
Maziya pergi bersama Azkan dalam rangka menemani Randy dan Rasti.
"Awas saja Kalau Kak Azkan ikutan muji Kak Rasti nanti!" Maziya memperingati sejak awal.
Azkan mengangguk, "Aku hanya akan mengomentari pilihan Randy. Bagian Rasti kan tugas kamu Ziya!"
"Iya sih," Maziya tetap waspada, "Pokoknya awas saja."
Azkan menggenggam tangan istrinya, "Gimana kalau dia nanya?"
"Ngapain dia nanya Kak Azkan?" Maziya melepaskan genggaman tersebut yang membuat Azkan cukup kecewa.
"Kalau misalkan saja Ziya." tanya Azkan ragu-ragu. "Siapa tahu kan, karena aku ada disana kebetulan."
Maziya melipat kedua tangannya di dada, "Ya Kak Azkan jawab aja nggak tahu!"
"Oke." Azkan setuju dengan patuh.
Barga hanya tersenyum melihat tingkah Azkan yang jadi penurut. Tuan Azkan yang tidak pernah bisa ditaklukkan oleh siapapun langsung bilang oke tanpa perlawanan pada Istrinya.
" Kak Azkan."
Maziya mengangkat jari telunjuknya di depan kening Azkan membuat suaminya itu was-was kembali. Maziya terpikirkan satu hal yang cukup penting, yang harus sejak saat ini ia peringatkan pada Suaminya itu.
"Apa?" Azkan menunggu dengan antusias.
Maziya menyentuh wajah suaminya dengan kedua tangan. Perlahan mendekatkan wajahnya pada Azkan.
Azkan mengira bahwa Maziya akan menciumnya. Ia pasrah dengan gaya Coolnya.
"Berhenti menyinggung kata kiasan antara aku dan Viola lagi!".
"Yaahhh, kirain." keluh Azkan yang terdengar seperti bergumam
"Kak Azkan masih mau nyinggung hal itu?"
"Enggak Kok, kan aku sudah dapat jawabannya."
"Kak Azkan udah paham?". Maziya merasa lega, sebuah senyuman tipis mulai tertoreh di wajahnya.
"Iya udah dijelasin sama Mama."
Maziya membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga, memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Kak Azkan nggak bakal nanya Mama untuk hal sepele begitu kan?"
"Kenapa memangnya ?"
Azkan tidak merasa itu salah karena baginya hal sensitif seperti selingkuh tentu berhak ia diskusikan dengan matang. Apalagi Nyonya Lidia pasti akan jadi orang pertama yang membenci perselingkuhan dari Putra dan menantu kesayangan pilihannya.
"Bukan hanya itu Nona, Tuan Azkan bahkan menghubungi Dr. Faruq." Barga tidak sengaja kelepasan.
"Barga..." Suara Azkan terdengar berat.
"Kak Azkan nanya sama Dr. Faruq?"
"Biar memastikan Ziya."
"Apa Kak Azkan nggak bisa mendengar penjelasan aku saja. Apa masih harus tanya sana sini?"
"Namanya juga kata sensitif."
"Kak Azkan benar-benar ya." Maziya berusaha menjaga rautnya untuk tidak emosi.
Saat calon suami istri itu memilih Setelan mereka. Azkan dan Maziya sibuk juga saling menahan diri. Azkan menahan diri untuk tidak memprovokasi Maziya lebih jauh, sementara Maziya sibuk untuk menahan Gejolak perasaan nya yang menggebu-gebu karena Kesal.
Saat Rasti tanpa sengaja ikut menayangkan pendapat Azkan. Jawaban dari mulut Azkan adalah tidak tahu.
Azkan memandang Barga yang saat ini sedang memberikan dua jempol atas kepatuhan Azkan dengan peringatan Maziya. Setidaknya, Maziya tidak akan semakin kesal padanya jika mengikuti apa yang diinginkan Maziya ketika berhadapan dengan Rasti.
"Ziya, sepertinya kita tak ada fungsinya disini." bisik Azkan pada Maziya.
"Pokoknya aku mau ketemuan sama Viola abis ini. Pliss Kak Azkan jangan ada pikiram aneh-aneh ya!"
"Oke, tapi kamu berhenti sebel oke!"
"Nggak mau, aku sebel seharian ini. Kalo bisa amle malam."
"Jangan gitu Ziya."
"Salah Kak Azkan sendiri yang mancing-mancing."
"Kamu mau apa jangan marah lagi ya. Itu memang kelalaian aku."
"Iya aku juga tahu."
"Terus kenapa nada kamu tetap begitu?"
"Ya nggak tahu terserah aku Dong. Kak Azkan juga mau protes!"
"Nggak, kalau kamu mau ketemu Viola. boleh kok. Ada banyak penjaga juga buat kamu."
