
Azkan duduk di Sofa Ruangannya berhadapan dengan Randy dan Rasti. Mereka tidak memberitahu kalau akan datang hari ini untuk membahas tentang Perayaan Yayasan Galanga sekaligus dalam rangka ulang tahun mereka bertiga.
Randy lebih cepat selesai dengan makanannya karena terbiasa. Dokter Residen yang membantu para seniornya di RS meskipun akhirnya ia memilih Psikiater.
Randy berjalan mendekati Dinding Kaca yang memperlihatkan pemandangan Kota. Lantai 50 Perusahaan SERZIANO Grup, membuatnya terkesima.
"Begini ya rasanya Bekerja di gedung tinggi yang membawahi Perusahaan Besar lainnya."
" Randy, apa kamu sudah Minum cepat sekali?" tanya Azkan yang juga baru selesai dengan makanannya.
"Aku sudah makan juga minum. Waktu adalah Bom bagi seorang Dokter." Randy kembali duduk. "Tapi kalau Rasti belum selesai tidak apa." Randy tersenyum pada Rasti yang belum selesai dengan makanannya.
Azkan memberikan kode pada Barga agar menyuruh Maziya segera datang. Karena semua pesannya tidak dihiraukan sama sekali.
"Istri kamu mana?" tanya Randy.
"Ada, Barga panggil dia kesini." Azkan meminta Barga.
"Buat apa Azkan?" tanya Rasti."Ini kan hanya urusan kita bertiga."
Kalau kita bertiga saja, sampai kapan aku akan menjadi nyamuk di antara kalian.
"Karena kami sudah menikah. Memang seharusnya dia tahu semua kegiatan ku. kalau perlu dia harus terlibat juga. Tidak, memang dia harus terlibat dalam semua urusanku."
Rasti pun terdiam. Mendengar Azkan menyebut Maziya seolah memiliki peran penting terasa sangat mengganggunya.
Sekretaris Barga geleng-geleng kepala membuat Azkan bertanya-tanya. Pesannya tidak dibalas juga pesan Barga. Apa yang dilakukan Maziya sebenarnya?.
Azkan melihat Ponselnya, dari pelacak yang aktif, nampak Istrinya sedang berada dalam sebuah Cafe. Sekretaris Barga terus mencoba mengirimkan pesan pada Maziya namun tetap saja tak ada satupun yang dibaca.
Berani-beraninya mengabaikan pesanku ya gadis tengil.
Rasti melihat ekspresi wajah Azkan. "Apa dia tidak mau datang?."
Azkan menghabiskan sisa minumannya. "Dia sedang dalam perjalanan."
"Perjalanan?" Randy kebingungan.
Azkan mengangguk, sudut bibirnya tertarik. "Perjalanan ke sini."
"Memangnya dia kemana? Dia keluar sendirian Azkan." Rasti ikut kebingungan.
"Tidak keluar, hanya ada beberapa urusan dia bersama Sekretaris lainnya. mungkin di lantai bawah."
Azkan segera mengirimkan pesan lagi bahwa Maziya harus datang dalam 5 menit. Lihat saja kalau Gadis itu telat, akan ia beri pelajaran. Apalagi kalau tidak datang, ia akan siapkan hukumannya.
"Tenang saja dia akan tiba dalam waktu 5 menit."
"Katanya dia langsung turun jabatan dari Sekretaris inti menjadi asisten Pribadi ya?"
"Iya."
"Apa kerjaannya nggak bener ?"
"Aku hanya ingin dia menyesuaikan diri dahulu."
"Kamu pasti takut dia kelelahan kan. Jadi menjadikannya asisten agar meringankan tugasnya." Randy menduga-duga.
"Ya begitulah, " Azkan tak menampik.
Padahal tuju Azkan hanyalah untuk membuat Gadis itu makin tersiksa dan merasa lelah. Membuat istrinya paham bahwa mendapatkan uang tak semudah menghabiskannya.
10 menit kemudian....
Maziya terengah-engah mendapati Suami dan dua sahabat akrab suaminya sedang memandang aneh ke arahnya. Maziya menenangkan diri serta nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari dari Taksi dan menuju Ruangan CEO. Satu-satunya jeda untuk bernafas adalah ketika berada di dalam Lift.
Barga dengan sigap menyerahkan tisu pada Azkan. Dengan akting alakadarnya, Azkan mengelap keringat dari kening Maziya.
"Kalian serasa sekali." Randy tersenyum.
"Eh Kak Randy,"
"Karena Kak Randy buru-buru. Katanya Kak Rasti sakit ya?" Maziya juga harus berbasa-basi meskipun ia sama sekali tidak mau nimbrung diantara cinta segitiga itu.
"Iya, aku khawatir sekali." Randy menoleh pad Rasti yang memperlihatkan wajah tak suka.
