
Sudah jauh berjalan. Miko masih asyik menyinggung tentang Maziya. Sementara Viola mencoba untuk menahan rasa pegal luar biasa dari kedua kakinya.
"Tapi Miko."
"Iya, Vio."
"Dari tadi kamu membicarakan tentang Maziya terus. Kamu masih belum bisa.."
"Iya Vio, kan masih dalam proses. Sedikit-sedikit mengingatnya tak apa kan."
"Oke deh, selama tidak berlebihan."
"Tidak akan, Vio. Kalau aku terdengar berlebihan, nasehati saja aku ya!"
Viola mengangguk, Mereka terus berjalan di sela-sela keramaian. Benar-benar melelahkan bagi Viola yang biasa naik turun antar jemput mobil dengan sopir pribadi keluarganya.
"Tapi Miko, apa kita mau jalan terus nih. Aku mau buru-buru pulang soalnya aku nggak bawa Ponsel. Dari semalam matiin, kayaknya masih mati sekarang."
"Biasanya aku memang jalan terus sampai depan."
"Lah depan kan jalan raya?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kamu nggak bawa mobil?"
"Aku nggak biasa bawa mobil sendiri."
"Oh disupiri?" Viola menyangka setidaknya Miko sama sepertinya, lebih suka ada sopir dibanding bawa mobil sendiri.
"Iya sih disupiri sama Taksi yang aku tumpangi. Kadang aku naik angkot,berarti disupiri sama sopir angkotnya ya." Miko menggaruk pelipisnya dengan senyuman yang tampak menyebalkan lagi bagi Viola.
Bisa-bisanya Miko mengajaknya jalan jauh hanya untuk sebuah taksi. Andai saja bilang dari tadi, dia akan langsung menelepon supirnya untuk datang menjemput mereka di dekat area Restoran.
Saat Miko mengajak naik Angkot, Viola langsung mengacungkan jari tengahnya.
"Kenapa lagi Vio?"
"Aku nggak mau naik angkot."
"Nunggu taksi disini lama."
"Siapa bilang aku mau naik taksi. Aku mau manggil sopir."
"Kamu mau manggil pakai apa?. Kan ponsel kamu ketinggalan."
Viola menyesali keputusannya yang tiba-tiba mengacungkan jari tengah barusan. Kenapa ia lupa kalau dia ingin buru-buru pulang buat cek ponsel.
"Miko, tadi aku cuma mau.." Viola menepuk tangannya dengan tangan yang satunya.
"Sudahlah, kita tunggu taksi saja."
"Bayarnya?"
"Aku yang bayar." Kali ini senyuman Miko balik lagi ke mode tampan mematikan bagi Viola.
Akhirnya mereka menaiki Taksi yang sama. Viola turun di Dekat gerbang Rumahnya. Sementara Miko terus menuju Firma Hukum Mamanya.
....
Ririn keluar dari firma hukum tanpa menyadari Miko yang sedang tersenyum ramah padanya.
"Kenapa dengan pacarnya Bang Mark Ma?"
"Nggak tahu, Emangnya pacarnya kesini?"Nyonya Virada tampak bingung.
"Oh jadi dia nggak nemuin Mama?"
"Mama pusing kalau menyinggung pacarnya Mark."
"Nggak usah pusing Ma, aku mau nemuin dia dulu ya Ma."
"Dia ada urusan, mungkin dia lupa ngasih tahu pacarnya kali."
"Ooh gitu ya Ma. Urusan apa Ma?"
"Kamu tanya saja sama Asistennya di ruangannya!"
Miko menemui asisten Mark. Rupanya Mark sedang pergi ke acara Di Taman xxx menjadi pendamping Pengusaha kaya Tuan Tora dari MOCY Grup.
Azkan menyuruh Maziya menggandeng mesra tangannya. Tak lupa juga berikan senyuman palsu pada orang-orang.
"Bagus sekali, kita bahkan harus berpura-pura begini, apa yang lain juga begitu?"
Maziya melihat ke sekeliling. Ada yang pakai serba serasi dengan pasangannya. Ada yang pakai-pakai Stiker di wajah.
"Jangan bicara sembarangan!. Kita kesini membuat koneksi bukan untuk menambah pesaing!" tegur Azkan.
"Iya Kak Azkan." Maziya tersenyum.
Saat ini acara dansa sedang dilakukan. Di tengah Taman xxx dengan cuaca yang cerah juga sedikit panas.
"Ikuti kakiku, jangan terburu-buru!" Azkan berusaha menyelaraskan irama dansa mereka.
