
Aliza berusaha menenangkan Ririn. Sudah hampir dua bungkus tisu berserakan di lantai asrama mereka.
Kalau biasanya Ririn datang dengan wajah sumringah setelah bertemu Mark. Kali ini Ririn menangis, bahkan untuk pertama kalinya juga Aliza mendapati sahabatnya yang sering Gonta ganti pacar itu menangis.
"Aku beneran Aliza..."
"Kamu beneran apa?"
"Aku ,,, " Ririn terisak..
"Kamu hamil?" Aliza langsung panik.
Ririn menggeleng kuat, "sayangnya enggakkk, kalau hamil kan bisa minta dia tanggung jawab."
"Untunglah enggak...Udah berentiin dulu nangisnya baru cerita!"
Setelah tenang, Ririn menceritakan semuanya pada Aliza.
"Bentar- bentar, jadi setelah kamu sadar kalo Kamu udah jatuh cinta sama Mark. Kalian justru putus?"
"Iya," Ririn menghapus sisa ingusnya dengan selembar tisu.
"Terus, dia nggak mau mengindahkan peringatan kamu soal Posisi VM yang terancam?"
Ririn mengangguk lagi, "Aku mesti gimana, kalian pada punya pasangan."
"Jangan mikirin itu, Maziya sama Viola juga betah jomblo. Meskipun Maziya udah..."
Ririn memotong ucapan Aliza, "Jangan ngomongin dia, aku nggak terima sama nasib baik dia tahu nggak?"
"Nasib baik darimananya Ririn, dia menderita Bipolar yang selamanya bisa dibilang nggak akan bisa sembuh 100 persen."
"Tapi dia juga menyesuaikan diri dengan Bipolar itu Aliza, lagipula juga Bipolar bukan penyakit jiwa akut yang..."
"Itu bisa saja parah Ririn, Mungkin dia bisa bertahan karena dukungannya juga nggak main-main ya"
Aliza bahkan sangat kagum dengan Maziya. Kenapa Bisa Bipolar yang diderita Maziya terlihat sangat menyatu betul dengannya. Karena orang -orang selalu menyebut Maziya dan Viola Klop Gila atau Gadis Kaktus yang paling Bar-bar Absurd dan Tidak bisa digapai siapapun.
"Kamu kok santai begitu sih?, Malah jadi muji-muji?"
"Di tempat magangku dulu ada yang seperti Maziya. Ada juga yang sama seperti Mark ingin memakai alasan itu untuk posisi."
"Terus gimana?"
"Mereka? tetap aja dapat 50 persen, Lagipula salah sendiri dia nggak tahu kalau Perusahaan itu sebenarnya memang akan diakuisisi oleh yang memberikan suntikan Dana"
Ririn menyalahkan Aliza yang malah membahas Kasusnya dulu, "Bukan kasus kamu, Maziya menurut kamu gimana?"
"Menurut kamu?. Bahkan angkatan kita bisa mengenal Maziya kenapa?".
"Karena dia bar-bar?"
Aliza mengiyakan, "Yap. Dia bahkan bisa mendapatkan seorang pewaris SERZIANO Grup, hanya mengatasi Mark itu masalah kecil."
"Jadi VM akan hilang?"
"Entahlah, dia selalu suka melakukan hal tak terduga dan sombong. Aku juga penasaran." ujar Aliza.
......
Memang akhir-akhir ini ia merasa ada sedikit perbedaan sikap dari Azkan. Meskipun di Perusahaan tidak terlihat jelas. Namun perintah semena-mena Azkan seperti membuatkan Kopi atau mengipasinya sudah tidak ada lagi.
Berbanding terbalik dengan Azkan yang berusaha untuk mendalami peran sebagai Suami. Maziya justru sebaliknya, karena Azkan sudah tahu rahasianya, ia jadi tidak takut melampiaskan perubahan Moodnya.
Kadang Azkan juga jadi korban, Maziya bisa sangat aneh hingga ingin mereka berhubungan intim. Atau terkadang Maziya bisa seperti sosial yang kehilangan gairah dan malas ngapa-ngapain. Pernah sekali ia sampai membiarkan Toilet tidak disiram, karena Azkan yang pertama masuk, ialah yang jadi pemberantas itu semua.
Seperti biasa, saat Azkan mandi Maziya duduk menonton siaran TV. Rita masuk kamar mereka setelah mengetuk beberapa kali.
"Mengapa kamu bisa masuk?" tanya Maziya bingung.
