
Di Rumah Rasti
"Papa nggak nyangka kalau pengacara Mark berani mengganggu SERZIANO Grup?"
"Mama lebih nggak nyangka kalau Azkan lebih menakutkan dari apa yang kita lihat."
"Dia itu putra satu-satunya Alam dan Cucu satu-satunya Tuan Alan. Darah lebih kental dari air Mama kan tahu bagaimana Kakek dan Ayahnya."
"Iya Pa, sudah pantas ia memilih menantu. Mama sering sekali melihat bahwa Maziya memang tidak jauh berbeda dengan Lidia."
"Maksud Mama?Dari segi apanya?".
"Ya apalagi Pa. Sifat Keras dan Mendominasi seperti Lidia."
"Bukannya Maziya adalah putri dari Tya. Mama kenal kan?"
"Iya Pa, Tya dan Lidia adalah sahabat sejak masih sekolah. Bisa disimpulkan bahwa mereka memang terhubung secara takdir."
"Aku ke kamar du Pa, Ma." Resti lagi-lagi muak kalau Keluarga nya membahas Maziya.
"Resti, kamu dengar dulu ada hal penting yang ingin disampaikan Papa!"
"Apa Pa, jangan bahas keluarga orang lain lagi. Resti lelah."
"Papa juga nggak mau, tapi gimana lagi. Itu pengacara Mark sebenarnya mau Papa jodohin sama Kamu"
"Apa Pa?" Resti syok sehingga tanpa sengaja meninggikan suaranya.
"Cuma niat Papa Saja, Papa untungnya di kasih petunjuk kalau Mark juga nggak bagus-bagus amat."
"Kalau begitu, Rasti udah boleh ke kamar Pa?."
"Eh tunggu dulu!"
"Apa lagi Pa,?"
"Kapan kamu ajak Randy kesini? Makan!" Tuan Tora memberikan senyuman tulusnya.
"Nunggu jadwal Rumah Sakitnya Pa."
"Kalau bisa secepatnya ya!"
"Ada Apa Pa?"
"Bahasan serius dan menjurus, ingat tanyain jadwalnya ya Rasti!"
"Iya Pa." Resti menunduk dan pamit ke kamarnya
.
.....
Di Meja Makan.
"Gimana masakan Tante?" Nyonya Santy seperti biasanya sangat welcome terhadap kehadiran Randy.
"Enak Tante, Masakan Tante kan selalu enak. Top markotop." puji Randy juga seperti biasanya.
"Cobain juga yang ini," Tuan Tora menawarkan Capcai di meja.
"Ini Papa yang masak." bisik Rasti.
Randy mencoba masakan Tuan Tora yang baru pertama kali ia cicipi sejak bersama dengan Rasti. Biasanya hanya ada masakan Nyonya Santy saja.
Begitulah kalau di rumah Rasti, mereka biasanya bekerja sama saat memasak atau bergiliran. Namanya juga rumah para ahli masakan dan pemilik Restoran MOCY 3 teratas di negeri.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Tuan Tora.
"Enak Om, enak sekali. Capcai ini baru pertama kalinya aku coba yang seenak ini."
Tuan Tora terkekeh, "Kamu ini memang pandai menilai."
Kelanjutan dari acara makan ini sama seperti tujuan Tuan Tora. Ia ingin pernikahan antara Randy dan Rasti segera terlaksana.
"Tapi om, bukannya aku harus mendapatkan gelar Spesialis dulu?"
"Kamu juga cepat ataupun lambat pasti akan mendapatkannya."
"Baik Om, tapi aku hanya bingung kenapa Om jadi berubah pikiran?"
"Jujur saja, om sebenarnya hanya menunda niat kalian untuk ke jenjang yang lebih serius agar bisa mencari pasangan lain yang lebih pantas untuk Rasti."
Randy lumayan kaget dengan kenyataan yang dipaparkan oleh Tuan Tora tersebut. Ia melirik Rasti yang Daritadi tidak menyentuh makanan sama sekali dan hanya membalik-balikkan sendok saja.
"Iya, buat apa kalian pacaran lebih lama?. Lebih baik diteruskan ke pernikahan." Nyonya Santy ikut bicara.
"Aku tentu mau.." Randy berhenti bicara karena Rasti membawanya pergi ke kamar sebentar.
"Kalian mau ngapain?" Tuan Tora panik.
"Ya sudah."
Saat mereka bicara di kamar. Tuan Tora dan Santy menguping di pintu.
"Pa, Ma aku butuh privasi sebentar saja!" Rasti tahu apa yang dilakukan orang tuanya.
