The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
36. Tertarik dan Tidak



Bel kamar Maziya berbunyi sebelum ia menekan nomor Viola.


Ini pelayan mau aku pecat juga deh rasanya.Udah disuruh pergi juga aku kan nggak minta dilayani.


Melihat dari dalam, ternyata seorang lelaki yang tidak ingin ditemui Maziya. Maziya membuka pintu, dengan malas ia menatap Versi agak Tua dan nakal dari Miko itu.


"Akhirnya dibukain, banyak banget pengawalnya. Aku sampai diinterogasi tadi. Andai aja aku bukan bagian dari firma hukum VM ya, bisa susah sih."


"Udah tau susah, ngapain masih aja ingin menemui ku?" ketus Maziya.


"Aku berhasil mendapatkan fakta tentang kamu." Mark terlihat cukup antusias.


"Aku tidak tertarik." Maziya berniat menutup pintu.


"Tunggu, aku benar-benar ingin pastikan sesuatu." Mark menahan pintu, hingga membuat beberapa pengawal langsung siap siaga datang mendekat berniat melumpuhkannya.


"Pastikan saja, dan jangan menggangguku. Aku sedang sibuk." tolak Maziya.


Mark dipegang oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. "Gadis yang menghancurkan Sebuah Rumah agar dia berhasil mendapatkan uang ganti rugi dan akhirnya punya pengacara."


Mendengar hal tersebut, Maziya terdiam. Ia hentikan tarikan dari dua pengawal dengan alasan bahwa ia mengenal lelaki tersebut.


Akhirnya Maziya ikut dengan Mark menuju Rooftop. 2 pengawal tampak berjaga-jaga di sekitar pintu yang lainnya tinggal untuk menunggu Azkan.


"Cepat katakan apa tujuanmu!"


"Wah langsung To the Point ya." Mark tersenyum.


Kalau senyum gitu, orang pasti pada nggak nyangka kalau kelakuannya begitu. Lihat saja Miko yang sangat baik hati.


"Nggak usah senyam-senyum, aku mungkin kewalahan menghadapi suamiku kalau dia kembali dan bertanya."


"Apa suamimu benar-benar mengkhawatirkan mu?"


"Tentu saja." jawab Maziya penuh percaya diri.


"Sepertinya suamimu tidak tahu sisi lain istrinya yang ini ya?" Mark mulai memancing.


"Tahu atau tidak, itu bukan urusanmu."


Mark mengangguk, memang Maziya bukanlah gadis yang mudah, "Baiklah."


"Cepatlah, atau aku balik saja."


"Eh tunggu."


Mark mulai bercerita, 3 tahun lalu seorang wanita miskin sempat meminta pengadilan padanya. Ia menolak karena wanita tersebut tidak punya uang. Lalu akhirnya, tiba-tiba saja wanita tersebut punya uang. Katanya dapat ganti rugi dari seorang Gadis.


"Lalu?" Maziya menautkan alisnya dengan ekspresi biasa saja.


"Kamu membuatku bertanya-tanya. Aku berhasil membela wanita itu, Meskipun akhirnya aku keluar dari Perusahaan karena perbedaan prinsip."


Maziya masih sama, tidak ada ekspresi apapun saat mendengar Mark. Laki-laki itu tertawa sejenak menghadapi Maziya.


"Apa itu kejadian yang lucu?. Kupikir Kamu sedang membanggakan diri sendiri saja."


"Seharusnya kamu bangga, masih ada pengacara yang berprinsip sepertiku di negara kita ini." Mark menunjuk dirinya sendiri.


"Apa hubungannya denganku?"


Mau berprinsip atau tidak, aku tak peduli. Ririn juga sering membangga-banggakan hal tersebut hingga membuatku muntah.


"Ya, kamu hanya mempedulikan kebahagiaanmu tidak peduli apa orang lain akan menderita, tampaknya kamu cukup sering membuat masalah dan menyelesaikannya dengan uang. kamu hanya peduli soal uang."


"Tahu dari mana?"


"Ririn. Siapa lagi Selain dia."


"Oou," Maziya merespon singkat terkesan tidak peduli.


"Tapi kisahku tadi, apa kamu tidak kagum sama sekali?"


"Kagum ?, membosankan baru iya. Jujur saja kamu hanya membantu klien karena uang kan, uang dapat membereskan segalanya. Jangan berpura-pura Seolah kamu memiliki prinsip!"


Mark terkekeh,"Kamu benar, uang bisa membereskan segalanya."


"Aku benar-benar tidak tertarik mendengar ceritamu."


Mark menahan tangan Maziya. "Aku makin penasaran dengan siapa dirimu, tidak mungkin kamu menghancurkan rumah kecil seorang wanita yang terlibat kasus peleceh**n hanya karena emosi tak terduga atau dalam tanda kutip iseng membuat kekacauan dan menyelesaikannya dengan uang seperti kebiasaanmu."


