The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
61. Rita mundur



Rita mengembalikan kartu Emasnya, Ia berjanji tidak akan memikirkan hal tersebut. Ia akan selalu melindungi Maziya. Posisi Rita saat ini lebih seperti Bi Mirna pada Nyonya Lidia atau ia harus angkat kaki dari kediaman Serziano.


Rasti memasukkan kartu emas itu ke dalam dompetnya. Ia tidak berani bicara mendengar apa yang barusan dijelaskan Rita. Apa yang kini dipikirkan oleh Azkan terhadap dirinya.


Semalam, saat pukul 2 Dini hari...


Barga mengetuk pintu kamar Bi Mirna dan Rita. Azkan memerintahkan agar Rita menemuinya di ruang kerjanya.


"Kau jelaskan tentang kartu emas MOCY tersebut !"


"Tuan itu karena..." Rita berusaha menjelaskan, ngantuknya sudah hilang saat dalam perjalanan.


"Jangan mengada-ada seperti apa yang kau katakan pada Istriku juga semua penghuni di sini!" Azkan tidak menatap wajah Rita sedikitpun, hanya memainkan Jemarinya.


"Katakan sejujurnya, ingatlah peristiwa yang menimpa xxx!" Barga menyebutkan nama perempuan yang sampai harus berlutut agar diamaafkan dahulu, wanita yang ingin merebut perhatian Tuan Alam.


Barga juga memperlihatkan perjanjian yang ditekan semua pegawai Kediaman. tidak mendengar dan melihat apapun lalu juga seperti terikat seumur hidup dengan SERZIANO Grup. Mereka memberikan informasi DNA, bahkan sidik jari sehingga Serziano bukanlah lawan yang seimbang.


Rita menggigil hebat, Azkan bukanlah sosok yang bermurah hati hanya karena ia Wanita. Bagi Azkan, siapapun yang berkhianat akan lenyap dan harus tidak mampu berdiri sendiri lagi.


"Ampun Tuan, " Kaki Rita seketika lemas tak berdaya.


"Apa kau membuat kesalahan?. Mengapa meminta ampun?" Azkan kini tersenyum simpul, salah satu sudut bibirnya tertarik.


"Aku diminta oleh Rasti...."


Rita menjelaskan semuanya tanpa terkecuali juga ucapan Rasti mengenai Ia lebih pantas untuk Azkan.


"Beraninya kau memfitnah Rasti?"


Tidak seperti dahulu, Azkan yang biasanya selalu menggebu kalau ada yang menjelekkan sehelai rambut Rasti kini tampak lebih tenang. Ia bahkan tidak beranjak dari kursinya sedikitpun.


"Aku jujur Tuan, tolong maafkan aku. Aku berjanji asalkan aku dan Ibuku tetap bisa bekerja disini. Aku akan jadi pelindung dan pelayan Nona Maziya dengan lebih baik lagi." Rita bersumpah.


Setelah Rita keluar kamar, Azkan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Apakah Rasti memang sangat kehilangan sosoknya. Tetapi mengapa meminta Rita melakukan hal tersebut.


"Mungkinkah Rasti masih menyalahkan Maziya?."


.....


Maziya duduk di samping Azkan, ia menatap Azkan terus-menerus sejak pagi tadi bahkan sejak mereka usai sarapan. Ia tidak henti-hentinya menyipitkan matanya saat perih mulai mereda.


Saat Azkan pegal merilekskan jarinya usai tanda tangan berkas, ia terperanjat melihat Tampang Maziya.


"Nggak capek begitu terus?"


"Nggak?" jawab Maziya singkat.


"Perhatikanlah pekerjaan atau belajar bersama Pitaloka sana!"


"Ini pun aneh" ucap Maziya dengan wajah bingung 100 persen.


"Apa yang aneh?"


"Semua yang Kak Azkan lakuin itu aneh."


"Lalu aku harus melakukan apa?"


"Tuh kan.." Maziya menutup mulutnya.


"Ziya, aku harus fokus. Jangan n


mengganggu disini. Bersantailah di ruangan sekretaris Inti di sebelah. Biasanya kamu kesana kan?"


Maziya menggeleng-geleng, kenapa sikap Azkan berubah padanya. Ia meminta penjelasan tentang panggilannya, juga sikap Azkan yang tiba-tiba melunak.


"Nanti saja, ini adalah kantor bukan tempat membahas masalah pribadi!"


"Kak Azkan juga ngajak Kak Randy dan pacarnya buat diskusi disini kan?"


"Itu saat jam istirahat." terang Azkan mulai frustasi.


"Kalau gitu aku nanya sama sekretaris Barga saja. Sekretaris Barga Ayo ikut ke pantry!" Maziya berdiri dari kursinya.