"Kak Azkan tahu kan aku nggak bisa Dansa. Ini panas banget tahu Kak Azkan."
"Awww." Azkan meringis karena high heels Maziya nyantol di Sepatu hitamnya.
Maziya sengaja menyadarinya agak lama. "Maaf Kak Azkan, aku kan emang nggak ahli."
"Lain kali jangan pakai High heels setinggi itu!"
"Hanya 5 cm kok."
"Pakai saja yang datar, Pakai High heels 20 cm pun kau tak akan terlihat tinggi." bisik Azkan.
"20?. Kalau begitu aku akan lebih tinggi dari Kak Azkan." Maziya masih sempat tertawa.
"Jangan tertawa, aku bisa saja balas menginjak sepatumu. Kau mungkin akan berhenti berjalan selama beberapa hari."
"Coba saja!" Maziya terus tersenyum.
Mr. Peter menghentikan kegiatan Dansa dan kini mulai memberikan pidato yang menurut Maziya tidak penting sama sekali. Kok ada ya pebisnis terkenal dengan gaya seperti Mr. Peter. Kelihatannya juga dia tidak begitu muda lagi.
Semua orang mulai menunggu waktu dimana mereka ditemui oleh bawahan Mr. Peter untuk bicara. Kini tibalah giliran Azkan.
"Ingat jangan berbuat sesuatu yang buruk!"
"Iya-iya." Maziya terus menampakkan giginya.
Semua berkas yang dibawa para Pebisnis sudah ditampung sebelumnya. Seperti yang dikatakan, Mr. Peter suka dengan yang menghargai keluarga mereka.
Secara keseluruhan yang ditanyakan oleh Mr. Peter adalah keunggulan Maziya serta kekurangannya. Azkan tidak banyak membicarakan keunggulan Maziya selain wajahnya yang cantik juga otaknya yang cukup bisa diandalkan sebagai asistennya. Azkan bilang, dengan menjadikan Maziya sebagai Asisten, maka waktu mereka di Perusahaan akan semakin banyak.
Huekk. Rasanya benar-benar akan muntah. Maziya tidak sanggup mendengar alasan bohong yang dikarang oleh suaminya itu.
"Bagaimana dengan kekurangannya?"
Pertanyaan Mr. Peter cukup membingungkan. Perihal kekurangan, tentu sampai tahun depan juga nggak akan kelar kalau dijelaskan dengan Detail oleh Azkan.
"Istriku ini masih muda dan sedikit pengalaman. Jiwanya pasti banyak bertentangan dengan diriku, tetapi apapun itu aku akan terus berusaha membimbingnya sebagai kepala keluarga." Azkan mengelus lembut kepala Maziya.
Setelah itu Mr Peter berbicara dengan pengusaha lainnya.
"Apa harus sampai berbohong Kak Azkan?"
"Aku tidak berbohong, aku memang akan membimbing mu."
"Lebih tepatnya menundukkan dengan Uang Bulanan." gumam Maziya pelan.
Barga mendekat dan berbisik. Rupanya di sisi lainnya ada Tuan Tora.
"Apa dia juga mengincar Mr. Peter?"
"Sepertinya untuk Bisnis Internasional mereka Tuan."
"Aku tidak menyangka ambisi Tuan Tora masih belum padam."
Maziya ikut nimbrung. "Papanya Kak Rasti kan?"
"Jangan ikut campur!" tegas Azkan.
"Hanya memastikan begitu pun disebut Ikut campur?"
Maziya mengambil minuman di meja. Baru seteguk saja, Azkan menghabiskan semua yang tersisa.
"Kak Azkan kan bisa ambil sendiri!"
"Biar Harmonis."
Hingga malam hari, ini adalah yang ketiga kalinya Maziya mengganti pakaiannya. Dandanan orang lain tampak lebih nyentrik dan sangat murahan baginya.
Pengumuman hasil malam hari itu juga. Karena Mr. Peter harus segera ke Swiss beberapa hari kemudian. Menurutnya, dengan melihat sekilas, ia tahu siapa yang berpura-pura Harmonis dan yang tidak.
"Udah pasti kita nggak akan kepilih nih." tebak Maziya.
Rupanya ada sekitar 10 Pebisnis yang disetujui Kerjasama dengan Mr. Peter. Dari Hotel SERZIANO, yakni Azkan. Makanan dari MOCY Grup, Tuan Tora. Serta 8 Perusahaan besar lainnya.
Bersambung....