
Viola mengambil potret Azkan, ia tahu lelaki itu sering wara Wiri di berita. Azkan sadar orang yang dibicarakan Maziya adalah gadis dengan kamera di lehernya itu.
Dengan senang hati Viola masuk ke unit yang ditinggali Maziya.
“Kamu tahu apa, aku baru saja mendapatkan potret langsung dari pewaris Serziano gruuupp.” Viola sangat antusias hingga mengabaikan minuman yang diletakkan Maziya di meja.
“Oh ya, mana coba aku lihat.”
Maziya merebut kamera dari tangan Viola dan melihat foto-foto itu. Ternyata tidak ada wajah full, Azkan benar-benar menutupi wajahnya dengan sempurna seperti aktor yang menghindari paparazzi.
“Sayangnya nggak full.” Viola membuang nafas.
“Dengan koneksi keluarga kamu, bukannya kamu bisa ambil dari jarak dekat Viola”
“Nggak mau, kamu tahu kan kalau aku sudah menyebut tentang pewaris kaya, atau seorang yang cukup mapan. Gimana reaksi Papi sama Mami aku nantinya. Aku pasti akan diatur untuk berkencan bahkan menikah sekalian.”
“Jadi kamu mau ngapain, apa kamu sudah mempertimbangkan untuk mengambil kuliah manajemen seperti usulan Papi kamu?”
“Aku mau menikmati hari-hari sebagai seorang fotografer, kalau udah bosan, baru deh mikirin kuliah.”
“Aku yakin kamu nggak tertarik buat ngurusin perusahaan Papi kamu.”
“Kan ada banyak orang lain yang bisa, Papi juga lagi cari menantu kali.”
Dengan entengnya Viola tidak mempermasalahkan keputusan orang tuanya karena ia diijinkan mengambil jurusan photography.
“Ya semoga menantunya juga sesuai dengan selera kamu, atau kejadian sebelumnya akan terulang kembali.”
Viola sebagai putri satu-satunya dari Niti Construction, setiap pria yang diatur bertemu dengannya di pertemuan kencan selalu berakhir menolak perjodohan.
Mungkin para pria akan senang hati menerima Viola karena tubuhnya yang seksi. Tetapi, mulut Viola sangat berduri. Ia memiliki rahasia tiap pria yang dijodohkan dengannya. Ia memperlihatkan foto perselingkuhan, foto memalukan, bahkan foto telanjang dan menggunakannya sebagai ancaman.
Apalagi Viola sudah bekerja freelance di sebuah blog independen yang cukup terkenal dengan artikelnya yang up to date. Viola bahkan memiliki timnya sendiri dalam mengurus artikel, semacam tim paparazzi yang di atur olehnya.
“Ya semoga,”
Viola mengerjap, rambutnya ia letakkan ke belakang telinga. Niatnya ingin membahas apa yang terjadi pada Maziya, kenapa malah membahas dirinya.
“Jelasin kenapa Azkan, seorang pewaris Serziano grup satu-satunya bisa datang kesini.”
Tentu saja, Viola tidak bisa dialihkan dari kedatangan Azkan yang sudah jelas berhubungan dengan Maziya. Satu-satunya orang yang paham betapa menyedihkannya hidup Maziya adalah Viola. Bahkan penolakan Azkan pun Viola tahu tanpa ada kurang sedikit pun dari Maziya.
Viola hampir memuncratkan seluruh air minum dari mulutnya yang masuk 3 detik sebelumnya.
“Kenapa kamu mau terima Maziya?”
“Ya kamu kan tahu, aku nggak mungkin mengabaikan permintaan Mama Lidia. Ibu aku selalu mengingatkan bahkan di saat terakhirnya, kalau aku harus mendengarkan Mama Lidia sebagai pengganti Ibu.”
“Tapi kamu kan yang bilang kalau Azkan Serziano itu membenci kamu. Kamu juga nggak akan mungkin merubah kesenangan kamu pada uang.”
“Maksud kamu Nyonya Lidia?. Kan bisa saja Si Azkan itu kelepasan. Kalau nyawa kamu hilang mau dia memutuskan hubungan dengan Nyonya Lidia juga nggak akan pengaruh Maziya.” Raut wajah Viola kini dipenuhi kekhawatiran.
