
Maziya duduk di samping Renald yang hari ini mengisi tempat Pitaloka.
"Kenapa kamu tidak pernah menyatakan perasaan pada Adiba?"
"Kenapa tiba-tiba saja Maziya, apa Mood kamu hati ini bermasalah?"
"Tidak, aku normal."
"Lalu kenapa bicara begitu?. Bukannya kamu nggak akan lagi menyentuh barang haram setelah di Pulau itu."
"Aku juga udah lama nggak minum. Lebih tepatnya kan nggak boleh ya."
"Lalu kenapa?"
"Anggap saja aku menantang mu Renald. Kalau kamu berani aku kasih ini.."Maziya mengisyaratkan uang dari ibu jari dan telunjuknya yang digosokkan cepat.
"Aku tidak akan melakukannya, lihat saja bagaimana gadis itu lebih mencintai kukunya dibandingkan dengan rekan kerjanya."
Adiba pernah marah hanya karena Renald mengatakan bahwa cat kukunya tidak lebih baik dari anak SD. Sangat tidak rasional untuk ukuran karyawan yang diterima dengan kecerdasan setingkat Serziano Grup marah dengan kritikan sepele.
Namun hal itu juga tidak sepenuhnya salah, Adiba menyisihkan banyak waktu dan tenaga serta kemampuan seninya untuk keindahan Cat kuku tersebut. Disaat yang lainnya memuji justru Renald mengejek hasil kerjanya.
"Kamu tahu tidak, aku punya kelebihan dalam melihat perasaan antara Pria dan wanita."
"Tidak Maziya." Renald tak percaya.
"Aku bisa yakin 100 persen bahwa aku dan Kak Azkan akan bersama juga karena hal itu. Bukan rahasia umum kalau aku dan dia awalnya seperti ada jarak."
Renald mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia tahu status Maziya hanyalah asisten dari Azkan sebagai atasannya. Tetapi Maziya adalah istri dari Azkan Serziano. Tidak ada yang bisa menebak bagaimana sikap Atasannya yang kini sudah sedikit lebih berubah pada Maziya. Bukan dia saja, semua sekretaris Inti juga tahu bahwa Azkan tampak memperlakukan Maziya tidak sekejam seperti awal-awal diterima dahulu.
"Renald ngomong dong!"
"Iya kan aku sibuk. Lagipula Aku sadar sejak kamu ditetapkan sebagai Sekretaris lalu tiba-tiba jadi asisten Maziya. Lalu Pak Azkan yang akhirnya membuat semua tugas kamu lebih sedikit. Aku hanya tidak ingin ikut campur." Ungkap Renald dengan jujur.
"Oh ya?"
"Iya, Pitaloka yang bilang kami semua juga setuju tapi memutuskan untuk tidak ikut campur, atas saran Pitaloka juga aku terpaksa menerima posisi ini." Renald menghela nafasnya panjang.
"Kamu nggak nanya apa gitu!. Kan kamu selalu ingin tahu dengan hubungan orang lain"
"Nanya apa Maziya?"
"Tentang hubungan aku dan suamiku."
Renald memang ingin tahu. Tapi dia punya rasa takut juga kalau itu berhubungan dengan Azkan. Apalagi ia juga tahu kebanyakan hubungan antara pewaris kaya dengan pasangannya ada yang palsu ada yang diatur bahkan ada yang hambar. Ia hanya tidak mau ikut campur pada masalah yang hanya akan memberatkan posisinya.
"Apa Maziya, kamu ceritakan saja. Jangan merasa terbebani. Kan kami semua dituntut untuk memahami kamu." Ujar Renald.
"Jadi dulu awalnya aku dan dia belum punya perasaan yang dalam." Maziya tidak mau bilang bahwa Azkan membencinya, karena yang ia yakini Azkan menahan diri menyukainya.
"Mmm baiklah, lalu?"
"Aku melihatnya, di dalam matanya yang mempesona itu. Bahwa dia punya perasaan padaku. Dibalik sikapnya, dia perhatian dan selalu menjadikanku sebagai prioritas."
"Apa kamu sedang pamer ?" bisik Renald.
"Aku juga merasakan hal yang sama tentang Barga dan Chelsea."
Renald tertawa.
"Kamu jangan tertawa ya, aku juga merasakan hal sama. Kamu dan Adiba, kamu suka Adiba kan?"
" syutt, pelankan suara kamu Maziya bagaimana jika ada yang dengar?" Renald memegang mulut Maziya.
