The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
38. Kesempatan Dalam Kesempitan



Warning.🔞...!!


Azkan perlahan masuk ke dalam Bathub yang airnya sudah kembali bening.


"Bantu aku Scrub tubuh!"


"Scrub?. Malam-malam begini?"


"Mmm."


"Ke Spa sana Kak Azkan. Kenapa nyuruh aku"


"Kau yang sudah melanggar aturan pergi tanpa izinku. Berada jauh dariku."


"Wah kedengaran romantis sih." ejek Maziya.


"Kalau masih di Perusahaan aku atasanmu. Kalau di rumah aku suamimu!"


"Jadi?" tanya Maziya


"Jadi jangan abaikan hal itu. Anggaplah ini hukuman ringan karena kau telat."


"Kak Azkan tahu nggak, bentar lagi aku mau telponan sama Mama."


"Aku tidak peduli."


Oke Fine, lihat saja apa yang akan aku lakukan Kak Azkan.


Maziya mendekat, karena baju dan celana piyamanya pendek. Tidak perlu disingsingkan lagi.


"Oke gimana caranya ya." Maziya mendekat pada Azkan.


Maziya melihat tubuh Azkan tanpa niatan disengaja. Soalnya, air di dalam Bathub bening sekali, jadi apa yang ada disana bisa kelihatan.


Apa yang dilihatnya sampai berekspresi begitu?


"Kenapa kau melihatnya?" Azkan menghalangi juniornya untuk diintip.


"Besar ya Kak Azkan?"


"Apanya?"


" Ya itu, nggak ada niatan untuk kita tidur bersama gitu Kak Azkan. Mumpung lagi di Hotel."


"Dasar Gila, Tidak jadi."


Azkan segera berdiri dan mengambil handuk lalu melingkarkannya di pinggangnya.


"Kenapa tidak jadi?" dengan irama manja Maziya tak segan-segan menyentuh Perut roti sobek milik Azkan.


"Singkirkan tanganmu dari tubuhku. Itu menjijikan." Azkan melepaskan tangan Maziya.


Tiba-tiba saja, Lampu padam. Hal tersebut sukses membuat Maziya lemas dan sesak nafas. Azkan segera mendekat dan menenangkannya. Karena Maziya tidak membawa Ponselnya, tentu saja kegelapan tak dapat terhindarkan.


"Aku disini, tarik nafasmu dalam-dalam!" perintah Azkan memegangi tubuh Maziya.


Maziya yang makin panik mencoba melepaskan tangan Azkan. Tetapi lelaki itu berusaha untuk memeluk Maziya, agar ada kehangatan yang dirasakannya sama seperti dahulu.


Azkan dan Maziya justru jatuh terjerembap ke dalam Bathtub karena posisi yang tak seimbang. Azkan berada di bawah, membuat Maziya tanpa sengaja mencium dada bidang Azkan.


Karena Maziya masih terengah-engah, Entah dapat inspirasi dari mana Azkan menyambar bibir Maziya. Anehnya, meskipun hanya sekedar menempelkan bibir, ciuman itu mampu membuat Maziya tenang.


Azkan melepaskan bibirnya "Tutup mata saja, anggaplah kau sedang tidur di ruangan yang lampunya menyala!"


Maziya menurut, ia tidak membuka matanya barang seincipun. Perlahan-lahan rasa sesak di dada Maziya mulai berhenti. Azkan merasakan kembali perasaan aneh di jantungnya.


Ia tidak punya penyakit jantung. Azkan mulai mengira ia menyukai Maziya namun hal itu segera ditepisnya.


Bagaimana jika aku benar-benar menyukainya?


Gadis tengil yang gila harta ini....


"Kak Azkan aku keluar dulu, bisa bantuin nggak?. Kak Azkan cukup ahli meskipun dalam keadaan tidak ada lampu sama sekali kan?. Aku mau ngambil ponsel." Dari nada suaranya yang lemah saja, sudah jelas Maziya sedang pasrah.


"Aku tidak mau" jawab Azkan.


Maziya meraba-raba tepian Bathub, setelah berhasil ia bangkit secara perlahan. Karena tubuh Maziya yang ikut terendam, jadi otomatis baju piyamanya basah membuat baju itu ketat menempel di tubuhnya. Tentu saja dua gundukan kembar tersebut tidak dapat diabaikan Azkan. Ditambah lagi dengan kemolekan tubuh Maziya.


Perlahan namun pasti, Azkan menelan Salivanya. Azkan meraih tangan Maziya hingga gadis itu kembali terduduk. Maziya merasakan ada yang aneh di dekat pahanya, sesuatu yang keras dan besar?.


(Itu juniornya Azkan lagi aksi)


Azkan meraih kepala Maziya. Ia pegang dagu istri nya hingga bibirnya kembali menyambar. Kali ini bukan sekedar menempel, Azkan mulai mencium bibir bagian atas Maziya, cukup lama hingga akhirnya berpindah ke bibir bagian bawah. Setelah itu, ia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Maziya.


Karena terkejut, tentu Maziya mencoba mendorong tubuh Azkan. Namun semakin kuat dorongan Maziya, semakin kuat juga ia merasakan bahwa Lidah Azkan mengulum lidahnya dengan beringas.


