
Viola menunggu dengan wajah membosankan di Cafe tempat ia biasa bertemu Maziya. Cafe di dekat kampus yang sering mereka kunjungi.
Tak lama kemudian, Miko akhirnya bergabung dengannya. Mereka memesan hidangan yang diminta Viola.
"Kamu kasih konsultasi berbayar lagi Miko?"
"Tidak, kebetulan dahulu aku sudah pernah Bertemu dengannya. Dia masih tidak yakin dengan pilihannya. Aku tebak Minggu depan dia masih ingin bicara dan bertanya hak yang sama."
"Lalu apa jawaban kamu Miko?"
"Jawaban apa?".
"Jawaban dengan pertanyaan yang sama itu."
"Aku juga akan menjawabnya dengan jawaban yang sama. Karena tidak peduli seberapa kekehnya dia meminta pendapat lain. Bagiku semuanya tetap akan begitu."
Viola tiba-tiba saja bertepuk tangan.
"Kamu kenapa Vio?"
"Aku kagum, Aku kagum dengan pemikiran kamu. Menang betul ya Apa yang dikatakan Maziya."
"Apa yang dikatakannya?" Mata Miko berbinar.
"Kamu lupa lagi Miko."
"Eh iya ya," Miko bersikap biasa.
"Maziya bilang Pemikiran mahasiswa Cumlaude memang tidak biasa."
"Ooh begitu ya. Ngomong-ngomong kenapa kamu tiba-tiba traktir aku Vio?"
"Karena berkat kamu aku dapat ini."
Viola mengeluarkan ID card miliknya. ID Card sebagai Salah satu Tim Fotografer di Niti Contruction.
"Kamu berhasil ya. Sudah aku bilang kan kamu bisa mengambil kesempatan itu."
"Iya, aku juga nggak nyangka Mami sama Papi sekagum itu dengan usaha aku buat buktikan kalau Aku juga bisa berguna dengan Hobi ku."
Miko mengangguk, "Kamu hebat."
"Bagaimana dengan kamu Miko?"
"Apanya?. Aku baik kok"
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu. Aku dengar kamu menolak kesempatan untuk ambil S2 di luar Negeri."
"Kabarnya cepat sekali menyebar ya." Miko melepaskan kacamata tebalnya.
'Omaigat Miko jadi ganteng banget kalo lepas kacamata.
"Iyalah, kamu juga tahu hal semacam ini adalah topik hangat. Kalau aku masih kerja di Website Milikku dulu. Kamu udah aku pastikan masuk berita."
"Aku kan bukan artis."
"Kamu memenuhi standar untuk dilihat artikelnya."
Miko hanya tidak mau lagi melanjutkan studinya. Ia tidak mau berada jauh dari Nyonya Virada.
"Ooh karena Mama kamu." Viola manggut-manggut.
"Menurut kamu karena apa?"
"Enggak, aku pikir kamu kehilangan semangat karena kecewa."
"Aku sudah bilang kan Vio. Aku mencoba melupakan hal itu."
"Lanjut. alasan lainnya?"
"Alasan apa?"
"Alasan kamu cuma ngasih konsultasi semacam itu dibanding dengan mencari pekerjaan tetap."
"Aku pikir konsultasi juga bisa disebut pekerjaan." Miko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Itu bukan pekerjaan Miko. Apa itu sebanding dengan apa yang kamu dapatkan?"
"Maksud kamu Apa Vio?"
"Aku mungkin nggak seahli kamu ataupun Maziya dalam hitungan dan manajemen. Tapi aku juga tahu kalau Hasil konsultasi juga kebanyakan kamu nggak minta banyak kan?. Atau bisa dibilang tidak mau dapat bayaran."
"yang penting..."
"Syuttt " Viola menempelkan jarinya di bibir Miko. "yang penting bantu orang lain yang kesusahan, itu kan yang mau kamu bilang?"
Miko mengangguk, "Apa itu salah?"
"Itu tidak salah Miko. Aku maklum kamu melakukannya karena dulu kamu masih sekolah atau kuliah. Tapi sekarang Kamu bukan anak kuliahan lagi Miko."
Sejak dahulu, Miko memang baik. Sangat baik pada semua orang. yang penting bisa bantu orang lain katanya. Padahal orang yang dibantu juga seringkali tidak peduli setelah dapat keinginan mereka. Apalagi para gadis-gadis yang naksir Miko. Mereka dengan sengaja memancing Miko hanya untuk mengambil kesempatan.
Entah seberapa kali Miko harus berurusan dengan tuduhan tak berdasar dan bahkan dimusuhi banyak laki-laki. Itu semua hanya gara-gara salah paham kalau Miko menggoda kekasih mereka.
Untung saja, untung saja Miko juga paham Hukum karena Nyonya Virada. Ia tidak segan-segan membawa Mark sang kakak sebagai pengacara untuk membuat lawannya mundur.
"Aku tidak tertarik dengan hal lain."
"Kenapa tidak?. Dengan kemampuan kamu. Setidaknya Perusahaan besar kan ngantri buat merekrut."
"Tapi ada banyak orang yang.."
"Banyak orang yang juga mendaftar dan kamu tidak mau menerima kekalahan?"
"Bukan begitu Vio. Aku memang sangat ingin masuk ke Perusahaan. Masalahnya aku mau masuk ke.." Miko memakan makanannya tanpa menyelesaikan kalimatnya yang menggantung.
