The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
23. Menjadi Bagian Serziano



Seperti biasa, Maziya duduk di sofa. Karena pekerjaannya sudah diambil oleh Barga otomatis dia tidak ada kegiatan yang berarti.


Maziya menghidupkan Televisi dan mulai mengganti ke Channel Favoritnya. Azkan juga sudah pasti tidak memedulikannya dan fokus dengan Laptop.


Ketukan pintu mendistorsi kegiatan suami istri yang minim komunikasi selain perdebatan tersebut. Barga masuk dan langsung berdiri di dekat Sofa.


"Nona, aku minta waktu sebentar!"


"Kamu mau bicara 4 mata sama Kak Azkan?. Bicara saja, aku juga nggak akan Kepo, anggap saja aku tidak ada."


"Bukan Nona, Aku minta waktumu!"


"Waktuku?" Maziya menunjuk dirinya sendiri.


Barga mengangguk, Maziya segera mengecilkan volume Televisi. Dengan malas mendongak mendengar apa yang ingin disampaikan sekretaris yang sebelas dua belas dengan suaminya itu.


Sebuah Ponsel diangkat Barga."Ini milik Anda Nona"


Ponsel yang pastinya kelautan terbaru. Casingnya juga cukup unik.


"Aku masih punya ponsel, lagi males ganti"


"Ini Ponsel anda selanjutnya Nona. Silahkan Anda ambil ponsel lama anda agar aku bisa menyalin semua file di dalamnya, Kesini"


"Ponselku juga keluaran terbaru. Tidak usah disalin segala!"


"Mengingat kejadian hari ini yang menghebohkan Kediaman. Anda diperkenankan memakai ini Nona, Ada sistem pelacak di dalamnya."


"Pelacak?. Aku tidak akan kabur."


"Agar posisi anda diketahui Nona. Tuan Azkan sangat khawatir begitupula Nyonya Lidia dan Tuan Alam."


"Jadi ini Mama yang minta?"


"Ponsel ini dari Tuan Azkan. Kalo dari Nyonya Lidia kedepannya Anda tidak bisa pergi sendirian lagi Nona. Beberapa pengawal akan diatur untuk menjaga anda secara rahasia. Anda harus selalu bersama Tuan Azkan."


"Hah, aku mau nanya Mama maksudnya apa?"


"Nona" Barga menghalangi.


"Aku nanya Mama dulu."


"Apa kau tidak tahu betapa pentingnya posisimu saat ini!" Azkan bangkit dari ranjang.


Maziya memutar bola matanya malas ke arah suaminya. "Penting?. Jabatan ku kan hanya asisten."


"Kau bukan hanya asistenku. Kau istri dari Pewaris Tunggal SERZIANO Grup, Kau Istri dari CEO SERZIANO Grup. Kau pasti tidak akan luput dari perhatian orang-orang apalagi musuh-musuh terselubung."


Azkan mengambil dari tas Ponsel Maziya dan menyerahkannya pada Barga.


"Ya lakukan saja terserah kalian." Maziya keluar memastikan pada Nyonya Lidia.


.....


"Ziya, sekarang kamu nggak bisa sembarangan lagi. Kalau terjadi apa-apa bagaimana. Ingat status kamu!"


Ternyata benar, Nyonya Lidia mengatur semuanya.


"Tapi bukannya itu berlebihan Ma, pakai pengawal rahasia segala."


"Sayang, Mama atau lebih tepatnya semua anggota keluarga kita juga selalu diawasi pengawal rahasia. Ini seperti sedia payung sebelum hujan." Nyonya Lidia mengelus kepala Maziya.


"Apa hubungannya denganku Ma. Kak Azkan juga tidak.."


"Sayang, kamu dan Azkan itu sudah menikah. Kamu adalah bagian dari keluarga ini. Kalian adalah satu kesatuan."


"Maksudnya Ma?"


" Jika saingan ingin menghancurkan Azkan, kamu adalah salah satu kandidat utama yang paling diincar."


"Aku nggak tahu kalau jadi bagian dari keluarga Serziano serumit ini."


Nyonya Lidia merapikan anak rambut Maziya yang jarang diikatnya, dibiarkan terjuntai di sisi kiri dan kanan.


"Sejak kamu tinggal disini juga ada pengawal rahasia. Kamu tinggal di Apartemen juga Mama atur kamar di sebelah kamu agar yang tinggal adalah orang yang Mama bayar."


"Pantesan mereka kayak nggak hidup, aku pikir nggak ada pemiliknya malahan."


"Enggak dong sayang, Mama cuma tidak memberitahu kamu agar kamu bisa tetap merasa bebas dan leluasa."


"Tapi pakai pelacak apa tidak berlebihan Ma."


"Pelacak?" Nyonya Lidia tertawa.


"Kok Mama ketawa?"


