
Maziya dan Azkan pulang hari ini. Mereka langsung menuju ke Kediaman Serziano usai perjalanan melelahkan
Sampai di gerbang, ada beberapa penjaga yang menghentikan Mobil.
"Ada apa Barga?" Azkan memelankan suaranya karena Maziya yang sedang tertidur di bahunya
"Biar aku atasi Tuan."
"Jangan berteriak!" perintah Azkan.
Barga menurunkan kaca mobilnya."Apa kalian tidak tahu Tuan dan Nona butuh istirahat?"
Penjaga itu berbisik, Barga mengangguk beberapa kali hingga menoleh ke bangku belakang.
"Tuan, sepertinya Nona harus turun disini!"
"Kenapa?. Masih jauh ke dalam kamu mau buat istriku berjalan sendiri?"
"Nyonya Lidia memintanya sendiri Tuan. Penjaga sudah dapat titah. Sepertinya Nona Maziya harus..."
Barga belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Maziya terbangun dari tidurnya dan langsung bertanya apa yang sedang terjadi.
"Nyonya Lidia sudah memberitahu Anda tapi anda tak menggubris panggilannya Nona."
"Aku lupa mengisi daya ponselku." jawab Maziya santai, "Sudahlah aku turun saja."
"Anda tahu kalau diminta turun Nona?" tanya Barga keheranan.
"Aku..." Maziya melirik suaminya.
'Pasti Daritadi dia pura-pura tidur. Aku sangat takut dia terbangun sampai lenganku keram begini lagi.
"Tidak apa-apa, kamu aku temani ya?"
"Boleh " Maziya Setuju.
Rupanya yang datang adalah dua orang sepupu Maziya yang usianya tidak jauh berbeda dengannya. yang satu lebih tua dan yang satu lebih muda.
Mereka berdua sudah lama pindah ke luar negeri sejak kejadian belasan tahun lalu. Maziya tampaknya sangat tahu apa yang ada dalam pikiran para sepupunya itu.
"Kak Azkan," Maziya berhenti.
"Kenapa?. Kamu tidak kenal mereka. Aku bisa lumpuhkan mereka sekarang juga. Kamu tahu kan aku tak masalah mau mereka dari Gender apa. Wanita pun tak akan membuatku bermurah hati." tegas Azkan percaya diri.
"Kak Azkan nggak boleh ngapa-ngapain, pokoknya percayakan padaku." Maziya menggenggam erat tangan kanan Azkan. "Pokoknya diam saja, mungkin kak Azkan akan kaget dengan apa yang Kak Azkan lihat!."
"Baiklah." Azkan menautkan alisnya Bingung.
......
2 orang gadis yang sedang mengipas wajah dan sedang merapikan Make up di layar ponsel berdiri dengan gelisah.
"Hanya kalian saja? Mana yang lainnya?. yang laki-laki. Mungkin biar mudah mengobrol denganku makanya yang diutus harus sama-sama perempuan dan usianya tidak jauh berbeda dariku." jelas Maziya.
"Ziya, kami ingin mengunjungi kamu. Bertanya kabar serta turut bahagia untuk pernikahanmu." Ujar Gadis yang lebih tua.
"Ooh, bukannya kalian tinggal lihat di berita. Aku rasa berita global sudah sangat mudah diakses meskipun tidak di Indonesia."
"Itu berbeda, kita adalah keluarga sudah sewajarnya saling berjumpa." ujar Gadis yang lebih muda.
"Keluarga?" Maziya mengerutkan keningnya, "Kalian pasti sudah dengar apa yang terjadi pada mereka yang datang sebagai Saudara Ayahku atau kerabat dekat, bahkan sepupuku beberapa tahun lalu."
"Maziya, kenapa kita bicara panas-panasnya begini. Apa tidak sebaiknya masuk dulu?" Harus yang lebih tua kembali bicara.
"Benarkah?. Kami juga ingin mengenal saudara Ipar." tambah Gadis yang lebih muda lagi sembari mendongak ke tubuh jangkung yang menempel di sebelah kiri Maziya.
Azkan hanya sesekali mengangguk tanpa bicara. Maziya sudah memperingati sebelumnya bahwa Azkan sama sekali tidak boleh terlihat ramah meskipun mereka adalah Sepupu Maziya.
Padahal saat ini, mengingat betapa lebarnya senyum kedua gadis tersebut. Azkan juga segan untuk menahan diri dan bersikap biasa.
Azkan ingin sekali mengajak para sepupu Istrinya itu untuk salaman. Sayang sekali tangan kanannya digenggam erat oleh Maziya. Dia kan juga bukan kidal, dia tidak terbiasa mengulurkan tangan kiri pada seseorang.
