The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
83. Tidak Biasa



Di Kamar Tidur Azkan dan Maziya.


Seperti biasa, Azkan sehabis mandi akan berkutat dengan layar ponsel maupun Laptop sebelum tidur. Sementara Maziya menyelesaikan rangkaian perawatan malam setelah para pelayan melakukan tugas mereka untuk memijit maupun merawat kulit sang majikan.


Maziya terus melirik ponsel menunggu Suaminya itu untuk bersiap tidur.


'Aku bilang hari ini aja kayaknya ya?. Tapi gimana cara ngomongnya?. Ah biasanya aku tidak terlalu mempertimbangkan apa yang akan aku ucapkan.


Azkan sadar bahwa istrinya itu sedang menginginkan ia segera tidur. Mungkin saja mau membahas pernikahan sahabatnya tadi siang. Atau juga bisa mengeluh tentang hal-hal sederhana padanya.


Azkan menutup Laptopnya, ia sudah akan menekan tombol Otomatis yang sudah dimodif agar lampu utama dapat mati sehingga ia bisa mengganti dengan lampu remang-remang favorit mereka.


" Kak Azkan.." Maziya berujar seolah mengiyakan dugaan dari Azkan.


Nah tuh kan, pikir Azkan. Ia bilang juga apa, pasti akan ada hal yang dibicarakan Istrinya. Istrinya yang tidak biasa.


Memang ya kalau sudah cinta, suara langkah, lirikan mata dan bahkan Tarikan nafas pasangan saja dapat dipahami oleh mereka yang saling peduli satu sama lain.


"Iyaa," Azkan memandangi wajah istrinya.


Maziya menghembuskan nafas pelan, "Kak Randy sama Kak Rasti katanya langsung pergi Honeymoon yaa."


'Pasti dia mau bahas hal ini, tunggu ya aku mau kita bahas ini do saat yang tepat. Besok saja okee maaf kalau malam ini kamu harus menahan kesal dahulu.


"Iya katanya." tukas Azkan sekenanya saja.


pliss jangan tanya daerahnya Dimana, atau Ziya akan meminta daerah yang lebih bagus berkali-kali lipat lagi dari itu'


"Kemana?" Maziya berusaha tenang.


'Ah tuh kan' tebak Azkan sekali lagi membenarkan dugaannya.


"Ke Kota xxxx, Randy sudah lama merencanakan untuk kesana bersama Rasti."


"Huh" keluh Maziya dengan hembusan nafasnya juga dengan raut wajah sebal.


"Kenapa lagi sih, kamu mau kesana juga?"Azkan masih pura-pura tidak terganggu dengan bahasan yang paling ingin dibahas Maziya.


"Ya Enggak gitu juga,"


"Terus apa dong?"goda Azkan merasa lucu dan gemas melihat wajah istrinya.


"Mereka aja langsung pergi Honeymoon,lah kita kapan, ?." Maziya bernada manja.


'Oh aku benar-benar tidak tahan kalau dia menggunakan nada manja seperti itu, rasanya ingin kupeluk dan kucium sepenuh hati. Tahan diri Azkan, Okee kamu pasti bisa.


"EEE Kita," Tuh kan, Azkan langsung gagap.


"Jangan bilang Kak Azkan masih harus kerja dan kerja lagi. Perusahaan dan Perusahaan lagi, secepatnya harus pikirkan kita mau kemana, setidaknya kita harus di luar negara ini. Ke luar negri sekalian !" Mimik wajah Maziya terlihat makin kesal dan bertekad.


"Sudahlah kita berdua sangat lelah habis acara tadi. Tidur yaa!" pinta Azkan lembut sembari merebahkan tubuhnya.


"Tapi Honeymoon?"


"Besok aja kita bahas yaa!" perintah Azkan dengan nada lembut."


Tidak lupa Ia mengelus kepala istrinya dan bersiap untuk memajukan wajah untuk melandaskan ciuman di kening Maziya, tetapi karena ia takut melupakan batasan dan tidak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat Azkan berbaring dan mulai berhitung untuk mengalihkan pikirannya yang sudah hampir melalangbuana.


Maziya ikut berbaring juga, tidak seperti Biasanya selalu memeluk erat tubuh Suaminya Maziya berpaling. Azkan menahan diri untuk tidak menggangu maupun menggoda Istrinya itu.


Sudah satu jam berlalu...