Setelah Tuan Tora dan istrinya turun barulah Rasti bicara.
"Aku minta maaf karena Orangtuaku yang mendadak begini Randy."
"Sayang, aku justru senang. Dapat lampu hijau lebih cepat tentu aku senang."
"Tapi tetap saja, ini pernikahan Randy."
"Apa kamu tidak berniat untuk menikahiku Rasti?" Nada bicara Randy yang bersemangat perlahan menghilang.
"Bukan begitu."
"Apa kamu masih belum paham dengan maksudku waktu itu?"
Randy sudah menjelaskan tentang perasaan Azkan seperti fans pada idolanya. Randy juga sebenarnya sadar bahwa Rasti jadi kurang bersemangat sejak tahu hal demikian. Ditambah lagi berita tentang Azkan yang menerima keadaan Maziya sepenuh hati hingga jadi pembicaraan dimana-mana.
"Aku paham, tentu saja."
"Lalu kenapa kamu ragu?"
"Aku hanya memikirkan betapa seriusnya masalah pernikahan ini Randy"
"Azkan yang awalnya tidak mencintai istrinya bisa sebucin sekarang juga diluar ekspektasi. Apa yang membuat kamu ragu Rasti?. Kamu meragukan keseriusanku?"
"Bukan begitu, Randy."
"Lalu apa?. Apa kamu memiliki perasaan lebih pada Azkan?."
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Aku hanya bertanya."
Saat Randy bertanya, Rasti seketika ingat apa yang diperingati oleh Maziya. Kalau saja ia benar-benar punya perasaan pada Azkan, Randy sangat kasihan dan pasti kecewa berat.
Sebenarnya semalam Rasti sudah melakukan panggilan dengan Maziya. Siapa sangka ia yang awalnya sangat membenci Maziya justru meminta saran atas keraguannya.
Berkat Maziya juga ia jadi yakin bahwa yang ia cintai memanglah Randy. Maziya hanya bertanya, apabila Rasti tahu kalau Randy tiba-tiba bermesraan dengan seorang wanita.
Rasti tidak segan-segan akan sangat marah karena Randy mengkhianati dirinya. Maziya juga dengan sengaja membandingkan perasaan Rasti saat melihat Azkan bermesraan dengan banyak wanita sebelumnya. Rasti memakluminya.
Rasti mendekat dan mencium bibir Randy. Ciuman yang akan selalu meredam perasaan kesal mereka.
"Aku akui memang sempat ragu."
"Lalu?"
"Percaya atau enggak kalau aku minta saran sama Maziya."
"Istrinya Azkan?"
"Iya, kamu diam-diam membahas hal penting dengan Azkan. Aku juga bisa."
"Saran apa yang kamu minta?"
"Saran tentang keraguan aku. Jujur aku juga bingung sebenarnya apa yang aku rasakan pada Azkan."
"Lalu?" dengan lembut Randy bertanya.
"Mungkin aku hanya merasa terabaikan. Sama seperti hadiah dari orang tua. Seiring bertambahnya usia kita pasti merasakan kehilangan hal itu. Tapi intinya rasa sayang mereka tidak berkurang."
Rasti menyayangi Azkan layaknya keluarga terdekatnya. Ia hanya bimbang karena perhatian khusus tidak lagi ia dapatkan. Ia juga pasti mengkhawatirkan Azkan dengan Maziya seperti layaknya keluarga sendiri.
"Jadi bagaimana dengan kita. Apa kamu masih ragu?".
Rasti menggeleng, "Aku mengalami sendiri perasaan saat Melihat Azkan bersanding di pelaminan. Meskipun aku kesal dan benci dengan kehadiran Maziya, tapi aku tidak merasa marah yang teramat besar. Tapi saat aku membayangkan Kamu ...." Rasti berhenti sejenak.
"Apa yang kamu bayangkan?"
"Saat aku membayangkan bahwa kamu bersanding dengan wanita lain. Memikirkannya saja aku tampaknya tidak sanggup bertahan, mungkin bukan hanya sakit, aku mungkin tidak berharap hidup lagi."
"Jangan begitu, mana Rasti yang realistis seperti biasanya?" tanya Randy mengusap air mata pacarnya yang mengalir begitu saja.
"Aku bukan hanya takut ditinggalkan oleh kamu. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya."Rasti sesenggukan.
"Aku hanya mencintaimu, sampai akhir juga izinkan aku selalu mencintaimu ya."
Tuan Tora dan Nyonya Santy yang baru saja balik menguping secara diam-diam karena penasaran datang di saat yang tepat. Mereka bahagia mendengar bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pernikahan.
Bersambung....