Rasti dan Randy akhirnya selesai dan memantapkan pilihan hati mereka. Sebenarnya, hadir atau tidaknya Maziya dan Azkan tak ada pengaruh sama sekali dengan pilihan mereka. buktinya, pilihan mereka selama 2 jam tetap saja jatuh pada Setelan yang sudah jauh-jauh hari mereka pikirkan.
"Apa penyakit Istri kamu kambuh?" tanya Santy, Mamanya Rasti.
"Mama!" Rasti menengahi Mamanya.
"Mama cuma tanya." Nyonya Santy tidak merasa aneh.
"Nggak kok Tante, Istriku memang sangat bosan karena dua jam nggak ada hasil."
Ungkapan Azkan membuat tiga orang, yakni Rasti dan Mamanya serta Randy merasa sedang dibicarakan.
Barga juga bahkan cukup terkejut dengan pernyataan Azkan. Mungkinkah karena sudah bersama Maziya, sikap Azkan jadi ikut terus terang walaupun nyelekit di dada.
.......
Maziya akhirnya tiba di Tempat favoritnya ketemu dengan Viola. Tak tanggung-tanggung Maziya memesan Kopi dengan ukuran Cup besar disana.
"Esnya banyakin Mbak!"
"Kamu haus?" tanya Viola heran.
"Iya dehidrasi kayaknya."
"Minum air putih dong. Mbak pesan air putih juga sekalian!" Pinta Viola pada pelayan disana.
Mereka duduk di tempat biasa. Maziya meletakkan kopi di meja dan langsung meneguk dengan kasar kopi itu.
"Kamu akhirnya menemuiku setelah berselingkuh dengan Kak Rasti itu."
"Huhhhh" Maziya dengan sengaja mengeraskan helaan nafasnya yang terdengar frustasi.
"Kenapa?. Kamu disuruh-suruh?"
"Siapa yang berani?" Maziya membalikkan nya.
"Iya juga ya." Viola menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Viola, berhenti ngomong tentang selingkuh.kamu tahu nggak gara-gara hal itu aku jadi sangat kesal sama Kak Azkan."
"Kenapa?"
Mendengar penjelasan Maziya, Viola tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Baginya itu hal yang luar biasa. Azkan adalah seorang Konglomerat yang ditakuti pebisnis lainnya. Azkan juga tidak main-main dengan segala ancaman yang ia pastikan. Tetapi, hanya gara-gara salah paham dengan kata selingkuh saja bisa mumet.
"Jadi Tuan Azkan yang Cool dan terkenal beringas dalam pekerjaan itu cemburu karena kata-kata aku. Ngira kita ada hubungan khusus?" Viola masih tertawa di sela-sela omongannya
"Puas kamu ketawa. Aku juga nggak nyangka kalau Kak Azkan Akhir-akhir ini IQ nya jadi turun begitu." Maziya menyeruput Kopinya dengan brutal.
Ia pergi memesan kopi kembali dan menghabiskannya dalam sekejap. Viola menawarkan air putih yang langsung ditolak Maziya.
"Aku lebih suka minum satu Cup lagi."
"Kopi?"
"Iyalah Viola."
"Ngapain kamu mau begadang?"
"Ya iya Viola, apalagi kalo Kak Azkan nggak berhenti dan masih membahas hal itu."
"Udahlah kamu bilang dia bahkan nanya sama Dr. Faruq kan?, Udah pasti dapat dia jawabannya."
"Mudah-mudahan. Kalo enggak ya aku bakal suruh Rita bikinin Kopi lagi."
"Udah entar kamu benar-benar nggak bisa tidur."
"Biarin."
Tak lama saat mereka asyik mengobrol. Azkan datang dengan Barga dengan alasan mentraktir para karyawan di perusahaan.
Azkan juga secara sengaja pura-pura kaget karena Maziya dan Viola ada disana. Padahal Maziya juga bisa menerka kalau Azkan sengaja datang karena ada pelacak di Ponsel mereka.
'entah siapa yang mau dia bohongi. Otak yang nggak nyampe Kaya Viola mah baru bisa bilang ini romantis atau nggak terduga.'
Maziya geleng-geleng sendiri melihat tingkah suaminya"Traktir kopi sejauh ini, Kamu lihat sendiri Kan Viola?"
"Iya Maziya."
"Kamu percaya kan IQ nya udah sedikit turun."
Viola mengangguk, "Ini namanya romantis tahu."
"Apanya?"
"Suami kamu sengaja beli kopi, bikin alasan aneh biar bisa memantau Istrinya yang lagi kesal alias Bad mood." Viola merasa gemas.
"Udah aku bilang kan, Kamu pasti ngira ini romantis dengan otak kamu."
"Kamu bilang apa Maziya?"
"Nggak kok. Kita minum kopi aja!"
Bersambung...