Maziya yang tidak pernah pacaran. Beradu dengan Azkan playboy kaya yang suka Gonta ganti pacar tiap sebulan. Dari segi manapun, jelas Maziya tak ada pengalaman sedikitpun dengan hal tersebut. Sementara Azkan, dia seperti predator yang menggenggam mangsa lemah dan mudah ditaklukkan.


Maziya terlena, hari ini sepertinya fase maniknya mulai Kambuh. Hasratnya naik, semangatnya juga. Bisa-bisa dia kelepasan dengan hasratnya.


"Kak Azkan," Maziya berhasil mendorong tubuh Azkan sehingga ciuman itu berhenti.


Dengan mata masih tertutup dan mencoba membayangkan bahwa di sekitarnya adalah kawasan penuh cahaya, Maziya berusaha bangkit lagi. Dia berhasil keluar ruangan meskipun harus tertatih. Cahaya ponselnya yang berada di meja menyelamatkannya kali ini.


Belum sempat mengambil ponsel, Lampu kembali menyala. Maziya mengusap dadanya tenang.


Untung saja, ciuman ternyata sangat nikmat ya. Eh tidak Maziya, sadarlah dia tidak mencintaimu meskipun kau mencintainya.


Maziya mengelus bibirnya yang mungil dan merasakan ciuman panas dari Azkan. Namun lagi-lagi hasratnya yang mulai liar ia tepis jauh-jauh.


Maziya pergi ke kamar untuk mengganti Piyamanya yang sudah basah. Sementara itu Azkan di kamar mandi merasakan gejolak yang benar-benar aneh. Ia juga sering merasa terangsang melihat mantan pacarnya menggoda dengan cara ekstrim. Tetapi dia tetap menjaga batas selama ini demi reputasi Perusahaan juga prinsip yang selalu ia jaga. Untuk tidak merusak wanita.


Tapi gadis itu..dia hanyalah parasit. Dia tidak pantas disebut wanita maupun manusia. Kenapa aku justru merasa terangsang?


Azkan menenangkan juniornya sekali lagi saat membayangkan tubuh basah Maziya juga ciuman barusan. Azkan keluar dan mencari keberadaan Maziya. Pasti saat ini ada di kamar berdasarkan suaranya. Dia mencoba membuka pintu kamar yang terkunci, karena tidak bisa ia langsung mendobraknya.


"Kak Azkan?" Maziya yang hanya memakai bra dan ****** ***** langsung panik dan diam mematung di tempatnya.


Tanpa aba-aba, Azkan yang hanya memakai handuk itu mengangkat tubuh Mungil Maziya dan melemparkannya ke atas kasur.


"Kak Azkan kamu gila?" teriak Maziya yang syok.


"Kau yang gila." Azkan memegangi kedua tangan Maziya membuat Gadis itu berusaha meronta.


Jangan sekarang, saat ini Maziya juga sangat berusaha menahan hasrat seksualnya. Kalau Azkan nekat, ia bisa dengan mudah menyerahkan diri.


Azkan melepaskan bra dari Tubuh Maziya. "Kau sangat ranum dan manis."


Azkan mencium kasar leher Maziya hingga gadis itu berteriak dan bekas kemerahan perlahan mencuat. Setelah itu, ia mulai memainkan dua gundukan milik Maziya yang berhasil membuat gadis itu menggeliat dengan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.


"Ahhh, Kak Azkan..."


Setelahnya, apa yang terjadi dapat diinterpretasikan dari Suara rintihan Maziya yang cukup kuat. Malam itu adalah malam pertama yang panjang bagi hubungan antara Suami Istri tersebut.


Barga masuk kembali ke dalam Kamar. Ia tidak melihat Maziya maupun Azkan.


"Dimana Nona dan Tuan?."


Barga benar-benar too Stuned to Speak. Ia mendengar suara dari arah kamar. Sebagai lelaki dewasa yang juga tidak polos. Tentu ia tahu itu suara apa. Barga memutuskan untuk kembali ke luar dan menemui pengawal lainnya.


"Mengapa kembali lagi Sekretaris Barga?" tanya salah seorang pengawal.


"Aku menemani kalian berjaga diluar. Tenang saja, aku juga sudah terbiasa tidur sambil berdiri."


"Kenapa tidak di dalam?"


"Tuan dan Nona butuh waktu privasi. Jangan banyak tanya, ingat kan apa aturan Kediaman Serziano?" Barga berucap tegas.


Mereka menghabiskan waktu bersama diluar kamar. Barga tenggelam dalam pikirannya. Tuan Azkan yang selalu anti melewati batas dengan pacarnya dan putus setelah sebulan.


Kini ketahuan melakukan xxx dengan istrinya sebelum sebulan menikah. Bahkan dengan istri yang jelas-jelas dibencinya lahir dan batin.


Benci yang berlebihan dapat disalahpahami sebagai Cinta.


Memang benar kata orang-orang. Senakal-nakalnya lelaki, kalau sudah menikah jangan coba-coba nakal kecuali untuk istri Sendiri.


Bersambung....