"Kenapa kamu takut?. Kan nggak suka?" Maziya melepaskan tangan Renald
Melihat interaksi Renald dengan istrinya. Bahkan sampai Renald menyentuh bibir Maziya membuat Azkan segera berdiri dari kursinya.
"Bagaimana jika Adiba marah?"
"Kenapa kamu peduli?" Goda Maziya lagi."Kamu kan juga udah terkenal suka sama semua karyawan wanita Jomblo sebelum mereka Taken."
"Tapi ya nggak Adiba juga."
"Lah emang Adiba kenapa?"
"Ya enggak."
Azkan membuka pintu dan keluar ruangan dengan tergesa. Ia Tiba di hadapan mereka dengan wajah masam.
"Ekhemmmm ekhemmmm." Ia berdehem dengan sengaja.
"Pak Azkan."
"Maziya, masuk ruangan saya!"
"baik Pak," Maziya tersenyum dan berjalan gontai ke ruangan.
Belum sempat Azkan mengambil nafas berbicara dengan Renald. Maziya berbalik
"Iya, Barga kamu masuk duluan!"
"Pak tapi kan anda yang nyuruh Ma..."
Barga berhenti protes setelah melihat isyarat mata saja dari Azkan.
Azkan melirik sinis pada Renald, "Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada yang penting Pak." Jawab Renald.
"Tidak penting sampai kamu menyentuh Bibir istri saya?"
"Saya tidak sengaja pak, sumpah. Saya hanya tadi itu..." Renald tergagap.
"Selanjutnya perhatikan sikap kamu!"
"Baik Pak, maaf."
"Seleseikan file barusan 15 menit lagi!"
"Tapi pak bukannya anda bilang 1 jam?"
"Saya berubah pikiran karena kamu." Azkan berbalik pergi.
"Pak saya kan baru menyesuaikan diri di tempat ini." Nada suara Renald terdengar memelas.
"Saya tidak peduli." jawab Azkan ketus dan masuk ke ruangannya.
Azkan membuat tirai di ruangannya menutup otomatis dengan Remote.
"Memang benar mereka serasi, yang satu mencari gara-gara yang satu menyalahkanku karena ulah istrinya. Intinya aku yang akan tersiksa, harusnya aku menolak jabatan ini"
Renald menahan air mata penderitaan yang ia alami. Ditambah lagi kerinduannya bergabung di ruang sekretaris Inti.
"Aku ingin duduk disana tetap seperti semula, aku ingin menggoda Adiba..." Renald menepuk mulutnya sendiri.
Barga keluar ruangan dan duduk di samping Renald.
"Apa lagi?. Belum 15 menit sekretaris Barga." Renald benar-benar terdengar frustasi.
"Aku akan membantumu."
"Benarkah?" Renald langsung berbinar-binar.
"Tentu saja"
"Kenapa kamu tiba-tiba membantuku?"
"Lebih baik daripada jadi nyamuk."
Renald melirik ruangan yang sudah tidak tembus pandang setelah gordennya diturunkan tersebut. Renald mengerti maksud Barga, namun ia juga bersukur karena berkat hal itu ia bisa dibantu oleh Barga yang sudah tak diragukan lagi profesional dan kehebatannya.
"Aku penasaran Sekretaris Barga."
"Tentang apa?. tanyakan dengan cepat!"
"Kenapa aku yang terpilih di posisi paling bagus sekaligus paling melelahkan bagi sekretaris Inti ini."
"Tentu saja karena kamu yang paling pantas."
"Benarkah?."
"Atau bisa jadi karena kamu yang pernah mengatasi bagaimana Azkan dahulu saat masih jadi Direktur Departemen."
"Apa kamu bisa tanya alasannya Sama Pak Azkan?"
"Kenapa aku harus tanya?"
"Biar bisa dipastikan kenapa dia memilihku."
"Apa itu penting?"
"Tentu saja, aku bisa sesekali menggodanya karena memilihku."
"Sebenarnya aku yang memilihmu."Barga mengakuinya.
"Apa?" Jadi kamu akhir-akhir ini sering sekali bertanya kegelisahan ku. Atau juga bertanya kabarku karena ini?"
"Aku hanya menjalankan prosedurnya." Barga tak merasa itu salah.
"Baik Tuan dan ajudannya sama saja." Renald kembali menatap ruangan CEO "Baik Suami dan istri juga begitu"
"Kenapa?" tanya Barga.
'Sama-sama menyebalkan."Gumam Renald dengan pelan.
Bersambung.