"Masuk kemana?. Perusahaan Mama Kamu?"
"Aku tidak perlu melamar untuk masuk kesana. Aku sudah jadi pekerja rahasia untuk beberapa Dana. Aku tidak begitu menikmatinya."
"SERZIANO Grup."
Viola tidak melanjutkan ucapannya. Ia mengikuti langkah Miko untuk menyantap makanannya.
Hening untuk beberapa saat sampai Miko yang membuat keheningan itu mereda.
"Aku mungkin tidak akan diterima ya."
"Tunggu, kamu ragu bukan karena Maziya ada disana?"
"Tentu saja tidak Vio. Aku sudah bilang berkali kali bahwa aku berusaha merelakan nya."
"Kalau begitu coba saja. Kamu juga belum tentu masuk. Banyak yang gagal tapi mereka tetap mencoba. Aku tidak menyangka orang yang suka memberikan nasehat justru takut mengambil langkahnya sendiri." Viola geleng-geleng kepala.
"Dibalik keunggulan pasti ada kelemahannya Kan Vio."
"Aku berharap nya sih kamu diterima."
"Kenapa?"
"Karena kamu harus menghadapi Maziya untuk melupakannya. Kamu harus sanggup melihat Maziya bermesraan dengan orang lain."
"Kenapa?"
"Ih kamu Kenapa-kenapa Mulu nanya Daritadi."
"Maaf Vio."
"Kalau saat melihat Maziya bermesraan dengan orang lain dan kamu sudah biasa saja. Kamu nggak merasa sakit, artinya kamu sukses "
"Sukses?"
"Kamu sukses move-on dari dia."
"Baiklah kalau begitu, kamu yakin nggak ngebocorin perihal aku yang menyukainya diam-diam kan Vio?" tanya Miko.
"Sebaiknya kita habiskan makanan ini Miko."
"Pasti kamu udah bilang kan sama Dia."
"Maaf ya, aku bakal traktir kamu lebih sering lagi gimana?. Aku benar-benar nggak sengaja Miko." Viola memelas.
"Oke, asalkan kamu akan terus traktir aku sampai aku merasa benar-benar melupakan rasa yang aku miliki terhadap Ziya."
"Oke Siap, meskipun gajiku mungkin nggak sebesar milik kamu."
.......
Di sebuah ruangan kosong di Perusahaan Pusat MOCY Grup. Berjejer disana hidangan paling mewah dan mahal dari Seluruh Restoran MOCY Grup.
Rita duduk sembari mencobanya satu-persatu. Sebelumnya ia sudah mengabadikannya ke sosial media miliknya. Bahkan banyak karyawan di atasnya belum pernah mencoba hidangan tersebut. Mimpi apa karyawan tingkat bawah seperti Rita bisa menikmati ini semua.
"Enak?" tanya Rasti duduk di hadapan Rita.
"Enak sekali, Nona."
"Panggil saja aku Rasti. Kita juga sedang tidak berada di Kediaman Serziano!"
"Maaf seharusnya aku memanggilmu dengan benar. Bu."
"Tidak usah, panggil saja Rasti!"
"Baiklah, Rasti"
"Apa kamu tidak penasaran kenapa bisa menikmati seluruh hidangan ini? Bahkan kamu juga bisa membawanya pulang untuk Ibumu."
"Benarkah?" Rita antusias.
"Kamu juga bisa mendapatkan ini."
Sebuah kartu Emas MOCY. Kartu tersebut adalah kartu keanggotaan yang hanya dimiliki para konglomerat. Dengan kartu tersebut mereka bisa pesan banyak makanan tanpa mengeluarkan uang. Karena kartu itu sendiri berisi uang yang setiap bulan ditagih teratur ke kartu kredit pemilik.
"Kamu tidak perlu membayarnya, itu milikku. Kalau ada temanmu yang berkunjung, traktir mereka pakai ini!"
"Terima kasih." Rita menerima dengan senang hati.
"Tapi ada syaratnya."
Rita harus membuat Maziya menampilkan sifat aslinya di rumah. Buat Maziya terlihat buruk bagaimana pun caranya.
"Aku juga butuh bayaran selain ini. Kamu pasti tahu resiko pekerjaan ini cukup tinggi."
"Aku bisa membayarmu juga, setelah Azkan merenggang dengan istrinya."
"Baiklah, itu bisa aku usahakan."
"Usahakan dengan benar, jangan sampai diketahui."
"Baik, bolehkah aku tanya apa alasanmu melakukannya?"
"Apalagi?. Aku hanya ingin menyelamatkan Azkan darinya. Lagipula menurutku, kamu lebih pantas untuk Azkan dibandingkan Perempuan itu."
Rita tersenyum, "Jadi menurutmu pun aku ada peluang untuk Azkan?"
"Tentu saja?"
"Kalau begitu aku mau segera posting kartu ini ya."
"Silahkan, Katakanlah hal yang masuk akal,"
Rita menjalani aksinya. Rasti berjalan keluar setelah meminta seseorang membungkus makanan tersebut untuk Rita.
'Kamu juga tidak pantas untuk Azkan. Dia harusnya mendapatkan perempuan yang tidak gila harta seperti kalian berdua. Azkan pantas dapat yang lebih baik.
Bersambung....