Tampaknya satu dari pasangan suami istri itu memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Tidak ada satupun yang mau mengalah untuk menutup mata dan memasuki alam mimpi.


"Kak Azkan"


"Kak Azkan udah tidur?"


Azkan sangat gatal untuk membuka mulutnya dan memberi jawaban. Namun dia tidak bisa, ia saat ini masih menahan diri untuk melakukan keinginannya.


"Aku mau bahas hal penting padahal" Maziya berkata dengan lembut.


Azkan berbalik, ia menyerah "Belum tidur, bahas hal apa ? Aku janji akan bawa kamu ke tempat yang indah. Aku tidak akan membuat Honeymoon kita terlihat biasa. Aku tahu kamu tidak suka hal biasa. Jadii sekarang kita tidur yaa!"


Maziya bangkit dan bersandar pada bantal.


"Aku sudah memikirkannya"


"Memikirkan apa?. tempat Honeymoon?. Aduh Ziya kan aku..."


"Syuuutt" Maziya mengehentikan ocehan suaminya.


Rupanya Maziya merisaukan panggilannya pada Azkan. Panggilan Kak terdengar biasa, sama seperti panggilan pada Senior atau yang lebih tua. Terdengar tidak spesial dan pastinya tidak disukai Maziya karena bukan hanya biasa tapi terlalu biasa.


"Jadi kamu mau manggil aku apa? Sayang?"


"Mas Azkan..." Kata-kata itu keluar dari mulut Maziya


Azkan seketika membeku. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa gadis tengil dan nakal itu akan ada di masa menjadi Wanita yang membuatnya tersipu hanya dengan satu panggilan. Panggilan yang terdengar biasa saja bagi orang lain, namun itu menjadi luar biasa karena Azkan mendengar hal itu dari mulut istrinya.


"Kenapa?. Kalau Kak Azkan nggak suka. Aku bisa cari panggilan lain."


"Suka, banget malah. Aku hanya cukup terkejut, belum terbiasa." Azkan tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.


"Nanti juga biasa, Kalo gitu Mas Azkan mau panggil aku apa?" tanya Maziya dengan nada imut.


"Eee apa ya?" Azkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "..mmmm maybe sayang?"


Azkan membasahi bibirnya, tidak biasanya dia akan gugup pada hal sesederhana itu. Panggilan toh hanya panggilan saja. Sewaktu-waktu juga dapat berubah.


Tetap saja, respon Maziya lebih utama, kalau istrinya itu tidak suka bagaimana?. Kalau itu terdengar biasa saja bagaimana ?. Kalau tiba-tiba mengungkit panggilan Randy dan Rasti yang juga begitu bagaimana? Bagaimana jika Maziya meragukan perasaannya lagi?. Duh, kenapa Azkan yang Over power malah berubah jadi Azkan over thinking begini?.


"Yaudah boleh.." Maziya membuat raut wajah suaminya yang was-was itu lega.


"Yaudah, kamu tidur gih sayang!"


Hening sesaat, Azkan yang canggung dengan panggilan sayangnya sendiri. Ada juga Maziya yang kini tidak henti-hentinya menelan Saliva.


"Mmm Mas," Maziya menunduk


"I..iya" jawab Azkan tergagap. Bahagia dengan panggilan baru sekaligus merasa belum terbiasa. "Ee maksudnya iya sayang."


Maziya membahas tentang kewajibani seorang Istri. Nyonya Lidia sendiri yang menasehati betapa pentingnya bagi sepasang suami istri tahu mengenai hal itu.


"Jadi, apa kita boleh melakukannya?. Apa kamu mengizinkannya?" Tiba-tiba saja Azkan berubah menjadi sangat antusias.


"Kalau Mas Azkan mau, aku tidak akan menolaknya, aku yang salah menolak dengan alasan sepele."


"Itu tidak sepele Ziya,,," Azkan berhenti sebentar lalu mengulang ucapannya, "Itu tidak sepele Sayang, aku paham dan aku akan mengatur Honeymoon kita. Aku tidak masalah dengan hal itu."


"Tapi aku yang merasa itu masalah, Aku akan mencoba untuk menjadi Istri yang lebih paham lagi"


"Kamu cukup jadi apa adanya, aku mencintaimu sebagaimana sebenarnya."


Maziya langsung mendekat dan mencium bibir Azkan. Demikian pula dengan Azkan yang sudah dengan susah payah menahan diri. Selimut di angkat hingga menutupi tubuh mereka berdua.


Bersambung....