The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
75. Malam Hangat dan Manis



Barga duduk di balkon depan kamarnya. Ia memandangi Lautan lepas lagi. Satu tarikan nafas, lalu buang. Ia ulang lagi, satu tarikan nafas lalu buang.


'Sejak kapan aku jadi suka suasana ini?"


Kalau ditanya sejak kapan, yang jelas sejak ia Tahu kalau Chelsea suka menikmatinya juga.


Barga memikirkan kembali apa yang sudah ia lakukan. Apakah menyatakan perasaan pada Chelsea adalah hal yang benar.


Ia hanya coba-coba karena saran dari Maziya yang punya IQ super tinggi selalu berhasil. Menurut pengakuan Maziya sendiri tentunya, ia bahkan mengambil Contoh Rasti juga Viola sahabatnya sendiri.


"Mungkin Nona Maziya memang hanya kebetulan menganalisa gerak-gerik mereka. Aku dengan bodohnya ngikut sarannya"


Barga tertawa miris dengan kebodohannya. Ia yang terbiasa keren Jadi ragu-ragu dengan pernyataan Perasaan yang entah kenapa bisa ia lontarkan kepada Chelsea.


'Mungkin tadi bukan aku, haruskah aku menelpon Chelsea dan minta maaf. Minta ia melupakannya saja.


Barga menggeleng, kenapa bisa ia kepikiran memaparkan alasan tak masuk akal itu.


'Atau aku katakan saja tadi aku sedang mabuk. Mabuk apa? Aku bahkan tidak suka dan tidak pernah minum.


Barga mengacak rambutnya sendiri. Ini adalah pertama kalinya ia gelisah dengan hal tak penting seperti Cinta.


'Harusnya aku hanya akan fokus menjadi Sekretaris Tuan Azkan.


Sedari tadi, Barga hanya sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Ia mengeluarkan pendapat lalu sesaat kemudian ia membantahnya. Sudah seperti sidang perdana saja. Mungkin kalau ia masuk Firma Hukum VM, dia juga sudah jadi pengacara Top sekarang melebihi Mark. Sayang saja ia bukan Tamatan sekolah Hukum.


Barga dikejutkan dengan Pesan masuk dari seseorang yang berhasil membuat malamnya menjadi Manis. Ucapan selamat Tidur dari Chelsea membuat senyuman dari wajah seriusnya meluntur.


"Ini benar-benar dari Chelsea?."


'Apa yang harus aku balas?. Kalau tanya Nyonya Maziya pasti aku akan digoda habis-habisan. Tanya Tuan Azkan apalagi.


Akhirnya Barga memutuskan untuk mencarinya di Googl*.


Kurang lebih isi pencariannya seperti :


- {Balasan untuk Gebetan yang baru ditembak beberapa saat yang lalu}


- {Cara membalas chat agar terkesan Cool}


- {Jawaban atas ucapan Selamat Tidur dari Gadis yang disukai}


- {Balasan ucapan selamat Tidur dari Lelaki untuk Perempuan yang terdengar keren}


Namun tidak ada jawaban pasti dari pertanyaanya. Hal itu membuat Barga ragu-ragu menjawab Pesan dari Chelsea.


'Oke'


Baru akan menekan tombol kirim. Justru tombol Silang yang artinya hapus yang ia tekan.


'Membalas pesan saja kau tidak berani. Mau ditaro dimana muka kamu Barga!" gerutunya pada diri sendiri.


Satu pesan lagi muncul dari Chelsea


'Seharusnya kamu tidak mengabaikan pesan begitu lama, apalagi setelah membacanya.


Barga langsung membalas


'Aku tidak tahu balasan apa yang cocok.


Aku takut salah mengirim balasan


Sudah kuatanya sama Google, jawabannya tak memuaskan.


Ketikan berkali-kali dari Barga dibalas dengan emoticon Tertawa dari Chelsea.


'Kamu benar-benar minim pengalaman ya. Aku jadi tak punya alasan untuk marah jika kamu memberikan penjelasan sejujur itu.


'Balas dengan Stiker atau Balas dengan ucapan yang sama.!" Chelsea bahkan menambahkan stiker lucu di iringan pesannya.


Akhirnya Barga membalas ucapannya dengan Selamat Malam juga. Ditambah lagi Barga menyarankan agar mereka melakukan panggilan telepon saja.


Namun Chelsea menolak. Ia takut membuat Adiba curiga. Ia belum memberi tahu Adiba karena tak ada waktu yang tepat. Ditambah lagi dengan hubungan mereka yang belum resmi. Barga memakluminya hal tersebut, sama seperti ia yang tak mau kalau Maziya tahu takut digoda habis-habisan.


Barga baru tahu, ternyata membalas ucapan selamat malam bisa terasa sangat mendebarkan. Malamnya yang terbiasa tenang berubah jadi memiliki sentuhan manis.


