
Maziya menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Kau juga tahu itu kan ?. Kak Azkan membenciku.”
dan bukan sekedar benci, dia menganggap bahwa diriku memanfaatkan Mama Lidia. Penghisap Harta Keluarga Serziano.
"Tuan Azkan tidak akan melakukan hal yang buruk Nona. Saat Nyonya Lidia memercayakan untuk menjemputmu saja dia tak keberatan."
"Tentu saja, Selama Mama Lidia ada."
"Tapi Nona, maaf jika Aku lancang"
"Apa?. katakan saja!"
“Mungkin Nona bisa berubah perlahan, bukankah waktu kalian 3 tahun. Kalau anda mau berubah menjadi,,”
Belum sempat Barga menyelesaikan kalimatnya, Maziya memotong dengan cepat. “Itu tidak mungkin, aku sangat menyukai uang.”
Barga melakukan rem mendadak dengan perubahan sikap Maziya. Bukankah barusan mereka sudah sedikit lebih dekat, mengapa jawabannya terdengar aneh di telinga. Apakah Maziya benar-benar punya masalah dalam kejiwaaannya?.
“Kenapa kau berhenti Sekretaris Barga, lakukanlah tugasmu dengan benar atau aku akan membuat Nyonya Lidia memarahimu.”
“Maaf Nona, saya terkejut dengan perubahan sikap Anda.”
“Tentu saja, aku berubah melow karena tahu kau mulai luluh dengan tindakanku menyumbang ke organisasi sosial. Aku harus terus melow agar tahu bagaimana cerita pertemuanmu dan Kak Azkan yang membuat penasaran.”
“Begitu ya Nona.” Barga sudah salah sangka bahwa gadis itu mungkin tidak seperti yang dikatakan Azkan, ternyata dia lebih picik.
Kau mungkin nanti akan ikutan bersikap jijik denganku karena patuh pada Ka Azkan. Mendengar ceritamu saja seolah kau benar-benar bertemu malaikat. Kak Azkan itu menyeramkan tahu, sangat menyeramkan, aku tidak berpura-pura Tapi dia hanya menyeramkan padaku saja.
................
Maziya menempati satu kamar di kediaman Serziano. Beberapa pelayan membantunya membereskan barang-barang sementara Barga harus segera ke Perusahaan.
“Barga..”
“Bargaa..” Sekali lagi Azkan memanggil sekretarisnya itu.
“Iya Tuan..”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Tidak ada Tuan.”
Melihat dari ekspresi aneh Barga, pasti ada sesuatu yang dilakukan oleh Gadis itu.
“Apa gadis itu membuat masalah?” tanya Azkan santai seolah ia tahu apa yang terjadi.
“Jadi..” Barga menceritakan apa yang terjadi termasuk perubahan tiba-tiba dari sikap Maziya.
Azkan sudah tidak terkejut lagi, ia mengenal Maziya saat masih berumur 8 tahun. Saat itu Maziya benar-benar gadis kecil yang manis dan penurut. Hingga, perlahan-lahan sifat asli dari Maziya mulai terlihat. Membentak bawahan sembarangan, bersikap sok kaya seolah pemilik SERZIANO Grup, bermanja-manja dengan Mamanya bahkan Kakeknya. Itu hanya segelintir sifat yang ditunjukkan Maziya.
Apalagi setelah Maziya kehilangan Ibunya saat 10 tahun. Awalnya Azkan memaklumi dan merasa bahwa kelakuan Maziya hanya karena belum menerima sepenuhnya kepergian Ibunya yang mendadak karena sakit.
Tetapi lama-kelamaan, Sikap Maziya menjadi lebih angkuh. Bahkan ia bisa dengan seenaknya membuang-buang uang pemberian Mamanya. Memang uang itu jumlahnya tidak seberapa dibandingkan keseluruhan kekayaan keluarganya, Maziya yang membuat hal itu lumrah tidak dapat ditahannya lebih lama.
Meskipun semua bawahan dan pelayan yang diatur bekerja di Kediaman Serziano memiliki aturan. Tidak mendengar dan membocorkan apapun tentang kediaman selama mengabdi, tetap saja itu adalah bumerang yang tidak pantas.
“Apa yang Anda pikirkan Tuan?.” Barga membuyarkan lamunan Azkan.
Azkan tersadar dari bayangan-bayangan menyebalkan itu. “Sudah kubilang kan, dia itu gadis yang picik. Jangan tertipu dengan wajah cantiknya. Kau harus terus berhati-hati, jangan terbawa suasana dengan sikapnya yang serba palsu, kau hanya perlu mengikuti aku !”
"Baik Tuan,,eh.."Barga menatap Azkan bingung.
“Apa lagi?”
“Apa barusan Anda memuji Nona Maziya memiliki wajah yang cantik Tuan?”
“Tidak. Kau salah dengar.” Azkan juga tidak sadar mengatakan hal menjijikkan begitu.
“Tapi aku benar-benar..” Barga menarik-narik daun telinganya memastikan bahwa ia benar-benar mendengar hal itu keluar dari mulut Azkan.
Azkan tidak bisa mengelak, “Itu tidak penting, Aku tidak akan luluh meskipun dia cantik atau tidak.”
“Baiklah Tuan, Berarti tadi Anda benar-benar memujinya.” Gumam Barga.
“Apa kau bilang?”
“Tidak Tuan. Tapi, apa saat kalian menikah Anda akan membiarkan kebiasaannya itu terus berlanjut?. Sementara Anda membenci hal itu.”
