
Viola menatap gedung yang biasanya di isi komputer berjejer juga makanan berserakan dimana-mana. Mereka sibuk dengan Artikel dan grafik setiap hari dan mengadakan perayaan hanya karena pujian dari beberapa Viewer dan Netizen.
"Selamat tinggal," Viola menutup pintu ruangan yang sudah kosong itu dengan perasaan sedih juga menerawang.
Bunyi hentakan kaki seseorang tak membuyarkan pikirannya. Lelaki itu adalah Miko, yang merasa bersalah karena tidak memberikan solusi untuk Viola.
"Vio, aku.."
Viola berlalu dengan wajah tertunduk lesu.
"Vio," Miko meraih tangan Viola.
"Aku mau sendiri, jangan utarakan cacian lagi. Aku gagal kan, kamu pasti sudah menduganya."
"Aku tahu kamu gagal, tapi..." Miko berhenti bicara karena tatapan Viola yang seperti sebilah pisau.
Sudah tahu aku gagal, malah diperjelas
Miko menarik paksa tangan Viola. Mereka duduk di restoran di dekat Gedung yang ramai namun murah dan tentunya tidak terlalu bersih.
"Aku mau pergi," Viola tidak berselera makan disana.
Biasanya dia dan Maziya akan makan di Restoran terkenal dengan harga mewah. Kenapa jadi di Restoran biasa yang tidak terjamin kualitasnya.
"Kenapa?. Kamu nggak mau makan disini karena tidak terbiasa?. Pasti kami banyak memikirkan kata-kata mutiara terhadap Restoran ini kan?"
Viola hanya diam, sampai pelayan menghidangkan dua makanan yang dipesan Miko. Setelah berulang kali dibujuk, akhirnya Viola luluh. Siapa sih, yang bisa menolak pesona mematikan dari Pria tampan dan cerdas bermata sipit itu.
Rupanya Viola berhasil menghabiskan makanannya dengan cepat. Bahkan sampai dua kali nambah, maklum sejak masalah dengan Tuan Azkan ia tidak ada nafsu makan sama sekali.
"Akhirnya kamu selesai." Miko tersenyum sembari menyodorkan Tisu.
"Mmm, enak juga. Aku nggak nyangka kalau Masakan disini seenak ini." Viola membersihkan mulutnya dengan tisu sembari melihat ke cermin kecilnya.
"Kamu tahu nggak kalau pemiliknya sebenarnya dahulu jualan buku-buku bekas, karena banyak yang tidak terjual, dia memutuskan untuk menamatkan banyak sekali buku masakan."
"Terus..." Viola mengangkat bahu tidak mengerti arah pembicaraan Miko.
Kedua Orangtuanya Si pemilik adalah penggila buku. Toko buku puluhan tahun berdiri meski tidak banyak menghasilkan. Sementara si Pemilik, dia suka memasak. Akhirnya dia coba-coba buka kedai pinggir jalan yang laku keras.
Gedung Restoran yang dulunya hanya disewa, perlahan berhasil dimiliki sendiri. Bahkan ada banyak cabang Sekarang tanpa melupakan ciri khas Restoran kalangan bawahnya.
"Lalu?"
Viola menautkan alisnya, entah apa yang ingin disampaikan Miko. Kalau sekali lagi tidak juga ia pahami, lebih baik Ia membayar makanan dan segera pamit.
Rupanya maksud Miko adalah agar Viola tidak terpaku pada satu hal saja. Siapa bilang Fotografer profesional hanya bisa memamerkan foto di Majalah atau artikel saja. Gunakan skill di banyak tempat, termasuk Niti Contruction.
"Aku sudah menelitinya semalam, ada bagian Publikasi di Niti Contruction . Foto-foto Gedung dan Rumah di post di Majalah kan?"
Viola tidak percaya kalau Miko sampai meneliti Perusahaan Papinya.
"Benarkah kamu menelitinya ?."
Miko mengangguk"tentu saja,"
Ah aku lupa kalau dia Putra ketiga Nyonya Virada. Hal semacam itu tentu lumrah.
"Kenapa, maksudku kenapa tiba-tiba meneliti Perusahaan keluargaku?"
"Aku kepikiran dengan penolakan ku. Maaf."
Viola memutar bola matanya malas, "Iya ini memang salahmu karena menolak memberikan konsultasi dan malah menceramahi bahwa Website Milikku tidak bisa dikatakan sebagai Bisnisku sendiri."
Miko menatap Viola sendu. "Makanya aku berusaha mencari pekerjaan apa yang cocok untuk kamu di Niti Contructions."
"Nggak Pa pa kalau kamu merasa bersalah, tapi apa harus di sana?"
"Kenapa tidak?"
"Kamu bilang aku nggak ada modal. Bukannya bekerja disana jadi lebih nggak ada Modal."