Padahal jelas-jelas hanya Bi Mirna dan dengan pengawasan BI Mirna baru ada pegawai Kediaman yang boleh masuk. Rita beralasan bahwa Ibunya sedang ke kamar mandi. Ia takut telat mengantarkan buah-buahan.
"Kami barusaja kembali setelah makan, menurutmu apa kami masih ingin makan buah?. bawa kembali!" perintah Maziya.
Namun bukannya langsung kembali, Rita seperti sengaja berlama-lama disana. Melihat Rita yang celingak-celinguk, Maziya dapat pastikan bahwa yang diincarnya adalah Azkan.
"Suamiku masih mandi, mau menemuinya?"
"Tidak Nona,"
"Yaudah keluar!"
"Nona, kalau begitu aku pamit kembali."
"Mmm." Saat Rita menuju pintu, Maziya memanggilnya lagi. "tunggu, kemarillah!"
"Ada apa Nona?"
"Aku mencium aroma busuk darimu, apa kamu berdandan sebelum kemari?"
"Ini memang aku biasanya Nona, tapi aku tidak berbau busuk."
"Bau busuk bisa timbul dari niat yang busuk. Aku menciumnya. Kamu tidak biasanya memakai Lipstik merah begitu, Pakaian yang lebih ketat dan aroma busuk tubuhmu." Maziya mengipasi hidungnya pelan dengan tangan Seolah menyindir.
Azkan akhirnya keluar kamar mandi. Ia tidak tahu akan ada Rita disana sehingga Jubah mandinya tidak terpasang rapi.
"Rita? Bi Mirna mana!" Azkan sedikit panik berusaha merapikan jubah mandinya.
Belum sempat menjelaskan, Maziya memberikan tatapannya pada Azkan. Karena Azkan tidak mengerti, akhirnya ia sendiri yang menarik rambut Rita hingga keluar kamar. Meskipun tidak terima, Rita harus meredam emosinya.
"Kau pikir kau pantas hah, lihat saja. Aku akan membuatmu memperlihatkan wajah aslimu."
Gumam Rita sembari mengarahkan tinjunya ke pintu kamar Maziya dan Azkan, Ia lalu pergi menuju dapur.
Barga melihat hal tersebut dan berniat untuk memberitahukan Azkan. Ia langsung masuk karena pintu mereka tidak terkunci.
Saat masuk, ia mendapati Maziya yang sedang menekan tubuh Azkan ke dinding. Bukan itu saja, Maziya bahkan kini sedang mencium dada bidang Azkan.
Karena kehadirannya belum disadari, Barga berbalik pelan dan keluar lalu menutup pintu. Ia merasa lega karena tidak mengganggu adegan mesra pasangan suami istri tersebut.
Balik lagi ke kamar...
"Apa Kak Azkan melihat ada yang berbeda dengan penampilan Rita?"
"Apanya?"
"Wajahnya gitu?. mungkin Kak Azkan merasa dia menjadi lebih gimana gitu?"
"Lebih gimana?" Azkan menautkan alisnya.
Maziya merasa gemas sendiri, Ia mengoles lipstik merah merona di bibirnya. Ia kesal karena Azkan tidak melihat ada perbedaan dari penampilan Rita.
Setelah melepas ciumannya Maziya melihat stempel bibirnya, "Ini yang dia inginkan, dia pasti ingin menggoda Kak Azkan."
"Kamu yang menggodaku, apa kamu sebenarnya ingin menjadikan Rita sebagai alasan?" Azkan bersikap acuh meskipun saat ini ada hasrat yang bergejolak dari dirinya.
"Bukan itu aja, dia punya kartu Emas Kak Azkan. Dia udah Upload."
"Bukannya itu karena dia berprestasi?"
"Pegawai mana yang dapat prestasi bahkan sebelum jadwal penilaian karyawan ?"
"Kamu mempelajari hal itu juga?. Otak kamu cerdas juga ya ternyata." Azkan Manggut-manggut.
"Kak Azkan juga tahu kan kalau IQ ku bahkan bisa jadi diatas Kak Azkan." Maziya pergi menuju pintu melewati ranjang mereka.
Azkan menahan lengan istrinya, "Eh mau kemana? Bukannya barusan kamu mau merayuku?" Azkan melirik ranjang sembari mengedipkan matanya.
"Kak Azkan ngapain sih, aku mau kasih pelajaran buat dia." Maziya melepas tangan suaminya.
Apa dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya itu?. Mungkin dia bukan Bipolar, tapi tempramental" gumam Azkan sembari cepat mengganti jubahnya dengan Piyama.
Bersambung....