
Seperti biasa, Nyonya Lidia mengikuti pertemuan dengan kelompok Sosialitanya. Ia juga penasaran bagaimana reaksi Nyonya Virada saat berhadapan dengannya usai kasus yang melibatkan Pengacara Mark.
Benar saja, Nyonya Virada lebih sedikit mengarahkan pendapatnya pada Nyonya Lidia. bahkan ia tidak segan-segan menawarkan Nyonya Lidia lebih dahulu untuk mengangkat minuman meskipun Biasanya selalu dirinya yang memimpin.
Pemandangan langka tersebut tidak bisa menghentikan omongan dari para anggota yang terkenal Kritis. Apalagi berita desas-desus tentang Krisis Internal Firma Hukum VM sudah jadi rahasia umum belakangan ini.
'Ada apa hari ini?. Apa mereka gencatan senjata?'
'Apa mereka diam-diam taruhan ?. Mungkin Nyonya Lidia menang.'
'Nyonya Virada biasanya selalu memandang aneh Nyonya Lidia kan?'
'Lihat saja gadis yang bersama Nyonya Lidia, diakan sahabatnya Maziya si penerus Ego Nyonya Lidia?'
'Gadis itu kan Putri Tunggal dari Niti Contruction? Ada hubungan apa dengan Nyonya Virada?'
'Apa Nyonya Virada menyinggung Nyonya Lidia. Dari awal juga kelihatan mana yang lebih berkuasa.'
"Semuanya diam!. Ketua kita sedang bicara!" Nyonya Lidia tidak segan-segan menghentikan pembicaraan miring dari para anggota lainnya.
Namun Nyonya Lidia tidak ada niatan untuk membuat suasana semakin rumit diantara mereka. Terlebih lagi Azkan secara khusus memintanya untuk tidak mengaitkan masalah Mark dengan Nyonya Virada. Maziya juga meminta agar Ia tidak menyinggung tentang permohonan dari Nyonya Virada lagi. Demi putra juga menantu kesayangannya, ia menurunkan Sedikit Egonya.
Di antara kerumunan para anggota Sosialita. Nyonya Lidia cukup heran dengan kehadiran gadis muda di sekitar Nyonya Virada. Dia adalah Viola, yang sejak dulu bahkan tidak mau ikut kalo tidak dipaksa Maminya, itupun hanya beberapa kali kalau acaranya cukup lama.
"Bukannya kamu jarang mau ikut Viola?" Tanya Nyonya Lidia.
"Mmm mau ikut aja Ma. Ngikut jejak Maziya." Viola mesem-mesem sendiri.
"Ngikut jejak Maziya?" Nyonya Lidia berpikir sejenak. "Kamu mau berfoya-foya?. Dengan siapa?. Apa Mami kamu mengizinkan?"
"Ya enggak foya-foya juga Ma. Maksudnya ngikutin Maziya dari segi Bookingan Calon mantu." Viola lagi-lagi mesem-mesem sendiri.
"Siapa?"
"Masa Tante nggak sadar sih."
"Nyonya Virada?"
"Mmm iya Tan, hehe" Viola menggangguk.
"Kamu yakin?. Apalagi setelah..." Nyonya Lidia tidak melanjutkan ucapannya karena ia tahu tak semua anggota Sosialita tahu identitas Putra Nyonya Virada.
"Aku yakin ko Tan, lagipula kan yang aku mau adiknya."
"Adiknya?.Oo yang Cum..."
"Tante Stop.." Viola mewanti-wanti agar tidak ada yang mendengarnya.
"yang nilainya Cumlaude itu ya, yang diomongin Maziya?" Bisik Nyonya Lidia.
"Iya Tante, namanya Miko" balas Viola sembari ikut berbisik.
"Loh rasanya nama itu nggak asing deh." Nyonya Lidia mencoba mengingat-ingat. "Aaa bukannya dia dulu.."
"Tann teee..." Viola hampir saja menutup mulut Nyonya Lidia agar tidak keceplosan.
"Iya, yang kacamata itu kan, yang naksir Ziya."
"Nggak lagi Tan, dia udah komitmen buat kami."
"Kalian udah jadian?"
"Dia mau kita kencan dulu, aku lebih mengenal bagaimana dia, dan dia pun juga begitu. Termasuk dengan keluarga kami Tan..."
"Oo makanya kamu jadi mau ikut kesini?"
"Iya Tan.."
"Biasanya Mami kamu datang sendirian. Mami kamu nggak hadir?"
"Enggak, Aku sekalian bawain infonya buat Mami nanti deh Tan."
"Oo Yaudah, semangat deh. Kata Maziya kamu kalo udah yakin mah gak bisa diganggu ya."
"Hehe Tante masih ingat aja. Itukan ajaran Maziya juga."
"Tapi kamu beneran nggak pa pa. Setelah apa yang terjadi?"
"Mereka berdua berbeda Tan, Kan yang mau aku Tan. Aku tahu resikonya dan aku punya pemikiran sendiri."
"Bagus deh, Kamu pasti tahu baik buruknya. Apalagi dengan tipe Cowok agak lamban begitu." Nyonya Lidia bicara hati-hati dan super pelan.
