
Pitaloka memastikan Azkan tidak ada di Kantornya. dan membawa Maziya masuk ke kantor Sekretaris di sebelah Ruangan CEO.
"Ini kantor kamu kedepannya. Silahkan berkenalan dengan mereka karena mereka semua akan membantu semua urusan CEO dari berbagai Departemen" Wanita Hamil itu tersenyum.
Maziya membuat semua yang ada disana hampir berhenti bernafas. Bagaimana tidak, sekantor dengan istri CEO yang sudah sering atau bisa dibilang selalu mereka bicarakan diam-diam.
" Mohon bimbingannya!" Maziya menutup perkenalan dan membungkuk 90 derajat memberi hormat pada senior-seniornya.
Tepuk tangan canggung mengalir begitu saja mengikuti perkenalan mereka satu-persatu. Pitaloka pamit sembari mengedipkan mata pada suaminya Edwin.
Pitaloka menyentuh bahu Maziya, “Maziya, setelah mengenal semua anggota disini, kamu boleh bergabung di meja depan Kantor CEO ok!"
Maziya mengangguk kemudian mendengar masing-masing perkenalan para sekretaris lainnya. Sesuai kesepakatan, tidak ada yang menyinggung tentang CEO mereka. Apalagi mengenai kekejaman Azkan pada tiap karyawannya terutama yang terbukti jadi incaran petugas Audit.
Mereka memasukkan Maziya ke dalam dua buah grup WA. Grup Inti yang berisi CEO dan Grup tanpa ada CEO. Renald menjelaskan fungsi grup yang ada CEO adalah formal dan yang tidak ada CEO bisa bebas dan bicara yang tidak pening sekalipun.
“Tunggu, kenapa kamu memasukkannya ke grup yang satunya?.” Adiba mencubit punggung Renald sebagai Admin.
“Eh iya lupa.” Renald tergagap.
“Aku tidak akan membocorkan hal ini, jangan keluarin aku ya.” Pinta Maziya yang dijawab anggukan dari yang lainnya.
Maziya segera pamit menuju meja depan kantor menemui Pitaloka. yang lainnya tersenyum canggung mengiringi kepergian istri sang CEO.
Kemudian mereka mulai berbisik ria tidak percaya dan tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kedepannya bagi mereka. Sudah cukup repot menjadi bawahan CEO sekejam Azkan, haruskah diawasi oleh istrinya juga.
...
Pitaloka menjelaskan satu-persatu berbagai file di komputer, ia juga menjelaskan fungsi tablet khusus yang berisi jadwal CEO.
“Ditambah, kuncinya .x x x...” Sebuah folder rahasia yang berisi kebiasaan dan apa yang diinginkan dan tidak disukai sang CEO.
“Banyak banget isinya Mbak.” Maziya mengerjap tak percaya.
“kamu pasti tahu bahwa dia seorang perfeksionis karena kamu istrinya. Sebelumnya dia adalah Direktur departemen Keuangan, dan mungkin kamu tidak terlalu ingin dengar ceritanya”
“Iya, aku tahu.” Maziya manggut-manggut, tidak ada satupun yang terlewat dari Mama Lidia.
"Aku harap dia tidak sungguh-sungguh membuat kamu setara dengan Sekretaris lainnya. Bagaimana pun Kamu sangat minim pengalaman."
"Aku tahu dia bersungguh-sungguh."
"Begitu ya."
"Tenang saja Mbak, aku yakin dia bertujuan menjagaku juga."
"Ya pasti begitu." Pitaloka terkekeh pelan.
“Tapi bukannya Ada sekretaris Barga?. Kenapa aku harus juga?" Maziya memutar-mutar Tablet di tangannya.
“Barga punya tugasnya sendiri, semua sekretaris bertanggung jawab untuk CEO. Sementara kamu dan Barga harus selalu bersamanya. Ini hanya penjabaran tindakan yang harus kamu ingat.”
“Harus?” Maziya menaikkan alisnya.
“Tentu saja harus, agar kamu terhindar dari masalah. Apalagi setelah mendengar bahwa Pak Azkan tak ingin kamu diperlakukan berbeda meskipun kalian suami istri.”
Maziya manggut-manggut lagi, Pitaloka adalah satu-satunya sekretaris yang mampu bertahan hingga 5 tahun tanpa dicurigai petugas audit. Bahkan Mertuanya sendiri kagum dengan kemampuan Pitaloka meskipun masih muda saat menjabat sebagai CEO.
Bukan hanya para karyawan, para dewan direksi juga pasti segan kalau sudah ada Pitaloka. Banyak yang mengira bahwa Pitaloka adalah pasangan yang cocok untuk Azkan. Namun kenyataanya, Pitaloka adalah istri dari Edwin dan berstatus menikah sejak diterima sebagai sekretaris.
...