Barga melihat kode yang diberikan Azkan. Ia lalu menggeleng sambil berpura-pura menerima panggilan penting.


"Kalo gitu aku keluar, tapi nanti Kak Azkan harus jelasin oke!"


"Entah mengapa aku selalu berkeringat dingin agar tidak ketahuan Nona Maziya dengan perubahan sikapmu Tuan."


Barga antara mengeluh dan juga menyampaikan perasaannya. Azkan tidak mau Maziya tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya,ada banyak hal yang harus ia selesaikan satu-persatu. Rencana dalam pikirannya juga sering terdistorsi dengan penyebab yang sepele seperti tergoda oleh Maziya atau ingin segera mendapatkan petunjuk cara menghadapi Maziya.


"Sabarlah Barga, aku akan memberikanmu Bonus untuk hari-hari tertekan kita ke depannya."


"Baik Tuan," dengan segera Barga menyahuti Azkan. Bonus selalu menjadi pilihan terbaik dalam keadaan sesulit apapun.


.......


Pak Leo yang sedang mengusap foto keluarganya yang kini sedang berada di luar Negeri segera merapikan diri usai sang sekretaris melaporkan kedatangan Maziya.


Maziya memasuki ruangan Wakil CEO tersebut.


"Anda Pak Leo ya?. Wakil CEO SERZIANO Grup ini"


"Iya buk, eh Nona....Eh sekretaris Maziya..." Panggilan Pak Leo benar di urutan ketiga.


Percakapan Maziya yang ingin lebih mengenal Pak Leo terhenti. Azkan tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu juga.


"Kak Azkan?. Maziya melirik Pak Leo sebentar sebelum akhirnya sadar posisi. "Eh maksudnya Pak Azkan?"


"Pak Leo, ada yang ingin saya sampaikan " Azkan menggaruk tengkuknya.


Barga mengikuti di belakang menyelamatkan situasi. "Ini pak, berkas penting yang harus anda diskusikan dengan Wakil CEO"


"Oh iya." Azkan memegang pundak Barga sebagai ucapan terimakasihnya.


"Kamu, sekretaris Maziya ngapain disini?" tanya Azkan dengan santai.


"Tidak ada Pak, hanya mengobrol dengan Pak Leo. Silahkan dilanjutkan Pak. Kalau begitu saya pamit undur diri." Maziya melewati mereka dan keluar ruangan lagi.


Maziya tidak bisa menahan senyumnya saat masuk ke ruangan Sekretaris Inti. Hal itu membuat jiwa kepo Renald meronta-ronta untuk bertanya.


"Kenapa nih, ada hal menyenangkan ya?"


"Mmm menyenangkan bisa jadi. Renald menurut kamu apakah CEO normal mengunjungi ruangan Wakil CEO?"


"terbalik kali, Wakil CEO mengunjungi Ruangan CEO, itu baru benar." jawab Renald.


"Ada berkas penting misalnya gitu?"


"bisa jadi sih.."


"Meskipun begitu, jarang sekali itu terjadi." ucap Lintang sekretaris berpengalaman disana.


"Okeee."


Maziya tampak melihat Komputernya dengan asal, ia bahkan mengetik sembarangan karena akhir-akhir ini Azkan memang tidak begitu memberatkannya lagi.


"Bisa berhenti nggak berisik!" Chelsea tiba-tiba saja membentak Maziya.


Keheningan pun terjadi...


Maziya sadar dengan posisinya, ia tak masalah karena memang ia sudah tahu bagaimana sifat masing-masing anggota sekretaris Inti.


Kepribadian Chelsea yang judes tak terbantahkan. Adiba yang sangat suka berhias, Edwin yang dewasa, Lintang yang senioritas juga Renald yang kepoan dan paling mudah bergaul.


"Maaf ya nggak sengaja." Maziya masih tersenyum menghargai kesenangan yang ia dapat.


"Jangan mentang-mentang kamu berkuasa bisa seenaknya Disini ya."


Chelsea menghempaskan buku catatannya di meja, membuat semua orang termasuk Maziya sendiri jadi terkejut. Chelsea bahkan berjalan dengan kesal keluar ruangan.


"Aku benar-benar kesal sama dia saat ini, boleh nggak?" Maziya meremas jemarinya.


"Tenang Maziya, Chelsea memang begitu, sepertinya lagi-lagi dia ada masalah dengan kekasihnya."


"Udahlah Renald." Adiba pergi menyusul Chelsea.


"Ia hanya tampak imut pada kekasihnya. Aslinya beuh jutek parah, menakutkan. Ibaratnya andai Chelsea bukan sekretaris ia cocok sebagai Tentara wanita." Renald bergidik ngeri.


Bersambung....