
Hari ini adalah hari spesial dimana Rasti dan Randy akhirnya resmi menjadi suami istri. Sebagai pasangan yang sama-sama sibuk
Mereka memutuskan agar semua acara seperti resepsi juga diadakan dalam hari yang sama.
Selain alasan sibuk, Randy juga tidak punya banyak waktu luang. Ia meminta cuti termasuk untuk hari pernikahan dan Honeymoon. Maklumlah, bagi seorang Dokter yang sedang dalam fase mengejar gelar Spesialis, waktu dan pekerjaan serta pengabdiannya adalah segalanya.
Apalagi Rasti juga punya posisi penting di Perusahaan. Rasti juga Hanya punya sedikit waktu sekaligus menghargai betapa ketatnya waktu dari Randy untuk Rumah Sakit.
Di tengah banyaknya tamu, seorang wanita mencolok dengan pakaian mewah berada disana. Siapa lagi kalau bukan Maziya, dari ujung rambut sampai ke kaki tak ada tandingan.
Viola melihat setiap detail apa yang dikenakan sahabatnya itu dengan saksama. Entah berapa ratus bahkan Miliyaran total keseluruhan semua yang ada pada Tubuh Maziya.
"Kamu datang sebagai tamu apa seorang perancang busana yang lagi gaet pelanggan sih?" Viola berbisik sekaligus mengutarakan apa yang ada dalam benaknya melihat begitu Mewahnya penampilan sahabatnya itu meskipun ia juga sudah tahu bagaimana Tabiat Maziya.
"Ya tamu lah," Maziya dengan enteng tersenyum manis pada Viola.
"Kalau orang-orang nggak kenal kamu, bisa saja mereka mengira kamu adalah wanita yang ingin menonjol dalam hari sakral mantan pacarnya." Viola meminum air dari gelas kaca tinggi bewarna biru di meja.
"Siapa yang tidak kenal denganku, bahkan kerabatku dari luar negeri saja pulang karena wajahku sudah terekspos dengan benar." Maziya tidak peduli.
"Iya deh istrinya pewaris SERZIANO Grup." Bisik Viola.
Kebiasaan yang sudah terbentuk itu sulit diubah. dan itu benar, Maziya sudah terbiasa menjadi yang paling paling sejak kecil. Paling mewah, paling kaya, paling menonjol dan paling membuat iri. Hanya saja, sekarang ia lebih bisa mengontrol kapan kebiasannya itu dapat dilebih-lebihkan dan kapan harus memendamnya saja.
"Nggak usah diperjelas juga lah." Maziya mendorong lembut tangan sahabatnya.
"Tapi kamu nggak ikutan jadi itu?" tanya Viola melirik barisan Bridesmaids yang diisi Rita, Adiba juga Chelsea.
"Ngapain aku ikut?"
"Lah Suami kamu kan ikut?"
Azkan memang menjadi Groomsmen. Satu-satunya yang berada diluar Profesi kedokteran seperti Groomsmen lainnya.
"Kak Azkan kan temennya."
"Bukannya kalian udah mulai akrab?"
"Akrab sih, tapi bukan berarti aku harus ikut juga. Kan ada yang mau selain aku, walau yang bayarin mereka tetap suamiku" Bisik Maziya.
"Kamu bilang mereka siapa?"
"Rita?. Anaknya Bi Mirna, Viola.".
"Bukan yang lainnya."
"Sekretaris Inti, kalau aku ikut ya capek. Aku memang sudah nggak masalah dengan perasaan Kak Azkan dulu. Tapi ya tetap aja kan." terang Maziya
"Iih emang dasar Pendendam. Suami istri sama aja. Mungkin itu sebabnya kalian ditakdirkan untuk satu sama lain." gumam Viola mengingat betapa pendendam nya Azkan saat bermasalah dengan Website miliknya, bahkan ia sampai diblokir oleh Sistem selama Beberapa Minggu.
"Kamu bilang apa Viola?"
"Enggak kok, baguslah aku sih setuju aja sama pemikiran kamu."
"Iya lah," Maziya mengajak Viola untuk mengadu gelas mereka kemudian minum.
"Tapi nanti pas aku nikah, kamu harus jadi Bridesmaids aku ya!" pinta Viola.
"Pastilah..." jawab Maziya."Tapi calonnya?"
"Ya Miko lah." bisik Viola tertawa.
