
Tetapi, kenapa Azkan kecewa?. Dia kecewa mendengar Maziya bersiap untuk tidak hamil sejak awal dengan meminum Pil KB.
Dia tahu yang rugi adalah Maziya, kalau susah punya anak juga Maziya yang menanggungnya, apa kaitannya dengannya. Mungkinkah ia mengkhawatirkan Maziya layaknya seorang Kakak seperti dahulu.
"Bodoh." gumam Azkan.
"Apanya yang bodoh Kak Azkan?"
"Kau yang bodoh."
"Aku?"
"Mungkin kau akan meraung-raung saat menyesali perbuatanmu itu."
"Kenapa mesti meraung-raung coba?"
"Saat kau menikahi Pria lain, lalu ternyata tidak bisa punya anak."
"Kenapa aku harus menikahi Pria lain?. Aku hanya akan menikahi Pria yang kucinta. Lelaki yang kuinginkan."
"Lelaki Beruang maksudmu."
"Manusia Kak Azkan. Kok Beruang sih?"
"Memiliki Kekayaan ya Kan?"
"Ya, dan semuanya ada pada Kak Azkan."
"Gadis Gila."
"Tunggu, jangan bilang Kak Azkan tiba-tiba manggil aku Ziya, seperti panggilan dulu lagi karena ngira aku hamil?"
Plakk, Sentilan keras melayang di kening Maziya.
"Kak Azkan," teriaknya menahan sakit mengusap keningnya sendiri.
"Beraninya kau mengabaikan dampak perbuatanmu itu"
"Beraninya Kak Azkan nggak pakai pengaman saat berhubungan?. Apa kak Azkan nggak belajar dari mantan pacar Kak Azkan yang jumlahnya ratusan?."
Azkan terdiam.
"Jangan-jangan itu pertama kalinya ya. Bener kan, emang pertama kalinya kan Kak Azkan?"ejek Maziya dengan berani.
"Tidur Gadis tengil!" Azkan mendorong pelan tubuh Maziya hingga gadis itu terbaring.
"Kak Azkan aku bukan gadis lagi. Kan udah nggak perawan."
"Tidurr!"
"Lain kali pakai Kondo* ya!. Mau aku beliin nggak?"
"Sekali lagi kau bicara, aku sumpal mulutmu dengan bantal"
"Siapa tahu Kak Azkan mau kita wik wik..."
Azkan menarik nafasnya berat hingga terdengar oleh Maziya. Membuat Maziya segera berhenti dan mulai menutup mata.
.......
Mark tidak dapat menemukan informasi lainnya dari Maziya.
"Apa hanya segini, kemampuan kalian?"
Ia menepuk papan kaca Dimana ada beberapa foto Maziya. Itupun hanya foto normal seperti kegiatan biasa di Kampus dan sekitarnya bersama Viola dan anggota Circle nya.
Salah satu dari mereka bicara. "Kami hanya asisten mu Pengacara Mark. Kami bukan detektif swasta."
"Ini latihan biar kalian terbiasa. Kasus semacam ini saja kalian tidak becus, bagaimana saat jadi pembela?"
"Kami hanya menyelidiki yang terlibat dalam kasus. Kenapa kami juga harus menyelidiki rakyat sipil, Pengacara Mark?"
"Terus cari informasi apapun mengenainya. Atau kalian akan Kupecat."
Para asisten tersebut tidak bisa membantah. Entah mengapa, Sikap Mark tidak lebih baik dari Ibunya Nyonya Virada. Sembarangan menyelidiki seseorang. Sembarangan menggunakan anggaran Perusahaan padahal hanya untuk urusan Pribadi yang tidak terkait dengan Pekerjaan.
.....
Ririn menaikkan pakaiannya yang sudah setengah terbuka. Sepertinya malam ini mereka tidak akan melakukan aktivitas ranjang seperti biasanya.
Ririn sudah terbiasa dengan hubungan pacaran semacam itu. Maklum sejak kecil ia dilahirkan oleh Ayah tukang selingkuh dan Ibu yang juga menyukai Pria muda.
Kadang ia bingung, mengapa ada keluarga yang terus bertahan demi nama baik. Padahal aslinya sudah tidak saling menginginkan lagi.
Begitupula saat bersama Mark. Meskipun hubungan mereka singkat, ia tak akan menyiakan kesempatan untuk memanfaatkannya.
"Apa yang terjadi?. jarang sekali aku melakukan hal ini pada mantan pacarku. Mereka harus Mohon-mohon sebelum kuladeni."
"Maksudmu, aku yang pertama dapat perhatianmu secara sukarela?" Mark mengelus dagu Ririn.
Ririn duduk di dekat Mark. "Tentu, artinya kamu spesial bagiku."
Mark tersenyum, "Karena aku spesial, nanti kutransfer lebih banyak."
Ririn tersenyum, kali ini ia menurunkan bagian Dadanya lagi. Memperlihatkan belahan Dada juga setengah dari Payu**ranya.
Lagi-lagi Ririn harus kembali menaikkan bajunya. "Aku mau rehat dulu disini. Selagi kamu tidak pulang ke rumahmu."
"Aku tidak ingin tinggal disini. Sejak pindah ke Firma Hukum VM. Aku lebih suka tinggal bersama Mama."
