
Maziya memakan sarapan mewah yang berjejer dengan enggan. Rasanya ingin sekali ia cuti untuk pergi menemui Viola yang tidak bisa lagi mempertahankan website kebanggaannya.
"Sayang, apa Teman kamu masih belum bisa dihubungi?" Nyonya Lidia khawatir.
"Belum Ma, mungkin dia marah padaku."
Nyonya Lidia menatap putranya. "Azkan apa sampai harus membuat Gadis itu klarifikasi sedemikian rupa hah?"
"Setidaknya wajah dia di Blur kan Ma." Azkan melahap Sarapannya seolah tak ada yang terjadi.
"Kak Azkan aku mau minta izin hari ini boleh?"
Maziya sengaja meminta izin di meja makan agar suaminya itu bisa mempertimbangkan apalagi dihadapan Nyonya Lidia.
"Tidak boleh." Azkan membersihkan mulutnya dengan serbet.
"Hah Kok tidak boleh, Pa aku minta izin langsung ke Atasan boleh kan Pa?" Maziya beralih pada Papa mertuanya yang profesional.
"Ada berbagai macam alasan yang bisa membuatmu melakukannya. Tapi tidak hari ini." Azkan menginterupsi.
"Memangnya kenapa Azkan?" tanya Tuan Alam.
"Kali ini Kami akan mengurus proyek kita di Swiss tahun lalu Pa."
Mendengar Azkan, Tuan Alam terhenyak. Proyek besar selama setahun untuk perluasan Bisnis Internasional mereka di Swiss.
"Mr. Peter?" tanya Tuan Alam.
Azkan mengangguk.
"Ada Apa Pa, kenapa dengan dia. Perasaan Mama sering mendengar nama itu."
"Itu Ma, Pebisnis kuat yang diinginkan banyak Pebisnis negara lain untuk bekerjasama. Kalau sudah bertemu jangan membuatnya Kecewa."
"Jadi paham kan kenapa kau harus ikut." Ujar Azkan pada Istrinya.
Maziya menggeleng, "Masih ada Pitaloka juga."
"Pitaloka tidak ikut, kau yang akan menggantikannya."
Wajah Maziya berkerut, "Lah dia kan.."
"Dia akan Resign, sementara kita akan sering bertemu Mr Peter baik di luar maupun Perusahaan jika acara ini berhasil."
"Iya Maziya, kehadiran kamu pasti akan menyentuh hatinya." Tuan Alam membuat Maziya semakin bingung.
Nyonya Lidia menatap suami dan putranya bergantian. "Jelasin Dong Pa, Azkan. Biar Mama dan Maziya juga mengerti!"
Kebetulan sekali Barga baru selesai sarapan dari dapur. Ia harus membuka mulut untuk menjelaskan siapa Mr. Peter dengan bahasa yang mudah dan juga singkat untuk menghemat waktu.
Mr Peter adalah Pria berkebangsaan Indonesia yang berkarir di Swiss. Ia punya Nama Besar di kalangan para Pesohor Pelaku Bisnis Internasional terutama yang ingin bersentuhan dengan Negara Swiss.
Mr. Peter sangat menghargai Pebisnis yang menghargai keluarga. Karena dia sendiri sudah menikah dengan satu wanita dan satu anak yang masih bersekolah. Setiap pergi ke Indonesia atau negara manapun, Ia selalu tertarik dengan Pebisnis yang menyayangi keluarga, itu semacam ciri khasnya . Itulah kesimpulan yang ditarik para Pebisnis Dunia.
"Jadi apa kaitannya denganku. Harusnya Kak Azkan bisa memberitahu betapa besar Kak Azkan menyayangi Mama dan Papa." Maziya memberi saran.
"Kau lupa?. Apa keluarga dari seorang lelaki yang telah memiliki istri adalah Orangtuanya?."
Maziya mengangguk. "Ya tentu saja." Maziya melirik Barga " Benarkan, Sekretaris Barga?"
"Tentu saja Anda sebagai Istri akan lebih mencerminkan rasa sayang pada keluarga Nona." Barga bicara.
"Apa ?."
Di tengah kebingungan. Tetap saja Maziya harus menurut. Mereka bahkan menyiapkan banyak pakaian di Mobil untuk acara Siang sampai Malam di Taman Indoor xxx.
"Aku sudah menyiapkan pakaian seperti pesanan." Rita menunjuk koper yang akan dibawa Barga ke dalam mobil.
"Baguslah."
"Tapi apa begitu penting ya? Sampai-sampai Nyonya Lidia sendiri ikut memilihkan pakaian."
"Apa kamu lupa dengan aturan Kediaman ini, Rita?" Barga menatap putri Bi Mirna satu-satunya itu dengan dingin.
Bi Mirna mendekat, "Maaf Sekretaris Barga, Rita pasti hanya penasaran."
"Harap Bi Mirna mengingat perjanjian saat membawa Putrimu ikut tinggal. Kalian adalah satu-satunya selain diriku yang menetap di kediaman ini jadi jangan melewati batas!" Barga ikut menatap dingin pada Bi Mirna.
"Tentu saja kami ingat. Aku yakin Rita tak sengaja." Bi Mirna menepuk punggung putrinya.
Rita sedikit meringis, "Iya aku tidak sengaja, maaf karena lancang."
Akhirnya Rita masuk kembali ke dalam karena Ibunya bersusah payah menariknya.
"Apa yang kamu bilang sama dia Sekretaris Barga?" tanya Maziya yang baru saja tiba bersama Azkan.
