The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
66. Gadis Sailor Moon 2



Maziya duduk tenang di samping Azkan, satu tangannya digunakan untuk menopang dagu sembari memiringkan kepala memperhatikan wajah sibuk suaminya. Ruangan itu hanya diisi mereka berdua karena Barga ada di meja depan menggantikan Pitaloka.


“Apa kerjaan kamu sudah selesai?” Azkan memecah keheningan,


“Udah, kan Cuma asisten,”


Bukan itu alasan sebenarnya, Maziya jadi lebih sedikit kerjaan sejak perasaan Azkan yang ada padanya. Hal itu adalah salah satu hal yang harus dilakukan Azkan dalam membuktikan perasaannya. Bahwa kalau ia sudah sungguh-sungguh mencintai seseorang, apapun bisa ia lakukan.


“Kalau begitu, duduk saja di sofa,"


"Nanti dibilang nggak profesional lagi?"


" Barga juga sedang sibuk dia tidak akan protes dengan apa yang kamu lakukan.”


“Aku lebih suka duduk disini,”


“Kenapa?”


“Kak Azkan terlihat lebih tampan saat fokus dalam pekerjaan, terutama saat memakai kacamata .” Ujar Maziya tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


Azkan menahan agar sudut bibirnya yang salting tidak tertarik.“Bukannya daridulu kamu sering mengatakannya,”


“Aku ingetin terus, biar Kak Azkan nggak lupa pakai kacamata, biarpun Cuma kacamata radiasi pas kerja.”


“Ya terserah kamu, tahulah bagiamana bagusnya penglihatannku. Tidak masalah harus memakai banyak kacamata radiasi sekalipun.”


Maziya melihat Barga yang sangat serius dalam membalik-balik kertas juga mengetik di komputer dari jendela tembus pandang akibat tirainya tidak ditutup otomatis.


“Tapi, apa sekretaris Barga akan selamanya menggantikan Pitaloka?”


“Tidak, kali ini pun Dia sebenarnya sibuk mencari pengisi tempat Pitaloka.”


“Oooh," Maziya Manggut-manggut, "Dari sekretaris inti?” Matanya melebar.


“Iya, nanti saat acara akan diumumkan, kamu jangan sampai membocorkannya.”


“Tenang saja, aku sangat memperhatikan profesionalitas kerja, nggak akan bocor."


Maziya mulai bosan hingga kini ia sibuk dengan hal tidak berguna seperti berjalan kesana-kemari melihat keluar dari lantai tinggi tersebut. Atau bersandar santai di sofa sembari melihat ponselnya.


Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, Maziya kembali mendekati meja suaminya untuk berbisik, “Tapi kira-kira yang cocok siapa ya?”


“Ziya,,” Azkan menarik nafas panjang.


“Becanda,,heheh.”


....


Akhirnya setelah ditunggu-tunggu, Mark mulai menjalankan aksinya.


Dia meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Maziya. Ruangan yang mereka pakai adalah kantor Azkan, karena tidak ada ruangan lainnya yang lebih privat dari itu dan diizinkan Azkan.


“Akhirya kamu mulai beraksi nih, tapi terlalu lambat sih.”


dan saat yang tegang pun masih sempat-sempatnya Maziya memberikan komentar sembari menyeruput kopi di meja.


“Ini kesempatanmu Maziya, apa kalian benar-benar tidak takut hal ini tersebar?”


“Pengacara Mark, kamu tahu nggak kenapa dalam namamu ada title pengacaranya?”


“Apa ini jenis gombalan barumu?” Mark membenarkan kemejanya.


“Jawab saja!”


“Tidak.”


“Karena kamu ahli dalam hukum, sementara suamiku adalah ahlinya bisnis. Kamu tidak tahu apa-apa dengan Perusahaan ini melebihi pemiliknya, jadi jangan terlalu percaya diri.”


Mark tampaknya tidak memiliki kesempatan untuk mengancam Maziya. Apapun yang ia sampaikan selalu mendapat jawaban dan peralihan dari Maziya. Bahkan sampai Mark menyinggung gadis sailor moon di hadapan Maziya, yang ia dapatkan justru tawa renyah seperti mengejek dari Maziya.


Jadi, kata-kata yang diucapkan Maziya juga adalah kata-kata dari mulut Ririn yang sengaja ia tambah-tambah. Dengan cara itulah ia mulai membuat Ririn percaya bahwa ia bukanlah orang biasa dan wajib masuk ke circle mereka.


Dan lagi, kejadian yang menimpa seorang perempuan yang rumahnya hancur benar-benar murni karena emosi Maziya yang meledak saat itu. Ia kebetulan saja tahu siapa penanggung jawab kasus dari Ririn, sehingga terpaksa memberikan ganti rugi yang besar hanya agar ia tidak ikut dituntut merusak properti tanpa izin.


