The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
39. Puas



Maziya terbangun dengan posisi sedang memeluk tubuh Azkan. OMG betapa bahagianya dia atas kejadian semalam.


Tidak Maziya, ingatlah jangan terlihat bahagia. Kamu hanya menginginkan uang, jangan kentara masih mengharapkan cinta lelaki ini.


Azkan ikut terbangun apakah semalam ia kerasukan. Ia benar-benar melakukan malam pertama dengan Maziya. Secara sadar dan rela hati.


Aku tidak boleh terlihat menikmati malam pertama kami. Dia hanyalah gadis yang terobsesi dengan kekayaan tak ada ketulusan sama sekali.


"Kak Azkan.." Maziya menutupi tubuhnya dengan selimut lalu berpura-pura syok.


"Jangan terlalu ekspresif. Aku tahu kau menginginkannya."


"Ah tidak juga, apa kak Azkan yang menginginkannya?. Bahkan aku sudah memohon untuk berhenti malah tidak diladeni. Justru aku terpaksa melayani mu. Kalau nolak kan Dosa ya." ujar Maziya.


"Melayani?. Kau membuatku menyesalinya. Gadis kotor dan menjijikan, lain kali jangan pernah mencoba menggodaku!"


Nah mulai lagi kan. Setelah bersenang-senang semalam. Kini balik menghina Maziya lagi.


"Aku tidak menggodamu, kamu saja yang tergoda. Aku tidak puas dengan kemampuanmu Kak Azkan. Apa itu pertama kalinya?"


"Apa yang pertama kali nya?'


"Pertama kalinya melakukan hal begituan."


"Aku sering melakukannya. Kau dibanding dengan mantan-mantanku, tidak ada apa-apanya."


Berani sekali berbohong. Kamu janji pada Mama dan Papa tidak kan merusak citra perusahaan dan juga ada yang mereka ajarkan. Kenapa berusaha menutupi faktanya.


"Oo begitu ya, ya sudah jangan lupa transfer ya." ucap Maziya.


"Aku bisa kirimkan 10 kali lipat. Anggaplah kompensasi meskipun aku yang merasa dirugikan."


"Hah dirugikan?. Jelas-jelas pihak wanita yang rugi tahu?" Maziya berubah marah dalam sekejap .


Azkan langsung pergi menuju kamar mandi. Maziya bangun dengan susah payah, susah payah menahan rasa sakit pada bagian sensitifnya.


Ia melihat tubuhnya secara keseluruhan. Tidak ada satupun yang terlewatkan dari tanda kepemilikan merah yang ditorehkan Azkan.


"Aku memang gila, aku yang kesakitan dan aku yang dirugikan. Berani sekali dia bersikap seolah tak menginginkannya."


.......


Mereka melewatkan sarapan dan memutuskan untuk langsung menuju mobil.


"Apa tidak ada baju yang lain?"


Azkan risih dengan pakaian Maziya yang sangat terbuka itu. Apalagi dengan banyaknya stempel merah akibat ulahnya.


"Kenapa?. Biar orang-orang tahu apa yang terjadi padaku. dan mereka bisa menilai mana yang lebih tersiksa akibat kejadian semalam."


"Ganti atau aku tak akan membayarmu."


"Silahkan, kalau Kak Azkan ngelanggar aku juga bisa. Kalau begitu aku akan sampaikan pada semua orang tentang kontrak kita."


"Kau..." Azkan berdiri.


"Apa?" tantang Maziya.


Lagi-lagi Barga hanya bisa jadi saksi atas perubahan sikap Tuan dan Nona nya itu. Semalam mesra, kini jadi musuh lagi. Sebentar perhatian, lalu akan saling menghina lagi. Sebentar bicara baik, lalu akan segera berubah jadi permainan kata yang menyerang mental masing-masing.


"Ganti sekarang, atau aku yang ganti!" Azkan merubah Tampilan intimidasi.


"Aku ganti, ingat untuk membayarku!"


"Cepat!!" teriak Azkan membuat Maziya segera mengganti pakaiannya.


.....


Di mobil..


Hanya kegenitan yang ada, membuat Barga merasa kurang nyaman. Biasanya Azkan dan Maziya berdebat, apa semalam mereka mulai sadar dengan perasaan masing-masing.


"Jangan pernah merasa bahwa kejadian semalam membuatku memandangmu secara berbeda. Kau tetaplah Gadis menjijikan di mataku." Azkan memecah keheningan dengan awal yang sarkas dan menyakitkan.


"Tidak perlu juga. Aku hanya mau kak Azkan bayar." Maziya tidak merasa tertekan sama sekali.


"Iya, hanya uang saja isi otakmu."


"dan hanya ada Rasti saja dikepalamu." balas Maziya.


"Jangan ungkit Rasti dengan permasalahan kita!"


"Suka-suka ku lah." Maziya tiba-tiba marah dan menggigit bahu Azkan.


Barga memberhentikan mobilnya, namun dengan isyarat tangan dari Azkan ia kembali melajukan mobilnya.


