The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
70. Suasana Hati



Semua makanan telah tersedia di meja. Semua orang sudah duduk dan makan dengan lahap seperti biasa. Ditambah lagi hari ini adalah hari keberangkatan Maziya, Azkan juga Barga yang sudah selesai sarapan sejak tadi.


“Ziya, kamu tampak berbeda.” Ujar Nyonya Lidia memandang aura yang terpancar dari menantunya.


“Apanya Ma?” Maziya menyingkap anak rambutnya ke belakang telinga.


“Biasanya kamu selalu memakai pakaian yang lebih santai,” mata Nyonya Lidia langsung tertuju pada sepatu Maziya.


Kali ini, ia memakai sepatu high heells senada dengan pakaiannya. Rupanya, Azkan tak mempermasalahkan ia mau pakai sepatu sneaker atau tidak, ia akan pastikan Maziya terawasi. Lagipula, Maziya selalu komplain karena tingginya tidak bertambah dengan sneaker tersebut.


“Karena aku dan Kak Azkan akan lebih sering memperhatikan Ma,” jawab Maziya.


"Oo sekarang suasananya lagi bagus ya." goda Nyonya Lidia.


"Suasana Hati yang bagus karena kita bakal jalan-jalan. Pokoknya Kak Azkan akan selalu memperhatikan aku begitupun aku." Ujar Maziya dengan senang.


“Baguslah kalau begitu, memang suami istri harus saling memeri perhatian satu sama lain.” Tuan Alam ikut bahagia.


“Tapi tetap saja Azkan yang harus lebih perhatian Pa, kan dia suaminya.” Nyonya Lidia memberikan ekor matanya melirik Azkan.


“Iya Ma, Pa, tenang saja.” Azkan pasrah.


"Kalian Langsung berangkat?"


"Ke Perusahaan dulu Ma, kan nggak mungkin pergi begitu saja." ujar Azkan


"Iya Ma, bagaimana juga ini bisa dibilang semi formal sejak Azkan jadi CEO." Tuan Alam menjelaskan.


"Iya ya Pa, Mama jadi ingat dulu juga ikut Papa pas acara sama Sekretaris Inti." Nyonya Lidia sedikit nostalgia.


"Waktu Papa yang ikut?. Berarti Para Sekretaris Inti nya Udah pada jadi Eksekutif dong ya?" tanya Maziya penasaran.


"Sepertinya iya, yang termuda saat itu adalah Leo dan Lintang." jelas Tuan Alam.


"Satu-satunya yang nggak beranjak cuma Bang Lintang ya." Maziya manggut-manggut.


"Kenapa ya Pa, memangnya dia tidak memenuhi kualifikasi?" Nyonya Lidia penasaran.


"Memenuhi Ma, tapi dia menolak.Tapi bagus, Lintang memang sangat berkepemimpinan tetapi ia tahu dimana tempatnya."


"Selain itu, dengan adanya Sekretaris Lintang semua pekerjaan selalu terarah Ma." Azkan menambahkan.


"Kayaknya Karena dia menikmati posisinya deh." Maziya ikut berpendapat.


"Kenapa begitu?" Lagi-lagi Nyonya Lidia mencoba memahami.


"Menurut aku, itu pasti karena Dia merasa lebih dihormati saat menjadi Sekretaris Inti Ma."


"Bukannya jadi Eksekutif yang posisinya lebih tinggi yang dihormati ya?"


"Enggak Ma, di kantor karena Dia yang paling senior dan penuh pengalaman kita semua hampir nggak bisa bersikap tanpa izinnya." Terang Maziya lewat hari-harinya bergaul dengan para Sekretaris Inti.


"Oo begitu ya."


"Udahlah, ayo kita makan nanti makanannya banyak yang dingin." Tuan Alam memperingati.


"Papa nggak suka Mama bicara?"


"Bukan gitu Ma,"


Azkan hanya bisa tersenyum melihat interaksi kedua orang tuanya tersebut.


.......


Setelah makan, Maziya melihat ke arah Rita yang sedang berdiri dengan Bi Mirna bersama beberapa pelayan lainnya yang ditugaskan.


“Rita, ini masakan kamu kan?”


Maziya pada sebuah hidangan dengan beberapa potongan bunga di dalamnya. Hidangan yang terlihat sangat cantik sehingga ia selalu memperhatikan keindahannya sebelum memasukkan secuil demi secuil ke mulut karena sangat disayangkan.


“Iya Nona,” akui Rita sembari terus menunduk.


“Kalo begitu, ambilkan tas kecil bewarna putih yang kutaro di meja. Aku lupa membawanya.” Perintah Maziya.