Faktanya itu benar, kalau tidak mengapa Nyonya Lidia harus susah payah ganti rugi sebanyak itu. Maziya saat itu sedang berada dalam fase manik.dan tak terkendali. Kebetulan ia mendengar suara wanita yang putus asa itu saat curhat dengan Dokter Faruq, orang yang juga bertanggung jawab atas kondisi dan pantauan Psikologis Maziya.


"Aku tidak ingat pernah melakukannya. Apapun dugaanmu harap tidak usah lagi bersikap sok kenal denganku."


Maziya tidak terpengaruh sama sekali. Dengan santainya mendekat pada Mark. Jika waktu itu Maziya terkejut di Resepsi. Kali ini tidak, dia inisiatif menatap dua bola mata sipit milik Mark secara bergantian.


Maziya mengangkat bibirnya sebelah, "Sepertinya, Kamu sangat tertarik dengan ku ya?"


Mark menunduk mendekati wajah Maziya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter saja lalu tersenyum. "Kalau dibilang tertarik kamu salah. Lebih tepatnya, Aku sangat-sangat tertarik dengan mu."


"Ingatlah bahwa aku adalah teman kekasihmu!" Maziya menjauh dan balas tersenyum intimidasi.


"Aku tidak peduli akan hal itu. Kamu pasti tahu bahwa Kekasihku hanya ingin uangku saja. Aku akan bilang terus terang hanya padamu, kalau kami hanya sekedar saling memanfaatkan."


"Lagi-lagi aku ingatkan, aku..... tidak..... peduli....... Aku Tidak Tertarik dengan ceritamu maupun dirimu"


"Aku yakin ada sesuatu dari dirimu yang ditutupi oleh SERZIANO Grup, atau lebih tepatnya Nyonya Lidia, Beberapa kasus yang seharusnya aku tangani tiba-tiba saja selesai dengan kekeluargaan. Bahkan mereka memberikan ganti rugi untuk Perusahaan ku yang lama."


"Harus berapa kali kuingatkan jangan bicara..."


Mark tersenyum memotong ucapan Maziya "Aku tahu kalau kamu pergi dari kediaman mereka 5 tahun lalu. Tidak butuh waktu lama, aku akan segera mendapatkan segalanya tentangmu."


Maziya menantang, "Coba saja, asalkan tidak melewati batas. Atau VM hanya akan tinggal nama."


"Baiklah, aku akan berhati-hati. yang jelas aku siap menerima jandamu." Mark tersenyum lagi.


Maziya berkacak pinggang, "Jangan katakan hal itu lagi atau aku benar-benar akan menghancurkan Firma hukum VM."


Mark melihat ke arah pintu. "Suamimu sedang melihat kita."


"Mana?" Maziya Agak terperanjat.


Tampak Azkan berdiri dengan sinis. Lalu para pengawal yang ada di depan pintu tampak kesakitan dengan kaki mereka.


Maziya tersenyum pada suaminya. Azkan langsung mendekat dan merangkul Maziya hingga posisi mereka sangat lengket.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Azkan menatap Istrinya.


"Tidak ada yang penting." jawab Maziya.


Hanya dengan melihat ekspresi Maziya yang biasa berterus-terang. Azkan dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang mereka bicarakan. Sejak kecil ia tahu bahwa Maziya lebih suka bicara blak-blakan dan tidak peduli sekitarnya.


"Aku pamit duluan ya."


Mark berjalan ke arah pintu dimana Tuan Tora sedang kebingungan dan masih mencerna apa yang terjadi antara kuasa hukumnya dengan istri Azkan.


Azkan bicara menghentikan langkah Mark, "Seterusnya, jangan pernah menemui istriku saat sendirian lagi!"


Mark berbalik, "Apa maksudnya?. Anda tidak bisa melarang istri...


"Aku memperingati mu." Azkan bahkan tidak membiarkan Mark selesai bicara.


Azkan kini membelai rambut Maziya. "Istriku juga akan ku peringati agar tidak bertemu sembarangan Pria tanpa izinku lagi."


"Berarti dengan izin boleh ya?" tanya Mark tanpa malu.


"Tentu saja, tapi itu akan sulit terutama setelah kejadian hari ini. Aku hampir mematahkan kaki dua pengawal tak berguna yang membiarkan Istriku menemui Pria tak jelas sembarangan."


Mark berbalik "Aku bukan Pria tak jelas sembarangan." Mark menyodorkan Kartu namanya.


"Aku tidak butuh, Putra Kedua Nyonya Virada dari VM."


"Tentu saja kamu tahu." Mark menyimpan kartu namanya lagi.


Saat Mark ingin tersenyum pada Maziya. Azkan segera menyuruh Barga mengantarkan Mark ke kamarnya bersama Tuan Tora. Ia akan membawa Maziya sendiri ke kamar mereka.


Bersambung....