The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
73. Kegilaannya Terpaksa Diterima



Rita duduk di ruangan menunggu atasannya yang tidak lain tidak bukan adalah Rasti. Kini pikirannya dipenuhi dengan banyak kemungkinan yang sebagian besar didominasi oleh pikiran negatif.


Apa Dia akan memecatku?. Tidak kan, tidak mungkin. Aku melakukan semua perintahnya meskipun akhirnya gagal.


Setelah setengah jam, barulah Rasti masuk. Tak lupa ia meminta maaf karena membuat Rita menunggu lama.


Lagi-lagi Rasti meminta maaf atas apa yang terjadi. Dia sudah cukup lama memikirkannya, namun ia masih sedikit malu atas apa yang terjadi. Hingga barulah saat ini ia berani mengungkit kembali perihal apa yang sudah terjadi berkat ulahnya.


"Tidak Buk, saya juga terlibat."


"Pasti Azkan menyulitkan kamu ya. Aku tahu betul bagaimana kejamnya Azkan kalau sudah marah."


"Tidak apa Buk," Rita masih ingat betapa takutnya ia saat berhadapan dengan Azkan hingga langsung mundur tanpa banyak bertindak.


"Oh ya, beberapa bulan lagi kamu akan menerima Kartu emas yang resmi."


"Maksud apa ya Buk?"


"Kartu emas MOCY atas nama kamu sendiri. Saya sudah mengatakannya pada Bagan pelayanan."


"Tapi kan saya bukan..."


"Kamu ingat nggak apa motivasi kamu saat wawancara kerja disini?"


Saat itu Rita dengan tegas menginginkan jadi bagian penting dari MOCY. Ia ingin jadi salah satu tiang yang dibutuhkan Restoran terutama ingin menjadi Manajer.


"Hidangan yang kamu ajukan diterima, mungkin beberapa bulan lagi juga saat kamu mendapatkan kartu emas, hidangan kamu akan jadi Desert resmi kita."


"Beneran Buk," saking semangatnya Rita sampai berdiri dari kursinya.


"Iya, dan mulai besok kamu sudah bisa jadi manajer di Restoran MOCY daerah xxx"


"Terimakasih buk, tapi bukannya daerah situ..?" Rita tahu disana tempat yang dipimpin Rasti secara penuh.


"Saya akan stay Di Perusahaan, saya lebih mengurangi beban kerja. Soalnya saya dan Randy , kamu tahu kan."


"Tahu buk, selamat ya Buk. Kapan kalau boleh saya tahu?" Rita bertanya hati-hati.


"Makasih, masih lama sih. Jadi saya harus merampungkan urusan Restoran."


"Jadi masalah sebelumnya ini.." ragu-ragu Rita memastikan.


"Percaya atau tidak, aku sadar justru berkat Maziya."


Rasti menyadari bahwa ia berada dalam tahap jenuh yang merupakan ujian dalam hubungan yang lebih dari 5 tahun. Timbul keraguan yang membuat hatinya linglung dan mempertanyakan hal-hal sederhana yang sebenarnya tidak begitu penting.


"Aku percaya Buk. yang penting anda mendapatkan apa yang membuat anda bahagia."


"Iya, berkat itu semua aku jadi lebih yakin untuk membangun hubungan yang serius."


Rasti memberikan Name Tag baru untuk Rita. Bukan hanya karyawan, besok Rita akan jadi manajer.


"Memang Nona Maziya memberikan keberuntungannya padaku." Rita bahagia mengelus gelang pemberian Maziya.


"Gelang kamu Sangat cantik."puji Rasti.


"Ini pemberian Nona Maziya buk, berkat ini juga aku pede untuk mengajukan Resep Desert."


"Benarkah?."


"Iya.."


Rasti melihat gelang tersebut karena penasaran dengan bunga di aksen nya. Ia bahkan lebih kaget dengan harga gelang yang sangat fantastis tersebut.


"Gelang dengan harga segini?. Mungkin dia memang Gila." ujar Rasti.


"Bukannya Nona Maziya memang gila Ya Buk. Anehnya Meskipun begitu aku selalu meyakinkan diri bahwa Kegilaannya harus diterima."


"Tentu saja, kita terpaksa menerima Kegilaannya karena kita bahkan tidak lebih baik darinya meskipun Normal"


"Iya Buk, saya setuju."


........


Di Pulau...


Maziya melakukan hal yang paling gila dan tak pernah terbayangkan oleh Para Sekretaris Inti bahwa mereka akan memiliki hari-hari seperti itu seumur hidup.


Maziya membuat mereka menjelajahi Laut dengan Kapal hingga Renald bahkan mabuk laut. Segala jenis kegiatan wisata mereka coba dengan banyaknya petugas Pulau yang melayani.


"Seharusnya aku tidak ikut." keluh Lintang.


"Sudah terlambat Bang, " ujar Edwin.


Mereka berdua akan melakukan Bungee Jumping sesaat lagi. Kegiatan yang bisa membuat nyawa hilang dalam beberapa saat tersebut harus mereka lakukan.


Bukan itu saja, bahkan mereka menyeberangi Lautan menggunakan Seutas tali yang memang dilengkapi pengaman. Namun kegiatan yang tiba-tiba harus mereka ikuti Demi Bonus tambahan ini cukup menguji nyali.


"Adiba, aku tidak akan mau ikut Retreat Perusahaan lagiiii." Teriak Chelsea dalam posisinya menggantung.


"Aku jugaaa." balas Adiba.