"Bukankah sudah kubilang, kalian bisa melihatnya di berita!"
"Maziya, kami ini sepupu kamu!" Harus yang lebih tua terdengar menekankan ucapannya.
"Kakak Sepupu," Maziya melihat Harus yang lebih tua, kini matanya berpindah pada yang lain" Adik sepupu."
Maziya menarik nafasnya, "Jika pertemuan kita benar-benar pertemuan layaknya keluarga. Aku bisa saja mengajak kalian masuk."
"Kami memang datang sebagai sepupu kamu. Ingin memberikan selamat atas pernikahan karena kami tidak sempat datang." Kini mereka terdengar berebut untuk bicara.
Lagi-lagi Maziya menarik nafasnya, "Jadi, aku jelaskan sekarang bahwa Harta SERZIANO Grup memiliki sistem sendiri. Jangan harap jalur orang dalam padaku. Aku bahkan tidak punya hak untuk itu, dan aku tak akan pernah melakukannya."
Maziya terus mengatakan bahwa andai mereka datang memang hanya untuk memberikan selamat sebagai keluarga Ia bisa bertemu kapanpun. Tapi kalau kedatangan mereka akhirnya ada maksud tertentu, Maziya tidak bisa melakukannya.
"Ingat ya, pintu rumah kami selalu terbuka untuk keluarga. Bukan untuk tukang minta-minta yang datang saat ada maunya lalu memutuskan hubungan sepihak saat terdesak dan diminta pertolongan sebagai keluarga." Maziya membuat dua gadis itu terdiam.
Maziya melanjut ucapannya, "Kita juga sama-sama tahu bagaimana sifat orang tua kita. Aku tidak pernah membenci siapapun sama seperti apa yang dikatakan mendiang Ibuku dahulu. Aku tahu bagaimana kita memiliki satu darah yang sama dan aku tak pernah mengelaknya. Tapi setiap orang seharusnya punya sedikit nurani untuk tidak melakukan hal yang sama padahal mereka tahu itu salah!"
Dulu juga pernah kerabat ayahnya datang ke kampus Maziya. Mereka khusus berbasa-basi hingga tujuan sebenarnya tampak.
Karena Maziya akrab dengan SERZIANO Grup. Sebaiknya menarik kerabatnya sebagai bagian dari SERZIANO Grup juga. Jadi peristiwa semacam itu bukanlah yang pertama bagi Maziya.
Mungkin keluarga orang lain bisa melakukan pertemuan yang wajar sekedar bertukar kabar. Namun bagi Kerabat dari keluarga Maziya, pertemuan mereka adalah pertemuan semu dan palsu. Pertemuan yang harus mendapatkan sebuah Harta atau bahkan Posisi penting. Pertemuan yang selalu berkedok lowongan kerja jalur orang dalam.
Kedua sepupu Maziya itu pamit pulang dengan wajah masam. Mereka bahkan membawa kembali buah tangan yang sebelumnya dititip pada Satpam.
"Satu lagi," Maziya membuat kedua gadis yang tampak kesal itu menoleh, "Kalau kalian sudah benar-benar menerima ku sebagai keluarga yang normal dan murni tanpa embel-embel apapun, tanpa keinginan memeras. Aku akan selalu menunggu waktu itu, pintu ku selalu terbuka ingat itu!"
Tanpa menghiraukan Maziya, kedua gadis itu berlalu pergi.
"Ziya kamu..." Azkan melihat wajah pasrah Maziya yang tertunduk.
"Kak Azkan lihat kan, Asalkan aku punya harta lebih. Barulah aku bisa dikatakan hidup, barulah aku bisa memiliki kerabat bahkan keluarga. Jika aku miskin, jangankan keluarga, teman pun aku tak punya." Maziya tersenyum di balik wajah lelah yang dipaksakan terlihat setenang itu.
"Kamu punya aku, Mama, Papa Semua SERZIANO Grup adalah keluarga. Kalau teman, bukannya kamu punya Viola?" Azkan mengusap bahu Istrinya.
"Kak Azkan" Maziya mendongak pada suaminya.
'apa dia terharu dengan kata-kata ku?'
"Iya."
"Aku juga tahu hal itu."tegas Maziya tidak tampak terharu sama sekali.
"Hah apa?" Azkan cukup kaget karena Maziya bukannya menjadi melow padanya.
"Aku memang selalu memiliki SERZIANO Grup. Ibu bahkan Mama Lidia Selalu bilang begitu. Aku juga memang punya Viola. Maksudku itu teman pas masih sekolah dulu sebelum ada Viola."
"Ooh begitu ya."
Barga menahan diri untuk tidak mengejek kekecewaan Azkan. Mereka masuk ke mobil kembali melewati gerbang Ke dalam Kediaman.
Bersambung....