
“Apa lagi yang kamu minta sama istri kamu sih Azkan, Blackcard itu memang pemberian Papa kamu, bahkan dulu kakek kamu kasih Mama aset tak ternilai loh, blackcard hanya secuil.” Nyonya Lidia lagi-lagi mengomel.
“Aku tidak mengambilnya kok Ma.”
“Berarti kamu ada niatan buat ngambil?. Mama pikir kamu harus di tes deh, mungkin kamu punya penyakit kikir akut.” Nyonya Lidia berusaha tenang.
“Tenang Ma, makan dulu sarapan Mama.”
“Gimana bisa tenang Pa, Kemaren ziya bisa makan selembar roti, pagi ini sarapan bahkan minum air putih pun dia nggak sempet.”
“Dia nggak sarapan dulu Ma?” Pupil mata Azkan membesar.
“Menurut kamu?. Bi Mirna baru bangun dan pas mau nawarin sarapan dia nggak mau dan bilang nggak keburu.”
Barga berjalan dari dapur usai membereskan sarapannya. Azkan berdiri meminta Bi Mirna menyiapkan sarapan di kotak bekal.
“Anda mau makan siang dengan bekal Tuan?” tanya Barga.
“Bukan buatku, tapi buat memantu Mama yang lupa sarapan.” Azkan melirik Mamanya yang perlahan tenang.
“Nah gitu dong, awas kalo Ziya kenapa-kenapa.”
“Nggak akan Ma, dia itu kuat kalau dikasih uang.”
“EEEHHH..” Nyonya Lidia nyolot sementara Azkan sudah mengucur pergi. “Bener-bener nggak punya hatiii.”
“Kan dia udah inisitif bawa sarapan Ma.” Tuan Alam mengelus punggung istrinya. “Nanti mama darah tinggi loh.”
“Papa sih, nggak tegas, kenapa pula dulu masih ikut curiga sama Ziya.”
“Karena Mama menutupi yang sebenarnya sama Papa. Coba saja Mama terus terang dengan keadaan menantu kita itu. Papa juga pasti akan menyayanginya.” Tuan Alam membela diri.
“Mama juga nggak mau menyembunyikannya Pa, Mama hanya punya pemikiran sendiri mempertimbangkan persetujuan Maziya juga.”
“Kenapa dia tidak mau membicarakannya Ma, andai saja Azkan tahu.”
“Dia mau Azkan tahu ketika Azkan bisa merasakan ketulusannya Pa, Dia merasa kalau Azkan tahu lebih awal, perasaan Azkan pasti bukan cinta dan dia akan selalu merasa dikasihani.”
“Ternyata dia benar-benar mencintai Azkan.”
“Tentu saja, putra kita beruntung sekali.”
....
Semua anggota sekretaris berkerumun di pintu melihat Maziya sudah asyik di komputernya
“Apa ini awal dari mimpi buruk kita?” Edwin menelan ludah.
“Ini pasti ancaman, istri seorang CEO yang masih muda tanpa pengalaman saja bisa secepat ini, apalagi kita sekretaris intinya dengan pengalaman mumpuni.” Lintang ikut menelan ludahnya.
“Dia masih gadis kemarin?. yang datang dengan dandanan seperti anak sekolahan itu.” tanya Renald.
“Iya, itu dia.” Adiba meladeni ketus.
“Kalau saja dia bukan istri CEO kita.” Renald membuang nafas kecewa.
“Kamu mau nembak dia juga?. Benar-benar stres kamu.” Chelsea geleng-geleng kepala.
"Iya selagi janur kuning belum melengkung."
Renald adalah pangeran menyedihkan dan cukup terkenal dengan popularitasnya tersebut. Semua gadis cantik dan jomblo akan jadi incarannya, dan ia pasti akan ditolak oleh mereka semua. Bahkan ada istilah dan desa-desus siapapun yang cantik kalau belum ditaksir Renald maka belum tentu cantik.
“Sudah buruan kalian ke posisi masing-masing.” Pitaloka membubarkan mereka.
Berkat suara Pitaloka, Maziya langsung sadar diperhatikan dan segera berdiri .” Semuanya, aku akan berusaha sebaik mungkin, aku sudah mempelajari bagian kita semua, jadi jangan merasa terbebani dengan kehadiranku ya.”
Semuanya mengangguk canggung sembari duduk di posisi masing-masing. Maziya meninggalkan ruangan setelah mengangkat tinjunya sebagai lambang penyemangat. Sementara anggota lainnya merasa itu sebuah simbol ancaman untuk lebih telaten lagi.
.....
Azkan meletakkan bekal yang terbungkus kotak tahan banting diletakkan di depan meja Maziya.