"Aku mengingatkannya tentang aturan di Kediaman bagi para Bawahan, Nona"
Maziya memastikan Rita tidak kelihatan lagi. Ia baru ingat sejak tinggal di Kediaman Serziano, hanya Rita satu-satunya yang sering menghindari kontak mata dengannya.
"Aku merasa dia tidak suka dengan kehadiranku. Apa itu hanya perasaanku saja?"
"Benarkah Nona?. Aku yakin semua petugas dan pelayan disini tidak ada hak untuk tidak menyukaimu Nona." jawab Barga pasti.
"Saat aku berpapasan dengannya bahkan dia tidak menunduk padaku seperti pelayan lainnya. Apa dia spesial Karena menetap dengan Bi Mirna dan juga sangat dekat dengan Mama?"kekeh Maziya terus terang.
"Maksud kamu apa Sayang?" Nyonya Lidia mendengar Maziya.
Barga membukakan pintu, menunggu Maziya masuk. Sementara itu, Nyonya Lidia mengangguk paham apa yang dikeluhkan Maziya.
....
Maziya akhirnya ikut masuk dan duduk di samping Azkan seperti biasa. Barga sudah berada di sisi kemudi membawa dua majikannya untuk pergi.
"Kau masih gila hormat juga rupanya."
"Wajar kan dia harus menghormati aku, sama seperti dia menghormatimu!" Maziya tidak terima dikatai gila hormat.
"Apa kau pantas?. Kau hanya akan menjadi istriku selama 3 tahun. Atau mungkin kurang kalau kau memohon untuk mundur."
"Tidak akan mundur," sungut Maziya.
"Baguslah, nikmati waktumu!"
"Lagi pula perihal pantas atau tidak . Kak Azkan tahu jawabannya kan?"
"Aku tahu?" Azkan meladeni keluh istrinya ogah.
" Tentu saja aku pantas. Aku ini istrimu terlepas dari wasiat kakek atau Kontrak kita."
"Anggap saja iya."
"Kau yang mengakui aku sebagai istrimu. Makanya kau mengajakku ikut kan?" cicit Maziya.
"Iya, turunkan volume suaramu. Nanti Barga kehilangan fokus!"
"Dia kan ahli." Maziya berhenti bicara.
Kini Maziya beralih ke ponselnya. Iya masih harus menghubungi Viola.
"Tuan, apa Kita langsung ke Tempat acara?"
"Ya, jangan lupa pesankan hotelnya!"
"Baik Tuan?"
"Hotel?." Maziya berhenti sejenak dari ponselnya dan kini mulai berpikiran liar.
"Hotel kita, hanya untuk menginap selama semalam. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh!"
"Kalau sampai menginap, apa acaranya sangat lama?"
"tanya saja Barga!" Azkan menyandarkan kepalanya, malas sekali meladeni Maziya.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih." Maziya beralih pada Barga.
"Iya Nona, Kita semalaman di acara. baru besoknya balik Nona."
"Lah, terus untuk apa banyak pakaian?"
"Nyonya Lidia memintaku membawa kalian ke Daerah Wisata xxxx sekalian besok Nona."
"Kenapa tidak balik malam ini saja? Lalu, di Perusahaan bagaimana?" Maziya masih berusaha mencari celah agar bisa segera kembali.
"Itulah gunanya Wakil CEO di Perusahaan Nona. Dia akan berurusan dengan para sekretaris Inti Nona. Juga para Direktur Lainnya."
Terus bagaimana dengan Viola. Aku nggak tahu kalau sampai Kak Azkan menutup website dan bikin dia klarifikasi langsung. Aku bahkan nggak kasih peringatan dulu sama dia. Aku benar-benar nggak berguna sebagai sahabatnya.
Maziya pura-pura terkejut tak percaya. "Wah merepotkan mereka dong kalo gitu?"
Azkan menarik nafasnya berat. "Apa gunanya kau tamatan Manajemen jika tidak tahu bagaimana cara kerja Perusahaan hah?"
Tentu saja aku tahu. Aku hanya ingin kita berhenti dan kamu menyuruhku turun. Agar aku bisa langsung menemui Viola.
"Aku hanya ingin duduk manis sebagai karyawan biasa. Tentu aku tahu cara kerja Perusahaan, Lain kali aku juga harus bertemu langsung dengan Wakil CEO. Gajinya berapa ya?"
"Untuk apa tanya gajinya?"
"Pasti besar kan? Sekretaris Barga?" Maziya beralih pada Barga.
"Jangan tanyakan apa yang bukan urusanmu. Kau pikir semua orang sama sepertimu?. yang hanya bisa bekerja saat ada maunya."
"Maunya? Gaji Maksud Kak Azkan?"
"Nah itu kau tahu."
"Semua bisa bekerja kalau ada maunya." tegas Maziya.
"Karyawan yang profesional maunya ya memenuhi ekspektasi Perusahaan." jelas Azkan.
"Salah, Karyawan bekerja hanya untuk memenuhi Gaji mereka. Coba saja tidak digaji, apa mereka akan terus bekerja?"
Azkan ambil ancang-ancang untuk menyentil kening Maziya.
"Jangan ya, kalau kening aku merah. Gimana cara ngejelasinnya sama Mr Peter itu?" Maziya menutup keningnya.
"Tinggal katakan saja bahwa kau digigit nyamuk!"
"Nyamuk apa yang menyebabkan merah dan bengkak Seperti sentilan Kak Azkan?" Maziya sama sekali belum melepaskan tangannya dari kening.
Lagi-lagi Barga hanya bisa melihat interaksi dari Azkan dan Maziya dari spion. Semoga saja mereka berdua bisa tahan untuk tidak beradu argument di depan Mr. Peter.
Bersambung....