
Maziya memarahi mulut Viola yang tidak bisa direm tersebut.
“Kenapa kamu tiba-tiba mengumumkannya Viola.”
“Lalu apa kamu akan mendengar ocehan mereka begitu saja Maziya. Aku nggak bisa, itu terlalu panas, apa kamu tidak panas.” Viola mengipasi wajahnya sendiri.
“Ini sepertinya tidak bisa, aku harus membuat kamu tidak membocorkan sesuatu yang penting.”
“Memangnya kamu anggap aku ini apa Maziya?”
“Kamu seperti mesin pembuangan yang dengan mudah menyampaikan semuanya Viola.”
Viola sadar diri dan tersenyum manja “Maaf”
“Kali ini masih oke. Tapi perihal wasiat, jangan sampaikan itu Viola.” Maziya menatap kedua bola mata sahabatnya dengan lekat.
Viola menarik garis dengan tangannya ke sekeliling mulut. Menandakan dia akan menjaga rahasia. Bukan itu saja, Maziya bahkan mengancam akan memutuskan persahabatan mereka jika Viola menyebutkan wasiat itu pada orang lain.
“Apa harus seserius itu Maziya.” Viola mulai merasa takut.
“Kalau tidak,?.” Maziya memelototi sahabatnya yang lebih tinggi beberapa Senti darinya itu sembari mendongak.
“Iya-iya janji” Suara Viola melemah.
Maziya memegang kepala Viola dengan tangannya kini kepala mereka menjadi dekat saling berhadapan meskipun Viola harus sedikit menunduk.
“Kamu tahu ini masalah pribadi, aku memberitahu kamu karena kita tidak pernah memiliki rahasia oke.”
Viola mengangguk membiarkan Maziya mendahului jalan di depannya.
“Aku pasti akan menjaganya Maziya, seperti masalah trauma yang kamu hadapi” batin Viola mengejar Maziya.
...
Nyonya Virada bertemu dengan putra kedua dan dan putra bungsunya. Ia memiliki 3 orang putra, putra pertama sudah menikah dan tinggal di luar di luar negeri dimana mereka dahulu tinggal, Korea. Suami Nyonya Virada dulunya adalah orang Korea dan tidak mau menetap di Indonesia. Setelah suaminya meninggal, ia melanjutkan firma hukum di Indonesia hingga seterkenal sekarang.
Nyonya Virada berjanji untuk tidak menjadikan pernikahan putranya sebagai ladang bisnis. Sebenarnya itu yang membuat putra pertamanya tidak mau balik ke Indonesia dan memilih mencari istri dan menetap di Korea seperti ayahnya.
2 putra lainnya memutuskan untuk berhenti berhubungan sebagai putra Nyonya Virada. Putra keduanya, Mark, seorang pengacara handal dan sangat tidak suka berjalan di bawah kendali seseorang. Kini pun ia memutuskan pindah ke VM karena salah satu seniornya mencoba mengaturnya yang bertentangan dengan prinsipnya.
“Mama hanya ingin bertanya, Mark kamu kan sudah tidak muda lagi.”
“Aku masih 28 tahun Ma.” Dengan malas, putra keduanya itu menjawab.
Di korea, umur 28 bukanlah patokan seseorang untuk menikah. Bahkan ayah mereka yang orang korea itu dulunya menikah pada usia 43 tahun bersama Nyonya Virada. Orang korea akan menikah ketika benar-benar merasa cukup secara finansial dan mental.
“Itu memang tidak muda lagi kalau untuk ukuran orang Indonesia Bang.” Miko menegur saudaranya.
“Mama tak masalah, tapi kini Mama sedang kepikiran dengan seorang gadis.”
Belum sempat Nyonya Virada menyelesaikan omongannya. Mark mengancam akan mundur dari Firma Hukum dan bekerja untuk pemerintah saja sekalian sebagai pembela umum.
Merasa tidak ada harapan, Nyonya Virada beralih menatap putra bungsunya . Miko, yang sudah tamat S1 Manajemen dengan predikat Cumlaude.
“Miko???”
“Mama tidak usah khawatir, aku bisa perlahan mencarinya. Dia yang aku sukai sudah akan menikah, setidaknya biarkan aku melupakannya dan menenangkan diri dulu Ma.”
“Sayang sekali. Tenang saja, kamu mewarisi gen Mama, banyak anak gadis yang akan klepek klepek sama kamu.”
“Aku mau bertanya Ma”
“Kenapa, apa kamu mau Mama,,”
Belum sempat Nyonya Virada menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi Mark memotong ucapan nya.
