The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
37. Malu Sendiri



Azkan duduk di sofa menatap istrinya.


"Aku nggak boleh duduk Kak Azkan?."


"Berdiri saja, kau sangat menikmati berdiri dan bermesraan dengan pengacara itu barusan."


"Kak Azkan cemburu?"


"Cuihh, tentu tidak. Tidak akan pernah."


"Oo yaudah." Maziya segera ikut duduk di Sofa.


Azkan menautkan kedua alisnya. "Siapa yang mengizinkanmu duduk?"


"Kak Azkan juga nggak masalah kan aku ketemuan sama pengacara Lelaki tadi. Nggak cemburu juga, jadi apa alasannya aku mesti berdiri seolah udah berbuat salah?"


"Kenapa aku harus cemburu?."


Barga berusaha menahan senyumnya. Memang Maziya ahli sekali membalikkan keadaan hingga membuat lawannya K.O bahkan setingkat Azkan.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Apanya?. Kan Kak Azkan juga nggak peduli."


"Aku merasa dia tertarik padamu. Makanya aku bertanya,apa dia mengancam mu lagi?. Seperti saat Resepsi?"


"Ya semacam itu mungkin. Entah itu ancaman atau tidak."


"Kenapa kau sangat santai. Bagaimana jika lain kali ia juga berhasil membuatmu terdiam seperti waktu itu?"


"Hancurkan saja dia." jawab Maziya enteng.


"Kau pikir apa hancurkan saja?"


Maziya menggenggam tinjunya. " Hancurkan Firma Hukum VM. kalau firma hukum itu hancur, Bagaikan lempar 2 burung dengan satu batu. Pengacara itu pergi, Nyonya Virada mundur dari jabatan sebagai ketua Kelompok Sosialita."


"Sebelumnya, Bagaimana jika ada yang lihat dan mempublikasikan foto kalian?. Bagaimana dengan citra SERZIANO Grup?.


"Ya tinggal Kak Azkan bungkam mereka semua!"


"Mengeluarkan uang untuk hal tak penting begitu?. Jangan mimpi!"


"Tidak harus uang, pakai kekerasan saja seperti tadi saat Kak Azkan ingin mematahkan kaki para pengawal. Kalau urusan kejam kan Kak Azkan ahlinya."


"Kau..." Azkan berusaha menahan diri.


'Dia yang duluan, dikasih solusi malah ngeyel.


"Sepertinya dia memang tertarik dan menginginkanku, mungkin dia akan gencar berusaha merebut perhatianku. Kak Azkan nggak pa pa Kan?"


Sepertinya memang Maziya jujur. Tapi, mengapa bisa tiba-tiba mengincar Maziya. Mereka tidak pernah kenal.


Tiba-tiba ponsel Azkan berbunyi. Nyonya Lidia tampaknya ingin memastikan bahwa mereka tidak akan bermasalah disana.


"Mama menyelamatkanmu, nanti kita bahas hukumannya karena kau Pergi tanpa seizinku." Azkan mengangkat ponselnya.


"Ya ya terserah, paling juga Potong uang bulanan. Mungkin saat pas sebulan, semua uang bulanan akan habis karena banyaknya potongan. Apa dia lintah darat?" Maziya mengeluh seperti Ibu-ibu yang sudah lelah dengan kelakuan suaminya dan hanya bisa bicara pada diri sendiri.


Maziya mendekati kopernya untuk mencari piyama. Dia lelah dan mau tidur saja.


Kebanyakan Pakaian itu Sexy semua. Banyak sekali Lingerie dengan model berbeda-beda. Ada juga Pakaian dalam mode G-String dan yang disebut Pakaian tidur sangat-sangat kurang bahan.


"Ini bagus kan?" Maziya berdiri di depan Azkan mengangkat Lingerie bewarna hitam dengan aksen kilaunya.


Azkan yang kini melihat Maziya ingin sekali melakukan pitingan di leher gadis itu. Bisa-bisanya menari-nari sambil memegangi Lingerie seperti seorang wanita penghibur.


"Mengapa Mama memasukkan Pakaian Dalam aneh pada Kopernya?" Azkan mengeraskan suaranya agar Maziya tahu siapa yang sedang dibicarakan.


Nyonya Lidia ingin Maziya terlihat Sexy juga walaupun mereka hanya semalam disana.


"Dia terlihat seperti gadis kecil yang salah pakai model pakaian renang di pantai Ma." ujar Azkan mengejek.