Di antara mereka semua, yang paling menderita adalah Renald. Entah berapa kali ia merasa bahwa Jiwanya hilang dari badan. Ia merasa takut namun tetap menginginkan Bonus yang dijanjikan Azkan asalkan terlihat bahagia saat menjalani berbagai kegiatan bersama Maziya.


yang paling aneh adalah, mereka berenang menggunakan Kolam renang Vila yang sudah diisi dengan Wine. Alasannya hanya karena Maziya berjanji tidak akan bersentuhan dengan minuman itu lagi jika dituruti, sesuai dengan permintaan Azkan, tidak ada lagi minuman-minuman keras apapun kondisinya.


"Berapa harga ini semua?"Renald menganga melihat kolam bewarna merah dengan aroma yang cukup asing tersebut.


"Tidak usah dihitung, kamu hanya akan merasa kecil!" tegas Edwin.


Azkan sudah bersiap dengan membuka bajunya. Memperlihatkan otot-otot perutnya yang luar biasa.


"Tuan, anda benar-benar membuat Nona Maziya menghabiskan uang seperti ini?" tanya Barga.


"Tentu saja, janjinya dan janjiku. Tak akan ada lagi minuman merusak ini masuk ke tubuh Istriku, ayo nikmati!"


"Aku harus pergi Tuan."


Semua orang masuk, merasakan bagaimana Kolam Wine besar itu menghangatkan tubuh mereka.


"Jangan, jorok sekali. Nanti kamu muntah lagi seperti hari-hari yang lalu!" Adiba memperingati.


"Aku muntah karena mabuk laut." Renald membela diri.


"Jangan minum Renald, ini merusak tubuhmu!" ujar Maziya.


"Tentu saja Nona, aku tak akan meminumnya. Aku hanya bercanda dengan Adiba." terang Renald.


"Alah, bohong." Adiba tak terima.


"Ngomong-ngomong mana yang lainnya Edwin?"tanya Azkan.


"Kalo Bang Lintang dia kembali untuk memberitahu istrinya sekaligus Tidur. Usianya melarang untuk renang malam-malam begini Tuan."


"Ooh yang satu lagi?. Chelsea?"


"Kalo Chelsea..."Edwin juga tak tahu. "Adiba,mana Chelsea?"


"Dia bilang mau menikmati angin laut saja sebelum Tidur Tuan." jelas Adiba.


"Dia memang punya pemikiran yang aneh Tuan, tak perlu khawatir!" Renald menyiram wajah Adiba.


"Renald..." Adiba balas menyiramnya.


Mereka bermain-main dengan kolam renang Wine tersebut.


"Ziya, apa ini belum membuktikan..."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Azkan langsung mendapatkan Ciuman paling mesra dari Istrinya itu. Ciuman aethetic yang membuat Petugas dari Vila tidak lupa mengabadikannya dengan jepretan kamera.


.......


"Kenapa tidak ikutan?" tanya Barga yang sudah ada di belakang Chelsea dan membuatnya terperanjat kaget.


"Buatlah suara saat datang, Sekretaris Barga!"


"Kamu yang terlalu fokus menatap laut."


"Aku tidak suka melakukannya, lebih baik menikmati pemandangan laut dan udara yang menerpa ini " Chelsea merentangkan tangannya sembari menutup mata.


"Mmmm aahnj" Barga ikut merasakannya.


"Sekarang aku tahu, mengapa Nona Maziya dan Tuan Azkan itu cocok."


"Benarkah?"


"Mmhh, aku paham maksudmu kemarin. Sejujurnya Nona Maziya ternyata lebih gila dari kelihatannya."


"Iya."


Chelsea menambahkan, "Mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Aku tak bisa membayangkan orang biasa yang menjadi pasangan Nona Maziya. Lebih lagi, aku tak bisa membayangkan pasangan Tuan Azkan adalah Gadis lainnya."


"Baguslah kalau paham."


"Tapi Barga.."


"Mmm"


"Ada banyak tempat yang bisa kamu nikmati. Kenapa harus disini, kan aku lebih duluan disini."


"Lebih dekat disini." elak Barga sekenanya.


"Ini tempat yang cukup jauh kok. Kamu mau membohongi siapa."


"Kamu," Barga terkekeh pelan, "sayangnya nggak bisa ya."


Chelsea membuka matanya ia menatap Barga penuh kebingungan.


"Kalau aku menyukaimu, apa kau bisa mempertimbangkannya?."


"Apa kamu lagi nyatain perasaan Sekretaris Barga?" Chelsea tampak tak percaya.


"Bukannya kamu tanya kemarin apa alasan aku melakukannya?. Itu kesimpulanku. Aku juga menyalahkan diriku karena tidak menghabisi mantanmu lebih cepat, aku tidak tahu Apa yang kamu alami sebenarnya."


"Sudahlah, tidak tahu bukanlah kesalahan."


"Jadi bagaimana?" Barga kembali memperjelas.


"Apa kamu selalu tidak sabaran begini?".


"Tidak juga, ini pertama kalinya bagiku." Akui. Barga.


"Benarkah?. Di usiamu dan dengan kemampuan serta tampangmu ini?" Lagi-lagi Chelsea tampak tak percaya.


"Iya, aku cukup tua, tapi tidak cukup berpengalaman." Barga menggaruk tengkuknya sendiri.


"Aku akan memikirkannya." jawab Chelsea.


"Apa maksudnya itu?"


"Maksudnya tunggu, aku akan mempertimbangkan perasaanmu, atau menerimanya setelah melihat usahamu.!"


"Usaha ku?"


"Iya..."


"Aku sepertinya sudah cukup berusaha, aku punya penghasilan sendiri dan.."


"Bukan itu, usaha untuk meraih hatiku."


"Maksudnya yang begini?" Barga memberikan jaketnya pada Chelsea.


"Iya, ini salah satunya." Chelsea tersenyum.


Bersambung.....