"Cobalah disana. Kalau tidak cocok, cari lagi yang lainnya. Jangan menyerah dengan satu kegagalan!. Bekerja disana bukan sebagai Putri Papi Kamu. Tapi sebagai fotografer andalan."
Rupanya yang memberikan saran membuka kedai pinggir jalan sebelum menjadi Restoran adalah Miko saat masih SMA. Pemilik yang awalnya ingin memberikan sejumlah uang ditolak Miko, akhirnya terbentuklah kesepakatan bahwa Miko bisa makan gratis di Restoran miliknya, bahkan di tiap cabang Restoran itu.
Mereka akhirnya pergi, Viola sepertinya meninggalkan cerminnya di kursi samping tempat duduknya. Sehingga ia balik lagi, ia mendapati Miko meninggalkan sebagian uang di bawah kertas menu.
Pemilik Restoran tersenyum. "Miko, baik sekali."
Viola merogoh tasnya ingin membayar tagihannya. Malu juga kalau ia yang lebih banyak makan tapi dia yang nggak bayar.
"Tidak usah, ini lebih dari cukup. Miko selalu menolak makanan gratis kami. Padahal Kami berhutang padanya. Kamu pacarnya Miko ya?"
"Enggak." Viola menolak sembari menyilangkan tangan nya.
"Ooh, saya pikir iya. Dia sering bilang kalau ada gadis cantik yang disukainya. Saya sempat bingung kenapa bisa diajak kesini padahal dulu dia bilang gadis yang disukainya nggak akan pernah bisa makan di tempat seperti ini."
Viola yakin yang dibicarakan pemilik adalah Maziya. Namun kenapa Viola tiba-tiba merasa senang dengan pengakuan pemilik bahwa ia adalah gadis pertama yang diajak Miko ke tempat mereka.
"Kayaknya bukan saya." tolak Viola.
"Tetap saja, kamu sangat cantik. Kamu cocok dengan Miko. Apalagi dia Sampai menceritakan kisahnya dengan Restoran ini."
.....
"Penghiburan yang aneh." gumam Viola beranjak pergi.
Viola memang tidak seperti Maziya yang suasana hatinya cepat sekali berubah. Ia butuh waktu lama untuk berpindah dari senang ke sedih atau kesal ke happy. Tapi hari ini, entah penghiburan macam apa yang membuatnya menjadi tidak lesu dan sedih lagi. Apakah karena saran Miko atau karena Miko itu sendiri.
Viola bahkan tersenyum melihat punggung Miko yang sedang menantinya. "Miko."
"Ada ketemu?"
"Ada."
Mereka berjalan menikmati suasana. "Aku nggak sadar kalau di sekitar Gedung Ku ada banyak Usaha-usaha seperti ini."
"Wajar saja, kamu hanya memikirkan pekerjaan mu."
"Iya, Oh ya Miko."
"Apa?"
"Apa kamu nggak akan marah?"
"Kalau marah, mungkin kamu akan mengacungkan jari tengah lagi padaku." Miko tersenyum.
"Apa kamu menceritakan tentang Maziya lada Pemilik Restoran itu?"
"Tidak," Miko tergagap.
Ah benar rupanya. Tapi tak apa, Maziya hanya mencintai suaminya.
"Tapi, apa kamu tidak merasa kalau suaminya Ziya keterlaluan?" Miko mengalihkan perhatian dari bahasan mereka.
"Ooh, tentang semalam. Aku sadar kalau aku salah. Kan udah klarifikasi juga. Dia sudah bermurah hati buat blur wajah aku di TV."
"Apa sehari-harinya dia memang setegas itu?"
"Siapa yang kamu maksud?"
"Suami Maziya, aku baru-baru ini tahu tentang kaitan Maziya dan Ibu angkatnya. dan pasti dia sudah mengenal suaminya. Apa dia menceritakannya padamu?"
Aku Harusnya paham kalau kamu memang baik pada siapapun. yang spesial bagi kamu hanyalah Maziya.
"Tentu saja. Tapi kamu tenang saja!"
"Kenapa?. Apa dia baik banget aslinya?"
"Lebih kejam, kamu pasti tahu rumornya. Kamu cuma mau memastikannya padaku kan?"
"Bukan begitu Viola, aku hanya mengkhawatirkan Ziya."
Kamu nggak perlu khawatir sama Maziya. Dia bahkan lebih menakutkan lagi kalau udah ada pemicunya. Dia Bipolar, kamu nggak akan tahu seberapa kejamnya dia kalau sedang masuk episode manik yang tidak tahu kapan terjadinya.
"Kok kamu diam, Vio?"
"Eh, kamu nggak usah khawatir Miko. Siapa sih yang bisa kasar sama Cewek selembut Maziya."
"Iya, aku pernah melihatnya marah, tapi marahnya juga terlihat imut?"
Imut ?, kamu pasti gila kalau sampai bilang marahnya Maziya itu imut. Untung aja Miko lagi Bucin, jadi dia nggak sadar.
"Gw he he, iya Miko."
Bersambung....