"Amiin deh" balas Maziya.
Mereka kembali mengadu gelas minuman dan minum dengan sukacita.
....
Randy memandang istrinya yang tampak cantik dan anggun dengan gaun pilihan mereka. Rambut tersanggul rapi, dandanan ala barat dengan versi sederhana melengkapi penampilan Rasti yang tampak elegan.
"Kamu cantik, sangat cantik hari ini"
Randy terkesima pada wanita yang sudah resmi menikah dengannya tersebut. satu-satunya wanita yang ia cintai sejak awal semoga juga terakhir.
Setelah mereka bercakap ria juga memperhatikan banyak tamu. Perhatian akhirnya sampai pada Maziya.
"dan yang mencolok itu?" tanya Randy.
"Siapa lagi yang akan melakukannya?" Rasti tersenyum pada suaminya.
"Aku tanya Azkan dulu kali,,"
"Kamu mau nanya apa?"
"Kenapa Istrinya terlihat seperti Tuan Rumah"
"Kamu tidak perlu bertanya!"
"Kenapa?"
"Tuh" tunjuk Rasti pada Azkan yang sedang berjalan menjauh dari para Groomsmen.
Azkan mendekati istrinya setelah menyelesaikan tugas sebagai Groomsmen. Meskipun belum sepenuhnya selesai juga ia tak tahan melihat ada yang melirik-lurik istrinya
"Sudah kubilang apa kamu yakin dengan pakaian ini Ziya?"
"Kan aku juga udah jawab yakin." Maziya tak peduli.
"Kamu adalah satu-satunya yang pakai semua ornamen dari merek berbeda dari atas sampai bawah tahu tidak." Viola sampai geleng-geleng kepala melihat tamu lain yang melirik Maziya dengan tatapan menyelidik sekaligus heran.
"Tahu kok, kan biar orang pada tahu aku ini siapa " Maziya menyentuh poni bayangannya.
"Iya, kamu istriku, satu-satunya " Azkan pasrah.
Viola kembali mendekat pada Maziya setelah pergi sebentar merapikan rambutnya. Ia masih merasa hormat pada Azkan meskipun ia tahu hubungan Azkan dan Maziya sudah lebih mesra.
"Tidak perlu tegang, Viola." ujar Azkan pada sahabat istrinya dengan senyuman.
"Iya Tuu," Viola tidak menyelesaikan kalimatnya karena Maziya menaik-turunkan alis memberikan kode. "Iya Kak," ulang Viola
"Kalo gitu aku pergi dulu ya." Tak lupa Azkan memberikan kecupan manis di bibir Istrinya.
"Ah kenapa ciumannya sebentar saja" Maziya merasakan bibirnya.
"Apa kalian akan ciuman panas disini?. Kalian bukan hanya menjadi pasangan yang menonjol tetapi Pasangan yang Gila" Ujar Viola.
"Memangnya kenapa?. Gila?. Aku cukup akrab dengan panggilan semacam itu" Maziya mengakuinya.
Setelah Azkan benar-benar sudah pergi jauh barulah Viola merasa lega, "Aku masih tidak percaya bahwa suami kamu adalah orang yang sama dengan Pewaris kaya raya yang pernah memaksaku meminta maaf pada Media dan menghancurkan..." Viola bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya lagi.
"Udahlah, kan kamu udah maafin dia juga." Maziya mencolek lengan Sahabatnya itu.
"Lebih kepada dia yang memaafkan aku kan ya."
"Bagus deh kamu sadar diri." Maziya tersenyum sumringah.
"Memang kalian ini suami istri ya." Viola geleng-geleng sendiri. "Sangat tidak berperasaan"
"Bercanda," Lagi-lagi Maziya mencolek lengan Sahabatnya.
"Iyaa" balas Viola gemas.
"Eh tapi Viola,, " Maziya menautkan alisnya melihat ke barisan Groomsmen dimana Azkan sudah kembali bergabung disana.
"Apaan?. Ada apa?" Viola terdengar panik.
"Bukankah menurut kamu, Kak Azkan adalah yang paling tampan disana?. Dia juga sangat menonjol dan akhhh"
"Menurut kamu saja kali."
Siapa yang tidak dapat menebak mana Azkan dan tidak. Terlihat menonjol?. tentu saja, dia adalah Azkan Serziano yang sejak remaja sudah wara Wiri di berbagai Media berita.
Bersambung.....