" Itu pasti idenya Azkan ya" Nyonya Lidia mengusap bawah matanya bisa jadi ada air mata yang jatuh akibat tertawa. "Mungkin Azkan takut kejadian yang menimpanya saat diselamatkan oleh Barga terjadi lagi."


"Saat Kak Azkan akan dijebak ya Ma?"


"Iya." Nyonya Lidia mengangguk. "Azkan meminta semua pengawal menunggu aba-aba bahaya darinya. Boro-boro untuk memberikan kode, dia sudah dijebak duluan."


"Jadi, Itu benar-benar bukan bagian dari yang Mama Atur?"


Maziya melihat sekeliling "Papa mana Ma?"


"Masih nenangin diri, tadi hampir saja menampar Pipi Azkan."


"Hah?"


"Kamu nggak lihat dadanya Azkan merah begitu. Entah seberapa banyak Papa dorong dan mukul dia"


Kak Azkan nggak mungkin melampiaskan kemarahan Papa sama aku kan.


Maziya mengusap dadanya. Ingat saat Azkan meremas kuat blous yang ia lepas kancingnya.


"Kamu mikirin apa?"


"Enggak Ma, tapi Kok Papa bisa marah banget Ma?"


"Papa kamu juga takut kamu Kenapa-kenapa karena sikap Azkan yang keterlaluan. Papa itu memang lembut, santai, tapi kalau marah ya mengerikan." Nyonya Lidia begitu paham perangai suaminya.


"Sama seperti Kak Azkan ya Ma. Jarang marah. Kalau sekalinya marah kayak iblis. Kekuatannya over power seperti Hulk."


"Iya kamu benar."


Maziya kembali ke kamarnya. Barga juga baru selesai memindahkan file dari ponselnya yang lama.


"Udah selesai?. Sekretaris Barga?"


"Sudah Nona, satu lagi Casingnya khusus dipesan Tuan Azkan, bisa menyala saat baterai mati sementara keadaan sekitar tidak ada cahaya."


"Oh ya?"


"Kalau begitu aku pamit dulu Nona."


Maziya duduk di samping Azkan yang sedang membolak-balik ponsel yang akan ia pakai tersebut.


"Ingatlah untuk selalu membawa ponsel ini. Pelacak ini dapat menjelaskan dimana kamu berada."


"Aku juga tahu fungsi pelacak kali Kak Azkan."


"Ini pelacak yang juga bisa memverifikasi tempat spesifik dimana kamu berada, Toilet atau nama ruangan yang dekat dengan CCTV !" Azkan berbicara ketus.


"Iya, Woww Amazing." Maziya bertepuk tangan, berpura-pura antusias.


"Berhentilah bersikap palsu!"


"Palsu juga cara bertahan hidup."


"Susah bicara deng..." Azkan berhenti karena posisi Maziya kini berada di depan dadanya.


Maziya membuka kancing piyama yang ia pakai.


"Hei ini salah, aku sudah bilang tidak tertarik kan.."


Maziya tidak bergeming dan terus membuka kancing kedua dari atas.


Azkan menggenggam tangan Maziya, tatapannya nyalang. "Kalau kau bersikap agresif, Aku tidak akan membayar pelayananmu!"


"Tidak usah dibayar, aku sukarela melakukannya."


Sukarela?. Gadis ini picik sekali.


Disaat bersamaan, Azkan merasakan dadanya disentuh oleh Maziya untuk pertama kalinya. Pertama kalinya sejak mereka menikah, dengan jarak seintens itu.


"Bener kata Mama, Merah nih" Maziya tidak mengalihkan pandangan dari Dada Azkan yang terbuka.


"Apanya?"


Maziya mengeluarkan salep dari saku yang ia minta dari Bi Mirna. Perlahan ia oles dengan hati-hati dan begitu lembut.


"Papa kuat juga ya Kak Azkan?"


"Ini karena mu" Azkan menjawab dengan garang


"Iya maaf deh, Ini makanya aku bantu obati, sakit nggak?" Maziya menggosoknya perlahan.


"Sakit, dan apa peduli mu?" Azkan masih menjawab dengan ketus.


"Kalo sakit..." Maziya mendekatkan wajahnya, Perlahan ia tiup dengan mulut bagian yang diberi salep barusan.


Tiba-tiba saja Azkan merasa aneh, jantungnya berdegup kencang. Ia meremas kuat sofa dengan kedua tangannya.


Azkan langsung mendorong tubuh mungil Maziya hingga terjengkang ke belakang. Untung saja terjengkang ke sofa, kalau ke lantai mungkin dia sudah geger otak.


"Pelan-pelan kek Kak Azkan!" Maziya berubah nyolot.


Azkan langsung lari ke kamar mandi membuat Maziya bingung setengah mati.


" BAB ya?. Ngomong Kek kalo kebelet!"


Bersambung.....