Bisa dibilang semua hal yang awalnya disangka Mark sebagai hal yang disebabkan oleh Maziya sehingga menarik perhatiannya ternyata tidak lepas dari peran Ririn. Parahnya lagi, ia baru mengetahuinya setelah mereka putus meski Ririn sudah ada di sisinya selama 2 tahun ini ia melewatkan kesempatan itu dan fokus pada Maziya saja.


“Kalau begitu, tunggu saja beritanya!” Mark berdiri mencoba tidak percaya.


“Kamu mungkin lupa ya, kalau peringatan suamiku berakhir disini?”


Mark berhenti berjalan dan berbalik menatap Maziya.


“Tapi tenang saja, suamiku berbaik hati demi Ibumu, jangan lupa hidupkan ponsel sebelum bertindak ya." Maziya mendongak, "Anggap saja ini bentuk penghargaan dan terima kasih dariku terhadap perasaanmu yang tidak berdasar sekaligus kesempatan yang bisa diberikan suamiku.” Maziya tersenyum.


Azkan langsung menemui istrinya dengan perasaan was-was. “Apa dia bertindak sembarangan?”


“Kak Azkan kan nonton di luar. Dan lagi Kak Azkan juga sengaja ninggalin perekam itu kan.”


Tunjuk Maziya dengan benda aneh di meja kerja Azkan, rupanya itu alasan Azkan hanya mengizinkan mereka bicara di ruangannya, agar ia bisa ikut mendengar percakapan mereka.


“Untuk jaga-jaga,”


“Nyalinya tidak sebasar itu Kak Azkan.”


.....


Berita tentang bipolar yang dihadapai Maziya ada dimana-mana. Yang lebih mengejutkan adalah Azkan yang dianggap sebagai suami panutan karena menerima kekurangan istrinya dan mencintainya sepenuh hati. Bagai menyelam minum air, Azkan meredam masalah ke depan sebelum dibocorkan oleh Mark ia duluan menyewa media-media besar, masalah dengan Mark serta mendapatkan banyak pujian.


Beberapa hari kemudian, Mark memutuskan untuk pindah ke korea selama dua tahun sesuai kesempatan yang diberikan untuknya. Bukan hanya untuk kesalahan karena menentang SERZIANO Grup, tetapi untuk kesempatan akibat memakai uang perusahaan untuk hal di luar hukum. Hanya hal tersebut yang bisa membantunya apabila tidak mau di penjara, kalau dipikirkan hal ini memang benar-benar kesempatan memperbaiki diri yang diberikan oleh Azkan untuknya.


Mark menemui Ririn sebelum pergi, “Maaf tidak tahu tentang peran kamu dalam pengadilan itu, aku bodoh bisa-bisanya tidak sadar padahal sudah sering terpesona dengan prinsip hukum kamu.”


“Memang itu dariku, tapi Maziya punya peran sendiri.”


“Tidak, itu sepenuhnya dari kamu, karena yang aku ingat adalah prinsip aneh yang menentang banyak pengacara biasa sepertiku. Tapi tidak ada gunanya, aku juga tetap saja tidak memperhatikan apapun kecuali uang.”


“Semoga pas balik kamu memperhatikan prinsip keadilan yang bukan hanya tentang uang tapi kebenaran.”


“Iya, dan juga kamu pasti bisa masuk ke VM, Aku akan minta Mama..”


“Nngak usah Mark, aku akan masuk ke firma hukum manapun dengan kemampuan ku sendiri.” Jawab Ririn.


“Pasti masuk, kamu pasti bisa.”


Di Bandara, Pengacara Mark diantar oleh Nyonya Virada serta adiknya Miko.


“Kembali menjadi pribadi yang baru, yang profesional seperti almarhum Papa!” Nyonya Virada menahan bulir air di sudut matanya.


“Aku janji akan memenuhi sikap Papa, aku akan kembali sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab Ma.”


Miko mendekat pada Abangnya. “Apa abis balik dari sana aku bakal panggil kamu hyung juga”


“Jangan bercanda, Hyung kita yang ada di korea mungkin kaget kalau kamu tiba-tiba ikut memanggilku hyung. kudengar kamu bekerja di Serziano Grup?”


Miko mengangguk.


“Kembalilah ke VM, Kamu cocok sebagai bagian audit, bahkan bisa mengtahui pengeluaranku yang disembunyikan dengan baik itu sempurna.”


“Aku akan memikirkan nya.” Ucap Miko.


“Jaga Mama selama aku pergi!”


“Tentu.”


BERSAMBUNG.......