"Apa lagi yang kamu khawatirkan. Aku sudah menceritakan segala hal yang ku ketahui tentang Maziya kan. Dia adalah Si gadis gila tempramen yang menarik perhatianmu itu." keluh Ririn.
Ririn kini berdiri, perlahan ia berjalan mematikan lilin yang berjejer rapi di kamar Apartemen milik Mark tersebut. Apartemen itu ditinggalinya saat memutuskan hubungan dengan Nyonya Virada kala masih ingin melakukan Pernikahan Bisnis.
"Informasi darimu, tidak cukup banyak. Bagaimana aku tahu apakah itu benar atau hanya sekedar unek-unek darimu saja."
"Itu benar, sejak kapan aku berbohong sama Kamu Mark." Ririn duduk di pangkuan kekasihnya.
"Baiklah anggap saja aku percaya. Lain kali ceritakan juga sisi baiknya, agar aku tidak menyangka bahwa kamu hanya menyudutkannya. Ingat, kita tidak sedang simulasi sidang. Dia bukan lawanmu sehingga kamu harus berusaha mati-matian agar ia bersalah."
Ririn membuang nafas, "Mark, percayalah. Dia benar-benar Gila. Kamu nggak akan bisa merebutnya kalau itu yang kamu inginkan."
"Kenapa?. Wanita gila adalah Tipeku. Aku juga tidak akan merebutnya, Aku bersedia menantinya ke pelukanku."
"Dia Gila Mark, sangat tempramen, apalagi dengan Sikap arogannya."
" Kamu juga sedikit gila Sebenarnya, aku suka, makanya aku mau kita berkencan."
"Terserah Mark, yang jelas Dia sudah punya suami. Jangan pertaruhkan Firma Hukum Mama kamu dengan menantang SERZIANO Grup!".
Mark meremas kuat dagu Ririn. "Apa menurutmu, aku berusaha merampasnya?"
Ririn mengangguk dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Mark. Kini ia berpindah dari pangkuan Mark ke sofa.
"Dengarkan aku sekali lagi Ririn. Aku tidak akan merebutnya. Aku akan membuatnya beralih ke sisiku dengan sukarela, sama sepertimu."
"Apa untungnya Mark. Coba jelaskan apa yang menarik darinya dibandingkan aku?. Dalam standar kecantikan Korea, aku lebih cocok dibanding dia."
Mark terkekeh pelan, "Dia memang tidak memiliki Tubuh Body Goals sepertimu. Pinggang tidak begitu ramping, kulit juga tidak seputih dirimu, juga tidak tinggi. Dari segi penampilan, dia biasa saja dalam standar kecantikan Korea. Hanya wajah yang sedikit cantik, itupun kecantikan biasa tidak yang benar-benar cantik "
"Nah itu kamu bisa tahu Mark. Kecantikan wajahnya hanyalah kecantikan Biasa, tidak ada spesialnya."
"Ada satu hal, yang dimilikinya. Percaya diri dan juga kecintaannya pada uang."
"Apa itu menarik?. Aku juga .."
Mark menghentikan ucapan Ririn, "Dia berbeda, dan saat bersamanya aku merasa bergejolak dan tertantang. Pikiranku sama dengannya."
"Aku juga bisa Mark."
"Kamu tidak, Ririn."
"Kenapa?"
"Apa yang akan kamu lakukan saat ada wanita yang mengalami pelecehan?"
"Pelecehan?. Bukankah hanya tinggal minta bayaran sepuasnya."
"Bukan pelecehan sukarela. Kamu tahu banyak orang yang belum Liberal dan berpikiran bebas sepertimu."
"Maksudmu pandanganku sebagai petugas hukum?. Tentu saja aku akan membantunya."
"Bagaimana jika dia tidak mampu membayar mu?"
"Apa dia miskin?"
"Bisa dibilang begitu, rumahnya setara dengan gubuk yang mudah roboh hanya dengan dorongan seorang Gadis muda yang lemah."
"Kalau begitu pasti dia miskin sekali. Aku akan membantunya untuk mendapatkan pembela Umum."
"Kalau misalnya para pembela Umum itu dapat ditaklukkan oleh Pria yang melecehkannya."
"Kalau begitu .." Ririn terdiam memikirkan solusi yang bisa ia ambil.
"Jangan posisikan dirimu sebagai petugas hukum. Bagaimana jika kamu adalah orang awam yang kebetulan tahu hal ini. Bagaimana caramu membantunya."
"Aku bisa menyewakan pengacara untuknya?" Ririn menjawab seolah sedang main kuis tebak-tebakan.
Mark tersenyum, Ia memasang kacamatanya lagi.
"Ayo aku antar kamu ke Asrama."
Ririn ikut berdiri, "Bagaimana dengan yang kukatakan Mark?. Apa tindakanku benar?"
"Tentu saja,"
"Terus kenapa sepertinya kamu tidak senang?"
"Aku senang, hanya saja itu kurang memuaskan. Kamu hanya terdengar seperti tokoh Protagonis tambahan. Gadis baik benar-benar membosankan."
"Apa yang salah Mark. Kan hanya tindakan yang akan kulakukan. Di kenyataan aku akan melakukan sesuatu yang sesuai dengan yang kamu sukai."
Itu kenyataannya Ririn. dan kamu sudah melewatkan kesempatan untuk membuatku tertarik sama seperti Maziya.
"Sudahlah, aku antar kamu sekarang."
Bersambung....
.......