Maziya tidak menghiraukan hal tersebut. Ia kembali ke arah koper dan mencari sesuatu. Rupanya ia berhasil mendapatkan Botol Vitamin C di koper yang telah disiapkan Nyonya Lidia.


.............


"Kau di Sofa dan aku di kamar. Tidak ada Mama jadi kita bisa lakukan hal yang seharusnya."


"Kak Azkan, ada dua kamar tidur disini, tetapi aku di sofa?"


"Tentu saja, Barga harus tidur di sofa juga agar kualitas tidurnya baik. Lagipula dia lebih banyak dibutuhkan untuk pekerjaan dibandingkan Kau."


"Baiklah kalau begitu Tuan, aku mandi dulu ya."


Maziya tidak ada niatan untuk berdebat hari itu. Setelah meminum pilnya perasaannya jadi agak mendingan.


Selama Maziya mandi, Azkan tiba-tiba saja ada ide untuk mengerjai Gadis itu. Selagi tidak ada Nyonya Lidia, ia akan membuat Gadis itu merasa tidak nyaman, tersiksa berada di sekitarnya.


Maziya keluar kamar mandi dan langsung tertuju pada Perubahan raut wajah Azkan. Apa lagi ini? Apa lagi yang akan dipermasalahkan oleh suaminya yang pelit dan pendendam itu.


Azkan masuk ke kamar mandi, Maziya tidak menemukan keberadaan Barga di sekitar. Apa mungkin Barga sedang keluar?. Apa segitu sibuknya sampai malam masih ada yang harus diurusnya. Kalau memang sesibuk itu, ia rela saja memberikan kamar tidur untuk Barga.


Di sisi lainnya, Barga meminta dua pengawal lagi untuk menggantikan pengawal yang kesakitan kakinya. Sepertinya dia harus mendapatkan perawatan segera di RS terdekat akibat tendangan luar biasa Azkan.


"Maziya..." teriak Azkan dari kamar mandi.


Maziya yang lagi fokus mengeringkan rambutnya sembari melakukan panggilan telepon dengan Viola harus berhenti sejenak.


"Apa.." balas Maziya berteriak.


Eh kok tumben dia manggil nama aku lengkap-lengkap? Benar-benar ada yang nggak beres nih kayaknya.


Maziya mengakhiri panggilannya dengan Viola. Ia juga bergegas mengeringkan sisa rambutnya dengan Hair Dryer.


Namun meskipun sudah selesai mengering rambut. Maziya tidak juga mendengar suara suaminya itu.


Dia nggak pingsan kan ?. Ah mana mungkin orang tenaganya sekuat Samson kok.


Maziya mengetuk pintu."Kak Azkan udah selesai mandi?"


"Mmm. Masuklah!"


"Ngapain? aku mau tidur."


"Awww" teriak Azkan dari dalam.


Maziya segera membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci tersebut.


"Kak Azkan kenapa?"


Maziya terdiam menatap Tubuh Azkan. Jujur, tidak ada niatan untuk mengintip Tubuh telanjang suaminya. Hanya saja, saat ini Azkan berdiri tanpa apa-apa dihadapannya.


Tubuh kekar nan atletis menjulang bagai model. Dengan tatapan serta senyum Smirk bersiap menghadapi Maziya.


"Besar gila...." gumam Maziya pelan.


Namun tentu saja Azkan mendengarnya. "Apa kau bilang?"


Bukan begitu seharusnya respon Maziya. Seharusnya gadis itu berteriak memohon ampun agar tidak didekati.


"Nggak ada, ukurannya nambah ya dari yang dulu." Maziya tersenyum tanpa dosa sembari masih memandangi bagian Junior Azkan.


Bukan berarti Maziya mesum. Dia juga pernah melihat Azkan mandi saat kecil dahulu. Itu membuat Azkan tak mau melihat wajahnya selama hampir seminggu.


"Kau benar-benar." Azkan membalikkan tubuhnya.


Kenapa jadi aku yang berada di bawah kendalinya?


"Ah kita kan sudah suami istri." Maziya menggoda Azkan.


Dasar gadis gila, aku yang bodoh berniat mengerjainya dengan cara ini. Aku sepertinya lupa kalau dia bukanlah gadis biasa. Siap yang tahu apa saja yang dilakukannya hanya untuk memenuhi Obsesinya dengan uang.


Bersambung...