“Maksudmu menghamburkan uang?”
Barga mengangguk.
“Aku punya cara tersendiri, aku tidak akan membiarkannya menghabiskan uang seenaknya saja sementara aku bekerja keras Di Perusahaan dan mengemban posisi CEO.”
“Apa Tuan mengatur rencana untuknya?. Apa Tuan akan mengancamnya?. Dia takut pada Anda Tuan, aku yakin dia bersungguh-sungguh takut padamu.”
“Tentu saja dia takut. Gadis itu hanya sok- sokan bersikap angkuh, dia adalah gadis paling penakut yang pernah kutemui.”
Azkan hanya tersenyum simpul. Kalau atasannya itu sudah bersikap demikian pasti ada rencana yang tidak terpikirkan olehnya akan dilakukan.
.....
Maziya tidak pernah bertemu Azkan saat pagi, siang, ataupun malam meskipun mereka sudah sedekat itu. Nyonya Lidia beralasan kalau Azkan lagi sibuk-sibuknya mengurus perusahaan karena mereka akan menikah segera.
Maziya memahaminya meskipun ia tahu kalau Azkan sengaja menghindarinya. Saat Fitting pakaian pernikahan pun, Azkan selalu beralasan pekerjaannya sangat banyak karena setelah menikah dia akan menjadi CEO tanpa kehadiran dan kontrol sang Papa.
“Apa calon suami kamu tidak datang?” Ririn celingak-celinguk kesana kemari.
“Apa menurut kamu orang sesibuk calon suamiku akan datang hanya untuk fitting pakaian?” Maziya berusaha tenang.
“Terlihat seperti pernikahan yang tidak diinginkan, jangan bilang kau berbohong.” Aliza menimpali, diikuti oleh anggukan Amy dan Stella.
“Eh, kalau kalian masih membuang waktu sebaiknya aku saja yang jadi Bridesmaids nya.” Viola menegur ketus anggota Circle Nya itu.
Kini mereka semua tidak berani bertanya lagi.
.....
“Jadi, yang milih gaun kamu?” Viola memelankan suaranya supaya tak ada yang mendengar. "Sendirian?" bisik nya lagi.
“Mama Lidia.”
“Baguslah, tapi apa benar dia..” Nada suara Viola meninggi tanpa sadar.
“Tenang, Viola! Keep Calm”
“Tapi beneran, calon suami kamu itu bahkan nggak mau ikut milihin gaun buat kamu?”
“Dia sibuk banget, karena setelah kita menikah, Dia akan resmi menjadi CEO SERZIANO Grup.”
“dan kamu bersikap biasa saja Maziya?”
“Tentu, apa yang mesti aku tunjukkan?. Aku sedih, kesal, marah?. Toh dia juga nggak bisa lihat itu semua."
Viola manggut-manggut.
Maziya tersenyum, "dan juga, Aku bisa mendapatkan gaun paling mewah pilihan Mama Lidia. Aku bisa memilih jenis cincin yang aku sukai, aku mendapatkan mahar perhiasan tambahan juga dari Mama Lidia." Kini Maziya gantian berbisik, "kalau Kak Azkan ikut, yang ada dia nggak akan ngebolehin Mama Lidia ngasih aku apapun karena selama ini harta mereka udah aku makan.” Jelas Maziya panjang lebar.
Viola manggut-manggut saja memahami pemikiran sahabatnya itu.
Maziya memperlihatkan berbagai hadiah tambahan dari Nyonya Lidia di foto-foto yang ia abadikan di ponselnya. Mulai dari mutiara, berlian, permata, semua jenis batu termahal masuk disana. Viola sampai tidak bisa menutup mulutnya melihat keindahan perhiasan-perhiasan tersebut.
Viola bertepuk tangan. “Memang sahabatku yang hanya mempedulikan uang.”
“Money is Love. Love Is Money” Jawab Maziya kemudian tertawa.
Kemudian, dua sahabat itu merayakan hari-hari terakhir dari status single Maziya. Mereka menikmati berbagai wahana hiburan dan menjelajahi berbagai jajanan jalanan yang biasa mereka nikmati.
“Ini adalah Happy single Day Viola.”
“Tapi aku akan tetap single.” Viola merubah raut wajahnya.
"Tenang saja, Happy single day untuk merayakan kesendirian kita yang bermanfaat. Anggap saja latihan buat kamu apabila akan menikah sepertiku."
“Oh Gitu ya.” Viola berubah senang.
.....
“Tuan, Apa Anda tidak mau mengikuti jejak Nona Maziya?” Barga serius menatap ponselnya.
“Apa yang kau maksud?. Mengapa aku harus mengikuti jejaknya?”
“Dia merayakan hari- harinya menjadi single, biasanya setiap orang yang mau menikah melakukan hal yang ingin ia lakukan karena setelah menikah banyak hal yang tidak boleh dilakukan. Ini populer di Media Sosial akhir-akhir ini Tuan.”
“Tidak ada bedanya bagiku, menikah atau tidak, aku tidak akan merubah apapun.”
“Baiklah Tuan.”
“Tapi, apa yang dilakukannya?”
“Anda bertanya tentang Nona Maziya?”
“EKHEMMM,,iya apa dia menghabiskan uang lagi?”
“Dia hanya memposting banyak makanan dan membuat caption yang sama Tuan, HAPPY SINGLE DAY.”
"Aku tidak peduli" Azkan fokus pada kerjaannya. "Kau juga jangan lihat ponsel terus, kita akan segera pindah ruangan!"
"Baik Tuan"
Bersambung...