“Tentang anggota kelompok sosialita Mama.”
“Mmm ada apa, Mama masih jadi ketuanya setelah 8 tahun. Sejauh ini Mama yang terlama diantara yang lainnya.” Nyonya Virada berbangga diri.
Miko hanya tersenyum dengan kebahagiaan Mamanya hanya karena menjabat sebagai ketua kelompok sosialita para wanita kaya tersebut.
“Apa salah satunya ada istri dari Pemilik Serziano Grup.”
“Tentu saja ada, Lidia kan maksud kamu?”
“Iya Ma, Nyonya Lidia. Apa dia akan segara memiliki menantu?”
“Kabarnya begitu, sempat dia membuat status bahwa putranya tidak sabar menemui calon menantunya karena saling cinta. Tapi foto itu mengerikan, bahkan putranya terbaring di lantai. Mungkin kita sebagi petugas hukum akan mengira itu sebagai kasus penyerangan.”
Mark mengangguk pelan. “Ternyata dia tidak berbohong dan sengaja bersifat angkuh.”
“Siapa yang kamu maksud Mark. Lidia memang angkuh, apa kamu tidak tahu ciri khas kumpulan sosialita itu memang harus angkuh dan pamer.”
“Bukan Nyonya Lidia Ma, aku baru saja menemui seseorang. Lalu, apa Nyonya Lidia tidak tahu kalau calon menantunya itu suka menghamburkan uang seorang pria?” Mark bertanya seolah ia sedang menyelidiki Maziya.
“Apa calon menantunya adalah calon terdakwa Mark.” Bola mata Nyonya Virada membelalak hingga pupilnya ikut melebar.
“Bukan Ma, maksudku jika menantunya suka menghabiskan uang seorang pria bukankah itu akan mencoreng nama keluarga Serziano Grup.”
“Setingkat Serziano grup mencari menantu sembarangan untuk pewaris satu-satunya sangat tidak mungkin Mark. Mereka pasti melewati pertimbangan yang benar-benar matang. Kalau menantunya hobi menghamburkan uang tidak masalah, tapi Mama yakin itu bukan uang seorang pria.”
Mark kembali mengangguk paham, Mungkin Ririn dan teman-temannya yang lain memang suka menyindir dengan berlebihan saja.
“Satu hal lagi Mark”
“Apa Ma?”
“Lidia memiliki seorang putri angkat yang sama dengannya, mungkin orang lain bisa mengira mereka Ibu dan anak kandung. Kebiasaan gadis itu sangat di luar batas. Bisa dibilang hobinya adalah menyedot kekayaaan. Tetapi dia punya bakat menjadi penerus dalam kelompok sosialita yang Mama pimpin. Kalau saja dia tidak menjadi sekutu Lidia, sudah Mama tarik dia sebagai menantu.”
“Jangan lagi Ma!” Miko berhenti memijit karena mendengar ucapan Nyonya Virada tentang menantu lagi.
“Iya Miko, Mama hanya berniat saja, tidak sungguh-sungguh. Lagipula, Mama sangat tidak sesuai dengannya. Meskipun Mama akhirnya meminta kalian kembali karena ucapannya yang tidak sopan dan menyakitkan itu.”
“Seharusnya kalau Mama bisa menjadikannya menantu, jadikan saja dia istriku, aku akan sangat senang Ma.” Mark berujar tiba-tiba.
“Apa yang salah dengan kalian.” Nyonya Virada menatap kedua putranya bergantian. “yang satu menyukai gadis yang akan menikah, yang satunya lagi ingin mama menjadikan gadis yang tidak mama sukai sebagai menantu.”
Berarti tak ada kebohongan satupun dari Maziya. Gadis itu benar-benar menghamburkan uang Mama angkatnya yang tak lain tak bukan pemilik Serziano Grup. Selain itu dia benar-benar akan menjadi menantu dari Serziano Grup.
Mark duduk di kamarnya sembari mengetuk-ngetuk layar ponsel. “Gadis yang angkuh, tapi wajahnya cantik, dan tingkahnya yang polos juga terang-terangan. Menarik, semua yang ada padanya benar-benar tipeku.”
Mark memanggil seseorang untuk menyelidiki lebih jauh tentang Maziya.
Namun entah ditutupi atau tidak, identitas Maziya sangat normal meskipun sedikit menyedihkan. Semua keluarganya tidak mengakuinya, jelas saja ia akan mengabdi sepenuh hati pada Nyonya Lidia.
Bersambung...