
Maziya bangun dan merasakan sesuatu yang berat namun hangat berada di sekitarnya. Mendekapnya erat membuat perasaan nyaman yang pernah dirasakan Maziya.
Perlahan ia buka mata. Ternyata Azkan memeluk tubuhnya.
"Kak Azkan..." Maziya mencoba menyingkirkan tangan kekar yang menghalanginya bangkit.
"Kak Azkan..., Kak Azkan..." Setelah bersuara cukup keras, barulah Lelaki itu bangun.
Azkan menatap wajah yang ada dalam dekapannya dalam kondisi masih mengumpulkan nyawa. "Mmm cantik," gumamnya secara tak sadar.
Azkan langsung melepas pelukannya saat ia tanpa sengaja meraba Buah Dada Maziya.
Maziya bangkit sembari menyilangkan tangan menutupi bagian Dada. "Apa dengan sebuah pujian, Kak Azkan bisa seenaknya menyentuhnya?"
Azkan ikutan bangun "Apa yang kau lakukan semalam padaku?"
"Kak Azkan yang meluk aku, sekarang jadi nuduh aku juga?"
"Kau pasti menyingkirkan gulingnya. Gulingnya mana sekarang?" Azkan menunjuk bagian tengah Antara mereka.
"Tuh gulingnya di bawah Kak Azkan. yang artinya Kak Azkan lah yang membuangnya semalam. Dengan tujuan memelukku kan."
"Enak saja, apa buktinya aku yang menyingkirkan gulingnya?. Bisa saja kau sengaja membuangnya ke arahku agar seolah-olah Aku sengaja melakukannya."
"Terserah, lalu atas apa yang Kak Azkan sentuh. Cepat minta maaf!"
"Apa yang kusentuh?"
"Jangan pura-pura tidak melakukannya Kak Azkan." Maziya melirik bagian yang ia tutupi dengan menyilangkan tangan
"Aaah itu "
"Aaah itu?."
"Aku tidak merasakan sedang menyentuh sesuatu yang salah. Kecil sekali."
"Ke kecil?. Minta maaf enggak. Pake ngatain lagi." Maziya mendekat" Pegang lagi coba!. Seenaknya saja bilang ini kecil. Ayo pegang!!"
Plakk...Sentilan keras di kening Maziya membuat gadis itu berhenti.
Azkan segera mengucur ke kamar mandi.
"Kak Azkannnn." teriaknya
.....
Agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Tuan Alam membuat Aturan bahwa mereka harus sarapan bersama setiap hari. Tidak peduli harus pergi lebih pagi atau tidak. Jika ingin pergi lebih awal harap tetap bersama. Intinya jangan sampai Azkan bersikap tidak peduli lagi dengan Maziya.
Semua hidangan sekelas Restoran Michelin berjejer di meja makan.
"Ziya?. Kening kamu kenapa?"
"Masih merah ya Ma?. Padahal udah aku cover sama ....
"Kamu kejedot tembok?"
"Jatuh dari ranjang?" Tuan Alam ikut penasaran.
"Gara-gara Azkan?" Nyonya Lidia terdengar panik.
"Ini gara-gara..."
"Ma, aku makan duluan gimana?. Kita nggak boleh telat. Ini juga mempengaruhi pandangan para karyawan karena Kemarin asistenku kabur dan tidak bertanggung jawab."
"Azkan kamu itu sabar dikit lah. Kan itu semua karena kamu juga."
"Ee iya Ma, kita sarapan saja. Itu air minum mama udah mulai dingin." Maziya mengiyakan, bisa repot juga kalau ia memberitahu penyebabnya Azkan dan apa pemicu Azkan menyentil keningnya.
Bi Mirna segera meminta petugas dapur mengganti air di Teko kaca dan gelas Nyonya Lidia. Suhu air yang harus diminum dan disukai Nyonya Lidia dan Maziya adalah 50 Drajat. Kalau dingin harus diganti, atau akan banyak masalah yang diterima petugas dapur.
.....
Di mobil...
Barga mengemudi dengan lihai. Tidak berbicara sepatah katapun karena Azkan tidak mengajaknya bicara.
"Ingatlah nanti jangan lupa posisimu sebagai Asisten!"
"Iya."
"Jangan mengganggu Pitaloka meskipun dia akan resign 3 bulan lagi!"
"Mmm" Maziya mengangguk kecil.
"Jangan bersikap layaknya Boss dan semena-mena terhadap karyawan lainnya!"
"Iya."
"Mmm." Dijawab dengan anggukan kecil lagi.
"Kau dengar tidak?"
"Mmm."
"Jawab yang benar.."
Jari Azkan terangkat hendak memberikan sentilan di kening Maziya. Namun secepat kilat juga Maziya menangkap tangannya.