Setelah puas, Maziya duduk kembali sembari menenangkan diri. "Maaf Kak Azkan."


Maziya sayangnya sudah memasukkan botol Vit C ke dalam koper. Ia harus menahan diri untuk tidak meledak lebih jauh. Kalau Azkan tahu, bagaimana cara ia menghadapinya dengan berani lagi.


"Apa kau An**Ng?"


"Kok ngomong kasar?" tanya Maziya.


"Aku bertanya.."


"Jangan bicara denganku lagi, aku mau tidur."


Maziya menutup matanya dengan paksa. Rasanya ingin sekali ia menghancurkan sesuatu saat ini. Andai saja ada Nyonya Lidia, pasti ia akan dengan mudah melampiaskan kemarahannya.


"Maziya apa kau tidak memikirkan betapa kecewanya kedua orang tuamu yang telah tiada?. Apalagi ayahmu yang pastinya ingin putrinya hidup dengan normal seperti orang lain."


Gila kenapa menyinggung ayahnya saat sekarang ini. Azkan masih tidak tahu, kalau Menyinggung Ayah Maziya sangat menyakitkan baginya. Itu bukan hanya bisa memancing fase Manik atau Depresifnya.Tetapi bisa membuat traumanya muncul.


"Jangan singgung ayahku."


"Apa kau merasa malu?. Ayahmu mati karena kecelakaan dengan hutang yang membuatnya harus memikirkan bagaimana nasib istri dan Putrinya."


"Jangan singgung ayahku." Maziya marah dengan nada rendah.


Kini sepertinya Maziya bukan hanya masuk dalam fase Depresif nya, ia mengingat kembali kenangan buruk yang membuatnya Trauma. Saat ini, Ia ingin sekali melompat keluar kalau bisa ada mobil yang menabraknya dari belakang.


Azkan kebingungan dengan sikap Maziya. Sepertinya dahulu juga ia sempat mendapatkan ekspresi yang sama. Saat Maziya mendapatkan nilai rendah dan ia juga menyinggung soal Ayah Maziya.


Saat itu Maziya ngambek nggak mau keluar kamar setahunya hampir selama sebulan. Hingga Nyonya Lidia memperingati agar ia tak pernah menyinggung perihal Ayah kandung Maziya lagi.


Setibanya di Kediaman, Nyonya Lidia langsung menarik tangan Maziya ke kamar yang ditempatinya sebelum pindah ke kamar Azkan.


"Apa yang terjadi sayang?. Barga bilang kalian..."


Maziya hanya diam.


"Apa Azkan mengancam dan menyiksa kamu lagi?."


Maziya menggeleng "Enggak Ma."


Nyonya Lidia keluar kamar dan menemui Azkan. Apa yang terjadi hingga Maziya bersikap begitu.


"Apa mungkin kamu menyinggung ayahnya?" tanya Nyonya Lidia.


"Aku tidak senga..."


Plakkk


Tamparan keras mendarat di Pipi Azkan. "Apa kamu lupa bahwa kamu tidak boleh menyinggung hal itu?"


"Apa bagi Mama, hanya perasaan gadis itu saja yang penting?"


"Azkan kamu..".


"Dia yang memanfaatkan ku. Dia yang mulai dan Mama hanya selalu menyalahkan ku?"


"Azkan.." Tuan Alam marah karena sikap Azkan. pada sang istri. "Jangan berani menyalahkan Mama kamu!"


"Papa juga mulai berubah. Apa sekarang kalian akan menerima gadis Gila itu di rumah ini?. Kenapa tidak sekalian saja usir aku dan ganti anak jadi dia!"


Brukk... Tamparan keras yang cukup kuat melayang dari tangan Tuan Alam.


Suasana menjadi tegang, Azkan memutuskan langsung ke Perusahaan bersama Barga. Kopernya belum sempat dikeluarkan jadi ia bisa tidur di kamar Ruangan CEO.


"Aku tidak akan kembali sebelum Gadis itu berlutut meminta maaf padaku."


"Baik Tuan,aku akan mengatur Pakaian mu. Apa tak perlu ke Hotel saja Tuan?"


"Tidak, nanti apa kata Rekan bisnis dan kolega. Kalau disini anggap saja aku menyelesaikan proyek penting terkait Mr. Peter."


"Baik Tuan."


Apa yang istimewa dari kehadirannya, kecuali merusak semua kebahagiaan dan kesempurnaan keluargaku.


Barga hanya bisa mengikuti kemauan Azkan. Dia ingin sekali ikut bicara dan juga menyalahkan Azkan. Tapi apa daya, Azkan adalah orang paling keras kepala yang hanya mau menerima sesuatu yang sesuai pikiran dan logikanya.


Jika ada yang bilang orang sempurna itu membuat Iri. Kalian salah, orang sempurna punya banyak kekurangan yang tidak ia sadari. salah satunya tidak mau menyadari kesalahan sendiri dan berusaha memainkan logika untuk menjatuhkan orang lain.


Bersambung...