyiramnya pada pakaian wanita itu hingga kepalanya tertunduk. Maziya memanfaatkan kesempatan untuk menarik rambut perempuan tersebut.
"Aku memiliki gelang seharga mobil yang ia berikan padamu. Aku punya Perhiasan seharga rumah. Jadi untuk perempuan yang hanya diberi satu mobil dan sedikit kelebihan Perhiasan apa kau tidak malu bersaing dengan ku dan mengatakan bahwa kau diperlakukan spesial?" Maziya terkekeh geli, "
"Lepasin Gila..." Teriak perempuan itu kesakitan.
Setelah beberapa rambut berhasil tercabut barulah Maziya melepas cengkraman tangannya.
"Rambut Gue..." Teriak wanita itu sambil meringis.
Azkan akhirnya masuk bersama dengan Barga.
"Siapapun tidak boleh menyentuh milikku. Apalagi mengklaim sebagai milikinya. Apalagi mantan pacar yang mengaku punya jabatan spesial." Teriak Maziya.
"Aku bisa menuntutmu!" Ujar Wanita itu marah.
"Barga !" Ujar Azkan
"Aku punya rekaman saat anda sedang menggoda Tuan Azkan dengan ucapan mesum. Kami bisa menuntut anda, kami bisa pastikan anda tak akan pernah bisa melanjutkan karir sebagai Model maupun penyiar lagi." Barga menunjuk ponselnya.
"Tidak, jangan aku mohon. Aku cuma datang buat mengenang..." wanita itu mengusap air matanya sembari bergetar "Maafkan aku, aku pasti gila..." Ia memukul kepalanya sendiri.
"Mari saya antar anda keluar!" tawar Barga.
Wanita itu menurut. Para Sekretaris Inti yang melihat kejadian tersebut hanya mampu menelan ludah. Apalagi Renald, menurutnya level kecemburuan Maziya dan Azkan memang beda level dari orang biasa.
Bersambung...