"Kurangilah dalam menyentil keningku Kak Azkan. Sakit sekali..." ujar Maziya.
Azkan menarik tangannya. "Makanya jawab yang benar dan bertindaklah yang bagus!"
"Baiklah Kak Azkan. Baiklah suamiku sayang. Puas?" ejek Maziya.
Mendengar hal itu kenapa Azkan yang jadi berbunga-bunga. Dia pasti gila, apa Gadis ini memang sudah berubah?. Dahulu Maziya pasti akan membalasnya dengan memukul dadanya atau mencubitnya.
Apapun tindakan Maziya tidak begitu berpengaruh padanya, kekuatan Gadis itu masuk dalam kategori Imut. Tapi kalau Maziya sudah memainkan kata-kata memang tidak terduga. Seperti Kali ini, Azkan merasa ada yang berbeda.
"Jangan coba-coba memanggilku begitu!"
"Oke Kak Azkan." Maziya mengalah.
....
Di sisi lain, Barga berusaha menahan senyumnya. Dia juga sangat sering menjadi sopir dalam hubungan Azkan yang kandas tiap sebulan sejak ia menjadi sekretaris kepercayaan.
Namun sikap Azkan pada mantan-mantannya berbeda dengan Sikap Azkan pada Maziya. Azkan jadi lebih banyak bicara dan terkesan alai dari biasanya. Meskipun kekejamannya tidak banyak berubah, tapi keakraban mereka tidak dapat ia artikan.
Barga selalu mendengar bahwa Azkan merasa jijik hanya dengan memikirkan Maziya dari mulut Azkan sendiri. Bahkan semua kata-kata hinaan yang mengalir seperti kereta api membuat Barga begitu yakin bahwa Maziya adalah karakter yang paling dibenci Azkan di dunia.
Namun nyatanya, melihat interaksi antara suami istri itu. Barga ragu mereka hanya bertindak agar tidak dicurigai orang lain karena menikah untuk memenuhi Kontrak juga Wasiat kakek Azkan Serziano.
.....
Maziya berulangkali harus mengatur nafasnya untuk masuk ke ruang para Sekretaris. Ia juga berusaha untuk bersikap alami agar keangkuhannya tidak tampak jelas.
Ayo Maziya. Kamu bisa, hanya menjadi asisten di Perusahaan kan. Di luar juga mereka akan menghormatimu.
"Hari pertama ku sebagai Asisten adalah hari ini. Aku tidak akan memberatkan kalian semua. Maaf kelancanganku kemarin" Maziya menunduk lagi.
Karena Maziya menunduk, sekretaris lainnya ikut menunduk. Mereka tetap saja tidak bisa mengabaikan Maziya sebagai Istri dari Azkan, CEO SERZIANO Grup.
Maziya keheranan dengan para Sekretaris yang terus menunduk padahal ia sudah berdiri.
"Kenapa kalian ikut menunduk?. Jangan terlalu sungkan padaku. Posisiku sekarang adalah asisten CEO. Kalian juga boleh menyuruhku melakukan apapun, jangan sungkan!."
Para sekretaris itu berdiri.
"Kami tidak akan merepotkan mu Nona." Renald lupa.
Adiba memukul punggung Renald cukup keras. "Panggil dia Maziya. jangan sungkan katanya!"
"Ma ma Ziya." Renald sampai tergagap.
Mereka semua duduk di meja masing-masing.
"Katanya sempat mau nembak Maziya. Ngangkat dagu aja gemetaran." Chelsea menggoda Renald.
"Berhentilah, kalau Pak Azkan tahu aku punya niat begitu. Habislah karirku dan gaji yang aku impikan ini!" Renald melarang Chelsea bicara dan menyinggung kebiasaannya yang kadang diluar kontrol tersebut.
"Maziya, ikut aku sebentar!"
"Biasanya kalau udah ngikut Pitaloka, Akan ada hal yang membuat Nona, maksudku ada hal yang akan terjadi pada Maziya." Renald menelusuri kepergian dua perempuan tersebut.
"Seperti kemarin ya?" tanya Edwin.
"Iya."
Di hari pertama sebagai Asisten. Semua yang diduga Maziya benar-benar terjadi. Azkan hanya ingin menyuruh-nyuruhnya. Ia bagaikan pelayan dalam zaman kerajaan yang mengabdi pada Raja Dominan seperti Azkan.
Azkan menyentuh jakunnya, "Kopi.."
"Mejaku kotor." Sembari mengelus meja dengan jarinya.
"Ini debunya?" Dengan pura-pura meniup Debu yang tak terlihat.
Carilah ini...Carilah itu....Semua kata-kata yang merujuk pada Aksi Maziya keluar satu-persatu dari mulut Azkan.
Maziya kelelahan, namun satu hal yang ia tahu. Azkan pasti menikmati hal ini.
Bersambung....