Ada hawa berbeda yang mulai dirasakan oleh Maziya, rupanya sesosok pria yang tampan juga tinggi tengah berada di hadapan mejanya bersama Pitaloka.
Azkan Serziano, CEO baru yang akan meneruskan SERZIANO GRUP. Perusahaan ternama dengan nilai saham yang memiliki grafik naik setiap tahunnya.
“Sudah pak barusan.”
“Iya Pak, 3 bulan lagi aku yang akan menggantikan Kak Pitaloka.” Maziya berujar senang.
Pitaloka menyenggol tubuh Maziya agar segera memberikan hormat.
“Saya Maziya Armantya, sekretaris baru yang akan menggantikan Sekretaris Pitaloka 3 bulan lagi pak.” Jawab Maziya lantang.
Mengabaikan Maziya, Azkan justru bertanya pada Pitaloka. “Minggu depan jadi kan?”
“Tentu saja pak, saya resign tiga bulan lagi juga. Minggu depan masih tanggung jawab saya.”
Maziya melirik Barga yang tidak tertarik dengan apa yang terjadi. Benar-benar taat, pikirnya.
Azkan berlalu menuju kantornya, sementara Pitaloka sigap mengekori. “Maziya, ayo!”
Maziya segera berdiri mengikuti mereka berdua.
Di dalam kantor yang sangat amat luas berada di lantai 50 tersebut Maziya terpaku dengan kerapian yang ada. Memang suami yang perfeksionis itu tidak mengecewakan ekspektasinya sama sekali.
Azkan menatap Maziya, apa begini sekretaris yang akan menggantikan Pitaloka ke depannya.
Umur yang masih muda pengalaman minim dan penampilan yang tidak meyakinkan. Azkan tahu kalau Maziya mungkin akan mohon-mohon agar diampuni mengingat betapa sibuknya posisi Pitaloka.
Kalau begitu, rencananya untuk membuat gadis itu tersiksa akan berjalan sempurna. Karena menurutnya, Maziya hanya akan lepas dari pantauan Nyonya Lidia apabila berada di Perusahaan dan bergantung hanya padanya.
Pitaloka memakai blus lengkap rok span selutut bewarna hitam dengan rambut dibiarkan lurus atau tersanggul rapi dan dandanan yang pas. Sementara Maziya, rambutnya selalu ia ikat sekenanya, liptint tipis menghiasi wajah naturalnya yang cantik. Oh ya jangan lupakan bajunya yang mirip dengan anak kos-kosan waktu mau beli mie ayam, kaos longgar dengan celana jeans.
“Apa kamu pikir ini lingkungan biasa?” Azkan melancarkan serangan pertama.
“Iya Pak?” Maziya terlihat kebingungan.
Bagus, kau akan tahu bahwa di Perusahaan ini kau harus tunduk padaku.
“Iya?” Azkan merubah garis wajahnya tak senang.
Padahal barusan Maziya bertanya, eh malah balik dia yang ditanya. Maziya melihat arahan Pitaloka yang geleng-geleng.
“Maksud saya tidak pak.”
“Lain kali berpakaian lah seperti Pitaloka, Aku tahu kamu baru saja lulus tapi sekretaris tidak berpenampilan seperti mahasiswa yang sedang studi tour, paham!” Nada bicara Azkan sudah mirip seperti Dosen ketika ia tidak memperhatikan.
“Tapi bukankah pakaian..” Maziya melihat Pitaloka yang menyuruhnya mengangguk sehingga ia mengangguk dan mengiyakan CEO nya. “Baik Pak.”
....
Barga menyopiri Tuan dan Nonanya yang baru saja menikah. Maziya sibuk mempelajari tablet khusus sementara Azkan sibuk membayangkan rencananya ke depan.
Pasangan yang aneh, pikir Barga sembari menekuni kemudi mobil.
Selama seharian, Maziya beradaptasi dan mengingat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan bahkan meskipun saat sudah berada di kamar. Menjadi sekretaris bagi Azkan, artinya Dia harus jadi yang pertama tahu meskipun hanya dengan lirikan mata. Ia harus yang paling tersedia saat CEO nya butuh sesuatu atau komplain tentang sesuatu, bahkan harus memahami apa yang sedang dibahas agar mampu meyakinkan klien dengan caranya sendiri.
“Kak Azkan, Kamu benar-benar berniat menyusahkan aku ya. Ini tugas Sekretaris apa peramal?”
“Kau tidak mau?” Azkan keluar dari kamar mandi. "Kalau begitu jangan harap..."
Maziya segera memotong ucapan suaminya “Enggak kok, aku pasti akan menghafal semua tugasku dan menyesuaikan diri secepatnya.”
“Ingatlah jangan bersikap di luar batas saat di Perusahaan, agar kau bisa menikmati uang bulanan dariku.”
“Iya-iya.” Jawab Maziya.
Bersambung....