"Iya Tante, lamban tapi pasti. Aku menyukainya."
"Emang udah jatuh sih kamu."
"Jatuh apa Tan?"
"Jatuh cinta lah, apa lagi?. Tapi kamu cocok sih, kamu kan tipe yang cukup Sabaran juga. Kalo Maziya kan nggak sabaran kaya kamu Viola."
.....
Sementara itu Para Sekretaris Inti, Sekretaris Barga, Azkan dan Maziya sudah berada dalam perjalanan. Azkan menggunakan Kapal pesiar sebagai Transportasi mereka setelah sebelumnya pergi menggunakan beberapa Limosin mewah ke dekat Pelabuhan.
"Aku belum pernah melakukan acara Perusahaan sampai menaiki Kapal Pesiar seperti ini." Ujar Lintang masih merasa takjub sekaligus bangga.
"Dulu apa tidak pernah?" tanya Renald.
"Bukannya sudah dibilang belum !." Adiba rasanya ingin sekali memukul kepala Renald.
"Untung kita punya Adiba yang bisa mengatasi Renald." Lintang mengusap dadanya.
Maziya merasakan terpaan angin di wajahnya. Ia mendekati para Sekretaris Inti yang sedang duduk di luar.
"Adiba, apa biasanya kalian pergi dengan Kapal. Apa selalu seperti ini?"
"Aku juga baru pertama kali Maziya, kita semua dulunya adalah Sekretaris di Banyak Departemen. Kan yang lama cuma Bang Lintang sama Edwin."
"Aku sudah pernah sekali waktu masih bersama Pak Alam." Ujar Edwin.
"Pakai Kapal?" tanya Lintang penasaran.
"Tidak, Tapi mungkin karena tujuannya tidak sejauh sekarang." Ujar Edwin.
Maziya mengingat kembali bahwa Papa Mertuanya menjadi CEO sebelum menikahi Nyonya Lidia. Bisa saja saat itu masih seperti Azkan yang sangat perhitungan dengan pengeluaran Perusahaan. Ia tahu kalau Tuan Alam mulai royal setelah menikah dengan Nyonya Lidia.
Apa saat ini Kak Azkan juga Royal karena ada aku?
"Jadi intinya kita semua tidak pernah, termasuk Bang Lintang." Chelsea menjelaskan pasti agar tak terdengar bertele-tele dan Maziya tidak perlu repot menanyai semua orang.
"Oo begitu ya." Maziya menganggap kemudian sadar, "Loh Bang Lintang juga belum?"
"Belum Maziya, Aku bahkan merasa cukup Tua untuk bersemangat sekarang." Jawab Lintang.
"Ah Bang Lintang nggak tua-tua amat. Cuma agak tua dikit dari kita semua." Renald menggoda senior tertua itu.
"Awas kamu ya, nanti kalo mode kerja." Ancam Lintang pada anggota yang sering bikin sakit kepala dengan Kepo nya yang tingkat tinggi itu.
Azkan dan Barga melihat dari bagian dalam Kapal Pesiar. Melihat interaksi Maziya dengan para Sekretaris Inti yang tertawa dan bercanda bersama.
"Tuan apa anda tidak ikut bergabung?"
"Aku tidak mau merusak suasana. Mereka sudah pasti tegang kalau aku ikut. Nanti saja kalo sudah sampai di Vila."
"Tapi Tuan, aku penasaran dengan sesuatu."
"Apa?"
"Tidakkah acara ini sedikit berlebihan?"
"Berlebihan darimana?"
"Ini sebenarnya hanya perlu ke suatu Tempat Rekreasi. Namun Anda bukan saja memesan Vila, anda benar-benar menyewa seluruh Pulau?."
"Maksudmu?"
"Anda sangat tidak suka membuang-buang uang untuk hal yang bisa disederhanakan. Dan..."
"Barga, aku ingin membuat istriku merasa nyaman. Ini pertama kalinya baginya. Aku harus membuatnya berkesan."
"OOO ternyata untuk Nona. " Barga tersenyum.
"Kenapa?. Kan sudah kubilang aku mencintainya."
"Sekarang aku tahu Tuan. Mengapa Nona Maziya mengataimu dulu. Karena melakukan banyak hal konyol untuk Rasti."
"Jangan singgung Rasti. Kamu mau kupotong Gaji?"
"Tidak Tuan, maksudku adalah. Alangkah baiknya anda memperlakukan Nona Maziya lebih. Lebih dari apa yang sudah Anda lakukan untuk Rasti dahulu!"
"Sekarang kan aku sudah coba lakukan lebih."
"Maksudku lebih sering lagi Tuan."
"Tenang saja, aku punya uang. Bahkan kalau Istriku mau menyewa satu Negara akan usahakan."
"Benar-benar Bucin." Gumam Barga.
"Kamu bilang apa?"
"Tidak Tuan, anda luar biasa. Aku yakin Nona Maziya tidak akan pernah kecewa."
"Tentu saja, kan sudah kubilang. Kalau aku sudah mencintai seseorang. Aku akan melakukan semua hal untuknya."
Bersambung.....