“Kalau memang begitu akhirnya, ya aku nggak bisa apa-apa Viola. Kan kita tidak bisa memperediksi masa depan. Ditambah lagi kompensasi cerai yang sangat luar biasa, aku sudah merelakan segalanya untuk itu.” Maziya terkekeh sendiri, ia tidak sabar menghamburkan uangnya dan bersenang- senang dengan nyaman.
Percuma saja Viola menasehati Maziya. Dirinya tahu betul kalau Maziya lebih jatuh hati pada uang dibanding memikirkan masa depannya yang bisa jadi suram setelah menikah dengan Azkan.
“Terserah kamu, kalau kamu sudah memutuskan seperti itu aku Cuma bisa mendoakan dari jauh. Memang uang tiada duanya kalau sudah menyentuh hati kamu Maziya.” Viola meregangkan tangannya meminta sebuah pelukan.
Maziya membalas pelukan tersebut. “Iya dong”
Viola tiba-tiba melepaskan pelukannya. “Tapi aku berharap juga kalau Tuan Muda Azkan Serziano itu perlahan menyadari bahwa kamu sebenarnya sangat manis dan polos. Sehingga dia akan jatuh hati dan bahkan, dia mungkin bisa menghamburkan uangnya seperti air hanya untuk menyenangkan kamu.” Viola menyentuh dagu Maziya.
Mengingat masalah jatuh hati, Maziya memperlihatkan foto ketika Miko menatap ke arah mereka. Mungkinkah yang diperhatikan itu Viola. Secara Kecantikan Viola memang cukup populer di Kampus mereka.
“Jadi apa kamu akan jatuh hati pada Miko, Nona Viola?” tanya Maziya balik menggoda sahabatnya.
“Ini dia kekurangan kamu, Miko itu tertarik sama kamu Maziya. Sejak kita masih jadi mahasiswa baru malahan.”
“Bukannya dari dulu dia memang baik pada semua orang.”
“Tapi kebaikannya sama kamu itu cukup spesial. Dia rela gantiin kamu buat jadi model aku waktu itu. Alasannya karena dia tahu kamu merasa tidak enak membatalkan janji sama aku, dia rela menyelesaikan ujiannya dengan cepat dan meminta kamu santai dengan ujian kamu kan.”
“Karena dia memang sepintar itu Viola. Mana ada sih orang dengan otak normal mampu menyelesaikan ujian yang seharusnya satu setengah jam menjadi 30 menit saja. Bahkan ujiannya selalu menjadi peringkat satu, aku bingung dia makannya apa.”
“Kenapa kamu membahas makanannya sih Maziya, yang mesti kita bahas adalah kenapa dia melakukan itu buat kamu.”
“Pasti karena dia ingin menemui kamu Viola.”
“Benarkah?. Benar juga ya, aku benar-benar mengabaikan kepopuleranku sendiri rupanya. Apa dia diam-diam mendekati kamu untuk mengorek informasi tentang aku Maziya?” Viola panik sendiri.
“Kamu pikir aku orang seperti apa Viola?.”
“Orang seperti apa Maziya?.” Viola melebarkan pupil matanya mendengar lebih jelas.
“Aku nggak akan ngasih informasi secara gratis dong. Apalagi informasi penting seperti tipe kamu, harganya harus minimal 2 digit” Maziya mengangkat 2 jarinya.
Viola menepuk jidatnya, ujung-ujungnya informasi kerahasiaan mereka akan terbuka dengan uang yang sangat dicintai Maziya.
“Tapi, kenapa dia manggil kamu dengan sebutan Ziya coba.” Viola menunjukkan kecurigaannya yang lain.
“Bukannya dia juga sering manggil kamu Vio, dia juga manggil Amy dengan nama hanya mengandung 3 huruf itu dengan sebutan Mi, itu si Amy sampai marah takut namanya berubah jadi Mi yang biasa kita makan.”
Viola terkekeh , benar juga apa yang disampaikan Maziya. Tetapi apa yang dipikirkan Miko sebenarnya tidak terlalu penting bagi mereka berdua. Maziya akan segera menikah dan Viola tidak menyukai Miko. Dengan siapa dia jatuh hati ataupun nanti akan jadi salah satu dari mereka pun tidak masalah karena mereka bisa menghadapinya.
Bersambung...
....