Rasti melihat jam tangannya. "Nah sudah datang kan, ayo kita bahas lagi. Atau tidak akan sempat karena Jam istirahat mungkin akan berakhir. Aku juga harus balik ke kantor."
Mereka membahas tentang Perayaan Yayasan Galanga diadakan di Panti asuhan saja. Sayang jika anak-anak panti asuhan harus pergi ke tempat jauh meskipun hanya belasan meter. Apalagi Yayasan Galanga memang bersatu dengan Rumah Sakit Galanga, sehingga takutnya memicu keluhan dari para pasien. Itu juga yang diwanti- wanti Randy sebagai salah satu Residennya.
......
Rasti meminta Randy menunggunya sebentar sebelum mereka kembali. Ia ingin berbicara berdua saja dengan Maziya karena tidak datang saat Resepsi.
"Boleh kan Azkan?" tanya Rasti.
Maziya berusaha menggeleng pelan agar ditolak Azkan. Namun percuma saja, Azkan lemah kalau urusan Rasti. Bahkan Azkan mau saja menunggu di luar ruangan padahal itu raungannya sendiri.
"Aku tahu apa yang terjadi 5 tahun yang lalu."
"Terus?" Maziya tidak terganggu dengan fakta itu.
"Tidak ada rahasia di antara kami bertiga. Kami benar-benar dekat."
"Terus?"
"Jadi jangan pernah memanfaatkan Kebaikan Azkan!"
"Apa itu permintaan?" tanya Maziya lagi masih dengan sikapnya yang terlihat ogah.
"Itu peringatan!." Sorot mata Rasti bagai pedang ingin melibas Maziya.
"Maksudnya?" Sementara Maziya tidak terintimidasi sedikitpun.
Di dunia ini mungkin hanya keluarga Azkan selain Ayah dan Ibunya dulu yang mampu mengintimidasinya. yang paling kuat tentu saja Azkan, kata-kata Azkan selalu kejadian kalau berani dilanggar.
"Aku khawatir dengan Azkan. Aku sangat mengenalnya, dia pasti terpaksa menikahi gadis yang jelas-jelas dibencinya. Dia tidak punya pilihan demi Mamanya yang sudah dimanipulasi oleh mu."
Dari kata-katanya apa Kak Azkan nggak cerita tentang Pernikahan kita yang hanya akan berlangsung selama 3 tahun. Katanya mereka Deket kan.
"Kalau kamu khawatir padanya itu boleh-boleh saja sebagai sahabat dekatnya. Tapi kini ada aku istrinya." Maziya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
Melihat cincin yang juga melingkar di jari manis Azkan membuat Rasti terdiam.
"Aku yakin tak lama lagi, Azkan akan menceraikan mu. Aku yakin Nyonya Lidia akan mengetahui siapa kamu sebenarnya."
"Aku menghormati kamu dengan memanggil Kak. Aku tahu kamu sahabat dekat Azkan, suamiku tercinta. yang temenan kalian bertiga. Aku nggak masuk kan ?. Jadi apapun yang kulakukan tidak ada kaitannya denganmu." Maziya tersenyum.
"Aku khawatir dengan Azkan. Jangan pernah..."
Maziya mengangkat telunjuknya ke bibir "Syuttt" Dia menghentikan ucapan Rasti.
"Aku hanya akan mengatakan satu hal, Kamu tidak begitu dekat maupun mengenal Kak Azkan. Banyak sekali hal yang tidak kamu ketahui tentangnya. Sayangnya aku tahu itu." Maziya tersenyum mengerikan.
"Aku semakin mewaspadai kalau kamu begini Maziya.!" ujar Rasti mulai beralih jadi yang terintimidasi.
Rasti berniat pergi dari ruangan tersebut. Maziya segera menahan tangannya
" Satu lagi Kak Rasti, Aku juga punya peringatan."
"Apa harus menyentuhku?" Rasti berusaha melepaskan tangannya.
Maziya mendekat ke telinga Rasti. "Aku bukan pelayan yang bisa disuruh siapa saja. Jangan berani memperingati ku, Posisiku bahkan lebih penting bagi Azkan dibandingkan dirimu yang hanya sahabat sekaligus pacar sahabatnya."
Setelah mengatakan hal itu di telinga Rasti. Maziya segera merubah ekspresinya seperti semula. Tersenyum ramah sambil dadah-dadah ke dinding kaca dimana Randy dan Azkan juga Barang tampak curi-curi pandang mengintip.
Rasti merasa tidak nyaman terus berbicara dengan orang seperti Maziya. Banyak sekali tipe orang yang pernah ia hadapi di Kantornya. Jarang ada yang membuat pernyataan ambigu seperti Maziya apalagi ditambah tatapan aneh juga senyuman macam Psiko.
Bersambung....