Belum sempat Rita menjawab, Barga maju selangkah. “ Biar saya yang ambilkan Nona.”


“Tidak, aku mau Rita yang mengambilnya untukku, bukankah waktu itu dia bilang tak ada niat lain selain bekerja disini.”


"Ziya, kamu kan sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi." bisik Azkan di telinga istrinya.


"Iya, aku cuma mau ngasih sesuatu kok " balas Maziya dengan ikut berbisik.


Barga mundur selangkah lagi setelah melihat tak ada reaksi apapun dari Azkan yang sibuk menyuap makanan ke dalam mulutnya. Barga memberikan isyarat bahwa Rita boleh pergi.


“Ba baik Nona,” Rita tergagap dan berlari kecil ke arah kamar utama Tuan Azkan dan Nona Maziya.


....


Tak lama kemudian Rita membawa tas putih tersebut. Ia masih saja terus menundukkan kepalanya sembari menyodorkan tas dengan sangat hati-hati.


Maziya membuka tas tersebut dan mengeluarkan sebuah gelang. Gelang dengan hiasan bunga anggrek bulan di tengahnya bewarna kebiruan.


"Ini untukmu" Maziya memberikannya pada Rita.


“Apa ini Nona, apa aku melakukan kesalahan lagi?” Rita tampak panik, "Apakah masakanku tak enak?"


"Apakah ada orang yang memberikan hadiah pada seseorang yang membuat kesalahan?" tanya Maziya lagi yang dibalas gelengan kepala Rita.


"Kulihat kau cukup suka memakai gelang, cepat ambil kau mau membuat tanganku kelelahan?"


Rita mengambilnya segera, “Apa ini kenang-kenangan perpisahanku Nona?”


“Kau juga sebenarnya cukup blak-blakan ya, kita cukup serasi asalkan kau tak menyembunyikan apapun lagi dan bertindak di luar batas.”


“Tidak akan pernah Nona aku berjanji.” Rita kembali menunduk dalam-dalam.


"aku memberikan gelang itu untuk menyemangati mu. Kau ingin jadi manajer kan di salah satu Restoran MOCY?"


"Iya Nona." Rita mengangguk.


"Makanan ini sangat enak aku sungguh-sungguh."


"Terimakasih Nona."


"Aku juga sebenarnya sudah lama memperhatikan tiap masakanmu, setidaknya kemampuan seorang chef sudah kau kuasai. Iya kan Ma?" Maziya meminta pengakuan lainnya.


"Benar, masakan bunga kamu selalu membuat Maziya bertanya-tanya siapa Chef yang membuatnya." terang Nyonya Lidia, "Ternyata kata Bi Mirna itu hidangan kamu."


"Iya Nyonya." Rita menggenggam gelang dengan perasaan bahagia. "Terimakasih Nona."


.......


Di Mobil..


"Ziya, aku penasaran akan satu hal."


"Apa?"


Azkan mengerutkan dahinya, "Sejak kapan kamu menyiapkan gelang itu?"


"Udah lama, tapi selalu lupa ngasih ke dia."


"Apa itu edisi terbatas?"


"Tidak terbatas, yang terbatas hanyalah milikku."


"Baguslah," Azkan merasa lega setidaknya Maziya tidak membuang uang.


"Tapi harganya sekitar 2 digit." tambah Maziya sembari mengangkat dua jarinya.


"Mengapa memberikan hadiah semahal itu?" Dahi Azkan semakin berkerut dibuatnya.


"Hadiah ya harus yang bisa dihargai dong Kak Azkan."


"Kamu tidak menyimpan dendam sama dia?"


"Maksud Kak Azkan atas kejadian di masa lalu?"


"Mmm"


"Enggak, awalnya sih iya."


"Terus?"


"Aah, lagipula dia juga menyerah dengan cepat. Kalau dia cepat sadar maka boleh cepat dimaafkan Kak Azkan."


"Kalau dia tidak menyerah saat itu?" Azkan menunggu respon istrinya.


Maziya bahkan tidak berpikir dahulu sebelum menjawab. Membuktikan bahwa hal itu sudah ada dalam tindakan normal yang pasti akan dilakukannya.


"Iya bakal aku siksa lah, sama seperti satpam waktu itu mungkin sedikit lebih parah." Ujar Maziya Mantap.


Azkan menelan ludah bergidik ngeri mengingat kejadian yang lalu kalau Maziya kesal dengan para bawahan, ia melirik Barga di kaca spion tengah. Seolah berkata, untung saja ia langsung mengambil tindakan malam itu. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Rita dan Bi Mirna yang akan menjadi mimpi buruk mereka.


Bersambung....