'Tidak salah mengikuti saran Nona Maziya. Pantas saja Tuan Azkan yang sangat pelit terhadap hal-hal tak berguna dan membuang uang bisa takluk dan bahkan bisa bersikap menggelikan seperti itu.


......


Setelah melihat pemandangan dari balkon, Maziya duduk di sebelah suaminya. Azkan masih sibuk berbicara dengan Wakil CEO, Leo di ponselnya yang ditaro di sebelah Laptop yang asik mengeluarkan bunyi ketikan.


"Kak Azkan,"


"Iya, " Azkan masih fokus menatap layar Laptopnya.


"Katanya Liburan aja buat Nebus Liburan yang gagal waktu itu."


Liburan yang mereka jalani di Pulau juga sebagai pengganti saat Maziya mabuk waktu itu. Hari yang seharusnya dipakai liburan justru terpangkas di RS dan langsung pulang karena kecanggungan mereka.


"Iya, ini bentar doang, Pak Leo ada sedikit kendala katanya."


"Emang nggak bisa dihandle sama dia?. Percuma dong dapat Bonus Gede karena nggak ikut." sungut Maziya.


"Bukan begitu Ziya, Pak Leo ragu saja dengan file penting ini. Takut ada yang nggak sesuai kalau langsung dia wakilkan."


"ooh."


"Ziya,"


"Mmm"


"Kamu ngapain?"


"Lagi edit foto buat di upload."


"Fotonya jelek?"


'Harusnya dia Jawab, Kak Azkan ngatain aku jelek?. Dengan nada yang cukup menggemaskan. Jika responnya biasa sudah pasti dia kesal


Seperti yang diduga Azkan, respon Maziya jadi biasa.


"Enggak,"


'Duh pasti gara-gara aku ngurus kerjaan.


"Bagus fotonya?. Kalo kamu mau yang dari Staff aku bisa suruh mereka pilah yang paling bagus. Foto Barusan juga boleh"


"Mmm, foto Pakaian aku basah?"


"Ya nggak juga, pas Pakaian kamu kering lah."


"Ya nggak Sexy lah."


"Nngapain Sexy, pokoknya pakaian kamu basah tadi hanya untukku. Awas saja kesebar aku tutup Pulau ini." Ujar Azkan.


"Aneh, aku sebar fotonya nggak apa-apa dong."


"Ngapain Ziya, kamu istriku, hanya aku yang bisa memandanginya."


"Memandangi apa?"


"Tubuh Sexy kamu lah."


Maziya hanya memiringkan bibirnya sedikit.


Azkan menurunkan kesabarannya,"Kamu kesal kenapa sih?. Gara-gara aku kerja?"


"Iya, kan ada waktunya buat kerja. Makanya aku nggak mau sekarang jadi waktu Honeymoon kita." Gerutunya.


"Iya, karena ini bukan honeymoon kita. Makanya aku masih keganggu kerja. Aku janji, saat honeymoon kita yang sebenarnya aku nggak akan lagi keganggu sama kerjaan, aku akan siapin semuanya."


"Bener?"


"Iya,"


"Tapi sekarang kamu nggak mau ganti baju?"


"Ganti baju?" Maziya melihat Pakaiannya"bener kok ini kan piyamanya."


"Nggak mau pakai G-String?"


"Terus dilapisi sama piyama di luarnya gitu?"


"Nggak usah."


"Dingin Kak Azkan, ngapain coba?"


"Biar aku bisa.."


"Kak Azkan udah janji nggak akan mikir ke arah situ sebelum Honeymoon!" Sungut Maziya


"Ya namanya juga gejolak Pria."


"Nggak ada."


"Aku butuh kehangatan Ziya."


"Ya pemanasnya di hidupin dong Kak Azkan!"Maziya melirik kesana-kemari.


"Kamu nyari apa?"


"Remote pemanasnya."


"Nggak usah, nggak jadi." Azkan berbaring.


Maziya ikut berbaring juga. Lampu remang-remang favorit mereka dihidupkan.


Azkan berbalik ke arah samping. Kini posisinya membelakangi Maziya.


Baru saja memejamkan mata. Azkan merasakan bahwa Maziya mendekat ke arahnya. Rupanya Maziya memeluk tubuhnya dari belakang.


"Aku kasih Kak Azkan kehangatan, segini cukup kan?" Maziya memeluk erat punggung lebar suaminya itu.


Azkan melepaskan pelukan istrinya, Ia berbalik dan menatap wajah Maziya dengan senyuman.


Ia meletakkan kepala Maziya di atas lengannya."Dari depan, mungkin hangatnya baru kerasa."


"Yaudah." Maziya memeluk erat tubuh Suaminya lagi.


Azkan memeluk tubuh Maziya setelah mengecup keningnya lembut. Perasaan hangat yang menyeruak menemani malam manis mereka.


Bersambung...