"Pitaloka, ada rapat?"
"Iya 20 meniti lagi Pak." Pitaloka berdiri melihat Tablet.
"Saya sarapannya nanti saja Pak."
"Kalau sakit, kalau dihitung kecelakaan kerja, kalau Mama marah. Berhentilah merepotkan orang lain. Makan sarapanmu!"
Maziya terduduk dan langsung bergegas makan serapannya. Pitaloka hanya tersenyum melihat interaksi suami istri tersebut.
Siapa sih Pasangan di satu Perusahaan yang bisa bersikap profesional setiap saat. Pasti ada waktu dimana mereka mencurahkan perhatian atau memperlakukan pasangannya secara istimewa. Sama seperti CEO dan Istrinya, kalau dalam hubungan kerja, mana mungkin CEO yang membawakan sarapan untuk bawahannya.
.....
Rapat pertama Azkan sebagai CEO dimulai.
Awalnya semua lancar jaya, hingga salah satu Dewan Direksi bertanya perihal Maziya. Tentang jabatannya dan mengapa ditempatkan di posisi penting padahal tidak ada pengalaman sama sekali.
"Kalian semua salah paham." Azkan tersenyum.
Masing-masing hadirin rapat kebingungan. Pitaloka juga demikian, ia tahu kalau posisi Maziya adalah pengaturan Azkan sendiri.
"Sekretarisku cukup hanya Barga, lagipula Tim Sekretaris Inti juga sudah sangat baik." Azkan menjelaskan.
"Lalu apa fungsi istrimu?" celetuk salah seorang dari mereka.
"Aku tahu istriku minim pengalaman karena baru saja lulus. Aku juga selalu mempertimbangkan pandangan orang lain dalam keputusanku. Maka dari itu Istriku akan menjadi asisten saja."
Penjelasan Azkan membuat Para Dewan Direksi menjadi tenang. Sementara itu Maziya hanya mampu geleng-geleng kepala.
Di ruangan CEO, para sekretaris inti termasuk Pitaloka hanya mampu melihat dari balik dinding kaca. Nampak perdebatan antara Maziya dan Azkan disana serta Barga yang hanya diam tak mau ikut campur.
"Maksud Kak Azkan apa?. Aku semalaman mempelajari tentang posisi sekretaris. Tapi Kak Azkan ngakuin aku sebagai Asisten?"
"Karena kau memang tidak pantas mendapatkan posisi tersebut."
"Terus kenapa nggak bilang dari awal?"
"Apa pernah aku mengatakan kalau kau harus menggantikan posisi Pitaloka sebagai sekretaris Inti?"
"Pernah, buktinya..."
"Aku hanya bilang kau menggantikan posisi Pitaloka bukan tugasnya. Posisi artinya mejanya" Azkan menunjuk ke arah luar, posisi meja yang ditempati Pitaloka.
"Lalu kalau performa aku bagus dan hal semalam. Kak Azkan lupa?"
"Performa sebagai asisten." Azkan tidak berniat memperpanjang perdebatan mereka
"Kak Azkan hanya mau mengurangi uang bulanan aku kan?"
"Nah itu kau paham. Jadilah asisten yang telaten atau konsekuensinya kau tanggung sendiri."
Maziya keluar sembari menghempaskan pintu. Ia melewati para Sekretaris lainnya yang hanya mampu mengurut dada.
"Apa aku sebaiknya pensiun dini saja. Apa kita akan berada di sekitar pasangan aneh ini?" Renald geleng-geleng kepala
"Sebaiknya kau pensiun, hidupmu dan hidup kita semua bagaikan sebuah neraka." Adiba berhenti menghaluskan ujung kukunya.
"Pitaloka, dipanggil Pak Azkan." Barga kembali membuat jantung para sekretaris itu terbang.
"Baik"
"Kalian semua, segera kembali ke tempat!" perintah Barga tegas.
Pitaloka masuk ke dalam ruangan CEO.
"Aku mau kamu beri penjelasan pada istri saya bisa?"
"Maksudnya Pak?"
"Aku memang menyampaikan informasi tadi karena takut posisinya disalahpahami. Lebih dari itu, Aku sepertinya tidak bisa membiarkan istriku mengisi posisi paling sibuk dan rentan dalam kesalahan fatal membuatnya tertekan. Kamu lihat kan dia tidak sarapan, Dia juga tidak tidur semalaman. Aku tidak mau menyiksanya. Jadi tolong buat dia memahaminya!"
Pitaloka tersenyum. Dia tahu CEO nya itu bukan sekedar mempermainkan posisi. Tetapi penuh pertimbangan juga kasih sayang terhadap istrinya.
Bersambung....